
Sampainya di rumah sakit, Anggit langsung mendapat pemeriksaan oleh dokter. Sedangkan Leo sendiri tengah menunggu bersama Bi Mira.
Lain lagi di ruang penanganan kedua orang tuanya Anggit, Kavil tengah menunggu sendirian dan hanya ditemani orang kepercayaannya.
"Tuan Kavil, bagaimana keadaannya Tuan Tovan?"
"Kritis, Pak. Saya sedang menunggu kak Anggit, apakah sudah datang?"
Pak Beno selaku kaki tangannya keluarga Tuan Tovan, menggelengkan kepalanya.
"Coba Tuan Kavil hubungi Nona Anggit, mungkin saja terjebak macet di jalanan. Sedangkan saya akan segera menghubungi nomor Tuan Leo." Jawab Pak Beno.
Kavil mengangguk, dan segera menghubungi kakak perempuannya.
Karena sudah tidak sabar, Kavil maupun Pak Beno segera menghubunginya.
Saat itu juga, keduanya tidak menerima jawaban sama sekali dari Leo maupun Anggit.
"Nomornya aktif, tapi tidak ada jawaban sama sekali." Ucap Kavil yang sudah berulang kali menghubungi kakaknya dan juga tidak ada jawabannya.
"Sama, Tuan. Saya juga tidak mendapat respon dari Tuan Leo. Mungkinkah mereka berdua sedang dalam perjalanan? semoga saja."
Sedangkan Anggit yang baru tersadar dari pingsannya, kedua matanya langsung terbelalak.
"Mama, Papa, Mama! Papa!"
"Tenang Nona, tenangkan dulu pikiran Nona. Semua baik-baik saja, saya meminta kepada Nona untuk tidak berteriak." Ucap sang dokter.
"Tenang kata Dokter, dimana kedua orang tua saya."
Leo yang diminta untuk menahan istrinya agar tidak semakin memberontak, segera masuk kedalam ruangan bersama Bi Mira.
"Sayang, tenangkan dulu pikiran kamu. Kita akan segera menemui Mama dan Papa, aku mohon tenangkan pikiran kamu." Ucap Leo sambil memeluk istrinya agar tidak melawan, dan tidak lupa untuk membujuknya.
"Lepaskan! lepaskan tanganmu, aku tidak sudi mendapat perhatian darimu. Aku ingin bertemu dengan kedua orang tuaku, jangan kamu halangi aku." Bentak Anggit yang sudah hilang kendali saat suasana hatinya begitu runyam dengan apa yang sedang dihadapinya.
"Nona, Bibi mohon tenangkan dulu pikiran Nona. Percaya sama Bibi, Tuan dan Nyonya baik-baik saja." Ucap Bi Mira yang berusaha untuk menenangkan pikiran istri bosnya.
Leo sendiri masih memeluknya dengan erat, takut jika sang istri akan semakin brutal.
__ADS_1
"Sayang, tahan dulu emosi kamu. Percayalah denganku, Mama dan Papan baik-baik saja." Ucap Leo sambil memeluk istrinya, agar pikirannya sedikit tenang dan emosinya sedikit mereda.
Namun tetap saja, Anggit yang sudah hilang kendali, tenaganya semakin kuat untuk berlepas diri dari pelukan suaminya.
"Lepaskan!" bentak Anggit dengan tangisnya.
"Baiklah, aku akan mengantarkan kamu untuk menemui kedua orang tuamu. Tapi aku mohon, aku akan tetap mendampingi kamu." Ucap Leo dengan suaranya yang lirih, berharap sang istri menerima bujukan darinya.
Anggit yang tidak mempunyai cara lain, akhirnya menerima ajakan dari suaminya, meski hatinya terasa sakit dan juga dongkol.
Rasa takut untuk kehilangan kedua orang tuanya, begitu pilu untuk diterimanya. Bukan tidak bisa menerima kenyataan, kepedihan dan rasa sakit yang ia dapatkan dari suaminya sendiri saja belum terbayarkan, dan dirinya harus menerima kabar duka mengenai kondisi kedua orang tuanya yang sudah kritis keadaannya.
Bi Mira yang khawatir dengan kondisi majikannya, berkali-kali mengusap tangannya dengan minyak angin agar ada rasa hangat di tangannya.
Sedangkan Kavil yang tengah mondar-mandir ditemani Pak Beno, begitu cemas dan khawatir dengan kondisi kedua orang tuanya yang dinyatakan sedang kritis.
"Tuan, saya permisi sebentar. Saya harus mengurus jenazah Tuan Nugraha dulu, dan menyerahkan tanggungjawab kepada Pak Rando untuk mengurus kepulangan ke kota asalnya." Ucap Pak Beno berpamitan.
Kavil sendiri hanya mengiyakan, kedua tangannya tak henti-hentinya mere_mas kuat karena pikirannya yang tidak karuan.
"Tuan, mari ikut saya. Kedua orang tua ananda ingin bertemu, dan waktunya pun tidak lama." Ucap asisten dokter memanggil Kavil.
"Mama, Papa." Panggil Kavil dengan kedua matanya yang sudah sembab, air matanya pun tumpah dan membasahi kedua pipinya.
Terlihat begitu jelas dengan kondisi kedua orang tuanya, luka luka berat yang ada bagian tubuh kedua orang tuanya.
Pertama, Kavil mendekati ibunya. Perempuan yang sudah melahirkannya dan membesarkannya hingga tumbuh menjadi sosok lelaki dewasa.
"Kak-Kavil anak Mama, maaf-kan Mama yang ha-nya bib-bisa meni-tipkan kakak kam-kamu padamu. Jaga dia, sayangi dia, bahagiakan dia dengan caramu. Jaga diri kamu baik-baik saat Mama tidak bisa menemani kak-kamu." Ucap ibunya dengan terbata-bata dan langsung tercekat untuk melanjutkan ucapannya.
Seketika, denyut nadinya pun mendadak terhenti dan tatapannya kosong hingga kedua mata pun terpejam.
"Mama ...!" teriak Kavil memanggil nama ibunya.
Sedangkan Tuan Tovan yang juga sudah kritis, meraih jaket yang dikenakan oleh putranya bernama Kavil.
Saat itu juga, Kavil tersadar jika ada sang ayah yang juga dengan kondisi yang sama. Belum juga sempat berbicara dengan putranya, Tuan Tovan menghembuskan napasnya yang terakhir.
Sang dokter yang ditemani asistennya, langsung menutup sekujur tubuh jenazah ibunya Kavil dengan kain.
__ADS_1
"Pa! Papa, Pa! bangun, Pa." Teriak Kavil yang kini memanggil ayahnya dengan tangisnya yang histeris saat mendapati sang ayah yang tidak lagi bergerak.
Kavil menangis saat mendapati kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya.
Saat itu juga, Anggit yang baru saja masuk ke ruangan tersebut, kedua matanya terbelalak saat melihat kedua orang tuanya berbaring yang tidak lagi bernyawa.
"Mama ...! Papa ...!" teriak Anggit begitu kencang saat melihat kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Anggit langsung membuka penutup jenazah ibunya.
"Ma, ini Anggit datang, Ma." Ucap Anggit dengan tangisnya, dan memeluk jasad ibunya dengan perasaannya yang hancur penuh kesedihan yang mendalam.
Kemudian, Anggit menoleh pada sang ayah dan mendekatinya. Sedangkan asisten dokter kembali menutup jenazah dengan kain.
Anggit yang tengah menatap ayahnya, masih menangis histeris. Leo yang takut terjadi sesuatu pada istrinya, masih terus mendampinginya dan selalu ada di samping istrinya.
Kavil segera bangkit setelah membungkukkan badannya, dan kini giliran Anggit memeluk jenazah ayahnya.
"Pa, kenapa kalian meninggalkan Anggit dan Kavil, kita berdua sayang sama kalian. Kenapa begitu cepat kalian meninggalkan kita berdua." Ucap Anggit dengan isak tangisnya, hatinya hancur berkeping-keping.
Leo yang tidak ingin istrinya terus larut dalam kesedihannya, ia membujuk istrinya untuk segera keluar dari ruangannya, lantaran jenazah akan segera diurus.
"Sayang, ayo kita keluar. Jenazah Papa dan Mama akan segera diurus, kita menunggunya di luar." Ajak Leo kepada istrinya, serta membujuknya.
Begitu juga dengan Bi Mira, yakni ikutan membujuk Kavil untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
"Tuan Kavil, ayo ikut Bibi keluar. Biar jenazah Tuan Tovan dan Nyonya Leina diurus, kita akan menunggunya di luar." Ajak Bi Mira kepada Kavil.
Kavil yang mendapat ajakan Bi Mira, nurut dan segera keluar dengan rasa berat hati untuk kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.
Anggit yang sempoyongan untuk berjalan, akhirnya Leo menyangga tubuh istrinya agar tidak terjatuh. Kemudian mengajaknya duduk sambil menunggu proses kepulangan jenazah.
Kavil yang tengah kehilangan kedua orang tuanya, kini sudah duduk disebelah kakaknya.
Kemudian, Kavil memeluk kakak perempuannya untuk menenangkan pikiran sang kakak.
"Kakak yang kuat ya, maafkan aku yang tidak becus menjaga Mama dan Papa. Maaf aku, ini semua salahku." Ucap Kavil yang merasa bersalah atas kematian kedua orang tuanya.
Anggit langsung melepaskan pelukannya, dan menatap wajah adiknya yang terlihat sembab seperti dirinya, lantaran kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan.
__ADS_1