ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 12


__ADS_3

Mobil sport hitam itu melaju dengan cepat membelah jalanan tol menuju kantor polisi. Alisya nampak menikmati perjalanan karena sudah lama dia tidak merasakan rasa bebas seperti ini.


"Gak nyangka ya takdir kembali mempertemukan kita" ucap Randy memulai percakapan.


Alisya menoleh dan melototkan tajam matanya pada Randy.


"Hahaha aku cuman bercanda kok, jangan dibawa serius" tawa Randy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Omong-omong Lo kerja apaan sekarang?" tanya Alisya.


"Agen untuk merekrut anak muda yang berbakat dalam bidang sastra maupun seni" jawab Randy diangguki paham oleh Alisya.


"Gimana hubungan Lo sama Diandra?" tanya Alisya kembali.


"Kan aku udah pernah bilang bahwa itu hanya kesalahpahamanmu aja Alisya, sama sekali aku gak ada hubungan apapun sama Diandra" jelas Randy nampak menegaskan.


"Bodo amat" jawab Alisya cuek.


"Sya... dari awal aku hanya mencintaimu dan bahkan rasa itu sampai kini masih ada--"


"Walau kini sudah pudarkan?" tanya Alisya memotong perkataan Randy.


Randy diam tak menanggapi dan kembali memulai penjelasannya "Saat itu... tepat satu Minggu setelah rumor almarhum dikatakan korupsi, perlahan semua teman genkmu menjauhimu, saat itu aku juga baru tau bahwa Diandra menyukai ku, tapi untuk kamu tau, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Diandra, sampai aku dan Diandra dipojokkan oleh anak-anak lainnya, aku tidak tau bahwa saat itu aku dijebak, dan kamu melihat aku hendak berciuman dengan Diandra dibelakang dinding sekolah, Sya... itu hanya kesalahpahamanmu, aku sama sekali tidak melakukan itu dengan Diandra, Diandra dan teman-temannya hanya menjebakku agar kamu marah padaku dan hubungan kita berakhir karena kamu saat itu juga tengah depresi" jelas Randy.


"Jadi... kenapa untuk waktu yang lama sudah kejadian itu Lo malah menjauhi gue?" tanya Alisya cukup penasaran.


"Mereka mengancam, jika sampai aku menemuimu atau menghubungi mu, maka mereka akan mem-bully mu setiap saat sampai habis-habisan, awalnya aku menolak, tapi melihat tindakan mereka membuatku jadi geram, kamu tau sendiri aku tak akan bisa melaporkan perbuatan mereka ke guru, karena papaku berkerja diperusahaan papa Diandra, jika aku melaporkan kejadian pembully-an itu otomatis papaku akan dipecat dari perusahaan dan hidupku beserta mama dan adik-adikku jelas akan hancur, aku memilih memyetuju kesepakatan itu, melihatmu tenang dan tidak diganggu lagi oleh mereka saat itu, aku pikir itu adalah pilihan yang terbaik" sambung Randy.


"Dan Lo pikir gue akan percaya hal itu?" tanya Alisya sinis.


"Aku yakin kamu pasti akan menanyai hal itu, seterah kamu mau percaya atau tidak Sya, yang pasti aku sudah menjelaskan semuanya" jawab Randy.


"Randy! sampai gue lulus dari sekolah, untuk Lo tau saja, bahwa sampai saat itu mereka tetap mem-bully gue di toilet dan sering menghina gue sampah dan anak dari koruptor, sampai mama dan gue di usir dari rumah oleh papa, pembully-an mereka terhadap gue semakin menjadi-jadi, jadi gue gak akan bisa menjamin ucapan Lo seratus persen" jelas Alisya.

__ADS_1


Sejenak Alisya melihat ekspresi geram dari wajah Randy, tangannya yang terletak disetir itu nampak menggepal, jelas Randy sedang menahan amarahnya.


"Tapi Randy... terimakasih" ucap Alisya pelan yang langsung mengagetkan Randy.


Randy tersontak kaget dan tersenyum tipis pada Alisya.


Gue tau Lo gak bohong kok Ndy, gue paling tau sama Diandra yang itu, pastinya dia telah menipu dan membohongi Lo. Bathin Alisya sambil tersenyum tipis menatap Randy yang fokus menyetir.


Tapi sayangnya gue gak memiliki perasaan cinta itu lagi pada Lo, dan gue yakin perasaan Lo pada gue udah mulai pudar perlahan. Bathin Alisya.


"Sya... aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu, terimakasih atas waktu berharga yang dulu pernah kau berikan untukku" ujar Randy sambil menginjak rem mobilnya.


Alisya menganggukkan kepalanya "terimakasih kembali, dan semoga Lo bisa menemukan perempuan yang baik bagi Lo!" seru Alisya lantang sambil menutup pintu mobil.


Randy menatap Alisya yang berlari kecil menuju pintu masuk kantor polisi itu.


"Kamu udah tumbuh jadi wanita yang luar biasa Sya, yang tidak lagi cuek pada sekitarmu, aku kagum pada sifat mu yang bisa melupakan dendam dan amarah begitu saja, jujur... aku menyesal pernah menyia-nyiakan perasaanmu padaku dulu, seandainya aku tidak memikirkan nasib papaku dulu-- hmmf, semuanya sudah diatur Tuhan sesuai garis takdir ya, aku harap hidupmu bahagia Sya" gumam Randy sambil membanting cepat setirnya ke kanan.


Mata Alisya terfokus pada dua wanita yang kini berdiri tepat sambil menatap 2 wanita yang tengah berbicara di ruang interogasi itu.


"Eh? kenapa ekspresi kalian seperti itu?" tanya Alisya heran melihat ekspresi aneh yang ada diwajah Riani dan Serli.


"Akhirnya sifat aslinya keluar ya" gumam Alisya tersenyum tipis melihat mamanya dan Dina diruangan interogasi itu.


Suara mereka tidak terdengar dari luar, tapi ekspresi kesal seperti sedang memarahi pelac*r simpanan suaminya itu terlihat jelas kesumat yang disimpan oleh mama Alisya itu kini disampaikannya langsung pada Dina sampai membuat Dina tak berkutik untuk membalas.


Selang beberapa menit kemudian polisi membondong Dina ke ruangan berjeruji besi itu, Alisya tersenyum sinis menatap Dina.


Riani menatap jam tangannya sambil menghela nafas panjangnya "aku harus ke bandara sore ini" ucap Riani yang langsung membuat mereka bertiga kaget.


"Eh? harus sore ini Riani?" tanya Serli.


Riani menganggukkan kepalanya "masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan Serli, bisa antarkan kami mengambil barang dulu dikediaman Aisyah?" tanya Riani langsung diangguki oleh Serli.

__ADS_1


***


Riani mengepak semua barang-barangnya sambil menelpon Coty yang menghensel pekerjaan Riani untuk sementara, terdengar jelas bacotan dan komat-kamit Coty yang kesal pada Riani karena keterlambatan Riani yang seharusnya sudah ada di Perancis kembali dari 2 hari yang lalu.


Riani menyodorkan sebuah kunci pada Alisya "sesuai kontrak" ucap Riani sambil menyunggingkan senyum tipisnya.


"Terimakasih, aku akan belajar dengan serius untuk bulan ini agar mendapat banyak ilmu supaya bisa menjadi anggota firma confiance yang patut untuk dibanggakan" ucap Alisya sambil mengambil kunci yang tadi disodorkan Riani.


"Aku tunggu kedatanganmu" jawab Riani.


"Terimakasih Riani telah membantu kami sejauh ini" ucap Nadia mama Alisya.


"Sudah kewajiban Riani untuk membantu kok Tante" jawab Riani yang kini berpaling ke Serli.


"Terimakasih telah membantu ya, lain kali aku akan mentraktirmu" ucap Riani sambil memeluk erat sahabatnya itu.


"Aku tunggu ya!" seru Serli membalas pelukan Riani.


kret...


Pintu rumah itu kembali terbuka, nampak Aisyah dan Andi yang telah pulang dari pekerjaannya. Aisyah dan Andi mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh yang lainnya.


Aisyah yang melihat mereka sudah membawa tas-tas berisi barang-barang mereka langsung mendekat "sudah mau pulang saja?" tanya Aisyah.


"Terimakasih ya Syah, sudah membantu, dan Andi terimakasih juga ya" ucap Riani sambil menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Aisyah tadi.


"Baiklah semuanya, aku pergi duluan ya, taxi onlinenya sudah datang, Assalamualaikum" pamit Riani sambil berlari kecil menuju taxi yang telah terpakirkan di halaman rumah itu.


"Waalaikumsalam" jawab mereka serentak.


Serli mengangkat teleponnya yang berdering dan mengangguk-angukkan kepalanya menjawan telepon itu.


"Maaf! aku disuruh perusahaan untuk cepat balik menyelesaikan laporan ini! terimakasih atas tumpangannya Syah! Andi! dan terimakasih atas kerja samanya Alisya dan Tante Nadia, kalau gitu aku duluan ya!" ujar Serli sambil berlari kecil segera ke mobilnya.

__ADS_1


Mereka berempat menatap lama kepergian Serli dengan wajah pucatnya, sepertinya Serli dimarahi oleh atasannya karena bekerjasama dengan anggota firma Confiance tanpa izin dalam menyelesaikan kasus ini.


Kini mata Alisya berfokus pada Andi yang dari tadi berdiri disamping Aisyah. Andi menyungginkan senyum lembutnya pada Alisya dan berhasil membuat wajah Alisya memerah, Aisyah yang menyadari hal itu langsung mencubit tangan Andi hingga membuat Andi hampir berteriak kesakitan.


__ADS_2