
πΈπΈ
Hai pembaca setiaku, terima kasih ya karena kalian karya saya jadi banyak peminatnya, buat kalian yang selalu suport aku baik secara langsung atau yang mode kalem Author ucapin banyak banyak terima kasih. Baca juga karya terbaru saya yang berjudul"Aku bukan wanita penggoda" Happy reading..
πΉπΉ
Setelah Cerry dan Willy pergi Abee memutuskan untuk kembali ke kantor. Sedangkan Najwa kembali bekerja seperti biasanya..
Tak perlu waktu lama Abee telah sampai di kantor, karena jarak dari Rumah sakit ke Kabtor Abee tak begitu jauh..
Abee tengah sampai di kantor, Leon telah menunggu di ruangannya.
"Bos kita ada metting penting sekarang." ucap Leon ketika Abee baru saja memasuki ruangannya..
Abee menaikan satu alianya." kamu enghak lihat Leon aku baru saja sampai, bisa tunggu 5 menit enggak?" ucap Abee tanpa ekspresi.
Leon tertawa dan langsung ikut duduk di depan Abee, " maaf bos rapatnya masih 2 jam lagi, aku hanya kasih tahu saja." ucap Leon dengan cengar cengir gak jelas..
"S*alan awas aja ya kamu nanti aku potong gaji kamu sebagai kompensasinya." ucap Abes dengan tatapan yang bisa dibilang kesel.
"Jangan seperti lagunya Afgan dong Boss Sadis" ucap Leon sembari tersenyum...
Abee masih diam saja tak merespon ucapan leon. "pokoknya potong gaji" ucap Abee tanpa menoleh ke arah Leon..
Leon cemberut dan sedikit kesal. " punya Bos gak bisa di ajak bercanda, hufzz" ucap Leon sembari melipat kedua tangannya..
Abee tertawa puas bisa mengerjai Leon, "ingat potongannya 50% ya" ucap Abee sembari menahan tawa.
Leon semakin kesal dibuat oleh Abee." gak usah di gaji aja sekalian. Gimana aku mau nabung jika kau mau potong gajiku." ucap Leon bla bla...
Abee tak kuat menahan tawanya, "makanya jangan iseng jadi orang? Gak enakkan kalau kau yang kena sendiri?" ucap Abee dengan mengedipkan sebelah matanya..
"Ah s*al loe" ucap Leon kemudian tertawa..
Abee dan Leon memang sahabat yang aneh, mereka suka jahil satu sama lainnya..
"Eh Bee dengar dengar Maurent udah melahirkan?" ucap Leon dengan tersenyum.
"Serius" ucap Abee, wah Najwa harus tahu ini.ucap Abee kemudian..
πΌπΌ
Dilain tempat Adrian sedang melakukan aktifitasnya di dalam tahanan, Yaitu kerja bakti.
Adrian tak pernah malu berbaur dengan Napi yang lain. Justru dirinya mengambil hikmah dari semua kejadian yang tengah menimpa dirinya..
__ADS_1
"Adrian" panggil seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Briptu Arifin.
"Ada apa Pak," ucap Adrian yang bingung ketika di panggil oleh Pak Arifin.
Briptu Arifin tersenyum. "kau ini rajin sekali, istirahat dulu dan ambil ini." ucap Briptu Aeifin sembari menyodorkan minuman yang dia bawa.
"terima kasih pak." ucap Adrian dengan tersenyum..
Adrian nampak kehausan minuman yang di berikan oleh Briptu Arifinpun di tenggaknya habis tanpa tersisa..
Semenjak masuk tahanan Adrian menjadi sosok yang ramah dan ceria, tak sekali dua kali Adrian sering di beri makanan oleh Briptu Arifin..
"Adrian apa kamu tak merindukan Ayah kamu?" ucap Briptu Arifin.
Adrian diam sejenak. "Aku sangat merindukannya Pak, tapi mau gimana lagi. "ucap Adrian terlihat lesu..
Briptu Arifinpun tersenyum. "Tetap semangat anak muda masa depanmu masih panjang." ucap Briptu Arifin dengan lembutnya..
Setelah berbincang bincang Adrian pamit hendak menyelesaikan tugasnya karena sebentar lagi masuk waktu dzuhur.
"saya permisi dulu Pak?" ucap Adrian dengam sangat sopan.
"Silahkan Adrian, nanti saya tunggu di masjid, lakukan tugasmu dengan cepat karena kamu yang harus Adzan bukan." ucap Briptu Arifin.
"Baik Pak." ucap Adrian lalu dia pergi berlalu meninggalkan Briptu Arifin..
Dilain tempat Najwa sedang berada di ruangannya, Tak terasa hari kian larut Najwa bergegas merapikan peralatannya dan menunggu suaminya Abee menjemputnya..
"Kamu dimana Mas, Kok udah jam segini kamu belum juga jemput?" ucap Najwa sembari melihat jam tangan miliknya.
Tak selang beberapa menit kemudian Abee datang. " maaf sayang aku telat." ucap Abee sembari memeluk istrinya.
"Hemmsa dari mana?" ucap Najwa mengintrogasi.
"Tadi ada meeting sayang, ini juga baru selesai langsung kesini jemput kamu. " ucap Abee menjelaskan.
Setelah itu Abee dan Najwa pulang menuju rumahnya..
"Sayang kamu marah ya." ucap Abee sembari melirik Najwa yang berada di sampingnya.
Najwa menggeleng..
"Lantas kenapa?" ucap Abee kemudian.
"Sayang kapan kita bisa liburan bareng lagi. Aku kangen saat saat berdua sama kamu." ucap Najwa to the point.
__ADS_1
Abee tersenyum. "kamu mau liburan kemana sayang?" ucap Abee masih tetap fokus menyetir.
"Terserah kamu saja sayang" ucap Najwa dengan tersenyum.
"Ya udah tapi nunggu gak sibuk yah?" ucap Abee dengan tersenyum.
"Terima kasih sayang." ucap Najwa sembari menge*up pipi kanan suaminya..
Dikediman Adijaya, nampaklah seorang lelaki paruh baya yang sedang berada di luar rumah Adijaya, Ingin masuk namum malu.
Adijaya yang kala itu sedang berada di ruang tengahpun kaget melihat kedatangan adiknya Rahardian.
Rahardian memberanikan diri untuk mengentuk pintu rumah kakaknya itu. Dengan jantung berdetak dengan kencangnya Raharian mengetuk pintu rumah Kakaknya itu.
"Assalamualaikum." ucap Rahardian dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Waalaikumsalam." ucap Adijaya sembari membukakan pintu. Dian?" ucap Adijaya terkejut.
Rahardian diam sejenak, " Mas maafin Dian." ucap Rahardian sembari berlutut memegang kedua kaki Kakaknya Adijaya.
Adijaya tersentuh hatinya, dia tak menyangka Adik yang sangat dia rindukan ahirnya berada di depannya. " Dian adikku" ucap Adijaya dengan mata yang berkaca kaca.
Rahardian berbaur kedalam pelukan sang Kakak, Dia sangat bahagia begitupun dengan Adijaya.
Tak selang beberapa menit kemudian Nyonya Cindi keluar dan melihat dua Kakak Adik saling berpelukan. Hatinya sedikit senang ahirnya bisa melihat suami dan Adik iparnya bersama lagi.
Rahardian menoleh ke arah Nyonya Cindi,
"Mbk Cindi maafin Dian." ucap Rahardian sembari berlutut memohon maaf.
Nyonya Cindi tersenyum, " bangunlah Dian, aku juga telah memaafkanmu." ucap Nyonya Cindi dengan tersenyum.
Rahardian dipersilahkan duduk, mereka membicarakan banyak hal. Rahardian mengatakan dia ingin punya cucu dari Najwa, menyinggung tentang cucu tba tiba buliran bening menetes membasahi pipi keriput Rahardian.
"kenapa kau menangis Dian." ucap Adijaya dengan wajah yang heran.
"Mas, Mbk maafin Dian, karena ulah Adrian kalian kehilangan calon cucu kalian?" ucap Rahardian dengam raut sedih.
Adijaya dan Cindi saling tatap, Mereka tak pernah menyangka jika Rahardian memang telah benar benar berubah. Mereka senang dan tersenyum ke arah Rahardian.
"Dian semua ini sudah rencana dari Allah kita ambil hikmahnya saja ya." ucap Adijaya dengan kedewasaannya..
Hati Rahardian sedikit Lega melihat kakaknya benar benar dengan tulus telah memaafkannya..
"Terima kasih Mas, terima kasih Mbk." uca Rahardian dengan sedikit senyuman..
__ADS_1
ππ
Terima kasih semua pembaca setiaku jangan lupa tinggalin jejak ya, seperti like komen dan bantu vote juga... Author minta maaf jika masih banyak kekurangan di karya author .Mari saling mendukung...