ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 42


__ADS_3

Bukan jawaban atas pertanyaan tadi yang di dapatkan oleh Desiree, malah kebingungan yang bertambah karena melihat ekspresi serius dari wajah Alisya.


Dengan posisi jari tangan yang menopang dagu, tatapan mata yang tertuju ke bawah, dan posisi kepala yang cukup dimerengkan, menjelaskan bahwa saat ini Alisya tengah berpikir sesuatu yang amat serius.


"Belakangan... Almamater yang sama... jam tangan... sudah tidak sanggup... Crania... tissue basah, ah itu dia!" gumam Alisya yang di akhir melantangkan suaranya membuat Desiree kembali terkejut dan terperanjat dari posisi duduknya.


Alisya langsung bergegas segera sambil mengetok-ngetok pintu kamar Geyaa yang bertulisan angka 3 di depan pintunya.


Geyaa keluar dengan eskpresi heran, sudah berpakaian rapi tapi masih mengenakan handuk di atas kepalanya.


"Owh... ada apa kak?" tanya Geyaa.


Alisya tersenyum tipis, membuat Desiree yang mengikuti langkahnya tadi ikut dibawa oleh kebingungan.


"Mau menyerahkan diri dan memberi penjelasan sendiri atau harus aku paksa Geyaa...? owh atau bisa aku panggil sang pembunuh berantai?" tanya Alisya dengan raut matanya yang kini mulai tajam.


Geyaa mengernyitkan keningnya "hahaha maksud kakak apa kak? kenapa kakak tiba-tiba menuduh aku seperti itu? bukankah kakak tau sendiri bahwa aku juga memiliki dendam dengan pelaku? lantas?" tanya Geyaa dengan memasang ekspresi wajahnya yang masih heran.


"Seperti dugaan ku, kamu tidak akan menyerahkan diri begitu saja, pertama Geyaa... pesan dari Crania waktu itu bukan kah kamu pengirimnya? kamu lah yang membunuh sahabat mu sendiri, mungkin memang kamu kasihan melihatnya yang harus merintih kesakitan, karena itu kamu membebaskan dari penyakit nya itu bukan? dan caranya adalah mati" tanya Alisya kembali.


Geyaa tertawa terbahak-bahak "hahaha maksud kakak apa kak? anggap saja jika benar aku yang membunuh Crania, lantas kenapa dia adalah korban ke-3, bagaimana dengan korban pertama dan korban ke-2, lalu apa hubungannya dengan korban selanjutnya?" tanya Geyaa kembali.


Desiree menatap cemas Alisya, saat melihat tangan Geyaa beralih ke belakang dan mengeluarkan senjata tajam yang bisa menikam mereka kapan saja.


Alisya masih terfokus menatap raut mata dan gerakan bibir Geyaa tanpa memperhatikan posisi tangan Geyaa yang mulai berubah.


"Korban pertama dan korban kedua bukan kah mereka yang mem-bully Crania? bukankah dulu kamu bilang Crania bersyukur karena kamu mau berteman dengan nya, berdasarkan kondisi itu pasti Crania adalah korban bullying di kampus, korban selanjutnya hanyalah untuk membuat rumor pembunuhan berantai agar kamu tidak ada sangkut pautnya nanti bukan? seandainya polisi menyelidiki hubungan ke-3 Korban pembunuhan itu, maka sudah dipastikan kamu adalah tersangka pertama bukan? alasan kenapa kamu merobek mulut semua korban adalah untuk mengikuti kondisi korban pertama dan kedua, karena mulut merekalah yang semakin menjatuhkan sahabat Crania, sejauh ini apa dugaan saya salah Geyaa?" tanya Alisya dengan senyum tipisnya.


"Itu cukup masuk akal kak, tapi apa kakak punya bukti?" tanya Geyaa kembali "Owh satu lagi... kenapa harus di alamat itu aku membunuh mereka? apa kakak punya alasan yang bagus?"


Sial! kartu ku kembali mati! untuk pertanyaan pertama aku bisa menjawab! tapi bagaimana dengan pertanyaan ke-2? aku belum memikirkan hal sepenting itu! Pikir Alisya hancur.


Geyaa kembali tersenyum tipis melihat Alisya yang terdiam.


"Untuk bukti aku yakin Alisya sudah memilikinya, dan untuk alasan kenapa harus tempat itu? biarkan aku yang menjawabnya Geyaa..." ucap suara itu mengangetkan mereka tiba-tiba.

__ADS_1


"Kak Violette!?" kaget Alisya "dan Jendral?"


Violette dan Jendral wanita itu menyinggingkan bibir mereka tersenyum melihat ekspresi kaget Alisya.


Violette menepuk bahu kiri Alisya "sebentar lagi polisi datang, aku sudah meminta izin untuk kita langsung sidang dan kembali ke Firma secepatnya" jelas Violette.


Alisya kaget mendengar perkataan Viollete "tapi--"


"Percayakan saja padaku" ucap Violette memotong perkataan Alisya.


Sirene mobil polisi berbunyi keras berdatangan ke kost-an itu, 2 mobil polisi itu berhenti tepat di luar kost-an. 2 orang polisi keluar dari masing-masing mobil sambil memberi hormat pada Jendral wanita dan Violette berserta Alisya yang ada di tempat.


Suasana itu kini menjadi hening "bisa kita ke kantor dulu sekarang? bukankah lebih baik di jelaskan disana saja?" tanya Violette memecahkan keheningan itu sambil melirik ke arah Geyaa.


Ekspresi wajah Geyaa kini mulai berubah, bukan eskpresi meremehkan kembali yang ada di wajahnya, dia kini nampak jadi cukup murka, tangannya melayang cepat ke arah perut Alisya, untung dengan sigap segera dihentikan oleh Desiree, karena sudah dari tadi Desiree mengintai gerakan itu.


Pisau yang nampak cukup tajam itu tidak jadi menancap ke perut Alisya karena langsung dihentikan oleh Desiree, tangan gadis itu kini mulai bertetesan darah perlahan-lahan namun pasti.


Desiree merintih kesakitan dengan suaranya yang tertahan, Alisya menatap cemas kondisi Desiree, begitupun dengan yang lainnya.


Geyaa langsung lari menuju luar ruangan, dengan langkah kakinya yang cepat dan tanpa jeda dia terus berlari dengan langkah besar.


Geyaa memalingkan wajahnya sambil membuang ludahnya.


Pria itu tidak lain adalah Fres, Fres langsung mengunci pergelangan tangan Geyaa dengan kunci yang dipegangnya.


Fres melambaikan senyum menatap mereka dan 2 orang polisi tadi yang langkah mereka terhenti karena Fres sudah duluan menghentikan Geyaa.


Fres mendekatkan mulutnya ke telinga Geyaa "sudah puas memojokkan diri ku sebagai tersangka nona Geyaa?" bisik Fres dengan nada suara menekan pada Geyaa.


Geyaa membelalaknya matanya kaget mendengar ucapan Fres, dia sungguh tidak menyangka bahwa sedari awal Fres sudah tau siapa dirinya.


Melihat ekspresi Geyaa, Fres jadi tersenyum sinis menatap Geyaa.


Darah Desiree masih jatuh mengenai lantai itu perlahan, Alisya segera tanggap mengambil kotak P3K dari mobil jendral wanita itu, sambil membalut luka Desiree.

__ADS_1


***


Mereka kini sudah berkumpul di kantor polisi, Geyaa duduk tepat dihadapan Alisya dan Viollete, ditemani oleh jendral wanita dan Fres yang berdiri disebelah mereka.


Langkah kaki yang berat itu mulai mendekat pada mereka perlahan.


"Sudah semuanya? kalian yakin untuk melakukan sidang hari ini juga?" tanya kepala kepolisian itu.


Violette menganguk yakin, berbeda dengan Alisya yang nampak masih cemas memikirkan keadaan Desiree tadi yang telah menolongnya.


Violette menepuk pundak Alisya "selesaikan lah kasus ini secepatnya, karena bagiamanapun juga kamu ingin mengetahui keadaannya bukan?" tanya Violette kembali.


Alisya mengangguk sambil menatap fokus pada Geyaa.


Geyaa berdesis sebal dengan ekspresi wajahnya yang nampak tidak cukup baik.


"Sebelum sidang di mulai, terlebih dahulu disini saya ingin menanyakan sesuatu pada mu" ucap Alisya.


"Tidak perlu dan aku tidak peduli" jawab Geyaa cuek.


Alisya jadi geram "apa otakku sudah tidak berguna? bagaimana jika kamu jadikan makanan ayam saja? walau aku cukup yakin ayam pun tak ada sudah memakan otakmu, kamu mahasiswi psikologis bukan? hahaha tidak kah kamu mempelajari dirimu sendiri? jika dirimu seperti ini lantas kenapa kamu memilih jurusan psikologis? begini caramu membebaskan semua rasa sakit temanmu? membalas orang-orang yang mem-bully nya, dengan cara yang tidak biasa.... melenyapkan pembully itu sendiri untuk selama-lama nya, bahkan sampai membunuh sahabatmu sendiri, apa begini cara mu bertindak? sampai membunuh orang-orang yang tidak bersalah?" jelas Alisya yang mengangetkan mereka semua dalam satu ruangan itu.


"Hahaha itu hanya opini mu bukan? apa kamu ada buktinya? aku sudah cukup sabar menanggapi perkataan mu dari tadi, lantas jika aku pembunuh nya bagaimana dengan alasan kenapa harus jalan itu yang aku jadikan sebagai tempat membunuh? kenapa tidak jalan dekat kost-an ku saja? kenapa aku harus rela jauh-jauh kesana?" tawa Geyaa puas.


Alisya menaikkan satu alisnya menatap wanita itu sungguh kepercayaan diri yang tinggi Bathin Alisya sambil kembali membuka suaranya "pertama! kenapa kamu saat polisi datang tadi harus lari? karena itu adalah gerakan refleks sebab instingmu tidak karuan jika kamu harus tertangkap saat ini, jadi demi kabur dan melepas emosimu kamu harus membuatku tepar dulu agar semuanya jadi panik dan berfokus padaku, kamu jadikan aku sebagai pengalihan agar aku bisa kabur, kedua!" Alisya diam sejenak sambil menatap seorang pria yang masuk ke dalam ruangan itu dengan mengenakan pakaian bewarna biru khas seragam forensik kepolisian itu.


Pria itu menganggukkan kepalanya pada Alisya, Alisya tersenyum puas dan beranjak dari duduknya untuk menghampiri pria itu.


"Bisa saya liat hasil jelasnya?" tanya Alisya diangguki oleh pria tim forensik itu.


Alisya melempar foto yang di dapatkan nya dari anggota forensik tadi ke atas meja yang ada di hadapan mereka semua dalam ruangan itu.


"Ini gambar jelas dari tersangka, liat pergelangan tangannya, bukankah sedikit silau? itu karena jam tangan yang terkena lampu jalanan, dan saat kasus mulai terjadi saksi yang ada disana ada 4 orang yang sedang dalam perjalanan kesini, 2 orang laginya sudah ada dalam ruangan ini bukan? Sir Fres? Geyaa?" tanya Alisya menyelidik dengan senyum tipisnya.


"Lantas manquer?" tanya Fres.

__ADS_1


"Saat kalian mendengar suara pekikan bukankah kalian langsung berlari ke tempat kejadian? saya yakin pelaku tidak akan sempat untuk melarikan diri selain terpaksa bergabung sebagai saksi, dan kebetulan kalian semua mengenakan pakaian dengan warna hitam, dan saat itu yang hanya mengenakan jam tangan hanya kamu Geyaa dan anda sir Fres" ujar Alisya.


"Saya lanjutkan penjelasan saya yang terhenti tadi, kedua! jika kamu menanyakan alasan kenapa harus jalan itu? itu jawaban yang cukup mudah dan bahkan bisa ditebak oleh anak SD, karena awal semua tragedi yang ada adalah di jalan itu, dari kasus korban pertama sampai ketiga, disana bukan? jadi akan cukup menganjal oleh pihak polisi jika kamu harus merubah wilayah, dan alasan kenapa ke-3 korban itu di bunuh di tempat yang sama adalah karena korban pertama dan kedua tinggal di apartemen sekitaran wilayah, jadi kamu hanya bisa membunuh mereka di tempat yang sepi, dan alasan kenapa Crania sahabatmu itu yang tinggal cukup jauh dari sana bisa ada di tempat itu karena dia bukanlah ingin membeli kain seperti yang kamu bilang, tapi karena dia ingin menyelidiki kasus 2 orang yang membullynya itu bukan?" tanya Alisya yang mengagetkan satu ruangan.


__ADS_2