DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Merasa heran


__ADS_3

Waktu yang tidak ditunggu tunggu pun akhirnya datang juga, Anggit serasa malas untuk menuruti kemauan suaminya, lantaran hanya untuk dimanfaatkan saja, pikirnya.


Sesudah makan malam bersama suaminya, juga dengan anak dan istri keduanya, hilang sudah selera makannya.


Dengan dandanannya yang terlihat begitu anggun dan juga cantik, Leo menyempatkan diri untuk memperhatikan istrinya yang tengah bersiap-siap di depan cermin.


Sambil menunggu istrinya selesai berdandan, Leo menyibukkan diri dengan ponselnya, alih-alih tidak terlihat tengah memperhatikan istrinya. Mau bagaimanapun, hubungan pernikahannya dulunya baik-baik saja.


Hanya karena pertemuan yang tidak sengaja, membuat Leo lupa akan istrinya dan begitu tega mengkhianatinya.


Anggit yang merasa diperhatikan oleh suaminya, merasa risih dan ingin rasanya segera keluar dari kamar. Saat dirasa sudah selesai berdandan, Anggit segera keluar dari kamar.


"Aku sudah siap, apakah mau berangkat sekarang?".


Leo langsung mendongak dan menatap wajah istrinya yang terlihat begitu ayu, juga langsung bangkit dari posisinya.


Sambil menatap istrinya dengan lekat, Leo tersenyum tipis dan langsung menggandeng tangannya.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan tanganmu. Kalau istri keduamu tahu, aku yang menjadi imbasnya." Ucap Anggit yang beralasan, lantaran merasa risih saat suaminya menggandeng tangannya.


Leo langsung berhenti dan menetap istrinya kembali.


"Amora sudah mengetahui alasanku untuk mengajak kamu ke acara penting bersama rekan-rekan kerjaku, dan kamu tidak perlu khawatir akan soal itu." Jawab Leo yang langsung menarik tangan istrinya untuk keluar dari kamar.


Anggit yang mendengarnya, pun merasa kesal lantaran hanya dimanfaatkan dalam kondisi yang suaminya butuhkan saja.


Leo yang tidak ingin datang terlambat, cepat-cepat untuk segera berangkat. Sedangkan Amora yang sempat melihat Leo pergi bersama Anggit, ia terbakar api cemburu.


"Kurang aja si Anggit, seharusnya yang ikut Leo adalah aku, dan aku yang harus menemaninya. Awas saja kau Anggit, sebentar lagi kamu akan aku singkirkan dari rumah ini, lihat saja. Aku pastikan hidupmu dan karirmu akan hancur dalam sekejap saja oleh Leo, lihat saja nanti." Gumamnya penuh dengan rasa cemburu dan juga kesal.


"Ma, Mama kok seperti marah-marah sih, Papa sudah berangkat ya sama tante cantik?"


Amora hanya mengangguk, lalu menarik tangan Azura dan mengajaknya tidur.


Sedangkan Leo bersama Anggit dalam perjalanan berangkat ke acara bersama rekan-rekan kerjanya.


Anggit yang sudah tidak lagi bersemangat dalam mengarungi bahtera rumahtangganya bersama sang suami, sulit rasanya untuk menggambarkan perasaannya.


Leo yang tengah menyetir mobilnya, sekilas menoleh pada istrinya yang sedang melamun sesuatu.


"Ingat ya, kamu harus bersikap seperti biasanya dan tidak menunjukkan masalah kepada rekan-rekan kerjaku. Kalau sampai kamu menunjukkan masalah di depan mereka, maka aku tidak segan segan memberimu hukuman." Ucap Leo memberi ancaman kepada istrinya sendiri.

__ADS_1


Anggit yang mendapat ancaman dari suaminya, hanya tersenyum tipis sambil menatap lurus ke depan.


"Kamu benar-benar sudah berubah ya, hanya karena aku tidak memberimu keturunan, sekarang kamu dengan mudahnya menindas istrimu sendiri, juga memberi ancaman untukku lewat keluargaku. Kamu benar-benar licik, dan sangat cerdik."


Leo yang mendengarnya, langsung menghentikan mobilnya. Kemudian, membuang napasnya dengan kasar.


"Siapa yang licik, kita itu sama-sama menghasilkan, tentu saja imbang antara kamu dan aku yang saling membutuhkan dan hasilnya juga sama menguntungkan. Sudahlah, kamu tidak perlu membahasnya lagi. Seharusnya kamu itu berterima kasih kepadaku, karena aku dapat memberimu kemudahan untuk mempertahankan karir adikmu dan juga nama baik keluargamu. Kamu cukup turuti kemauanku, sekalipun kamu harus melayaniku di atas ran_jang. Mau bagaimanapun, kamu itu istriku, dan aku berhak atas dirimu dari ujung kepala hingga ke ujung kakimu." Ucap Leo sambil mendekatkan wajahnya di hadapan istrinya.


"Minggir!" bentak Anggit sambil mendorong tubuh suaminya.


Leo tersenyum tipis pada istrinya yang terlihat dongkol dan juga geram.


Tidak ingin membuang-buang waktunya, Leo segera bergegas untuk melanjutkan perjalanannya menuju hotel yang dijadikan tempat untuk pertemuan bersama rekan-rekan kerjanya.


Anggit sendiri hanya menahan kekesalannya terhadap suaminya yang sudah menindas dirinya dengan sesuka hatinya.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Leo dan Anggit sampai di hotel. Kemudian, keduanya segera turun dari mobil dan masuk kedalam.


Keduanya berjalan beriringan, dan Leo menggandeng tangan istrinya layaknya hubungan pernikahannya yang tidak ada masalah.


Sapaan dari orang-orang yang sudah datang lebih dulu, Anggit dan Leo membalasnya dengan ramah seperti biasa.


"Hei Bro, akhirnya datang juga kamu. Aku kira kamu sibuk dengan istrimu, rupanya datang juga akhirnya."


Saat itu juga tengah datang beberapa perempuan yang tidak lain para istri rekan kerjanya Leo yang menghampiri Anggit.


"Hei Anggit, aku kira kamu gak akan datang, sudah lama kita tidak pernah bertemu."


"Aku pasti datang, tidak mungkin tidak. Sudah lama juga kita tidak pernah bertemu, dan sekarang kita bertemu lagi." Jawab Anggit saat mendapat sapaan dari istri rekan kerja suaminya.


Karena obrolan yang berbeda antara pihak para istri dan para suami, tengah berpencar untuk berkumpul.


Anggit bersama para istri rekan-rekan kerja suaminya, begitu juga dengan Leo yang juga berkumpul dengan rekan-rekan kerjanya.


Sedangkan di sudut ruangan ada sosok yang tengah memperhatikan Anggit, dan juga mengawasi Leo yang sedang duduk bersama rekan-rekan kerjanya yang lainnya.


"Akhirnya kita bisa melakukan pertemuan lagi seperti dulu, sudah lama juga kita tidak berkumpul seperti ini." Ucap salah seorang yang baru saja ikutan duduk.


"Salah kamu sendiri, kenapa juga tinggalnya di luar negri." Sahut Leo yang sering bertemu dengan Gardian, rekan kerja yang sering melakukan pertemuan di luar negri.


"Habisnya di luar negri itu aman, Bro. Aku kasih tahu ya, mau punya wanita simpanan berapapun tidak ada yang tahu." Jawab Gardian dengan tawanya.

__ADS_1


"Kau itu ya, memang suhunya suhu." Sahut yang satunya ikut menimpali.


Gardian yang mendengarnya, pun kembali tertawa kecil sambil makan cemilan.


"Tidak masalah bagiku jika ketahuan, yang terpenting aku berkuasa atas uangku." Jawab Gardian dengan santainya.


Sedangkan Leo yang mendengarnya, merasa tertuduh dengan apa yang diucapkan oleh Gardian.


"Sudah rame ternyata, maaf aku datangnya terlambat." Ucap seseorang yang baru saja datang.


"Tidak apa-apa, kita juga belum lama datangnya kok. Oh ya, dimana istrimu Bro? keknya gak kelihatan lagi." Sahut Leo dan bertanya mengenai istri temannya, lantaran terlihat sendirian saat ikutan berkumpul.


"Ya tuh si Antonio, gak bawa istrimu, Lu?"


"Antonio apa mau nunjukin wujud istrinya ke kita-kita, yang ada tuh disimpan rapi sama Antonio. Biasalah, istri adalah harta yang tidak ternilai, jadi harus rapat-rapat menyembunyikannya." Timpal Dian meledek.


"Sialan, ok ok, besok besok aku akan ajak istriku ke acara seperti ini lagi, puas kalian." Jawab Antonio.


"Belum, soalnya belum terbukti Bro." Ucap Leo yang baru saja minum.


"Ya bener juga yang dikatakan Leo, bagaimana kalau satu bulan lagi kita kumpul-kumpul seperti ini lagi?"


"Boleh, lebih seru keknya. Tapi ingat, bawa istri kalian masing-masing, ok." Sahut Karo yang juga ikutan berkomentar.


Saat itu juga, tiba-tiba Leo merasakan sesuatu yang rasanya ingin buang air kecil.


"Aku mau ke toilet dulu, kalian lanjutkan saja obrolannya." Ucap Leo yang merasa tidak nyaman untuk duduk.


"Silakan." Jawab semua rekan kerjanya bersamaan, sedangkan Leo dengan terburu-buru untuk segera pergi ke toilet.


BRUG!


"Maaf maaf maaf, saya tidak sengaja." Ucap seseorang yang baru saja Leo tabrak.


"Dion, kamu ada disini?"


"Ya, Tuan, selain kerja di kantor, saya juga kerja di hotel ini. Maaf, sudah mengagetkan Tuan Leo." Jawab Dion dengan sedikit membungkukkan badannya, tanda memberi hormat kepada bosnya.


"Tidak apa-apa, silakan lanjutkan pekerjaan kamu." Ucap Leo dengan senyumnya, dan segera pergi ke toilet.


Leo yang baru saja bertemu dengan Dion, merasa heran dengan kesibukannya yang bekerja siang dan malam.

__ADS_1


"Benar-benar sudah gila apa ya itu anak, udah kek gak punya jadwal untuk menikah, sampai sampai siang dan malam bekerja." Gumamnya sambil berjalan menuju toilet.


__ADS_2