ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 32


__ADS_3

Ceritamu kedepannya bisa saja berubah


Contohnya saja teman baikmu saat ini bisa saja esoknya menjadi teman baiknya orang lain... Juara bertahan mu dari dulu bisa saja diambil alih oleh orang lain... Kekayaan yang kamu miliki saat ini bisa saja ***** detik ini juga karena hal tak terduga yang tak pernah kamu bayangkan... dan apa tekad mu saat ini bisa saja menjadi hal yang tak ingin untuk kamu lakukan bahkan kamu pikirkan.


Mereka diberi tempat untuk menginap oleh klien di salah satu hotel bintang 4, dalam satu ruangan kecil yang dilengkapi dengan 1 ranjang dan 1 kamar mandi, dengan bekal hanya 2 stel pakaian, Alisya dan Violette mengepak pakaian bawaannya itu.


Selesai merapikan pakaian Violette langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang cukup untuk mereka berdua.


Violette melirik ke arah Alisya yang berdiam sambil menopang dagunya di tangan "ada yang kamu pikirkan?" tanya Viollete.


"Kakak pikir aku bergaya seperti ini dengan pikiran kosong?" tanya Alisya berdetak sebal.


Viollete tertawa ringan mendengar perkataan Alisya "omong-omong kenapa bahasamu mulai biasa padaku? sebelumnya bukankah formal?" heran Viollete.


Alisya menghiraukan pertanyaan yang di lontarkan oleh Viollete karena baginya tidaklah penting untuk dijawab.


Viollete menutup matanya sambil membayangkan banyak hal yang jadi impiannya, mana tau dia bisa bermimpi di dalam impiannya yang tak bisa untuk dicapai itu. Sudah menjadi kebiasaan Viollete untuk selalu menghayal sebelum tidur demi mengharapkan yang namanya mimpi indah sesuai hayalan, walau faktanya ekspetasi tak selalu sesuai dengan realita yang ada.


Alisya masih duduk termenung di dalam hotel bintang 4 itu, mereka saat ini tengah berada di lantai 20 dari 25 lantai hotel, sambil memandangi dari balik kaca kendaraan yang berlalu lalang pada malam hari itu, mata Alisya terus terfokus pada salah satu gang yang tidaklah jauh dari jalan raya yang dilihatnya sesekali.


Tak ada hal yang nampak mencurigakan di gang yang terus dipantau Alisya semenjak masuk tadi, matanya cukup hebat untuk bisa menatap di kejauhan itu, mungkin kurang lebih 200 meter dari arah dan ketinggian hotel.


Kini Alisya mulai menggeser posisi duduknya ke depan, Dia melihat seorang wanita dengan warna pakaian yang tidak terlalu jelas karena malam hari memasuki gang itu, apalagi diliat dari lantai 20 kamar hotel maka sudah jelas kita tak akan bisa melihat warna yang memasuki kategori gelap, walau bisa melihat wanita itu, namun Alisya tak bisa menangkap warna atau barang yang dibawa orang-orang yang lewat.


Kenapa Alisya berpikir orang yang masuk adalah seorang wanita? itu karena geraian rambut panjangnya dan payudaranya yang nampak menonjol cukup besar. Ditambah ada sesuatu yang sebayang menyilaukan.


Alisya mengambil HP-nya untuk memotret orang itu dari kejauhan.


Tak ada lagi orang yang masuk atau keluar di jalanan itu selama kurang lebih 20 menit Alisya memantau situasi.


Alisya nampak mengantuk dan menguap dengan panjang yang segera ia tutupi, walaupun tidak akan ada orang yang melihat, matanya Kembali terbuka lebar setelah melihat seorang wanita yang tengah berjalan dengan pakaian berwarna putih polos, sehingga tertangkap jelas oleh mata Alisya, Alisya kembali mengambil HP-nya, walau tak cukup jelas untuk memotret dari kejauhan itu, namun mungkin ini bisa saja menjadi berguna suatu hari nanti.


Alisya tidak sanggup lagi untuk mempertahankan matanya, dia memilih untuk tidur dan berkecamuk dalam mimpi yang akan menemani tidurnya nanti, ada atau tidak mimpi itu muncul, itu urusan belakangan.


Nada dering dari HP yang tidak sengaja terkeraskan saat memotret tadi menjadi berisik setelah adanya panggilan masuk dari seseorang, padahal baru beberapa menit Alisya memilih untuk menutup matanya.


Bunyi panggilan masuk itu secara tak sengaja juga membangunkan Viollete yang dari tadi kesadarannya akan dunia nyata entah dimana, Alisya beranjak dari rancang kesebelah jendela tempatnya memantau situasi tadi.

__ADS_1


Tertulis jelas telepon itu dari salah satu bawahan kliennya yang akan memberi rentetan bukti yang terkait dengan pembunuhan. Alisya hanya menulis Sir X di handphone nya karena lupa menanyakan nama bawahan dari kliennya yang merupakan kepala kepolisian di kota itu.


"Halo..." sapa Alisya dibalik telepon itu.


"Manquer Alisya?" tanya suara itu.


"Iya, ada apa sir?"


"Pembunuhan kembali terjadi manquer, tepatnya di gang ke 5" ucap suara itu.


Alisya terperanjat kaget "baiklah, saya akan segara kesana, jangan sentuh apapun yang ada disekitar korban, dan... tolong tahan orang-orang yang ada disekitar gang itu"


"Baik manquer!" tegas suara pria itu.


"Sebelumnya... kalau boleh tau bagaimana ciri-ciri korban?" tanya Alisya kembali.


"Dia wanita dengan rambut panjang, seperti nya dia mabuk saat lewat sini" jelas pria yang menelpon itu.


"Apa warna pakaian yang dikenakannya?" tanya balik Alisya.


"Dress berwarna putih polos" jawab pria itu kembali.


"Ada apa Alisya?" tanya Viollete yang nampak melihat Alisya terburu-buru.


"Pembunuhan terjadi lagi" jawab Alisya sambil mengambil jaketnya dan langsung keluar dari kamar.


Violette mengerutkan keningnya mendengar kabar itu "aku ikut!" teriak Viollete sambil merapikan diri sebentar dan langsung berlari mengejar Alisya.


Mereka berlari dalam jarak kurang lebih 200 meter menuju gang itu, karena tidak ada satupun taxi yang mereka liat.


Dengan nafas yang jelas ngos-ngosan sesekali Violette melirik Alisya dengan tatapan mata tajamnya, dia nampak berubah 180 derajat dari yang biasanya, menbuat Violette sadar bahwa Alisya bukanlah wanita yang cuek, dan mungkin dia serius dalam firma ini, hanya saja karena ego yang tinggi dia memilih untuk tidak mengakuinya.


Kini ada 4 orang yang berdiri dihadapan mereka, pria yang menelepon Alisya tadi, dengan seragam kepolisian yang juga berwarna hitam, seorang pria dengan jaket hitam panjang yang dikenakannya, seorang mahasiswi dengan almamater bertudung hitam, dan seorang wanita dengan topi hitam beserta pakaian hitam.


Penampilan ke-3 orang itu sudah menjadi kecurigaan besar, karena Alisya tidak bisa melihat jelas warna pakaian orang yang masuk pertama itu, kemungkinan besar dia mengenakan warna gelap sehingga tidak nampak, dan terlebih kecurigaan Alisya kini terpaut kepada kedua wanita yang kini ada dihadapannya. Namun mungkin juga tak bisa memungkiri bahwa laki-laki yang ada dihadapannya kini bisa juga adalah pelaku.


"Omong-omong sir... pukul berapa kejadian ini?" tanya Alisya pada polisi bawahan dari kliennya itu.

__ADS_1


"Sekitar pukul 04.50 saya mendengar ada suara pekikan Manquer, jadi saya langsung berlari menuju kesini" jelas polisi itu.


"Omong-omong kenapa sir bisa ada di sekitaran wilayah ini?" tanya Alisya kembali.


"Saya hanya ingin melakukan patroli malam, karena saya takut akan ada korban lagi" jelas polisi itu.


Alisya menganguk paham mengiyakan alasan wajah dari polisi itu.


"Omong-omong sir... siapa yang duluan menemukan mayat korban?" tanya Alisya kembali.


Semua yang ada ditempat kejadian itu menjadi diam "kami datang bersamaan" sahut mahasiswi yang mengenakan almamater dan tudung hitam itu.


Alisya diam sejenak sambil memperhatikan detail-detail penampilan mereka. Tak ada yang salah dari pakaian yang mereka kenakan itu.


Alisya langsung beranjak ke tubuh korban sambil menoleh pada 4 orang termaksud polisi itu tadi "tidak ada yang menyentuh mayat kan?" tanya Alisya memastikan.


Mereka saling menoleh satu sama lain, lalu menggelengkan kepalanya dengan serentak.


Alisya memperiksa tubuh korban, perutnya ditikam dengan benda tajam, bibirnya juga terkoyak sampai ke pipi sudah seperti hantu horor di Jepang, gaun putihnya itu langsung ternodai oleh banyak darah yang keluar dari wajah dan badannya.


Keadaan mayat itu sangatlah tragis.


"Ini korban ke-13 bukan?" tanya Alisya pada polisi itu.


Polisi itu mengangguk mengiyakan, pembunuhan berantai itu sudah menjadi rahasia umum yang diperbincangkan dan dicemaskan oleh banyak orang, namun entah kenapa masih banyak yang keluar dengan mengenakan gaun atau pakaian putih, dan semua korbannya itu adalah perempuan.


Alisya mengecek identitas korban dibantu oleh polisi, setelah menghubungi keluarga korban yang nampak sangat histeris, tubuh korban dibawa ke rumah sakit untuk dibersihkan dan segera dimakamkan.


Violette mengambil alih untuk mendampingi dan menjelaskan situasi itu pada keluarga korban, sedangkan ke 3 saksi tadi yang kemungkinan besar adalah pelaku pembunuhan berantai itu dibawa ke kantor polisi untuk diselediki, dan Alisya memegang penuh izin untuk melakukan hal itu.


Awalnya para saksi sempat menolak, namun Alisya meyakinkan mereka dengan ucapan "jika kalian tidak ingin memberi info detail tentang apa yang kalian liat pada kami, bisa saja salah seorang pelaku dari kalian menemui dan membunuh kalian langsung ditempat, mana tau karena kalian penemu pertama mayat korban bisa saja kalian menampakkan suatu kejanggalan yang akan mencemaskan pelaku pembunuhan itu" jelas Alisya yang mungkin seperti mengancam, bukan meyakinkan.


"Bagaimana bisa dia menemui kami? kami tidak berbuat apapun padanya!?" kesal pria dengan jaket hitam itu.


"Intinya kami tidak ada sangkut paut dengan kasus ini!" protes wanita bertopi hitam dengan pakaian hitam yang juga dikenakan nya.


"Saya mau diwawancarai" ucap mahasiswi dengan almamater hitam itu.

__ADS_1


Semua nya terdiam dan ternganga menatap gadis itu, ada aura dan tatapan tajam dari matanya, dia memiliki suatu dendam yang amat besar pada seseorang. Kemungkinan besar dendamnya tertuju pada si pembunuh berantai.


__ADS_2