
Amora yang dengan terpaksa mengiyakan, tetap saja dalam hatinya tidak mau harus mengalah, dan tetap akan menuntut pada Leo.
Lain lagi dengan Anggit, kini tengah ditemani asisten rumah kepercayaan dari keluarga Anggit sendiri.
'Kasihan Nona Anggit, bagaimana jika keluarganya mengetahui jika Tuan Leo telah mempunyai wanita lain. Semoga saja Nona Anggit memiliki pilihan yang teguh.' Batinnya ikut merasa bersedih, lantaran majikan perempuannya harus menerima sakit hati atas perbuatan majikan laki-lakinya.
"Bibi belum tidur?"
Saat itu juga langsung menoleh ke sumber suara.
"Tuan, maaf. Bibi belum bisa tidur, soalnya takut Nona Anggit tiba-tiba bangun." Jawabnya sedikit menunduk.
"Sekarang Bibi boleh istirahat, biar aku yang akan menemani istriku." Ucap Leo memberi perintah.
"Baik, Tuan." Jawabnya disertai anggukan, dan bergegas keluar dari kamar majikannya.
Setelah tidak ada lagi asisten rumah di kamarnya, Leo segera mengunci pintunya. Kemudian, Leo ikutan berbaring di sebelah istrinya yang tengah tidur memeluk guling yang dijadikan teman tidurnya.
Pelan-pelan, Leo mengganti posisi tidurnya yang miring. Sambil memperhatikan wajah istrinya yang tengah tidur, Leo mendaratkan kecupan di keningnya dengan lembut.
"Maafkan aku, sayang." Ucapnya lirih sambil memeluk istrinya.
Anggit yang sudah terlelap dari tidurnya, sama sekali tidak menyadari jika suaminya tengah memeluk dirinya.
Sedangkan di kamar yang lain, Amora sendiri belum bisa tidur, lantaran tengah sibuk dengan ponselnya.
"Aku pastikan, bahwa akulah yang akan menjadi nyonya di rumah ini. Putriku yang akan menjadi alat untuk menguasai kekayaan dari keluarga Hambalan. Setelah putriku menguasai segalanya, maka saatnya aku menyingkirkan Leo." Gumamnya sambil memainkan ponselnya dengan seringainya yang licik.
Karena tidak ingin waktu istirahat terbuang sia-sia, Amora segera tidur di sebelah putrinya hingga pagi hari menyambutnya.
"Ma, bangun, Ma." Panggil Azura pada ibunya untuk membangunkannya.
Amora pelan-pelan membuka kedua matanya, dan mengucek karena terasa lengket seperti ada lem.
"Kenapa, sayang? Mama masih ngantuk, mending kamu tidur lagi aja. Ini masih kepagian, juga dingin. Sini, Mama peluk." Jawab Amora dengan suara yang malas.
"Mama kok tidurnya enggak bareng Papa sih? Papa marah ya?"
"Enggak, sayang. Papa lagi ada kesibukan, mendingan Azura tidur aja. Nanti Mama bangunin kalau udah waktunya bangun." Jawab Amora beralasan.
"Azura udah gak ngantuk lagi, kita bangun yuk Ma."
"Nanti aja, sayang. Mama masih ngantuk, sini Mama peluk, agar kamu bisa tidur lagi." Rayu Amora pada putrinya agar mau melanjutkan tidurnya.
"Enggak ah, Azura mau keluar nyari Papa. Mama pasti bohong, Papa pasti sudah bangun." Kata Azura yang tidak mau dirayu oleh ibunya.
Mau tidak mau, Amora tidak bisa melarangnya.
__ADS_1
"Tapi ingat ya, jangan bikin gaduh di rumah ini. Nanti kalau ketahuan Papa, kamu bisa kena marah." Ucap Amora menakut-nakuti putrinya.
"Mama tenang aja, Azura enggak akan nakal di rumah Papa." Jawab Azura sambil menatap ibunya begitu serius.
"Ya udah kalau gitu, cuci muka dulu sama sikat gigi. Setelah itu, Azura boleh keluar dari kamar." Ucap Amora.
"Ya Ma, ya." Jawab Azura dan segera bergegas masuk kamar mandi.
Sedangkan di dalam kamar satunya, Anggit yang sudah mulai terasa gerah karena mendapat pelukan dari suaminya, pelan-pelan membuka kedua matanya. Kemudian, ia merasakan sesuatu yang terasa sesak untuk bergerak.
Susah payah untuk menyempurnakan kesadarannya karena kedua matanya yang terasa lengket akibat menangis, membuatnya tidak karuan rasanya.
Kemudian, Anggit meraba bagian pinggangnya dan terdapat sebuah tangan suaminya.
Seketika, Anggit langsung berbalik posisinya. Alangkah terkejutnya saat suaminya ternyata tidur bareng dan memeluknya. Cepat-cepat Anggit segera menyingkirkan agak jauh dari posisi suaminya.
Leo yang tersadar dari tidurnya, langsung menyambar tangan istrinya, dan menariknya dengan kuat, hingga Anggit sendiri tak mampu untuk memberontak.
"Lepaskan!" bentak Anggit saat dirinya berusaha untuk memberontak.
"Kamu kenapa sih sayang, aku ini suami kamu. Semalam aja kamu begitu nyaman saat aku peluk, kenapa sekarang mendadak galak seperti ini." Jawab Leo dengan posisi memeluk istrinya.
Dengan tatapan yang begitu tajam pada suaminya, ingin rasanya meludah di bagian wajahnya, namun ia sadar yang dihadapinya adalah suaminya sendiri.
"Kamu ingin tahu kenapa aku menjadi galak seperti ini? tanyakan sendiri pada diri kamu itu."
"Aku kan sudah meminta maaf sama kamu. Terus, aku harus melakukan apa untuk menebus semua kesalahan yang sudah aku perbuat padamu, sayang?"
"Kalau aku harus menjaga jarak denganmu, aku harus mendekati siapa? apakah aku harus mendekati Amora, dan memberi perhatian padanya?"
"Terserah kamu, aku gak peduli."
"Jangan gitu dong, sayang. Aku kan sudah meminta maaf dan akan mempromosikan kamu daripada Amora, kecuali untuk Azura, mungkin berbeda, karena Azura adalah putriku." Kata Leo dengan entengnya.
"Lepaskan! aku mau ke kamar mandi, badanku terasa gerah, minggir." Ucap Anggit sedikit membentak sambil menyingkirkan tangan suaminya.
Leo yang tidak mungkin untuk memaksakan kehendak, memilih untuk menuruti istrinya.
Leo yang tidak ingin membuat istrinya semakin emosinya bertambah, segera turun dari kamarnya untuk meminta asisten rumah mengantarkan sarapan pagi untuk istrinya.
"Papa, Pa, Papa dimana?" panggil Azura sambil celingukan di ruang keluarga mencari sosok Leo yang diakui sebagai ayah kandungnya.
"Eee, ada Nona kecil. Nona sedang mencari siapa?" tanya salah seorang asisten rumah yang lainnya, lantaran belum mengetahui keberadaan Azura dan Amora di rumah tersebut.
"Namaku Azura, aku anaknya Papa Leo Jantrika. Tante tau enggak, Papanya Azura dimana ya?"
Seketika, asisten rumah sangat terkejut mendengar pengakuan dari Azura yang mengaku anak dari majikannya.
__ADS_1
"Sudah sudah, lebih baik kamu kembali ke dapur untuk siapkan sarapan pagi. Biar Bibi yang nangani Nona kecil ini, nanti akan Bibi kasih tahu siapa Nona kecil ini. Jadi, cepat kamu siapkan sarapan paginya." Ucap Bibi yang tidak ingin semakin banyak pertanyaan dari salah seorang asisten yang lainnya.
"Bibi, Papanya Azura dimana ya?" tanya Azura sambil celingukan mencari keberadaan ayahnya.
Belum juga menjawab pertanyaan dari Azura, pandangannya tertuju pada majikannya yang tengah menuruni anak tangga.
Azura yang juga melihatnya, langsung berbinar.
"Papa!"
Azura langsung berlari menuju ayahnya, Leo yang merasa namanya disebut, langsung berjongkok dengan merentangkan kedua tangannya, dan memeluknya.
"Papa kemana aja sih, kok gak tidur bareng Mama Mora."
"Maafkan Papa, sayang. Semalam Papa itu ada kerjaan yang sangat padat. Jadi, gak bisa temani Mama Mora tidur." Jawab Leo beralasan, dan mendongak menatap asisten rumahnya.
"Bi, jangan lupa antar sarapan pagi untuk Anggit." Perintah Leo pada asisten rumahnya.
"Baik, Tuan. Kalau begitu Bibi permisi." Jawabnya dan segera menyiapkan sarapan pagi untuk majikan perempuannya.
Sedangkan Leo segera mengajak putrinya ke suatu tempat yang dapat menghiburnya.
Bi Mira selaku asisten rumah kepercayaan dari keluarganya Anggitinasya, merasa sedih saat harus melihat majikan perempuannya tengah dilanda ujian dalam hubungan pernikahannya.
Pelan-pelan Bi Mira mengetuk pintunya. Anggit yang mendengarnya, pun segera membukanya.
"Bibi, kirain siapa."
"Maaf Nona, jika Bibi sudah menganggu Nona Anggit. Ini, Bibi bawakan sarapan pagi untuk Nona. Tadi Tuan Leo yang menyuruh mengantarkan sarapan pagi."
"Bibi gak perlu repot repot mengantarkan sarapan pagi untuk saya, Bi."
"Tidak apa-apa, Nona. Justru itu, Bibi tidak mau jika Nona sakit. Kalau sampai Nona sakit, Bibi bisa kena marah sama kedua orang tuanya Nona." Jawab Bi Mira.
"Ya udah kalau gitu, Bibi boleh bawa masuk ke dalam." Ucap Anggit mempersilahkan Bi Mira masuk ke kamarnya.
Bi Mira yang kebetulan melihat layar laptop yang tersambung dengan CCTV rumah, merasa bersedih ketika melihat majikan laki-lakinya yang tengah bersama gadis kecil di taman belakang.
"Nona, yang sabar ya. Percayalah sama Bibi, Nona pasti bisa melewatinya." Ucap Bi Mira sambil berjalan mendekati yang tengah duduk di tepi ranjang tidurnya.
"Makasih ya, Bi. Saya tidak punya harapan besar untuk menjalani rumah tangga ini. Sepertinya suami saya sudah menemukan kebahagiaan yang baru, bukan dengan saya, melainkan dengan wanita lain."
"Nona jangan menyerah begitu saja, masih banyak cara untuk membuat mereka berdua menjadi jera. Kalau boleh Bibi memberi saran, Bibi akan mengatakannya pada Nona."
"Saran, saran apa itu Bi?"
"Begini Nona, kalau boleh Bibi berpendapat, lebih baik Nona mempertahankan pernikahan Nona. Berikan efek jera untuk ibu dari gadis kecil itu, dan juga suami Nona sendiri. Ingat, Nona jangan terlihat lemah dan harus berani dengan wanita itu. Tapi maaf, bukan niat Bibi buat ngajarin Nona yang tidak tidak." Jawab Bi Mira memberi solusi dan nasehat kepada majikan perempuannya.
__ADS_1
Anggit yang tengah mencerna apa maksud yang dikatakan oleh Bi Mira, mencoba untuk memikirkannya kembali.
Setelah mengerti, Anggit menyetujui saran dari Bi Mirna.