
Setelah cukup menikmati suasana di taman, Kavil mengajak kakaknya pergi ke restoran.
"Kak, kita ke restoran dulu ya, habis itu kita pergi ke pantai. Sudah lama kan, Kakak tidak pernah pergi liburan?"
Anggit mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya, Kav. Kakak sudah lama tidak pernah pergi berlibur, suami Kakak selalu sibuk, begitu juga dengan Kakak kamu ini. Terima kasih ya, kamu sudah perhatian sama Kakak." Jawab Anggit sambil berjalan menuju mobil.
"Kak Anggit sudah menjadi tanggunganku. Bahagia tidaknya, aku akan bertanggung jawab. Seperti pesan Mama, menjaga Kakak dan membahagiakan Kakak. Ya udah yuk kita pergi ke restoran dulu, habis itu kita lanjut ke pantai." Ucap Kavil membukakan pintu mobil untuk kakaknya.
Kavil yang usianya tidak jauh jaraknya dengan sang kakak, kedekatannya tetap terjaga.
Sambil menikmati perjalanan menuju restoran, Anggit tengah melamun.
"Kak!"
"Ei! ngagetin aja kamu Kav, untung Kakak kamu ini tidak mempunyai riwayat penyakit jantung." Pekik Anggit saat dikagetkan oleh adiknya, tentu saja jantungnya seperti mau copot.
"Kakak tuh ngapain sih, dari tadi masih melamun terus."
Anggit menoleh dan tersenyum.
"Makanya kamu buruan menikah, biar Kakak punya teman, jadi ngelamun terus. Kamu juga udah dewasa, kenapa tidak segera menikah? mau nunggu ubannya banyak? hem."
Kavil yang tengah menyetir mobilnya, pun tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya.
"Belum ada yang cocok Kak, do'ain saja. Semoga Kavil secepatnya dapat pasangan yang baiknya seperti Kakak." Jawab Kavil sambil menyetir.
"Mana ada setok macam Kakak kamu ini Kav. Kakak banyak kekurangan, juga bukan wanita ..."
"Wanita apa Kak? kok berhenti."
"Tidak apa-apa, fokus saja sama setir mobil." Jawab Anggit yang tengah dilema dengan kondisi kesehatan mengenai rahimnya.
"Kak Anggit."
"Hem, apa?"
"Kita sudah sampai." Jawab Kavil yang sudah memberhentikan mobilnya.
__ADS_1
Anggit celingukan di sekitarnya.
"Sudah sampai kamu bilang? perasaan belum deh. Kamu sengaja mau mengerjai Kakak? hem."
"Kita makan di warung itu aja gimana? lesehan. Kita sudah lama gak pernah mampir di warung makan milik Pak Hendro, mau ya kak?"
"Boleh, sepertinya lebih enak suasana di warung makan itu deh Kav, adem." Jawab Anggit yang mulai ada perbedaan saat berada di rumah, dan terlihat sedikit berkurang kesedihannya.
Setelah keduanya setuju untuk makan di warung makan yang sederhana, Anggit dan Kavil bergegas turun dari mobil.
Saat hendak mau masuk ke warung makan, Anggit dan Kavil dikagetkan dengan sosok Bi Mira yang juga mau masuk ke warung makan milik Pak Hedro. Pasalnya pemilik warung makan yang tidak lain adalah kakaknya Bi Mira yang sama-sama merantau di kota.
"Bibi!"
Anggit dan Kavil sama-sama memanggil asisten rumahnya.
Bi Mira sendiri benar-benar terkejut.
"Nona Anggit, Tuan Kavil." Balas Bi Mira yang juga ikutan memanggil anak bosnya.
Anggit yang melihat Bi Mira tengah menenteng tas bawaannya, pun merasa heran.
"Bibi mengundurkan diri untuk tidak bekerja di rumah Tuan Leo, soalnya tadi pagi ada pengurangan pekerja. Sebenarnya Tuan Leo memberi tawaran kepada Bibi, tapi Bibi menolaknya. Bibi memilih untuk pulang ke kampung halaman dan berkumpul bareng anak-anak." Jawab Bi Mira menjelaskan.
"Bibi ini gimana sih, bukankah kami sudah menganggap Bibi itu keluarga? Bibi tidak perlu balik kampung, dan balik lagi ke rumah keluarga Zardian. Pintu rumah selalu terbuka untuk Bibi, juga anaknya Bibi boleh tinggal di rumah, sekalian boleh lanjut kuliah. Nanti akan saya proses pendaftarannya." Timpal Kavil ikut bicara.
Bi Mira yang mendengarnya, pun seperti tidak percaya.
"Benarkah, Tuan?"
Kavil mengangguk dan tersenyum.
"Ya, Bi. Sekarang kita makan siang dulu, nanti kita bicarakan lagi."
"Tuan, saya merasa tidak enak hati. Bibi dapat bekerja di tempat Tuan saja sudah sangat bersyukur." Jawab Bi Mira merasa malu di hadapan majikannya.
"Sudah lah Bi, kek sama siapa saja. Yuk Bi, kita masuk dan makan siang. Habis itu, nanti kita bicarakan lagi keputusannya." Ucap Kavil.
"Ya Bi, kita makan dulu." Timpal Anggit ikut mengajak makan siang.
__ADS_1
Setelah itu, mereka bertiga segera masuk dan menikmati makan siangnya di warung makan yang sederhana.
Sedangkan di rumah yang baru saja memberhentikan pekerja rumah ada beberapa orang, suasana berubah menjadi sepi. Kini hanya tinggal tiga asisten rumah yang masih bertahan untuk mengabdi rumah bosnya.
Leo yang tidak punya semangat lagi, seolah waktu yang ia lewati begitu lama.
Amora yang seolah serasa menjadi babu di rumah suaminya, langsung meminta asisten rumah untuk menemani putrinya bermain. Sedangkan Amora sendiri segera menemui suaminya yang tengah duduk di ruang kerjanya.
"Sayang, kita jalan-jalan yuk, suntuk tau di rumah terus." Panggil Amora kepada suaminya sambil merayu.
"Apa kamu tidak tahu, aku hanya memiliki tabungan yang pas-pasan. Jadi, tahan dulu untuk tidak liburan." Jawab Leo sambil bersandar di tempat duduknya.
"Apa! tabungan kamu pas-pasan? apa orang tuamu sudah gila, sampai-sampai kamu dibatasi dalam segala hal."
BRAK!
"Kamu bisa diam gak? pusing kepalaku, tau! jangan memancing emosiku, paham." Jawab Leo dengan membentak istrinya.
Leo yang benar-benar seperti orang frustrasi, langsung menyambar jaketnya dan segera pergi dari rumah untuk menghilangkan rasa penat yang menguasai pikirannya.
Amora yang harus menerima kekesalan dari suaminya, pun mendengus kesal.
"Sial! sial! awas kau Leo, aku bisa terima atas perbuatan kamu. Lihat saja, kamu harus membayarnya dengan setimpal."
Leo yang lupa dengan Azura, tidak peduli baginya jika harus pergi tanpa berpamitan. Dengan kecepatan tinggi, Leo melajukan mobilnya tanpa peduli banyaknya kendaraan yang lalu lalang dari arah yang berlawanan.
Berbeda lagi dengan Anggit yang masih baru saja menikmati makan siangnya.
Kavil yang sudah menghubungi supirnya yang ada di rumah, memintanya untuk segera datang dan mengantarkan Bi Mira untuk pulang kampung sementara waktu, dan kembali lagi kerja di rumahnya.
Bi Mira yang benar-benar sangat beruntung memiliki majikan yang begitu baik, tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada Anggit dan Kavil.
"Terima kasih banyak ya, Tuan. Semoga kebaikan Tuan dan Nona dibalas dengan kebaikan juga. Bibi pamit, permisi Nona dan Tuan." Ucap Bi Mira berpamitan.
"Ya Bi, hati-hati di perjalanan. Jangan lupa kabari saya kalau sudah mau berangkat lagi, biar supir saya yang akan menjemput Bibi." Jawab Kavil.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi. Mari Nona, Tuan." Ucap Bi Mira dan segera pulang ke kampung halamannya untuk cuti sementara waktu.
Sedangkan Kavil segera melanjutkan perjalanannya menuju pantai.
__ADS_1