DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Melihat dengan jelas


__ADS_3

Anggit yang merasa seperti jatuh dan tertimpa tangga, rasanya ingin sekali menghajar suaminya tanpa ampun.


Tapi, dirinya kembali teringat akan nasib keluarganya yang sudah banyak dibantu oleh keluarnya suaminya.


"Tadi Bi Mira bilang, katanya kamu hanya makan sedikit, benarkah? bagaimana kalau aku temani kamu sarapan pagi?"


"Tidak perlu, aku sudah kenyang." Jawab Anggit yang tengah bersiap siap untuk pergi ke kantor.


"Kamu mau kemana, ke kantor?"


"Ya! kenapa, tidak boleh?"


"Bukannya tidak boleh, aku hanya ingin kamu lebih banyak berada di rumah dan akan ada banyak waktu bersamaku."


"Sama saja, semua itu tergantung diri kamu." Kata Anggit sambil membereskan meja.


"Tapi, jangan salahkan aku jika kamu mempunyai waktu yang sedikit denganku. Bagaimanapun, yang berada di rumah akan mudah mendapatkan ajakan dariku ketimbang yang sibuk di kantor." Ucap Leo sambil memanasi istrinya.


Anggit sendiri yang mendengarnya, pun sama sekali tidak peduli. Pilihannya tetap lah pilihan, yakni untuk menjadi wanita karir agar rasa sakitnya dapat terabaikan dengan kesibukannya.


Rasa sakit yang sudah dibohongi bertahun-tahun itu rasanya begitu menyakitkan. Dulu Anggit diminta untuk sibuk berada di kantor dengan alasan agar tidak bosan berada di rumah, sedangkan sekarang dirinya diminta untuk berhenti. Tentu saja butuh pertimbangan yang cukup kuat untuk dirinya.


"Jangan salahkan aku jika aku sering mengajak Amora keluar, karena aku tidak mungkin untuk mengajakmu dengan kondisi kecapean." Ucap Leo yang kini seperti menindas istrinya dengan terang-terangan.


"Terserah kamu, aku tidak peduli. Bukankah selama ini kamu lebih mementingkan Amora ketimbang diriku." Jawab Anggit dengan suara kesalnya.


"Itu kan, karena sesuatu. Karena kamu tidak memberiku keturunan, itu sebabnya aku berselingkuh di belakangmu." Ucap Leo begitu entengnya tanpa merasa bersalah apapun terhadap istrinya.


Anggit yang mendengarnya, pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, lantaran kenyataannya sang suami mempunyai anak dengan wanita selingkuhannya.


"Aku tinggal dulu, jangan egois untuk menyalahkan diriku, karena kenyataannya aku bisa mempunyai anak. Jadi, kamu yang seharusnya bercermin atas kekurangan kamu itu. Kurang baik apa aku padamu, karena aku masih mau mempertahankan pernikahan kita, juga demi adikmu agar bisa menjadi pimpinan perusahaan." Ucap Leo yang entah kenapa tiba-tiba mulai menyudutkan istrinya.

__ADS_1


Seketika, detak jantungnya begitu cepat dan napasnya pun terasa panas. Sungguh tidak menyangka atas apa yang diucapkan oleh suaminya yang begitu mengesalkan.


"Pergilah, kalau kamu ingin pergi ke kantor." Ucapnya lagi dan bergegas keluar dari kamar.


Anggit yang seolah dibohongi segala-galanya, hatinya begitu hancur. Suami yang disangkanya baik dan tidak akan pernah menyakiti hatinya, rupanya pandangannya pun salah.


"Dia menikahi ku hanya ingin balas budi denganku, karena aku sudah mau menerimanya dan merawatnya dengan tulus, juga demi karirnya agar tidak dihempaskan oleh keluarganya. Sungguh kau! suami bia_dap, Leo. Kau hanya memanfaatkan aku saja dengan segala ancaman mu. kamu menggunakan kelemahan yang aku miliki, yaitu dengan karirnya adikku karena jasa keluargamu." Gumamnya dengan perasaan sakit hatinya.


Leo yang sudah dibutakan oleh rayuan Amora, akhirnya termakan juga. Kini, Leo bergegas untuk menemui putrinya.


"Sayang, kamu kenapa? kelihatannya kamu kesal gitu."


"Tidak apa-apa, dimana Azura?"


"Itu Azura, sedang ditemani oleh asisten rumah, entah siapa namanya aku lupa menanyakannya." Jawab Amora sambil menunjuk ke arah putrinya, Leo tersenyum saat melihat Azura yang tengah bermain.


"Tidak terasa putriku sudah besar, juga sangat cantik sepertimu." Ucap Leo memuji Azura sekaligus ibunya.


"Coba aja dulu Ayahku menyetujui hubungan kita, mungkin kita akan hidup bahagia dengan sempurna." Kata Leo sambil memperhatikan Azura tengah bermain dengan asisten rumahnya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu menyesalinya. Toh, sekarang kita bisa bersama lagi, juga kita sudah sempurna hidupnya. Ya ... walau ada perempuan itu sih, tapi gak apa-apa lah, yang terpenting aku sudah bersamamu sekarang." Kata Amora sambil memeluknya, Leo pun tak ada malu-malunya sama sekali saat berpelukan dengan Amora, bahkan mencium bibirnya tanpa ada rasa malu sedikitpun meski ada yang melihatnya.


Anggit yang kebetulan masih berada dalam kamar dengan sebuah laptopnya yang menyala, terlihat jelas kemesraan suaminya dengan Amora yang diakui sebagai istri keduanya.


Sakit, sangat menyakitkan saat dirinya disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya sakit hati. Ditambah lagi dengan berciuman, tentu saja sakitnya tak tertahan, dan air matanya lolos begitu saja.


"Papa, Mama, kok Zura dicuekin sih."


Sedangkan yang tengah berciuman, langsung mendadak berhenti saat putrinya memergoki.


"Azura, bikin kaget Mama dan Papa aja kamu ini. Kok sudah selesai mainnya, sayang."

__ADS_1


"Zura sudah selesai, soalnya bosan mainnya gak sama Papa dan Mama." Kata Azura sambil dibuat cemberut.


Leo maupun Amora sama-sama tertawa kecil mendengar keluhan Azura.


"Oh itu alasannya. Ya deh, nanti Mama sama Papa temani Azura main. Jadi sekarang Azura kembali ke kamar dulu ya, sayang. Soalnya Mama ingin bicara penting sama Papa, ok."


"Ok, Ma." Jawab Azura dan bergegas masuk ke kamar.


Kini tinggallah Amora bersama Leo.


"Memangnya apa yang ingin kamu omongin?" tanya Leo penasaran.


"Aku cuma ingin meminta sama kamu, sayang. Aku ingin kamu memperkenalkan aku di depan keluargamu, termasuk kakek kamu juga kedua orang tuamu." Jawab Amora dengan berani.


"Tapi, Mo."


"Tidak ada tapi tapian, pokoknya aku ingin ada pengakuan darimu atas setatus Azura dimata keluarga kamu. Kasihan Azura jika tidak kamu kenalkan dengan keluargamu. Mau bagaimanapun, Azura adalah cucu dari keluarga Hambalan, apapun alasannya." Kata Amora berusaha untuk membujuk Leo.


"Tapi Mo, tidak semudah itu aku memperkenalkan kamu dengan keluargaku. Kamu tahu, bisa-bisa aku mendapat sial dan karirku akan hilang jika aku langsung memperkenalkan kamu dan Azura kepada mereka." Ucap Leo yang belum siap untuk memperkenalkan Amora bersama putrinya.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, apa perlu aku yang akan datang sendiri dan meminta pertanggungjawaban dari keluarga kamu. Juga, aku tidak peduli dengan karirmu yang hancur." Ancam Amora demi pengakuan Leo atas hubungannya dan juga yang sudah mempunyai anak.


Leo membuang napasnya dengan kasar, semakin penat ketika dirinya dalam situasi yang sangat membingungkan. Karenanya yang mendapat ancaman tidaklah Anggit saja, tetapi Leo sendiri pun sama jika sampai rumah tangganya hancur akan mendapat kesialan yang sama seperti istrinya. Lebih lagi dengan sosok kakeknya, tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Tidak mempunyai pilihan, apapun resikonya Leo mulai meyakinkan diri sendiri untuk menerima permintaan Amora.


"Baiklah, nanti aku akan mengajak kalian berdua pergi ke rumah utama untuk memperkenalkan kamu dan Azura. Tapi ingat, kamu harus siap menerima segala resikonya." Kata Leo meyakinkan istri keduanya.


Amora mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan, lalu kembali memeluk suaminya dan mencium bibirnya yang seolah ingin mendapatkan perhatian yang lebih. Saat itu juga, Leo langsung menggendongnya dan membawanya sampai ke dalam kamar.


Anggit yang lagi-lagi tengah memperhatikan rekaman CCTV di taman belakang, semakin tersayat hatinya ketika suaminya sudah berpaling. Lebih lagi saat menggendong Amora sampai di dalam kamar, benar-benar sangat menusuk hatinya dan napasnya semakin memburu dan terasa panas saat melihat semuanya.

__ADS_1


__ADS_2