ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 45


__ADS_3

Dimas menekan bel rumahnya perlahan dan berjeda, dengan rasa kepercayaan diri yang kini meningkat entah karena apa.


Seorang gadis kecil membuka pintu sambil menganga karena terkejut melihat Dimas, kakaknya.


"Hai Din, apa kabar?" tanya Dimas menyungginkan senyum manisnya pada adik perempuannya yang bernama Dina itu.


"Ka... Kakak!" seru Dina sambil memeluk erat kakaknya tercinta.


"Hei! kamu masih berani balik kesini Dimas!?" seru seorang pria tua yang tidak lain adalah papa Dimas.


"Maaf atas apa yang terjadi kemaren Pa, Dimas balik lagi kesini atas permintaan pacar Dimas, Aren." Dimas menghela nafas panjangnya. "Aren adalah wanita yang Dimas cintai, kami sudah pacaran selama 3 tahun. Papa juga tau hal itu bukan saat Dimas hendak dipaksa untuk dijodohkan? kami hanya meminta restu dari Papa dan Mama. Papa bisa mencoret nama Dimas dalam kartu keluarga, atau menghapuskan hak waris Dimas. Tapi setidaknya ini permintaan terakhir dari Dimas pada Papa dan Mama, tolong restui hubungan kami!" jelas Dimas dengan gagah dan ekspresi yang serius.


"Masuklah" ucap Papa Dimas sambil membalikkan tubuhnya kebelakang dan kembali masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Kakak ya yang telah membuat kak Dimas sampai mengkhianati keluarga" ucap adik Dimas, Dina. Sambil melirik sinis ke arah Aren.


Aren tersontak kaget mendengar ucapan dan melihat tatapan gadis kecil itu.


"Hei Din! kakak marah loh!" seru Dimas kesal pada adiknya.


"Huh!" cemberut Dina.


Nampak seorang wanita tua duduk terdiam dimeja makan tidak melakukan hal apapun selain bernafas.


"Ma..." panggil Dimas pelan.


Wanita tua itu melirik pada Dimas dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"Dimas, kamu sudah balik nak?" ucapnya sambil memeluk putra tercintanya itu.


"Heh! masih berani juga kau balik, owh siapa gadis cantik ini" ucap seorang pria yang lebih tua dari Dimas sambil memegangi dagu Aren.


Sebelum Dimas mau menonjok kakak laki-lakinya itu, Aren langsung menepis tangan kakak Dimas. "Jangan macam-macam dengan saya!" seru Aren menatap sinis kakak Dimas.


Dina yang memerhatikan Aren dari tadi nampak kagum. "Kak jurus apa itu? bisa ajari aku!?" tanya Dina bersemangat.


Aren terkejut melihat perubahan sikap gadis cilik itu tiba-tiba. "Eh?" gumam Aren heran.


"Ini pacar kamu yang miskin itu?" tanya mama Dimas menatap dalam-dalam Aren dari atas sampai bawah.


Aren melangkah maju ke hadapan mama Dimas. "Maaf nyonya jika saya hanya wanita yang berasal dari keluarga miskin, tapi setidaknya saya masih punya hati untuk menghargai seseorang. Saya masih punya mata, hidung, telinga, organ tubuh yang lengkap, tangan, dan kaki. Saya memang berasal dari keluarga yang butuh berlipat-lipat kali perjuangan dan kerja keras agar bisa menafkahi anak-anaknya, maaf jika saya tidak diajarkan sopan santun pada yang lebih tua, tapi keluarga saya mendidik anak-anaknya untuk sukses dengan usaha sendiri, untuk percaya diri. Jadi walaupun usia anda berbeda jauh dari saya, anda tidak ada hak untuk meledek saya miskin atau apalah!" jelas Aren membalas sindiran mama Dimas.


Kakak Dimas dan Papanya menatap kaget Aren yang berdiri dengan tegas dan penuh kharisma tanpa celah sedikitpun.


"Heh! kamu jaga omongan ya! berani nya kamu menceramahi saya! ada hak apa kamu ha!? gara-gara kamu anak saya membatalkan pertunangan nya dengan putri dari keluarga yang kaya raya dan bermartabat tidak sampah seperti mu!" seru mama Dimas melototkan matanya marah.


"Ha!? nyonya bilang gara-gara saya!? mohon maaf ya! anak anda yang mengejar saya sendiri sampai ke Perancis, tanpa saya anak anda tidak akan kembali ke rumah ini! Anda anda yang meminta saya! bukan saya!" balas Aren memanas.

__ADS_1


Dimas mengenggam tangan Aren sambil menggelengkan kepalanya. Aren tersentak kaget lalu segera menutup mulutnya yang sudah terlanjur keceplosan.


"Hahaha wanita mu bagus juga, untuk aku boleh?" tanya kakak Dimas sambil merangkul adiknya itu.


Dimas menepis tangan kakaknya "Tidak!" jawab Dimas tegas.


"Heh... ternyata kau pelit sekali ya, baiklah kalau begitu aku pergi dulu, sampai nanti nona! Jika ada yang menganggumu bilang saja padaku, owh jika hubungamu dengan adikku tidak lancar, ayo denganku saja" ucap kakak Dimas sambil tertawa kecil dan melangkah keluar rumah.


"Omong-omong ada urusan apa kamu ke Perancis?" tanya Papa Dimas.


"Eh? saya baru balik magang tuan" jawab Aren.


"Kalau tidak salah nama kamu Aren? dimana kamu tinggal? kamu masih kuliah? ada magang apa di Perancis?" tanya papa Dimas penasaran.


"Iya nama saya Aren tuan, saya tinggal dijalan xxx, masih kuliah jurusan hukum dan kemaren magang di Firma hukum Perancis" jelas Aren rinci.


"Wow! kamu seorang pengacara!? Dan magang di Firma Perancis? Luar Biasa!" kagum Papa Dimas.


"Jadi papa merestui hubungan kami?" tanya Dimas semangat.


"Owh tentu saja! tapi tetap dengan syarat kamu harus mencari uang sendiri. Karena gara-gara kamu kabur pada acara lamaran saya itu, putri keluarga Diah jadi malu dan menangis sejadi-jadinya saat itu. Karena mereka juga rekan kerja papa, dan investor terbesar perusahaan kita, mereka tidak ingin melihat kamu bekerja diperusahaan, jika melihat kamu diperusahaan, mereka akan menarik semua saham yang ada. Jadi papa tidak bisa membantu banyak selain merestui hubungan kalian. Kalau begitu papa kembali ke perusahaan dulu" jelas papa Dirman meninggal kan ruangan itu.


"Terima kasih Pa!" seru Dimas diangguki oleh Papanya.


"Ma... maafkan ucapan saya tadi Nyonya!" ucap Aren nampak bersalah sambil menundukkan pandangan nya.


Aren terkejut dibelai lembut oleh mama Dimas.


"Jadi mama merestui kami kan?" tanya Dimas.


"Undang lah kami saat kalian memutuskan untuk menikah" ucap mama Dimas melanjutkan langkahnya.


Dimas dan Aren saling bertatapan dan tersenyum bahagia sambil berpelukan.


Dimas dan Aren merasakan ada yang meranggut pakaian mereka. Dimas dan Aren langsung melirik ke bawah, menatap gadis cilik yang terdiam sambil menarik-narik pakaian mereka.


"Ada apa Din?" tanya Dimas pada adik kecilnya itu.


"Jadi kakak tidak akan kembali kesini?" tanya Dina nampak sedih.


"Tenang saja, lain kali kakak akan kesini bersama kak Aren demi main dengan kamu" jawab Dimas sambil mencubit hidung adiknya itu dengan gemas.


"Wah benarkah!? kalau begitu jangan lupa ajari Dina jurus yang tadi ya kak!" ucap Dina bersemangat dan tersenyum senang pada Aren.


"Eh? baiklah" angguk Aren mengiyakan.


"Kalau begitu kakak dan kak Aren pergi dulu ya" ucap Dimas diangguki oleh Dina.

__ADS_1


Aren dan Dimas melangkah keluar dari rumah langsung menuju gerbang utama.


"Udah dapat restunya nak Dimas? neng Aren?" tanya Pak To.


"Udah dong pak" Jawab Dimas sambil tersenyum kecil.


"Wah syukurlah kalau begitu, jadi sekarang mau kemana?" tanya Pak To.


"Kenapa? bapak mau ikut?" tanya Dimas menyeledek.


"Hahaha tidak! tidak! bapak teh lebih betah disini" jawab Pak To.


"Ya udah Pak! kami pergi dulu ya!" ucap Dimas sambil melangkah keluar dari gerbang yang masih terbuka.


"Kak! Kak Dimas! kak Aren!" seru Dina sambil berlari kecil ke gerbang utama.


"Ada apa Din?" tanya Dimas heran.


"Inih, Kun... kunci mobil kakak. Mama bilang kakak boleh tinggal dirumah, tapi karena takut keluarga Diah yang sekarang sering berkunjung berpapasan dengan kakak, untuk menghindari tambah runyamnya urusan mama cuman bisa mengembalikan mobil dan pakaian kakak akan diantar ke alamat baru kakak besok, sekalian ini HP kakak yang ketinggalan" ucap Dina sambil menyodorkan kunci mobil dan HP Dimas dengan hentakan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Pak To, tolong keluarin mobil saya ya" ucap Dimas memberikan kunci mobil pada Pak To.


"Siap tuan!" jawab Pak To berlari cepat ke bagasi.


Dimas mengelus lembut kepala Dina, adiknya. "Terima kasih ya Din, sampaiin juga terima kasih kakak dan Aren pada mama" ucap Dimas diangguki oleh Dina.


Tak butuh waktu lama, mobil sport hitam milik Dimas terparkirkan didepan gerbang. "Terimakasih Pak To" ucap Dimas diangguki Pak To.


Dimas dan Aren masuk ke dalam mobil. Pak To dan Dina melambaikan tangan pada mereka berdua yang perlahan menjauh dari pandangan Pak To dan Dina.


"Ya udah Pak To, Dina masuk lagi ya!" ucap Dina diangguki oleh Pak To sambil berlari kecil kembali masuk ke rumahnya.


Selama diperjalanan Aren terus tersenyum puas. "Jadi kapan pernikahan kita nih?" tanya Dimas tertawa cengengesan.


"Aku pikir bakal sulit loh, kayak di drama-drama gitu" ucap Aren tertawa kecil.


"Hahaha gak segitunya kok, tapi... terima kasih ya Ren" ucap Dimas pelan.


"Untuk apa?" heran Aren.


"Terima kasih telah membukakan pintu hari kedua orang tuaku, kamu mikirin apa sih senyum-senyum sendiri dari tadi?" tanya Dimas penasaran.


"Lagi mikirin kakak kamu nih" canda Riani.


"Ha!? cukup mikirin aku aja!" seru Dimas cemberut.


"Bercanda kok, tapi selanjutnya kamu yang minta restu orang tuaku ya" ucap Aren yang masih tertawa puas.

__ADS_1


"Siap nyonya Dimas!" jawab Dimas sigap.


__ADS_2