ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 44


__ADS_3

Semua hadirin dan para saksi tadi sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing.


Violette masuk kembali ke ruang sidang "kita akan terbang 3 jam lagi Alisya" ucap Violette tiba-tiba.


Alisya diam sejenak kemudian mengangguk kan kepalanya paham.


"Aku harus menemui kepala kepolisian itu dulu, apa kamu mau ikut? walau seperti nya aku cukup yakin jika pikiranmu saat ini masih tentang wanita yang menyelematkan nyawamu tadi bukan?" tebak Violette benar.


Alisya menggeleng kan kepalanya "maaf.. aku memang tidak bisa ikut bersama mu menemui kepala kepolisian, aku harus kembali ke kost-an itu" jawab Alisya.


Viloette tersenyum tipis dan mengangguk "kalau begitu aku pergi dulu" pamit Viollete diikuti oleh jendral wanita itu sambil membungkukan badannya memberi hormat pada Alisya, Alisya ikut membalas memberi hormat jendral itu.


Alisya menatap Fres yang masih berdiri sambil menyandarkan tubuhnya dengan kaki kirinya sebagai penopang di dinding itu sambil mengisap rokoknya "hei, anda tidak kembali ke kantor sir?" tanya Alisya.


Fres menggelengkan kepalanya "ada sesuatu yang ingin saya tanyakan dengan anda manquer" ucap Fres.


Alisya mengernyitkan keningnya "sebelum itu sir... bisa anda matikan rokok itu? apa anda lupa ini ruangan apa?" tanya Alisya kembali.


"Ruangan sidang bukan?" tanya balik Fres.


"Jika anda masih tau, maka tolong matikan rokok anda sir!" tegas Alisya sekali lagi.


"Bukankah jika tak ada orang maka tidak masalah?" tanya Fres cuek.


Alisya nampak geram, dia tidak menduga sifat asli dari personel kepolisian ini bakal keluar "jadi anda berpikir saya bukan orang!?" tanya Alisya kesal karena dihiraukan peringatan nya.


Fres beranjak dari dinding mematikan puntung rokoknya dan berjalan pelan ke arah Alisya.


Alisya yang masih berdiri dibalik meja sidang itu kaget menatap tatapan tajam dari mata Fres, Fres menghentakkan tangannya di atas meja membuat Alisya tidak bisa beranjak dari posisinya karena terhalang oleh tubuh Fres.


Wajah personel kepolisian itu kini tepat berada di depan wajah Alisya, Fres memerengkan sedikit kepalanya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Alisya "hei... darimana anda tau bahwa saya gagal menikah manquer A... Li... Syaaa?" bisik Fres dengan nada suaranya yang jelas ditekankan.


Alisya langsung mendorong tubuh Fres menjauh dari hadapan nya, namun tetap tidak sekutik pun Fres berkutik atau bergeser dari posisi tegaknya.


Fres menyunggingkan bibirnya tersenyum melihat Alisya "oh Manquer, kenapa anda diam?"


Alisya berdesis sebal, dia tidak punya banyak waktu untuk bermain-main dengan pria ini, dia harus segera melihat keadaan Desiree.


"Bisa anda menyingkir dari saya sekarang Sir?! jika anda membutuhkan jawaban dari pertanyaan tadi maka bisa tolong anda jawab terlebih dahulu tentang apa maksud anda tidak memberitahukan pelaku itu pada kami langsung!? bukankah anda sendiri sudah tau bahwa pelaku nya adalah Geyaa!?" bentak Alisya.


Fres memalingkan wajahnya lalu tersenyum tipis pada Alisya "kamu mau ke kost-an tadi itu bukan? baiklah biar saya antar kebetulan saya juga hendak lewat sana" ucap Fres mengalihkan pembicaraan sambil beranjak keluar dari ruangan sidang yang sudah sepi itu.


Alisya mengernyitkan keningnya melihat tingkah laki-laki itu.


Mereka sampai disebuah kost-an kecil yang sudah tidak asing lagi "kenapa anda juga ikut turun Sir?" tanya Alisya.


"Owh apa tidak boleh?" tanya kembali Fres.


Alisya berdecak sebal "terserah anda Sir" ucap Alisya sambil melangkah masuk ke dalam.


Suasana ruangan terasa sedikit canggung dengan hawa mencekam, Alisya duduk diam karena fikiran nya saat itu tidaklah berada disini sedangkan Fres juga ikut diam sambil menopang dagunya di telepak tangan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Hmmm ada apa?" tanya Desiree memecah keheningan itu.


Alisya terperanjat kaget mendengar ucapan Desiree "eh maaf Desiree, omong-omong apa tanganmu sudah sedikit mendingan?" tanya Alisya dengan ekspresi cemasnya sambil menatap lama tangan Desiree.


"Hahaha untuk itu kakak bisa tenang, tanganku tidak apa-apa kok" tawa Desiree.


"Desiree ... pertama aku ingin meminta maaf karena melibatkan mu, dan terakhir... terimakasih karena telah menyelamatkan ku" ucap Alisya lirih.


Desiree tersenyum tipis mendengar ucapan Alisya, Desiree memegang bahu Alisya dengan tangannya yang tidak terluka "tidak apa-apa kak, malah aku berasa lebih baik karena telah dilibatkan, dan kakak tidak perlu merasa bersalah atas semua ini" jelas Desiree.


Alisya menatap lama Desiree sambil menyunggingkan senyum tipisnya.


"Kalau begitu aku permisi dulu, aku harus kembali ke Firma dan aku tidak bisa berlama-lama di La Rochelle ini" pamit Alisya memberi penjelasan.

__ADS_1


Desiree kembali mengangguk dan tersenyum tipis.


Alisya melangkah keluar meninggalkan kost-an tanpa mempedulikan Fres lagi.


"Hei! kenapa anda kabur meninggalkan saya begitu saja manquer!?" teriak Fres dari kejauhan, karena tadi dia harus memberi salam dulu pada Desiree sebab sudah bertamu.


Alisya membalikkan badannya "terimakasih sir, dan maaf saya kembali naik taxi saja!" teriak Alisya.


Fres mendesis karena kesal atas ke keras kepalaan Alisya, Fres langsung mengambil mobilnya dan menyetir dengan cepat menuju tempat Alisya berdiri.


"Ada apa lagi Sir?!" tanya Alisya dengan tatapan matanya yang jelas kesal.


"Ayo naik!" seru Fres.


Alisya memalingkan wajahnya "tidak!"


"Ayo naik sebelum saya mengangkat anda masuk ke dalam si manquer" tegas Fres.


Alisya terpana kaget dan memilih untuk menuruti keinginan Fres "ke hotel xxx" ucap Alisya setelah selesai memasang sabuk pengamannya.


"Anda pikir saya sopir anda nona?" tanya Fres menyelidik.


"Owh memangnya bukan?" tanya Alisya sekali lagi dengan ekspresi wajahnya yang jelas sedang meledek.


Fres menghela nafasnya tanpa menanggapi ucapan Alisya dan langsung menekan gas mobilnya.


Mobil itu membelah jalanan yang cukup lengang sehingga mobil melaju cepat tanpa hambatan.


"Kenapa anda sampai repot-repot untuk menemani saya Sir?" tanya Alisya memecah keheningan di dalam mobil.


"Karena anda punya satu utang penjelasan yang harus di bayar segera Manquer" jelas Fres.


"Kalau begitu anda bisa jelaskan dulu kenapa anda tidak melaporkan Geyaa walau dari awal Anda sudah tau dia pelakunya, sampai bahkan anda rela untuk mengantikan posisi utama Geyaa sebagai tersangka? bukankah karena itu kasus tentang pertunangan anda yang batal bisa kami selidiki?" tanya Alisya kembali.


Fres tersenyum tipis "hahaha bukan itu maksud saya Manquer, pertama, saya tau Geyaa pelaku adalah saat kejadian pembunuhan berantai ke-13, sebelum itu saya tidak pernah curiga padanya, kedua, saya mengetahui hal itu setelah saya sampai dirumah, saya mengingat kembali bau tissue basah dan sedikit bau samar-samar dari darah yang jelas anyir, disertai hal kuat yang meyakinkan diri saya bahwa Geyaa lah pelakunya, karena hentakan nafasnya yang tidak karuan dari pada kami bertiga saat itu" jelas Fres kemudian diam sejenak.


"Owh sebelum itu manquer, saya berpikir mungkin dia tidak akan berani berbuat dulu sebelum catatannya sebagai tersangka telah terhapus dari kepolisian, namun saya sungguh tidak menduga bahwa dia adalah seorang psikopat" sambung Fres kembali.


Alisya diam sejenak, dia sudah tau alasan Fres yang memang sangatlah masuk akal bagi Alisya.


"Lalu manquer, darimana anda tau bahwa saya gagal menikah?" tanya Fres menyelidik.


"Apa perlu saya memberitahu anda hal itu? jika saya beritahu maka akan anda apa kan orang yang memberi tau saya tentang anda itu?" tanya Alisya kembali.


"Tidak akan saya apa-apakan Manquer, saya hanya sedikit penasaran saja siapa orang yang tau masa lalu kelam saya itu" jawab Fres.


"Saya akan memegang ucapan Anda, saya tau dari adik Jendral wanita itu" jawab Alisya.


Tidak ada wajah kaget sedikitpun yang di nampakkan oleh Fres setelah mendengar jawaban Alisya tadi.


Fres menepuk keningnya "hah... benar dugaan ku" gumam Fres.


Suasana kembali sepi sejenak sebelum Fres membukan kembali mulutnya untuk mengatakan sesuatu "sudah sampai manquer" ucap Fres.


Alisya mengangguk karena memang dia sudah tau ini telah sampai.


"Baiklah Sir, terimakasih... saya harap anda cepat menemukan jodoh anda" ucap Alisya lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan menuju ruangan utama hotel.


Fres masih terdiam sambil memandangi Alisya dari dalam mobilnya "entah kenapa aku berpikir gadis itu aneh, walau aku tidak menemukan keanehan padanya belakang ini, tapi tetap saja aku cukup yakin dia memiliki kesumat dendam yang kelam, jelas terpancar kan dari auranya, dia tipe wanita yang harus aku jauhi" gumam Fres sambil memutar setir mobilnya.


Alisya langsung membereskan bajunya yang ada di hotel "hanya satu yang bisa aku pakai dari kemaren" gumam Alisya memikirkan kembali 2 baju yang di bawanya ternyata hanya terpakai satu karena dia sibuk berbolak-balik kota La Rochelle itu.


Selang beberapa menit Violette dan Jendral wanita itu datang "sudah selesai memindahkan semua barang mu?" tanya Violette diangguki oleh Alisya.


Violette tersenyum tipis "baiklah ayo kita ke bandara sekarang, aku juga sudah selesai berurusan dengan kepala kepolisian itu tadi, kita ke bandara akan di antar oleh jendral" jelas Violette sambil mengambil tas-nya yang berada di atas ranjang, sudah di siapkan nya dari kemaren malam.

__ADS_1


Alisya tak menyangka lagi-lagi dia akan menaiki mobil kurang bahan itu, terpaan angin mengeraikan rambut panjang Alisya, Alisya langsung mengambil ikat rambutnya dan mengikat rambutnya ke belakang.


Sepertinya aku harus memotong rambut ini Pikir Alisya sambil menatap jalanan kota La Rochelle itu.


Mereka sampai di bandara beberapa menit kemudian, Alisya dan Violette melambaikan tangan pada jendral wanita itu, sambil menunggu jam penerbangan mereka, Alisya dan Violette memilih untuk makan siang dulu, walau waktu makan siang mereka cukup telat.


Mereka menyantap dengan lahap makanan yang ada di hadapan mereka, karena beban atas kasus memang sudah terangkat di meja sidang tadi, sambil menatapi layar HP nya Violette masih sibuk dengan laptopnya yang ada di atas mejanya.


Alisya hanya menatapi kesibukan wanita yang satu ini.


Apa semuanya berjalan lancar? - Riani


Tentu - Violette


Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk bukan? - Riani


Aku rasa tidak - Violette


Baiklah, bukanlah pesawat mu akan segera terbang? cepat lah bersiap dan kembali ke sini dalam waktu 3 jam - Riani


Hei! kau bahkan tidak membiarkan aku istirahat sejenak dulu setelah kembali dari kota ini? - Violette


Tidak - Riani


Waktu cuti mu sudah habis semua, tapi jika Alisya berkenan menggantikan sidang mu esok hari bersama Coty, mungkin aku akan mempertimbangkan hal itu, silahkan kau yakin kan gadis itu dulu hahaha - Riani


Hei! kamu pikir dia mau begitu saja? tapi tunggu... ok jika dia mau aku akan kau beri waktu libur bukan? - Violette


Tentu - Riani


Violette menutup layar laptopnya setelah melihat jawaban dari Riani, karena Violette ingin memanfaatkan ketahuan Alisya tentang janji liburannya bersama buah hati dan suaminya.


"Alisya..." ucap Violette.


Alisya berhenti memainkan sendoknya sebentar demi mendengar kan ucapan Violette "ya? ada apa kak?" tanya Alisya.


"Riani sudah mengonfirmasikan bahwa kamu punya waktu 7 hari di negara ini bukan? demi kelangsungan pendidikan mu di kampus agar tetap berjalan dalam 1 bulan nanti?" tanya Violette.


Alisya menganguk mengiyakan sambil menyuap kembali makanan yang terhenti di sendoknya tadi.


"Jadi kamu masih punya waktu 3 hari lagi bukan disini?" tanya Violette kembali.


Alisya kembali mengangguk mengiyakan "ada apa kak? kakak mau waktu rehat ku yang 3 hari itu?" tanya Alisya santai sambil terus menyantap makanannya.


Violette tersenyum tipis karena Alisya tau maksud dari pertanyaan nya tadi.


"Bisa kamu ikut sidang dengan Coty besok? aku tidak di izinkan berlibur oleh Riani kecuali kamu mau menggantikan ku, aku sudah berjanji pada anak-anakku" jelas Violette.


Alisya memberhentikan gerakan sendoknya, karena makanannya juga sudah habis, setelah selesai menyeruput minumannya Alisya kembali menatap Violette "baiklah, lagian aku juga tidak ada pekerjaan dalam 3 hari kosong itu, tapi omong-omong kak, Coty itu siapa? aku tidak kenal dengannya, di firma aku hanya tau kak Riani, kak Violette, kak Enne, dan kak Cammy" jelas Alisya.


"Hahaha kamu juga akan tau siapa dia nanti, tapi kamu benar-benar yakin mau menggantikan ku?" tanya Violette mencoba meyakinkan.


Alisya kembali mengangguk "jika hanya untuk sidang, berarti kasus nya sudah di selesaikan oleh Manquer Coty bukan? kalau begitu aku hanya perlu duduk manis sambil menyerahkan dokumen-dokumen di pengadilan" jawab Alisya santai.


Violette tersenyum mendapat persetujuan dari Alisya "terimakasih Alisya, aku tidak menduga gadis sepertimu mau membantuku" ujar Violette.


"Gadis sepertiku? aku seperti apa?" heran Alisya dengan ekspresi bingung yang jelas di wajahnya.


Violette hanya tertawa puas mendengar pertanyaan Alisya.


Mereka langsung kembali check in dan masuk ke dalam pesawat setelah beberapa menit.


Alisya dan Violette kini tengah memandangi awan-awan yang ada di langit biru itu.


Alisya tiba-tiba tersenyum tipis saat teringat kembali waktu dimana dia pertama kali naik pesawat bersama papa dan mamanya.

__ADS_1


Bangke! kenapa ingatan itu kembali lagi! Bathin Alisya yang secara tidak sengaja tangan nya meninju jendela pesawat sampai kesakitan dan memerah.


__ADS_2