
Fase hidup manusia itu beragam
Senang - Susah - Tersakiti - Berjuang - Bahagia
Aku merasakan yang namanya keberhasilan dari sebuah ujian
Keberhasilan dan rasa lega dari apa yang telah aku lalui
Aku merasakan bagaimana rasanya jadi orang yang hebat, kuat, dan tegar
Jadi aku tidak akan pernah menyesali yang namanya ujian hidup
Cast Back to Alisya
Setelah selesai mengurus pemindah tanganan perusahaan dengan Nadia mama Alisya, Alisya langsung memasuki ruang rapat pertamanya di perusahaan untuk mewakili Nadia mamanya yang masih harus mengurusi banyak dokumen lainnya.
Diruang rapat.
"Bisa kita mulai rapatnya sekarang pak Heru?" tanya salah seorang pria pada pemimpin rapat pemegang saham itu yang tidak lain juga wakil dari direktur perusahaan yang kini sudah almarhum dan akan digantikan posisinya oleh Nadia mama Alisya.
"Tunggu sebentar lagi pak, masih ada yang harus kita tunggu" jawab Heru sambil melirik jam tangannya.
"Bukankah semuanya sudah hadir pak? jadi anda masih harus menunggu siapa lagi?" tanya pria itu pada Heru.
Heru membuang pelan nafasnya sejenak "masih ada seseorang yang sangat penting yang harus kita tunggu kehadirannya pak" jawab Heru.
"Tapi ini sudah lewat 2 menit dari penetapan rapat akan dimulai pak" ingat pria tua itu.
"Ini ruangan rapatnya ya?" gumam Alisya sambil membuka pelan pintu ruangan.
"Permisi!" ujar Alisya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan rapat.
"Apa gadis ini yang kita tunggu pak?" tanya pria tua tadi diangguki oleh Heru.
"Selamat datang nona Alisya" sambut Heru.
__ADS_1
Alisya mengangguk dan tersenyum tipis "mohon maaf sudah menunggu semuanya, bisa kita mulai rapatnya sekarang?" tanya Alisya.
"Nona... apa anda tau konsekuensi atas keterlambatan anda? anda pikir anda siapa disini sampai kami harus menunggu kehadiran anda?" tanya pria tua tadi.
Alisya menatap sejenak pria tua itu sambil membungkukkan badannya pelan "mohon maaf atas keterlambatan saya pak" ucap Alisya sekali lagi.
"Apa permintaan maaf saja anda pikir sudah cukup nona muda?" tanya pria tua itu sekali lagi.
Ini bapak tua siapa ya? pengin aku sumpel dah itu mulutnya, tapi karena ini pertemuan pertama aku harus tetap sabar. Bathin Alisya.
"Kalau begitu apa yang anda inginkan pak?" tanya Alisya sambil tersenyum menatap pria tua itu.
"Kalau begitu anda bisa menyiapkan kopi hanya untuk kami" jawab pria tua itu.
"Owh kalau begitu baiklah pak, saya ka dapur perusahaan dulu" jawab Alisya sambil melangkah keluar ruangan.
"Sudah nona, anda tidak perlu membuat kan kopi untuk kami, itu sudah pekerjaan staf yang ada disini untuk keperluan konsumsi, jadi... anda bisa duduk kembali dan kita akan memulai rapatnya sekarang, sebelum itu bisa anda perkenalkan diri dulu nona? kami tidak tau siapa Anda dan berapa persentase saham yang anda miliki dalam perusahaan ini" sahut seorang perempuan yang sepertinya tidak jauh usia dengan Alisya.
Alisya melirik sejenak kembali pada pria tua itu yang nampak mendesis sebal, sepertinya pria tua itu takut pada wanita yang kini berbicara pada Alisya.
"Owh baiklah nona, pertama saya ingin minta maaf kembali atas keterlambatan saya dan tindakan saya yang kembali memperlambat rapat hari ini, sebelumnya perkenalkan nama saya Alisya Fitri, saya putri dari pemilik perusahaan ini yang memegang saham perusahaan sebanyak 60 persen dan kali ini kehadiran saya hanya untuk mewakili mama saya yang masih harus mengurus banyak dokumen pengalihan saham dari almarhum papa dan pemindahan kepemilikan perusahaan ini, sekali lagi kehadiran saya di rapat ini hanya untuk mewakili mama saya, apa ada yang ingin bertanya?" jelas Alisya sambil melontar kan kembali pertanyaan.
Pangkat dan kekuasaan bisa membuat orang mati kutu ya. Pikir Alisya sambil duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya.
"Baiklah semuanya, karena kini para pemegang saham kita telah hadir semuanya, mari kita mulai rapat hari ini, nona Alisya jangan ragu untuk menyampaikan pendapat anda" ingat Heru yang memimpin rapat.
"Tentu tuan Heru" angguk Alisya mantap.
Heru mulai menjelaskan perdetail kasus keuangan perusahaan terlebih dahulu, setelah itu dia memulai memperlihatkan statistik kemajuan perusahaan.
Sepertinya aku memang harus mengambil S2 Manajemen dan Ekonomi, hah... apalah dayaku anak hukum ini, sudah jelas tidak akan berguna dalam rapat ini. Bathin Alisya sambil membuang pelan nafasnya.
"Kamu kesulitan memahami?" bisik seorang wanita pada Alisya yang tidak lain adalah wanita yang membela Alisya tadi.
Alisya menoleh pada wanita itu "hahaha tidak kak, hanya saja aku ragu untuk berargumen" bisik Alisya.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu kamu ragukan, sampaikan apa yang ada dipikiranmu, bukankah kamu cerdas seperti yang aku dengar?" tanya wanita itu kembali.
"Eh?" heran Alisya yang tidak tau kenapa wanita itu mengatakan bahwa dirinya cerdas dan dari siapa wanita itu mendengar hal itu.
Rapat selesai, satu persatu pemegang saham telah keluar dari ruangan.
"Apa kabar mu baik nak Alisya? sudah lama bapak tidak melihatmu, terlebih kenapa tadi kamu memanggil bapak tuan?" tanya Heru.
"Hahaha kabar Alisya baik pak, tadi hanya formalitas saja" jawab Alisya sambil cengengesan untuk menjaga imej-nya.
"Ya sudah kalua begitu, bapak masih harus ke ruangan dulu menyelesaikan pekerjaan. Sarah, bisa kamu temani Alisya?" tanya Heru diangguki oleh wanita yang berdiri disamping Alisya kini.
Wanita yang tadi membela dan berbisik pada Alisya tadi menyungginkan senyumnya pada Alisya "aku tadi belum sempat memperkenalkan diri ya? kalau begitu perkenalkan aku Sarah sekretaris pak Heru" jelas Sarah sambil mengulurkan tangannya pada Alisya.
"Salam kenal Sarah, aku Alisya" jawab Alisya sambil membalas uluran tangan Sarah.
"Hahaha sudah tau kok, omong-omong aku senang loh ada yang lebih muda dalam rapat tadi dari pada aku, sebelumnya hanya aku yang paling muda sehingga membuat aku merasa aneh ada diruangan rapat yang dominan di isi oleh orang-orang tua itu" Keluh Sarah.
Alisya menanggapi keluhan Sarah dengan tawa kecil sambil melangkah bersamaan dengan Sarah untuk keluar dari ruangan rapat itu.
"Tapi terimakasih loh kak, tadi sudah membela aku, jadinya aku tidak perlu ke dapur untuk membuatkan kopi" jelas Alisya sambil membuang nafas lelahnya.
"Hahaha tidak masalah kok, lagian orang seperti pak Darma itu memang harus diberi pelajaran biar kapok" jawab Sarah.
"Omong-omong kak Sarah..."
"Ya?" tanya Sarah.
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Alisya kembali.
"Hmmm... maksudnya?" heran Sarah.
"Tentang kakak yang mengatakan aku cerdas? dari siapa kakak mendengar hal itu?" tanya Alisya nampak bingung.
"Hahaha aku mendengar hal itu dari adikku, dia bilang dulu dia satu SMA denganmu? dan dia bilang dulu kalian juga cukup akrab. Dia mengatakan hal itu padaku tepat saat kamu masuk berita di televisi kemaren tentang penjelasan dari kasus Almarhum papamu" jawab Sarah.
__ADS_1
"Adik kakak? siapa namanya?" tanya Alisya penasaran.
"Sintia" jawab Sarah yang langsung membuat Alisya terdiam dengan tatapan kosong.