
Kedua orang tuanya Leo memandanginya dengan perasaan tidak suka, lebih lagi dulu pernah menolaknya untuk menjadikannya menantu.
"Ada apa kamu datang kemari dengan membawa mantan kekasihmu itu, juga gadis kecil di sampingmu, Nak?" tanya sang kakek yang memulai memberi pertanyaan, meski pertanyaan itu sudah dilontarkan oleh ibunya Leo sendiri.
Sedangkan kedua orang tuanya Leo masih diam dan menunggu jawaban dari putranya. Begitu juga dengan Amora dan Azura, keduanya sama-sama diam.
Azura yang mendapat peringatan dari Leo, pun nurut dan mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
Namun sebelumnya, Leo meminta asisten rumah untuk mengajak Azura bermain di ruang yang lain. Takutnya, nanti akan mendengar perdebatan antara dirinya bersama kedua orang tuanya, juga kakeknya.
"Bi, tolong ya ajak Azura main di ruangan yang lain. Dan kamu Azura, jangan nakal ya."
Azura mengangguk, dan Asisten rumah mengajaknya ke taman belakang rumah.
Kini, tinggal kesunyian dalam ruangan keluarga.
"Sebelumnya aku mau meminta maaf sama kalian semua, terlebih lagi sama Mama. Aku mau mengatakan bahwa Amora adalah istri keduaku, sedangkan gadis kecil tadi itu adalah putriku. Aku sudah berselingkuh dibelakang Anggit selama tujuh tahun lamanya." Ucap Leo yang akhirnya berterus terang mengenai hubungannya dengan Amora, sekaligus dengan statusnya Azura adalah putrinya.
Kedua orang tuanya maupun sang kakek langsung melotot saat mendengar pengakuan dari putranya.
BRAK!
Tuan Dorman yang selaku ayahnya, langsung menggebrak meja dengan sangat kuat.
"Kamu bilang apa tadi, perempuan ini adalah istrimu? juga, gadis kecil yang kamu bawa itu, putrimu?"
Leo mengangguk tanda mengiyakan.
Ibunya Leo yang mendengar pengakuan dari putranya, mendadak tubuhnya menjadi lemas. Lebih lagi dengan perselingkuhan yang sudah dijalaninya selama tujuh tahun, tentunya membuat hati orang tua merasa sakit hati atas kebohongan yang dilakukan oleh putranya sendiri.
__ADS_1
Saat itu juga, sang ibu merasakan sesak dalam dadanya setelah mendengar semuanya, yakni pengakuan dari putranya.
Begitu juga dengan sang kakek, didalam dadanya ikutan bergemuruh mendengar pengakuan dari cucunya.
"Keputusanku sudah bulat, aku tidak akan berpisah dengan Amora maupun Azura putriku." Ucapnya lagi dengan tekadnya yang sudah bulat.
Amora yang memang mengetahui jika keluarga Hambalan tidak menyukainya, menunduk dan menjadi pendengar.
"Mama tidak setuju, lalu bagaimana dengan Anggit? pasti dia sangat bersedih, dan juga sakit hati jika mengetahui perselingkuhan kalian. Kamu benar-benar sudah membohongi Mama, juga Papa, maupun Kakek."
"Dan Papa tidak akan pernah merestui hubungan kalian, apapun alasannya, sekalipun kamu menunjukkan bahwa kamu mempunyai anak dengan perempuan di sampingmu." Sambung kakek ikut berkomentar.
"Dan kamu Leo, Kakek tidak lagi mempercayaimu memegang kendali di perusahaan. Posisi kamu tidak lain hanya sebagai kaki tangan saja, kamu dibawah kendali Papa mu."
"Apa! hanya dijadikan kaki tangan? tidak, Kek. Susah payah aku mempertahankan pertumbuhan di perusahaan, dan sekarang memecat ku begitu saja? aku tidak akan mau."
"Keputusan Kakek sudah bulat, kamu akan menjadi kaki tangan Papamu." Kata sang kakek.
BRAK!
Tuan Dorman kembali menggebrak mejanya.
"Baik, kamu akan tetap menjadi pimpinan perusahaan, tetapi akan ada syaratnya. Kamu harus menaikkan kurva pertumbuhan perusahaan. Jika sampai tidak ada perubahan, maka dengan terpaksa, kamu akan Papa pecat, dan tinggalkan perempuan yang ada disebelah mu." Ucap Tuan Dorman memberi ancaman pada putranya.
Leo yang mendapat keringanan dari orang tuanya, hatinya merasa lega dan masih mempunyai kesempatan untuk mempertahankan hubungannya dengan Amora.
Mau bagaimanapun, mendengar kata cucu, tetap tidak tega mengabaikan anak yang tidak berdosa, juga tidak tahu apa-apa, semua kesalahan berdasarkan perbuatan orang tuanya.
"Lalu, bagaimana dengan Anggit? Mama tidak akan terima jika terjadi sesuatu padanya. Ancaman Mama, kamu Amora. Kalau sampai menantu kesayanganku depresi, kamu yang akan menanggungnya." Ucap ibunya Leo memberi ancaman pada Amora.
__ADS_1
"Mama tenang saja, Anggit sudah menerima hubungan kami berdua. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai Anggit. Soalnya dia menyadari karena tidak bisa memberiku keturunan." Jawab Leo begitu entengnya.
Tetap saja, ibunya yang sebagai kodratnya perempuan tetap bisa merasakan bagaimana yang dirasakan oleh menantunya.
"Papa mau berangkat ke kantor, terserah kamu mau pulang atau masih berada di rumah ini." Ucap sang ayah yang langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Kakek juga, hari ini akan ada pertemuan dengan teman Kakek. Jadi, Kakek pamit." Sambung sang kakek yang juga ikutan pergi meninggalkan cucunya bersama Amora.
"Kalian sudah lihat sendiri, kan? Papa kamu dan juga kakek kamu saja tidak menerima kehadiran putrimu, begitu juga dengan Mama. Mungkin Mama akan menerima kehadiran putrimu sebagai cucu keluarga Hambalan, tapi itu hanya sebuah pengakuan saja dimata gadis kecil yang tidak bersalah, dan tidak tahu apa-apa." Ucap ibunya Leo dengan tegas.
"Baiklah, setidaknya aku sudah mengatakannya dengan jujur, dan putriku sudah mengetahui siapa keluarganya." Jawab Leo yang merasa cukup dongkol degan apa yang ia dengar dari ucapan ibunya.
Ibunya hanya diam dan tidak lagi menanggapinya.
Amora yang mendengarnya, pun hatinya terasa panas saat kehadiran putrinya tidak diharapkannya.
'Sekarang kalian boleh bilang berkata tidak bisa menerima putriku, tapi suatu saat nanti kalian akan memberi perhatian lebih pada putriku, lihat saja nanti. Baiklah, mungkin saja sekarang ini aku harus banyak berpikir untuk menyingkirkan Anggit dari keluarga Hambalan. Setelah itu, barulah aku yang akan menjadi nyonya Leo yang sesungguhnya.' Batin Amora yang merasa sakit hati saat kehadiran putrinya tidaklah disambut dengan hangat.
Setelah berterus terang, Leo akhirnya memilih untuk pulang. Karena ia tahu, kedua orang tuanya maupun sang kakek belum dapat menerima kehadiran Amora dan Azura di dalam keluarga Hambalan.
"Ma, aku pamit. Percayalah denganku, Anggit baik-baik saja dan juga menerima kehadiran Amora dan putriku yang bernama Azura. Jadi, Mama tidak perlu mengkhawatirkannya." Ucap Leo berpamitan, tak lupa mengatakan soal kondisi Anggit, yakni istri pertamanya.
"Semoga saja ucapan kamu itu benar. Kalau sampai yang kamu ucapkan berbanding terbalik, Mama akan turun tangan." Kata sang ibu memberi ancaman pada putranya.
Leo mengangguk.
"Mama boleh menanyakan sendiri pada Anggit, yang aku ucapkan ini benar atau salah. Nanti Mama juga bakal tahu sendiri jawabannya." Ucap Leo begitu entengnya.
Sang Ibu hanya menatap putranya tanpa menjawabnya lagi.
__ADS_1
"Ma, Amora pamit." Ucap Amora dengan percaya dirinya memanggil ibunya Leo dengan sebutan Mama saat menyodorkan tangannya untuk mencium punggung tangan ibunya Leo.
Ibunya Leo sendiri tidak merespon, hanya menerim uluran tangan dengan terpaksa punggung tangannya dicium oleh Amora.