
Kakek Hambalan yang mendengarnya, pun menepuk pundak milik cucunya.
"Terlalu sempit cara berpikir mu, lebih baik kamu pulang dan pikirkan baik-baik keputusan yang akan kamu ambil. Bersiaplah dengan keputusan yang akan kamu pilih, bahkan bersiap-siap untuk tidak mendapatkan semuanya." Ucap kakek Hambalan.
"Maksudnya Kakek apa?" tanya Leo yang belum mengerti.
"Namanya sebuah pilihan, tidak semuanya akan menjadikan kamu beruntung. Jadi, buatlah keputusan walau itu hanya kecewa yang akan terima." Jawab kakek Hambalan.
"Benar, anakku. Ambillah keputusan yang bisa membuatmu lega, juga siap menerima kenyataan." Sambung ibunya ikut menimpali.
Leo yang mengerti akan pilihannya, kini mengerti apa yang diperintahkan ibunya maupun kakeknya.
"Baiklah, aku akan memikirkannya. Sebuah pilihan yang mana harus siap menerima konsekuensinya. Aku pamit, Ma, Kakek." Ucap Leo yang akhirnya berpamitan pulang ke rumahnya.
"Kamu sudah dewasa, dan juga mempunyai pilihan sendiri. Berpikirlah dengan baik, jangan ikuti egomu, maupun naf_su mu." Jawab ibunya mengingatkan.
Setelah berpamitan, Leo segera pergi dari keluarganya.
Sungguh penat jika menentukan pilihannya setelah mengetahui kebenarannya. Leo yang masih belum ingin pulang ke rumahnya, memilih mencari tempat yang bisa menangkan pikirannya. Sebuah danau kecil yang mungkin bisa menghilangkan kejenuhannya, Leo duduk santai di tepian danau dengan ditemani minuman sederhana.
Sambil melempar kerikil kerikil kecil, Leo merasa tengah dilema ketika mengetahui jika Dion adalah bukan orang sembarangan. Bahkan, perusahaan yang ia pegang adalah miliknya.
Saat itu juga, Leo dikagetkan sosok perempuan yang menjatuhkan diri di danau. Leo yang melihatnya pun, spontan langsung terjun ke danau dan menyelamatkannya.
Kemudian, semua yang melihat kejadian itu, langsung berkerumun melihatnya. Dengan cepat tanggap, langsung datang mobil ambulan dan membawanya ke rumah sakit. Leo yang sudah basah kuyup, merasa lega karena dapat menyelamatkan korban.
"Terima kasih banyak ya Pak, sudah menyelamatkan putri saya." Ucap Ibu paruh baya memberi ucapan terimakasih karena sudah menyelamatkan putrinya.
"Ya Bu, sama-sama. Semoga putrinya Ibu baik-baik saja." Jawab Leo dengan anggukan.
"Dasar perempuan bodoh, dengan cara berpikirnya yang pendek, mau aja bun_uh diri. Palingan juga patah hati, atau gak ketahuan selingkuh sama pasangannya." Gerutu Leo yang tanpa menyadari akan hubungannya bersama istri pertamanya yang sudah hancur karena masalah perselingkuhan yang diawali darinya.
__ADS_1
"Ini Pak, baju ganti untuk Bapak." Ucap seorang laki-laki yang menyodorkan satu paket baju ganti, terlihat dari pakaiannya yang dikenakan oleh seorang pekerja di area danau tersebut.
"Terima kasih, lain kali itu jangan lengah dengan CCTV. Kalau kerja itu yang benar, harus ada pengawasan dalam mengawasi area danau ini, tau."
"Ya, Pak. Sekali lagi terima kasih sudah mengingatkan. Sebagai gantinya, Bapak boleh makan di warung makan kami sepuasnya. Mari Pak, akan saya antar sampai di ruang ganti."
Leo yang memang sudah lapar dan juga sudah santun untuk makan siang, akhirnya menerima tawaran.
Setelah mengganti pakaiannya, Leo menikmati makan siangnya sendirian dengan menu makanan yang berbagai macam yang dihidangkan.
Merasa sudah kenyang, tiba-tiba ingatannya tertuju pada Amora yang mempunyai janji dengan seseorang. Tidak mau kehilangan jejak, Leo meminta kepada orang kepercayaan orang tuanya untuk mengikuti istrinya kemana perginya. Tentunya, Leo tidak ingin kejadian dengan istri pertamanya terulang lagi.
Tetap saja Leo berhati-hati kepada Amora, maupun siapa saja.
Leo yang sengaja tidak menunjukkan sikap kecurigaannya kepada istrinya, segera pulang ke rumah sesuai jam kerja.
Sampainya di rumah, Leo seperti biasa memanggil Azura saat pulang dari kantor.
"Azura ...! Papa pulang sayang ...!" teriak Leo memanggil nama Azura dengan suara yang cukup keras dan mudah ditangkap oleh indra pendengaran.
Saat itu juga, Azura maupun Leo sama-sama merentangkan kedua tangannya, dan kedua sama-sama memeluk.
Leo yang tengah berjongkok, menatap wajah Azura dengan lekat.
"Azura sudah mandi?"
"Sudah dong, Pa. Tadi Mbak Yana yang mandiin Zura, sedangkan Mama bersiap-siap." Jawab Azura, Leo langsung mendongak dan menatap Amora yang sudah rapi dengan penampilannya.
Pakaian yang dikenakan istrinya kelihatan cukup se_ksi, Leo segera bangkit dari posisinya.
"Bukankah acaranya masih nanti malam?" tanya Leo ingin tahu, juga memperhatikan penampilan Amora yang cukup menggoda mata yang memandanginya.
__ADS_1
"Ya sih, tapi tadi Inara menelpon ku mau menjemput aku ke rumah. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot mengantarkan aku ke tempat acara. Kamu temani Azura saja di rumah."
"Ya sudah kalau sudah ada yang menjemput kamu, aku temani Azura di rumah." Ucap Leo mengiyakan.
Amora yang mendapat izin, begitu senang dan langsung memeluk Leo, juga mencium kedua pipinya secara bergantian.
"Terima kasih ya sayang, aku janji akan segera pulang. Kalau Inara tidak bisa mengantarkan aku pulang, nanti aku akan menghubungi mu untuk menjemput ku." Jawab Amora sambil menatap suaminya.
Leo mengangguk dan tersenyum tipis pada istrinya.
Setelah pergi dari rumah, kini tinggal Leo bersama Azura yang tengah menikmati makan malamnya.
Leo yang sudah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengikuti kemana perginya sang istri, tengah gelisah untuk menerima kabar dari orang suruhannya.
"Pa, kok Mama pergi sendirian sih? padahal kan Zura pingin pergi bareng sama Mama juga Papa. Tapi kok kita gak di ajak ya, Pa?" tanya Azura dengan ekspresi cemberut.
"Mama ada acara bersama teman-temannya. Kalau Zura ikut, nanti Mama gak bisa fokus ngobrolnya, kan kasihan. Jadi, Azura di rumah saja bareng Papa. Nanti sebelum tidur, Papa mau bacain cerita yang seru, gimana?"
Leo menjawabnya dengan berbagai alasan, agar Azura tidak merasa diabaikan oleh ibunya. Karena Leo juga harus pergi, sebisa mungkin untuk membujuk Azura mendengarkan cerita yang akan ia baca sebelum tidur.
Di lain sisi, Amora yang sudah berada dalam perjalanan, merasa senang karena mendapat kesempatan emas untuk bebas.
"Gila kamu ya, nekad banget kamu keluar rumah tanpa suami." Ucap Inara sambil menyetir mobilnya.
"Ya dong, aku harus nekad. Kalau gak, mana bisa aku keluar dari rumah untuk bersenang-senang. Lagian juga bosan kali di rumah terus." Jawab Amora yang seperti burung yang bebas dalam sangkar.
"Kamu itu ya, benar-benar berani mengambil resiko." Ucap Inara sambil menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan temannya itu.
"Tentu saja aku harus berani. Rasa sakit yang sudah aku terima dulu, belum sebanding yang aku terima sekarang ini."
"Terus, tujuan kamu apa Mo?" tanya Inara sambil menambahkan kecepatannya.
__ADS_1
"Tujuanku, ada dalam benakku."
"Ya iya lah didalam benakmu, masa' ya dalam pikiranku. Aneh aneh aja kamu ini, sudah lah lebih baik kamu diam, sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Inara yang tidak mau terganggu saat sedang menyetir mobil.