
Merasa dongkol atas ucapan istrinya, Leo memilih untuk tidak berada di dekat istrinya untuk sementara waktu.
"Ingat baik baik, aku tidak akan mengizinkan kamu keluar dari rumah ini. Sekali kamu berani keluar dari rumah, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu." Ucap Leo memberi ancaman, Anggit sendiri tersenyum sinis pada suaminya, seolah ingin rasanya meludah.
"Kamu memang suami egois, dan maunya menang sendiri. Kalau aku tidak boleh keluar rumah, temani aku sampai besok pagi." Jawab Anggit yang juga ikut memberi sebuah permintaan kepada suami.
"Apa kamu lupa, di rumah ini ada Azura yang aku utamakan selain dirimu. Jadi, kamu tetap berada di rumah ini, apapun alasannya." Kata Leo yang tidak suka jika istrinya menolak perintah darinya.
Anggit membuang napasnya dengan kasar, dan bergegas bangkit dari posisinya.
"Keluar dari kamar ini sekarang juga, aku sedang tidak ingin melihatmu." Ucap Anggit dengan terang-terangan mengusir suaminya.
Leo sama sekali tidak menjawabnya, dan memilih segera keluar dari kamar. Sedangkan Anggit yang sedari tadi menahan air matanya agar tidak lolos begitu saja, akhirnya tumpah dengan sendirinya.
Napasnya yang ia tahan terasa sesak, kini membuangnya dengan kasar, juga otaknya pun terasa panas bak air mendidih.
Sedangkan di taman belakang, Azura tengah bermain bersama salah satu asisten rumahnya dan terlihat bahagia. Berbeda dengan Amora, tengah duduk dengan perasaannya yang masih terasa dongkol saat teringat dada bidang milik Leo yang membekas akibat kegiatan panasnya semalam bersama istri pertamanya, tentunya Amora merasa cemburu meski statusnya adalah istri kedua.
Leo yang baru saja berada di taman belakang rumahnya, ikutan duduk bersama Amora.
"Apa untungnya kamu marah denganku, karena aku sama sekali tidak akan pernah meminta maaf padamu. Sedikitpun aku tidak mempunyai salah padamu, karena kamu sendiri yang datang padaku. Jadi, kamu harus bisa menempatkan posisi diri kamu sendiri." Ucap Leo begitu entengnya dan sedikitpun tidak merasa bersalah pada istri pertama maupun kedua.
Amora yang mendengar ucapan dari Leo, lagi-lagi hanya menahan geram pada suaminya.
"Mama, Papa, temani Zura main yuk." Panggil Azura pada Leo dan Amora diminta untuk bermain bersama.
"Boleh, ayo Papa temani Azura main." Jawab Leo dan segera bangkit dan menerima uluran tangan Azura, dan diikuti Amora dari belakang.
__ADS_1
Masih dengan perasaan dongkol, Amora terpaksa menyimpannya dari putrinya agar tidak kelihatan tengah kesal pada Leo.
Sedangkan yang tengah berdiri di ambang pintu, Anggit hanya memandangi suami istri bersama gadis kecil tengah bermain bersama. Tentunya membuat Anggit merasa iri, juga cemburu saat mereka terlihat begitu bahagianya.
"Apa benar jika aku ini man_dul dan tidak bisa mempunyai keturunan? padahal aku sudah sering minum obat penyubur kandungan, tetapi kenapa masih saja tidak ada perubahan. Juga, kesehatan aku baik-baik saja. Mungkinkah aku mendapatkan sebuah kutukan? ah, itu hanya mitos saja." Gumamnya sambil melihat kemesraan suaminya bersama istri keduanya, juga gadis kecil yang diakui adalah putrinya.
"Nona Anggit, sabar ya Non. Nona Amora memang jahat, dengan beraninya mengambil kebahagiaan orang lain. Bibi yakin, bahwa suatu saat nanti kebahagiaannya pun lambat laun akan sirna. Percayalah sama Bibi, semua tidak akan bertahan lama jika adalah satu yang dirugikan." Ucap Bi Mira yang berusaha untuk menenangkan pikiran istri bosnya.
Anggit menoleh pada Bi Mira, kemudian tersenyum.
"Ya Bi, Anggit percaya dengan apa yang diucapkan oleh Bibi. Mungkin ini semua ujian buatku, Bi. Sebisa mungkin untuk berlapang dada, meski rasanya teramat sakit. Terimakasih banyak ya Bi, sudah memberi penyemangat untukku. Mulai sekarang aku harus bisa mengendalikan emosi, agar aku mendapatkan cara untuk berlepas diri dari suamiku." Jawab Anggit berusaha untuk tetap tenang, meski rasanya begitu sakit.
"Nona, Nona!" teriak salah seorang penjaga rumah memanggil istri Bosnya.
Anggit bersama Bi Mira yang mendengarnya, pun langsung beranjak mencari sumber suara.
"Ada apa, Pak Tejo?" tanya Anggit penuh kekhawatiran.
"Ya Pak, ada apa? katakan kepada saya, ada apa?"
"Tuan Leo, dimana Tuan Leo, Nona? saya juga perlu menyampaikan pesan ini pada Tuan Leo."
Leo yang yang juga dapat mendengar suara yang memanggil istri pertamanya, langsung menemui.
"Aku disini, Pak. Ada kabar apa sampai-sampai Pak Tejo jadi gagap begitu."
"Itu, Tuan, e ... itu,"
__ADS_1
"Ya itu, apa Pak?" tanya Anggit yang sudah tidak sabar.
"Kedua orang tuanya Nona Anggit kecelakaan, sekarang keadaannya kritis di rumah sakit. Korban meninggal satu, yakni bernama Tuan Nugraha."
Bagai mendengar guntur yang menggelegar dekat pada indra pendengarannya, juga seperti mendapat sengatan listrik yang menyedot aliran darahnya, bahkan tubuhnya mendadak sempoyongan.
Saat itu juga, Anggit jatuh pingsan. Begitu lengkap penderitanya yang harus ia terima dalam waktu yang sangat singkat.
Leo yang mendapat istrinya jatuh pingsan, langsung menangkap tubuhnya dan membawanya ke rumah sakit ditemani Bi Mira selaku asisten rumah yang begitu setia kepada majikannya.
Sedangkan Amora yang mendengarnya, pun tersenyum saat kabar duka tengah diterima oleh Anggit.
"Kasihan sekali nasibmu, Anggit. Suaminya sudah aku rebut, kedua orang tuamu pun sudah kritis, bahkan paman kamu juga sudah tiada. Selamat menikmati kesengsaraan mu, Anggit. Sekarang kamu tidak mempunyai tempat mengadu selain adikmu." Gumamnya sangat lirih saat melihat suasana menjadi gelisah.
"Ma, tante cantik kenapa? kok pingsan."
Azura yang sempat melihat Anggit jatuh pingsan, langsung bertanya kepada ibunya.
"Mama tidak tahu sayang, mungkin karena kecapean. Ya udah yuk, kita lanjutkan lagi mainnya. Biar Papa saja yang menangani tante Anggit, Azura biar ditemani sama Mama." Jawab Amora beralasan, dan mengajak putrinya untuk bermain lagi bersamanya.
Dengan senyum yang penuh kemenangan, Amora merasa puas saat melihat Anggit menderita.
Sedangkan dalam perjalanan menuju rumah sakit, berkali-kali Leo mencoba untuk membangunkan istrinya agar tersadar dari pingsannya.
Begitu juga dengan Bi Mira, begitu khawatir melihat kondisi istri majikannya. Ditambah lagi dengan kabar duka yang diterima oleh Anggit, tentunya sangat sedih bagai teriris hatinya.
Luka yang baru saja di taburi garam oleh suaminya, kini lukanya bertambah. Anggit masih belum juga sadar, membuat Leo merasa kasihan dengan kondisi istrinya.
__ADS_1
"Anggit, bangun, Anggit, bangun." Ucap Leo yang terus memanggil istrinya dan berharap terbangun dari pingsannya.
Bi Mira yang sempat membawa minyak angin, mencoba untuk mengoleskannya pada bagian tertentu yang dapat merespon. Tetap saja, Anggit sama sekali tidak meresponnya. Kedua matanya masih saja terpejam dan juga mukanya yang berubah terlihat pucat, begitu kasihan Bi Mira melihatnya.