DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Pergi ke acara reunian


__ADS_3

Waktu yang tengah dilalui oleh Leo selama berada di kantor, rupanya kepalanya terasa pusing saat membayangkan jika karirnya akan hancur. Lebih lagi dirinya ikut kerja sama dengan rekan kerjanya, tentu saja cukup mengkhawatirkan jika kerja samanya akan gagal.


Telpon pun berdering tengah mengagetkannya, Leo langsung menyambar ponsel miliknya dan melihat siapa orangnya.


"Dian, aih!"


Saat itu juga, Leo tanpa basa-basi untuk menanyakan perihal kerja samanya. Setelah mendapat keputusan lewat panggilan telpon, Leo diminta untuk melakukan pertemuan. Namun, permintaan dari Dian diurungkan, karena dirinya sudah mempunyai janji dengan rekan kerja ayahnya. Tentunya tidak mungkin untuk membatalkan janji yang sudah disepakati.


Leo yang semakin pusing memikirkan tentang karirnya, juga pernikahannya bersama Anggit. Pusing tujuh keliling rasanya, Leo tengah memijat pelipisnya.


Tidak terasa juga, rupanya waktu pun sudah sore dan sudah waktunya untuk pulang. Leo yang tengah membereskan berkas-berkas di atas meja, segera merapikannya.


Melihat jam tangan yang sudah menunjukkan jam empat sore, Leo menghubungi Amora untuk izin tidak pulang, lantaran harus memajukan jadwal pertemuan dengan rekan kerja ayahnya. Berharap, malamnya bisa istirahat dengan baik.


Lain lagi dengan Anggit, dirinya yang tengah dalam perjalanan pulang, ia kembali menghubungi temannya untuk memastikan acara yang akan di mulai.


Berbeda dengan Amora, tengah menemani putrinya yang sedang bermain dengan mainannya.


"Ma, Papa kok belum pulang sih?" tanya Azura sambil bermain dengan bonekanya.


Amora meraih tangan putrinya, dan menatapnya dengan senyumannya.


"Papa lagi ada pertemuan dengan temannya Papa. Nanti juga pulang kok sayang. Biar Azura gak kelamaan nunggu, bagaimana kalau Mama buatkan puding. Nanti biar gak kerasa Papa pulang, ok."


"Asik ... Mama buat puding." Ucap Azura dengan girang sambil berbicara dengan bonekanya.


Amora yang melihat putrinya bahagia, hanya tersenyum getir dan masih merasa kesal lantaran suaminya belum juga pulang. Lebih lagi dengan Anggit yang belum terlihat di rumah, tentunya menyimpan rasa cemburu karena selalu pulang bersamaan.


Merasa seperti istri sah yang tengah diselingkuhin, Amora berdecak kesal saat berada di dapur ketika tengah membuat puding untuk putrinya.


Sedangkan Anggit yang baru saja sampai di depan rumah, ia segera bergegas untuk masuk, dan mendapati Azura tengah bermain dengan bonekanya.


Azura yang melihatnya, pun merasa senang karena Anggit sudah pulang.

__ADS_1


"Tante cantik sudah pulang, ye ... asik ... Zura ada temannya."


Dengan riang bahagianya anak kecil, Azura langsung menghampiri Anggit yang diakui sebagai tantenya. Anggit pun tersenyum pada Azura, dan ia berjongkok.


"Tante cantik lama banget sih pulangnya, Zura kan belum pernah main bareng Tante. Hari ini Tante gak sibuk, 'kan? temani Zura main yuk."


"Ya sayang, Tante mau ke kamar dulu ya, mau ganti baju dulu. Azura tunggu disini sebentar, ya."


"Iya Tante cantik."


Saat itu juga, rupanya Amora sudah berdiri di belakang putrinya. Sontak saja Anggit kaget, dan bergegas bangkit berdiri.


"Azura, Tante mau ke kamar dulu ya. Azura main dulu sama Mama Amo, ok."


"Ok Tante," jawab Azura bersemangat.


Anggit yang malas menyapa perempuan yang sudah merusak rumah tangganya, memilih untuk bergegas masuk ke kamarnya untuk istirahat sejenak.


Anggit yang sudah berada didalam kamar, segera melepaskan pakaian kerjanya dan menggantinya dengan baju santai. Kemudian, ia mencuci mukanya agar terasa segaran.


Badan yang terasa capek, juga pikirannya yang terasa penat, Anggit merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sambil menenangkan pikirannya, sejenak memejamkan kedua matanya. Berharap, masalah yang sedang menimpa dirinya agar segera berakhir dan dirinya dapat bernapas dengan lega.


Merasa sudah cukup untuk istirahat, Anggit segera keluar dari kamarnya. Bahkan, lagi-lagi dirinya lupa jika akan menemani Azura, anak dari istri kedua suaminya.


Saat kesadaran kembali, rupanya ia dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Anggit segera membukanya.


"Bi Mira, ada apa Bi?" tanya Anggit yang baru saja membuka pintunya.


"Sudah waktunya untuk makan malam, Nona. Tuan Leo tadi berpesan, jika Nona mau berangkat ke acara reunian, kata Tuan akan diantar sama Pak Rudi." Jawab Bi Mira sekalian menyampaikan pesan dari Tuannya.


"Ya Bi, makasih. Sebentar lagi saya turun, Bibi boleh lanjutkan lagi pekerjaan Bibi." Ucap Anggit.


Bi Mira segera berpamitan dan melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Anggit yang tidak ingin badan kembali terasa gerah, memilih untuk makan malam terlebih dahulu, baru ia mandi.


Azura yang tidak jadi bermain dengan Anggit, tengah memasang muka cemberutnya.


"Maafin Tante ya sayang, tadi Tante kecapean, eee ketiduran juga akhirnya. Azura jangan marah ya? gimana kalau Tante suapin Azura sebagai gantinya, mau ya?"


Azura yang tengah dibujuk oleh Anggit, tersenyum lebar.


"Asik ... disuapin Tante cantik." Jawab Azura dengan girang.


Sedangkan Amora yang melihatnya, pun merasa dicuekin oleh putrinya sendiri.


Sambil menyuapi Azura, Anggit juga menyuapi dirinya sendiri hingga kedua piring sama-sama habis dan tidak tersisa.


Karena ada janji untuk reunian bersama teman-teman sekolahnya, Anggit buru-buru untuk bersiap-siap. Sedangkan Amora mengajak putrinya untuk tidur.


"Semoga saja aku tidak terlambat datangnya, bikin malu aja kalau sampai aku telat. Pasti mereka semua akan mentertawakan aku yang dulunya sering datang terlambat saat masih sekolah." Gumamnya sambil bersiap-siap.


Ketika tidak ada lagi yang tertinggal, Anggit kembali memperhatikan penampilannya. Takut, jika yang ia kenakan kurang sopan untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya.


Selesai bersiap-siap, Anggit segera berangkat. Sedangkan teman-teman yang lainnya pun tengah dalam perjalanan menuju tempat yang sudah ditentukan oleh ketua geng sekolah.


Selama perjalanan, Anggit merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya. Rasa penasaran dengan pertemuan yang nyata, tentunya akan menyimpan sebuah kenangan.


Cukup lama menempuh perjalanan karena macet, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Di sudut ruangan yang privasi, ada seseorang yang sedang memberi perintah kepada beberapa anak buahnya.


"Lakukan tugas kalian dengan benar, dan jangan sampai kalian lengah sedikitpun, ingat itu. Kalau sampai gagal, maka aku sendiri tidak akan bertanggung jawab, paham kalian." Ucap seseorang yang sedang memberi perintah dan juga tidak lepas dengan ancaman.


"Baik, Bos, saya akan melakukan tugas dari Bos dengan baik." Jawab salah satu orang suruhannya.


Dengan seringainya, merasa jika dirinya akan berhasil untuk melakukan rencana yang sudah di atur sejauh hari.


Anggit yang sudah sampai di hotel, sudah tidak sabar rasanya untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu.

__ADS_1


__ADS_2