ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 40


__ADS_3

Alisya sudah sampai di depan pintu hotel, dia cukup ragu apakah subuh ini Violette masih bermain dengan mimpi indahnya atau sudah terjaga dengan rentetan dokumen kasus dalam genggamannya.


Violette memutar kunci cadangan hotel yang dipegangnya, dia membuka pintu perlahan, namun ternyata kedua dugaannya itu salah, Violette bukan sedang tidur atau membaca rentetan dokumen, dia tidak ada di kamar.


Alisya beralih ke kamar mandi namun juga tak menemukan Violette, hasil penyelidikan dari tim forensik sudah ada di atas meja sepertinya belum di sentuh sama sekali.


Alisya memilih untuk berkecamuk dengan dokumen daripada memikirkan kemana Violette pergi.


Alisya cukup terkejut membaca lembaran dokumen yang dipegangnya saat ini, dia tidak menemukan tanda seperti yang dibilang wanita bertopi hitam itu, di kuku korban hanya terdapat serpihan kain, bukan kulit manusia.


Alisya menghela nafasnya sejenak, hal itu memang bisa jadi bukti besar, namun tetap tidak akan mempengaruhi hasil sidang Alisya, karena Alisya juga sudah menemukan bukti yang cukup, di tambah hanya untuk membuktikan nyata alasan dari pelaku, maka dibutuhkan seorang saksi penting, oleh karena itu masih ada 2 orang lagi yang harus ditemuinya.


Seraya membalik-balik dokumen, Alisya memikirkan detail suatu hal yang cukup tidak menenangkannya sedari tadi, tapi tetap Alisya tidak bisa mengingat hal apa yang telah terlewati olehnya.


Dari pada memikirkan hal itu, Alisya harus cepat menyelesaikan kasus ini, tak ada lagi yang perlu di tunggu maupun dilakukannya, dia harus segera menemui seorang tersangka lagi.


Saat hendak keluar dari pintu lift, Alisya berpapasan dengan Violette.


"Eh!?" kaget Violette menatap Alisya.


Alisya mengernyitkan keningnya "ada apa sih? kayak ngeliat hantu aja" kesal Alisya.


Violette terkekeh pelan "kamu lebih menyeramkan daripada hantu, selalu muncul dimana-mana" ujar Violette.


"Omong-omong kakak habis darimana?" tanya Alisya penasaran.


"Cie... baru ditinggalkan semalam, udah kangen aja ya...?" ledek Violette.


"Apaan sih!" kesal Alisya kembali.


"Tadi aku baru dari gang 7 ada penculikan tengah malam, untung saja pencurinya belum kabur jauh" jelas Violette.


"Ada korban?" tanya Alisya digelengkan oleh Violette.


Alisya bisa menarik kesimpulan dari para polisi pengawas yang tidak ada di rumah laki-laki komikus itu, ternyata para polisi menangani kasus penculikan, mereka dapat jackpot karena selain mengawas juga bisa menangkap pencuri, sekali mendayung 2 3 pulau terlampaui.

__ADS_1


"Kamu mau kemana lagi?" tanya Violette.


"Ke kediaman tersangka yang terakhir" jawab Alisya.


"Owh, semangat ya" ucap Violette sambil masuk ke dalam lift.


Alisya sedikit heran mendengar reaksi Violette tadi, biasanya Violette akan menawarkan diri untuk ikut, namun kini tidak.


Tidak seperti Violette yang biasanya tergila-gila akan kasus misteri panjang seperti ini, ada apa sebenarnya dengan Violette? Alisya menghela nafasnya, mungkin hal ini bisa langsung ditanyainya nanti bersama Violette, yang penting sekarang dia harus cepat menyelesaikan kasus ini.


Jalanan masih nampak cukup gelap, belum ada kemunculan matahari sama sekali, Taxi terus melaju membelah jalan tol itu menuju rumah seorang pria yang masih sendiri.


***


Violette menahan dokumen yang baru datang malam tadi tapi belum disentuh nya sama sekali kini tidak ada di atas meja itu, Violette tau betul bahwa dokumen itu pasti sudah dibawa oleh Alisya.


Dengan langkah kaki terseret Violette membuka laci yang ada dibawah ranjang untuk mengambil laptopnya.


Violette memilih duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan jendela sambil membuka laptopnya. Dia menscroll perlahan chat masuk dari Riani sambil menarik nafas panjang-panjang.


***


"Kenapa anggota kepolisian lebih suka tinggal disini ya?" gumam Alisya nampak heran.


"Karena suasananya lebih tenang dan nyaman?" sahut seorang pria yang tiba-tiba berdiri dibelakang Alisya.


Alisya langsung membalikkan badannya menatap kaget Pria itu "owh anda Sir Fres... saya kira siapa" ucap Alisya sambil membuang pelan nafasnya kemudian menghirup nya dengan pelan lagi, untuk menormalkan kondisi jantungnya yang tadi sempat kaget.


"Hahaha ada apa nona penyelidik dari firma ternama dunia?" tanya Fres dengan nada sedikit meledek.


Alisya mengernyitkan keningnya "saya pikir anda sudah tau maksud kedatangan saya saat ini tuan" jelas Alisya dengan sorot mata tajamnya.


Polisi bernama Fres itu menyinggingkan senyum tipisnya "tentu nona, karena saya kini sedang di cap sebagai tersangka, bukan sebagai seorang personel kepolisian atau bahkan saksi mata, saya akui saya cukup kecewa nona" jelas Fres dengan masih menyungginkan senyum tipisnya.


"Jadi boleh saya masuk tuan?" tanya Alisya yang ingin segera menyelidiki kamar pria itu.

__ADS_1


"Owh... apa baik seorang wanita cantik masuk ke kamar pria pagi-pagi buta begini nona?" tanya Fres kembali dengan nada yang kini di rendahkannya.


"Hahaha anda tidak perlu khawatir tuan, bukanlah ini Perancis? dan terlebih di negara saya dulu saya adalah seorang bartender" jelas Alisya.


Nampak ekspresi sedikit kaget dari wajah Fres setelah mendengar ucapan Alisya, Fres kemudian melangkah beberapa langkah dan membukakan pintu apartemennya.


"Silahkan periksa saja ruangan saya nona, saya yakin anda tidak akan menemukan sesuatu hal yang bisa mencurigai saya nona" jelas Fres sambil menyandarkan tubuhnya ke atas sofa empuknya.


Alisya menoleh sebentar ke Fres sambil berdesis sebal dan melangkah ke kamar Fres, walau Alisya cukup yakin bahwa bagaimana pun tak akan ada bukti yang bisa di dapatkan nya karena sudah 1 malam sejak pembunuhan terjadi, bisa saja pelaku sudah membuang semua bukti yang menyangkut dirinya.


Alisya menghela nafas panjang, tak ada sedikitpun barang yang bisa di dapatnya dari Fres, Alisya menghempas tubuhnya di sofa empuk milik Fres.


"Menemukan sesuatu nona?" tanya Fres.


Alisya menatap tajam pria yang ada dihadapannya itu sambil memakan pop corn yang ada digenggamnya.


"Mau nona?" tanya Fres sambil menyodorkan pop corn miliknya pada Alisya.


Alisya menggeleng "aku sudah ke kediaman ke-4 tersangka, tapi tak mendapat kan hasil apapun" jelas Alisya ke Fres.


Fres diam sejenak "menurut anda siapa pelakunya nona?" tanya Fres.


Alisya ikut diam sejenak pula "kalau menurut anda tuan?" tanya Alisya kembali.


"Hahaha bukankah saya menanyai anda duluan nona?" tanya Fres kembali.


"Bagaimana jika saya ingin mendengar pendapat anda dulu?" tanya Alisya kembali.


Tring... tring...


HP milik Fres yang ada diatas mejanya berbunyi, dia mengangkat telepon dari bosnya itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, nampak ekspresi cukup serius dari wajahnya.


"Nona! ayo kita ke gang 7 sekarang! ada korban lagi!" ungkap Fres sambil mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu apartemen nya.


Bagai di tampar sebuah kenyataan yang amat mustahil, bagaimana mungkin bisa ada korban lagi!? bukankah Fres adalah pelaku pembunuhan berantai ini? siapa sebenarnya pelaku aslinya!? Alisya jadi semakin bingung dan tidak paham akan alur dan semua bukti dari kasus yang didapatkan nya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2