DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Kebenaran yang terungkap


__ADS_3

Sampainya di tempat yang sudah dijanjikan oleh Amora bersama teman-teman satu gengnya, segera berkumpul dan menikmati pertemuan mereka.


Pertemuan kali ini memang tidak ada lelaki satupun, juga jumlahnya yang hanya beberapa saja. Amora sendiri memang sengaja hanya mengajak beberapa teman saja, entah apa tujuannya.


"Cie ... yang udah tinggal bareng satu atap dengan istri sahnya, gimana rasanya nyonya?" ledek salah satu teman gengnya.


Amora yang mendengarnya pun, langsung ikutan duduk.


"Apaan kalian lah, yang ada tuh nasib aku sekarang lagi ngenes. Aku lagi sial, tau gak sih." Jawab Amora mendengus kesal saat mendapat ledekan dari temannya.


"Ups! lagi ngenes kamu bilang?" tanyanya semakin mendekatkan wajahnya di depan Amora.


"Ya lah, bukannya untuk tapi buntung. Bayangkan aja, aku sudah susah payah untuk dapatin Leo, eee dia kena sangsi dari keluarganya, termasuk kakek tua." Jawab Amora masih dengan perasaan yang dongkol.


"Sangsi apa, Mo?"


"Keluarga suami aku tidak mau menerimaku sebagai menantunya, sia-sia aku membohongi mereka."


"Maksudnya kamu membohongi mereka gimana Mo?" tanya teman satunya yang juga ikutan penasaran.


"Ya Mo, kamu sudah membohongi apa sama keluarganya Leo?" tanya yang satunya lagi ikut menimpali karena rasa ingin tahu.


"Azura sebenarnya bukanlah anaknya Leo, tetapi Antonio." Jawab Amora yang akhirnya berterus terang di hadapan teman-temannya.


"Apa! anaknya Antonio kamu bilang, Mo?" mereka semua serempak untuk bertanya karena benar-benar terkejut saat mendengar pengakuan Amora.


Amora mengangguk, tanpa disadari jika sudah ada sosok laki-laki yang tengah geram mendengar pengakuan Amora. Lelaki itu yang tidak lain adalah Leo Jantri Hambalan, lelaki yang sudah menjalani hubungan bersama Leo sudah berjalan tujuh tahun lamanya.


Betapa terkejut saat mendengar pengakuan dari Amora. Dengan napasnya yang mendadak terasa panas dan juga emosi yang sudah memuncak, ingin rasanya memaki dan melampiaskan kekesalannya kepada Amora untuk memberinya pelajaran.


Amora masih duduk dengan santainya, dan tanpa ada rasa takut jika dirinya mendapat pengawasan. Juga, dirinya sama sekali tidak merasa takut jika sebagian temannya akan ada yang tidak bisa dipercaya.


Leo masih berusaha tenang, itupun berkat ada anak buahnya yang mencoba untuk menahannya.


"Kamu sedang tidak mengerjai kita kita, 'kan?" tanya Inara yang juga seperti tidak percaya.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin membalaskan dendam ku, dan menghancurkan keluarga Hambalan yang sudah menolak ku untuk dijadikan menantu. Tentu saja aku lewat Antonio yang juga sama halnya ingin menghancurkan keluarga Hambalan karena kakeknya Leo sudah memenjarakan orang tuanya Antonio hingga terjadi bun_uh diri." Jawab Amora menjelaskan.


Keempat temannya mendadak melongo, seperti tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Amora.


"Bohong! ayahmu sendiri yang sudah berusaha untuk menghancurkan perusahaan keluarga Hambalan dan keluarga Antara, tapi ayahmu sudah ketahuan lebih dulu, dan yang memenjarakan ayahmu adalah keluarga Antara."


Dengan lantang, Leo menyuarakan suaranya yang begitu jelas.


Saat itu juga, rupanya Antonio datang dari arah lain yang jaraknya tidak begitu jauh, dan masih dapat untuk dijangkau oleh arah pandangan Leo.


"Kau tahu apa dengan masa lalu orang tua kita, Leo? kau hanya mengetahui dari cerita orang tuamu, bukan bukti dari kami."


"Penjahat mana ada yang mau mengakui kesalahannya, yang ada kamu lah yang sudah dibohongi oleh ayahmu sendiri." Ucap Leo dengan tegas.


Antonio sama sekali tidak menggubrisnya. Pelan-pelan Antonio maupun Leo sama-sama berjalan saling mendekati. Sedangkan Amora yang seperti tertangkap basah, akhirnya kebenaran terkuak saat itu juga.


Bukannya takut, tapi Amora justru menyeringai seolah merasa puas saat suaminya mengetahui kebusukannya di hadapan suaminya dan tentunya sudah cukup menghancurkan rumah tangga mantan kekasihnya dulu.


Antonio bertepuk tangan sambil mendekati Amora.


"Bagaimana Leo? apakah kamu sudah puas menerima permainan ku dan istri keduamu?" tanya Antonio mengejek, dan juga dengan seringainya.


"Cuih!"


Leo yang menatap Antonio dengan bengis, langsung meludah ke sembarang arah.


"Kalian berdua tidak lain adalah ib_lis berwujud manusia, persetan dengan kalian." Umpat Leo pada Amora dan Antonio.


Mereka bertiga masih dengan jarak beberapa langkah, namun ucapannya masih bisa untuk didengar.


Antonio tertawa kecil mendengarnya, dan langsung merangkul pundak Amora.


"Sekarang kamu sudah puas kan, sayang? akhirnya kamu bisa membalaskan dendam mu pada keluarga Hambalan yang sudah menolak mu mentah-mentah." Ucap Antonio dengan mencium pipinya Amora, juga sambil menatap Leo dengan seringainya.


Leo yang emosinya sudah berada di puncak ubun-ubun, langsung menyerang Antonio. Sayangnya beberapa anak buah Leo mencegatnya.

__ADS_1


"Minggir! aku harus memberi pelajaran kepada mereka berdua." Bentak Leo yang berusaha menyingkirkan tangan-tangan milik anak buahnya.


Amora sendiri melepaskan tangan milik Antonio dan berjalan mendekati Leo yang tengah ditahan agar tidak semakin memberontak.


"Sekarang aku sudah puas karena sudah membalaskan dendam ku padamu, lelaki bo_doh. Kamu tahu, Azura bukanlah putrimu, tetapi putri Antonio. Azu (Antonio Zubeg), Ra (Amora). Satu kalimat saja tidak ada namamu sekali, puas sekarang? dan istrimu yang bernama Anggit pasti akan menceraikan kamu, dan kamu tidak mempunyai peluang apapun." Ucap Amora dengan berani.


Leo yang mendengarnya, pun terasa sangat dongkol ketika dirinya dibohongi habis-habisan oleh istri keduanya selama tujuh tahun.


"Tuan, ayo kita pergi dari sini. Jangan gunakan otot untuk melawan mereka, tetapi gunakan otak untuk melawan mereka berdua." Ucap salah satu anak buahnya sambil menarik paksa bosnya.


Sedangkan Amora dan Antonio tertawa saat melihat kehancuran Leo yang sudah masuk dalam perangkapnya.


Leo yang benar-benar kalah tenaga dari beberapa anak buahnya hanya bisa menahan kesal dan sakit hati saat dibohongi oleh Amora selama tujuh tahun lamanya.


"Aaaaaaa! lepaskan!" teriak Leo begitu kencang dan berusaha untuk berlepas diri dari anak buahnya.


Namun, lagi-lagi dirinya gagal. Sedangkan anak buahnya segera memberi perintah untuk melakukan penjagaan ketat dirumahnya bosnya dengan banyaknya anggota polisi untuk menangkap Amora dan Antonio.


Sedangkan Amora dan Antonio yang teringat akan putrinya, segera mendahului untuk menjemput Azura sebelum polisi menangkapnya.


Dengan laju kendaraan yang begitu kencang, Antonio mengendarai mobilnya bak kereta api. Lain lagi dengan Leo yang dibawa ke rumah utama, yakni dikediaman keluarga Hambalan.


Amora yang sudah tidak sabar untuk menjemput putrinya, ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah. Benar saja, akhirnya Antonio bersama Amora telah sampai di rumah.


Dengan gesit dan tidak memikirkan apapun, Amora mengajak Antonio untuk menggendong Azura dan dibawa ke rumah Antonio.


"Jangan bergerak!"


DOR!


DOR!


DOR!


"Aaaaaaw!" teriak Antonio saat kedua kakinya terte_mbak hingga terjatuh sambil menggendong Azura.

__ADS_1


Begitu juga dengan Amora yang mana kaki kanannya ikut terte_mbak.


__ADS_2