
Setelah menghubungi kakak iparnya, Kavil merasa lega saat mendapatkan izin untuk mengajak kakaknya pulang ke rumah kedua orang tuanya.
"Kak, aku sudah mendapatkan izin dari kakak ipar. Jadi, Kak Anggit tidak perlu khawatir sama kak Leo." Ucap Kavil pada kakaknya, Anggit tersenyum tipis sambil membereskan meja kerjanya, lantaran sudah waktu makan siang, juga waktunya untuk istirahat.
"Ya udah, kita makan siang dulu, bagaimana?"
"Kelamaan, nanti yang ada Paman Nugraha keburu pulang. Kita makan siangnya di rumah saja, tadi Mama sudah berpesan sama aku untuk mengajak makan siang bersama." Jawab Kavil yang sudah tidak sabar untuk mengajak kakaknya pulang.
Anggit yang tidak biasanya diminta untuk cepat-cepat pulang, rasanya seperti ada yang mengganjal dibenak pikirannya.
Setelah membereskan meja kerjanya, Anggit dan adiknya segera bergegas pulang ke rumah.
"Kav," panggil Anggit yang ingin bertanya sesuatu pada adiknya.
Kavil yang tengah fokus dengan setir mobilnya, sekilas menoleh pada kakaknya.
"Kenapa Kak?" tanya Kavil sambil menatap lurus ke depan.
"Sebenarnya ada apa sih Kav? sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Kakak."
"Tidak ada apa-apa, hanya sebuah kejutan untuk Kakak." Jawab Kavil sambil menyetir.
"Hem, kebiasaan kamu kalau ingin memberi kejutan sama Kakak. Memangnya kejutan apaan? perasaan hari ulang tahun Kakak masih lama, awas ya kalau kamu hanya mau mengerjai Kakak."
"Siapa yang mau mengerjai Kakak, gak ada. Sudah ah, Kakak tenang aja, ok."
"Ya ya ya, terserah kamu saja."
"Nah gitu dong." Kata Kavil dengan senyumnya yang terlihat tampan.
Anggit yang sudah tidak sabar, ingin rasanya segera sampai di rumahnya. Dengan kecepatan yang cukup tinggi saat mengendarai mobilnya, akhirnya sampai juga di depan rumah kedua orang tuanya.
__ADS_1
Anggit yang sudah tidak sabar, cepat-cepat segera turun dari mobil dan masuk ke rumah.
"Selamat siang semuanya, maaf jika sudah membuat lama menunggu." Sapa Anggit sambil lari kecil menuju kedua orang tuanya yang tengah duduk bersebelahan.
Kemudian, Anggit langsung memeluk ibunya dengan erat. Saat itu juga didalam dadanya terasa bergemuruh ketika teringat akan kesedihannya, yakni dengan masalah rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja.
Tanpa disadari, Anggit meneteskan air matanya. Sang ibu langsung merenggangkan pelukan dari putrinya.
"Kamu menangis? ada apa denganmu, Nak?"
Saat itu juga, Anggit segera menghapus air matanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Anggit hanya rindu saja sama Mama dan juga Papa, karena Anggit selalu sibuk dengan dunia pekerjaan, maafkan anakmu ini, Ma, Pa."
"Kirain Mama kamu kenapa, rupanya karena sibuk dengan pekerjaan. Mama dan Papa dapat mengerti akan hal itu, jadi wajar saja jika kamu jarang pulang ke rumah. Oh ya, suami kamu gak ikut?"
Anggit berusaha untuk tersenyum.
"Kak Leo sedang sibuk dengan pekerjaannya, jadi gak bisa ikut." Sahut Kavil yang tadi sempat mengajak kakak iparnya untuk ikut ke rumah, namun ditolak lantaran sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
"Katanya Kavil, Paman Nugraha datang, dimana sekarang, Ma?"
"Itu dia Paman Nugraha." Kata Kavil sambil menunjuk pamannya yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Anggit segera menghampiri pamannya, dan menyapa dengan ramah.
"Paman, apa kabarnya?"
"Baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Seperti yang Paman lihat, Anggit baik-baik saja, Paman." Jawab Anggit dan tersenyum.
__ADS_1
"Syukur lah kalau keadaan kamu baik-baik saja. Kedatangan Paman ke sini ada sesuatu yang ingin Paman sampaikan sama kamu, sebenarnya juga dengan suami kamu. Tapi, gak apa-apa jika tidak ada suami kamu."
"Memangnya Paman ingin menyampaikan hal apa kepada Anggit, Paman?"
"Kita duduk dulu, nanti kita bicarakan baik-baik bersama kedua orang tuamu juga." Ajak sang paman, Anggit nurut dan segera duduk di sebelah adiknya.
Dengan perlahan, Tuan Nugraha menghela napasnya sebelum berbicara dengan keponakannya.
"Begini, bukan niat Paman untuk ikut campur dengan urusan rumah tangga kamu, yang akan Paman sampaikan hanya sebuah pendapat saja. Apa kamu tidak kepikiran untuk mengadopsi anak? maaf, bukan niat Paman untuk menyinggung kamu. Kalau kamu dan suami kamu mau, Paman ada seorang bayi untuk kamu adopsi." Ucap Tuan Nugraha dengan penuh hati-hati saat berbicara hal yang sensitif.
Anggit yang mendengarnya, pun masih diam. Sejenak dirinya mengatur pernapasannya, lantaran harus menolak mentah mentah atas saran dari pamannya itu.
"Maaf, Anggit tidak bisa Paman. Bukannya kami menolak, tapi kami mempunyai alasan sendiri. Sekali lagi Anggit minta maaf, maaf." Jawab Anggit yang akhirnya menolak mentah-mentah.
Tuan Nugraha tersenyum tipis saat keponakannya menolak saran darinya.
"Tidak apa-apa jika kamu menolak, Paman hanya menyampaikannya sama kamu. Soal mau atau tidaknya, Paman tidak memaksa. Kebetulan Paman ada pertemuan dengan klien di kota ini, jadi sekalian mampir dan menginap di rumah orang tuamu."
"Sekali lagi Anggit minta maaf, dikarenakan masih sibuk-sibuknya di kantor." Jawab Anggit beralasan, padahal dirinya menginginkan hal itu saat rumah tangganya baik-baik saja.
Sedangkan sekarang ini tidak terbesit akan hal itu untuk memikirkan adopsi seorang anak, yang tengah dipikirkan oleh Anggit hanyalah mencari titik temu untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya.
"Sudah, jangan dipikirkan terlalu serius, nanti jadi pusing sendiri. Lebih baik sekarang kita makan siang dulu, setelah itu baru kita lanjutkan obrolannya." Ucap ibunya Anggit untuk mengalihkan obrolan mengenai adopsi anak, yang ditakutkan putrinya akan bertambah penat untuk memikirkannya.
Anggit yang tadinya sedikit tenang, kini harus memikirkan hal lain mengenai ucapan pamannya. Tentunya kepikiran jika kedua orang tuanya menginginkan seorang cucu yang hadir di tengah-tengah keluarganya.
"Sayang, kok melamun gitu, nanti jadi pusing loh kalau kamu memikirkan itu terus. Sudahlah, lebih baik kita makan siang bersama. Soal kehadiran seorang anak adalah sesuatu yang dinantikan, tapi bukan berarti untuk menyalahkan diri sendiri. Mama mengerti apa yang kamu rasakan, yang terpenting suami kamu masih sayang dan perhatian sama kamu itu sudah lebih dari cukup." Ucap ibunya yang tidak ingin putrinya berlarut dalam kesedihannya.
Anggit yang merasa sedih atas apa yang sudah terjadi dengan rumah tangganya, begitu sulit untuk ia jelaskan kepada keluarganya, termasuk ibunya sendiri.
Sang ibu yang mengerti akan perasaan putrinya, langsung memeluknya untuk memberi ketenangan.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, ada saatnya nanti kamu akan temukan kebahagiaan kamu. Mama doakan, semoga kamu segera mendapatkan sang buah hati." Ucap sang ibu sambil memeluk putrinya.
Bukannya kesedihannya mereda, justru Anggit menangis sesenggukan, lantaran terasa sesak apa yang sudah menimpa rumah tangganya yang sekarang ini.