
Anggit yang mendapat dukungan dari ibunya, tetap saja air matanya membanjiri kedua pipinya. Kemudian, sang ibu melepaskan pelukannya dan menatap putrinya.
"Jangan menangis, anakku. Mama tidak akan pernah mengabaikan kamu dalam kesedihanmu, sekarang lebih baik kamu pasrahkan segalanya kepada Sang Maha Pencipta. Hidup dan mati, datang dan pergi, semuanya sudah ada ketentuannya masing-masing. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah semangat hidupmu, dan saling percaya sama pasanganmu." Ucap ibunya meyakinkan putrinya sambil menghapus air matanya yang tengah membasahi kedua pipinya.
Anggit mengangguk tanda mengerti dengan apa yang diucapkan oleh ibunya. Saat itu juga dirinya teringat jika malamnya harus menemani suaminya.
"Ma, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. Soalnya malam ini suaminya Anggit ada acara penting, sedangkan Anggit harus menemaninya." Ucap Anggit sambil berjalan menuju ruang makan.
"Tidak apa-apa, Mama bisa mengerti. Lagi pula kamu bisa datang kapanpun bersama suami kamu dilain waktu senggang. Kalaupun kamu dan suami kamu sibuk, biar Mama dan Papa yang akan datang ke rumah kamu." Kata sang ibu.
Anggit yang mendengarnya, pun sangat terkejut melebihi mendapat kabar buruk.
"Jangan Ma, jangan. Anggit tidak mau membuat Mama kerepotan, biar Anggit bersama suami yang akan datang ke rumah Mama." Jawab Anggit yang takut kebenaran mengenai perselingkuhan suaminya akan terungkap pada waktu yang menurutnya belum tepat.
Sang ibu sendiri merasa heran dengan putrinya.
"Kok jangan, kenapa? kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu pada Mama, 'kan?" tanya sang ibu yang kedengaran seperti orang yang tengah menginterogasi putrinya.
"Maksudnya Anggit itu, hanya tidak ingin merepotkan Mama. Jadi, Anggit saja nanti yang main ke rumah Mama bareng suami." Jawab Anggit dengan alasannya.
Sang ibu pun tersenyum sambil meraih tangan putrinya.
"Baiklah, terserah kamu saja, Mama tidak memaksa."
"Mama tidak marah, 'kan?"
"Enggak, sayang. Untuk apa Mama marah, terkecuali kamu disakiti oleh suami kamu, beru Mama aman marah. Tapi tidak denganmu, melainkan sama suami kamu. Sudah ah, ayo kita makan siang dulu." Jawab sang ibu dan mengajaknya untuk makan bersama.
Sedangkan di lain tempat, Amora tengah bersama putrinya tengah menikmati makan siang tanpa adanya Leo.
"Ma, Papa kapan pulangnya?" tanya Azura sambil menikmati makanannya.
"Nanti sore, sayang. Papa kan kerjanya di kantor, jadi pulangnya agak sorean. Azura habiskan dulu makanannya, nanti sore Papa juga bakalan pulang." Jawab Amora mencoba untuk meyakinkan putrinya.
Azura mengangguk tanda mengerti.
"Ma," panggil Azura sambil mengunyah makanan.
__ADS_1
"Ya sayang, kenapa?"
"Zura kapan sekolahnya, Ma?"
"Sabar ya sayang, nanti akan Mama urus bareng Papa. Pokoknya Azura tenang saja untuk soal sekolah, pasti nanti disekolahkan di tempat yang paling bagus, ok."
"Ya Ma, Zura sudah tidak sabar punya teman baru." Kata Azura bersemangat.
"Ya udah, habiskan dulu makan siangnya. Setelah itu, Mama akan ajak Azura bermain." Ucap Amora berusaha untuk menyenangkan hati putrinya.
Azura yang bersemangat, cepat-cepat untuk menghabiskan makanannya. Lain lagi dengan Anggit yang tengah menikmati makan siangnya bersama keluarga, suasana hatinya tidak lagi seperti dulu saat sering datang ke rumah orang tuanya bersama suami.
Namun, untuk sekarang serasa mustahil bagi Anggit bisa datang ke rumah ibunya bersama sang suami. Anggit masih melamun sambil mengunyah makanannya, terlihat jelas oleh kedua orang tuanya jika putrinya tengah melamun dan seperti menyimpan beban.
"Anggit, kamu kenapa Nak?" panggil sang ayah dan bertanya.
"Papa, bikin kaget saja. Anggit cuma lagi mikirin kerjaan di kantor, Pa. Juga, soal nanti malam untuk bertemu dengan rekan kerjanya suami. Maaf, tidak ada hal lain yang Anggit pikirkan, hanya cuma itu. Soalnya sudah lama tidak melakukan pertemuan dengan rekan kerjanya suam." Jawab Anggit yang lagi-lagi beralasan.
"Papa kira mikirin apa, ya udah habiskan dulu makan siang mu." Kata sang ayah, Anggit mengangguk.
"Enak aja kalau ngomong." Sahut Anggit sambil menatap adiknya.
"Aw! ya ya ya, ampun." Ucap Kavil sambil meringis kesakitan saat telinganya mendapat jeweran dari sang kakak.
"Sudah sudah, kalian berdua itu ya, selalu saja berantem. Sekarang habiskan dulu makanan kalian, setelah itu lanjutkan obrolannya kalian." Timpal sang ibu melerai kedua anaknya yang seperti tommy and jerry.
Tidak ingin suasana bertambah rame, Anggit maupun Kavil segera menghabiskan makan siangnya. Kemudian setelah selesai makan, Anggit bersama keluarganya menikmati keseruan saat kumpul bersama.
Sedangkan di tempat lainnya, yakni di kantor, Leo tengah disibukkan dengan pekerjaan yang begitu menantang untuk dirinya. Begitu penat untuk dikerjakan demi keinginannya sampai agar dirinya tidak hengkang dari jabatannya.
"Sial! seharusnya mereka itu senang saat mendengar penjelasan dariku soal aku sudah mempunyai anak, tapi kenyataannya justru aku yang terancam. Awas saja kamu Anggit, malam ini kamu harus membalasnya." Umpatnya penuh kesal saat mendapat tantangan dari keluarganya.
Karena begitu banyak yang harus ia selesaikan, membuat kepalanya terasa mau meledak. Setelah makan siang, Leo kembali berkutat di depan layar komputernya hingga tidak terasa waktupun sudah sore dan waktunya untuk pulang.
Sama halnya seperti Anggit, dirinya juga baru saja pulang diantar oleh adik laki-lakinya.
"Tante cantik sudah pulang?"
__ADS_1
Anggit tersenyum saat melihat Azura yang tengah berada di depan rumah seperti menunggu kepulangan suaminya.
"Ya, Zura. Tante baru aja pulang, kamu sedang apa?" jawab Anggit dan melontarkan sebuah pertanyaan sebagai alasan.
"Zura sedang menunggu Papa, ya kan Ma?"
Amora tersenyum pada putrinya sambil mengangguk.
"Ya sayang, kita sedang menunggu Papa Leo pulang. Kalau tidak di tunggu, kasihan Papa gak ada yang perhatian." Jawab Amora sengaja memanasi Anggit yang selaku istri pertamanya.
"Ya udah ya Zura, Tante masuk dulu, mau mandi." Ucap Anggit yang malas untuk berhadapan dengan madunya.
"Ya, Tante cantik." Jawab Azura.
Amora sendiri merasa puas saat dirinya berhasil membuat Anggit kepanasan dan seperti menahan cemburu dan juga kesal.
Anggit yang tidak ingin terpancing dengan emosinya, memilih untuk berendam agar suasana hatinya sedikit tenang.
"Malam nanti aku akan menemani suamiku pergi ke acara rekan kerjanya, semoga saja aku tidak mendapatkan sial darinya." Gumam Anggit sambil melepaskan jam tangannya, juga yang lainnya yang melekat ditubuhnya.
Setelah itu, Anggit segera berendam untuk menghilangkan rasa penat yang bersemayam dikepalanya.
Sedangkan yang tengah menunggu kepulangan seseorang, Amora dan Azura menyambut Leo pulang dari kantor.
"Kalian berdua ngapain di depan rumah? ayo masuk."
"Ih, sayang gimana sih. Aku sama Azura itu menyambut kamu pulang, eee palah jadi jutek gini." Jawab Amora, sedangkan Azura hanya diam sambil memasang muka cemberutnya.
Saat itu juga, Leo segera berjongkok dan memeluk Azura.
"Maafin Papa ya, sayang. Papa tidak tahu kalau kamu sedang menunggu Papa pulang. Terimakasih sudah mau menunggu Papa pulang di depan rumah. Tapi, besok lagi mendingan nunggunya di dalam rumah. Papa hanya takut akan ada orang jahat yang tiba-tiba masuk ke rumah dan mencelakai Azura dan Mana Amo." Ucap Leo pada Azura untuk meyakinkan.
"Ya, Pa, besok lagi Zura akan menunggu Papa di dalam rumah." Jawab Azura sambil menatap ayahnya.
Leo tersenyum dan mencium pipinya.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita masuk." Ajak Leo kepada putrinya dan Amora istrinya.
__ADS_1