ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 23


__ADS_3

"Karena kamu layaklah maka kamu mendapatkan kesempatan ini"


Mereka menoleh kaget mencari sumber suara tadi yang tiba-tiba berujar dibelakang mereka.


Aren langsung menutup mulutnya kaget menatap wanita yang kini ada dihadapannya itu.


"Kalau boleh saya tau... apa kamu gadis yang bernama Aren Ghisya?" tanya Riani menatap senyum pada Aren.


Aren mengangukkan kepalanya dengan cepat.


Riani tertawa kecil melihat tingkah Aren "hahaha sepertinya saya lumayan tertarik denganmu, ada salah satu anggota kami yang hendak berhenti karena usia, mungkin kami bisa mempertimbangkan kamu jadi anak baru disana" ucap Riani.


Aren terpana kaget "benarkah!?"


Riani menyinggingkan senyumnya mengiyakan pada Aren. Lalu kembali menolehkan pandangannya pada Alisya "bisa saya berbicara dengan kamu berdua saja?" tanya Riani.


Alisya diam tak menanggapi ucapan Riani.


Aren yang paham akan situasi itu memilih untuk pamit pergi "kalau begitu saya permisi dulu" ucap Aren.


"Boleh dia tetap disini?" tanya Alisya pada Riani.


"Jika kamu tidak keberatan, maka tidak masalah" jawab Riani.


Alisya menarik tangan Aren segera agar dia mau menemani Alisya untuk berdiskusi dengan Riani.


***


"Mohon maaf Cammy, Enne, sekarang ada gangguan cuaca, jadi mungkin kita akan terlambat untuk sampai ke Bandung" jelas monsieur Elxin.


Cammy dan Enne menarik nafas lelah mereka sambil menghempas punggung ke kursi yang ada dihelikopter.


***


"Dari apa yang tidak sengaja saya dengan tadi, apa benar kamu akan menolak ajakan saya? lantas kenapa kamu tidak langsung menolak saat itu saja? kenapa harus mengantung saya untuk menunggu jawabanmu satu Minggu lagi?" tanya Riani meminta kepastian.


"Pertama... saya masih harus menyelesaikan kontrak kerja, jika saya menghilang atau mengundurkan diri tiba-tiba, anda pasti tau apa uang yang akan mereka lakukan nanti pada saya bukan? bisa saja mereka memaksa saya untuk melunasi pelanggaran kontrak dengan menjadi pelacur disana.


Kedua... tawaran yang anda berikan pada saya memang sangatlah menggiurkan, wisuda setelah menyelesaikan kasus pertama saya di semester 6 kuliah ini, memberikan kecukupan dan rumah yang layak untuk ibu saya, serta membantu menguak kembali kasus itu.


Tapi setelah saya pikir-pikir, jika saya menerima tawaran anda, bisa saja rumor tentang firma itu benar dugaan saya, hanya sekedar cari pamor untuk naik daun, mengangung-angungkan firma yang mungkin menilai uang di atas segalanya, jadi intinya saya tidak ingin kemampuan saya menjadi ladang haram untuk orang lain" jelas Alisya.


"Saya akui, saya cukup sakit hati mendengar ucapan kamu" ujar Riani sambil kembali menghela nafasnya menahan emosi "sebelum itu... apa kamu tau alasan saya memilih mu diantara sekian banyak mahasiswi jurusan hukum yang genius dan berbakat?" tanya Riani.


Alisya dan Aren terkejut bersamaan, mereka sama sekali tak kepikiran akan hal itu.


"Bukan kemampuanmu yang kami nilai Alisya, bahkan saya tau bahwa nilaimu belakangan ini hancur kan? saya tau kamu gadis yang pintar, saya pernah dengar apa yang kamu baca pasti akan langsung kamu ingat, hanya saja... seperti perkataan sahabatmu tadi, kamu terlalu lama menghabiskan waktumu untuk berkerja di tempat maksiat itu" ucap Riani menyudutkan Alisya "Sejujurnya... saya tidaklah berharap pada gadis sepertimu Alisya, saya tau perjuangan dan usahamu amatlah berat bagi gadis seusiamu yang seharusnya merasakan apa itu cinta dan kasih sayang, bukan bersikukuh untuk mencari kebutuhan hidup, untuk perlu kamu ingat, banyak orang diluar sana yang bahkan lebih susah kehidupannya darimu, banyak mereka diluar sana yang giat bekerja keras, namun tak jua sejahtera" Riani diam sejenak setelah melihat ekspresi Alisya yang nampak menahan tangis dan emosinya.


Aren masih diam dan tak mau angkat bicara untuk menghentikan Riani, karena Aren juga ingin agar sahabat nya itu tidak jadi keras kepala bahkan mungkin besar kepala.


"Alisya... saya tidak akan pernah memaksamu untuk bergabung dalam firma kami, saya tidak berharap lebih, sebenarnya saya sudah terlanjur sakit hati menerima ucapanmu belakangan ini, sebenarnya saya tak lagi sudi untuk menurutmu disini, hanya saja... saya tau kamu tidak mengenal dekat apa itu firma confiance, saya tidak ingin kamu merasakan apa yang dulu pernah saya rasakan, saya tidak ingin kamu menyesali keputusan mu, saya hanya ingin kamu... bisa lebih baik lagi di firma kami, bisa melancarkan semua keinginan mu dengan bergabung bersama kami, dan terlebih jika kamu masih memang ingin menolak ajakan saya, maka tak akan ada lagi kesempatan untuk kamu bergabung bersama kami, saya akan kembali ke Perancis dalam 2 jam ini, tugas saya masih banyak disana, saya rela menghabiskan waktu satu hari saya hanya untuk menemuimu, memberikan kepercayaan dan keyakinan kuat padamu, pikirkanlah kembali ajakan saya dalam waktu 1 jam ini, jika kamu menerima maka akan saya jelaskan tentang apa itu firma Confiance dalam kurun waktu 1 jam sebelum saya kembali ke bandara, jika kamu menolak, saya akan tetap menjelaskan apa itu firma confiance padamu" jelas Riani sambil pergi meninggalkan mereka dari taman itu.


Aren mengenggam tangan Alisya sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum manis pada Alisya "itu isi hati nya, dia berkata jujur walau itu akan menyakiti hatimu, dia tau... perkataan nya mungkin saja menjadi peluru penghancur hidupmu, atau bahkan bisa menjadi peluru yang akan membuatmu untuk terus berlari agar tidak tertembak dan mati disaat kamu lengah dan lelah, itu semua lagi hanya tergantung kamu... kamu ingin agar peluru itu membuat mu mati atau terus berlari, apa kamu masih meragukan firma confiance? meragukan wanita tadi? dia paham betul jika kamu memilih maka kamu akan memberikan hasil terbaik untuknya dan untukmu, jika kamu menolak dia bisa saja mencari yang lebih darimu dan kamu malah hanya akan mati kehilangan semua harapanmu dulu, perkataan nya tadi mungkin hanya sedikit motivasi namun itu mewakili semua keluhan hidupmu" jelas Aren sambil melangkah pergi meninggalkan Alisya.


Alisya duduk diam sambil memegang erat kepalanya dengan kedua tangan mungilnya, dia mengeluarkan surat yang diberi Riani dulu dan langsung berlari menuju bank terdekat.


Alisya memanggil taxi untuk segera menuju Diskotik tempatnya bekerja.


"Bukankah terlalu cepat kamu datang Alisya? tugasmu masih 4 jam lagi? atau jangan-jangan kamu menerima anjuran saya untuk tidak hanya sekedar jadi bartender?" tanya wanita pemilik diskotik itu.

__ADS_1


Alisya menggelengkan kepalanya dengan cepat "saya mengundurkan diri untuk bekerja disini!" tegas Alisya.


Wanita itu menyinggingkan bibirnya "kamu tau apa hukumannya jika melanggar surat kontrak?"


"Ini uang ganti rugi dari saya! tolong tanda tangani surat pembatalan kontrak ini!" seru Alisya sambil meletakkan tumpukan uang berwarna merah pada wanita itu.


Wanita itu menghitung uang yang diberikan Alisya sambil berjalan kembali ke dalam dan merobek sebuah surat didepan Alisya sambil meletakkan sidik jarinya di surat yang dipegang oleh Alisya.


"Oke sudah, kamu bisa merobek surat itu seperti yang saya lakukan tadi, karena itu tidak lagi berguna, atau jika kamu tidak percaya pada saya, silahkan saja simpan surat itu sebagai bukti, dan terimakasih atas kerja keras mu selama ini dan uang ini Alisya hahaha" tawa wanita itu sambil kembali masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa uang yang diberikan oleh Alisya tadi.


Alisya menghela nafas lelahnya dan kembali naik ke dalam taxi "balik kampus pak" ucap Alisya diangguki oleh supir Taxi.


Nampak di gerbang depan kampus seorang wanita berhijab menyunggingkan senyummya pada Alisya "tanpa kamu jawab pun, saya sudah tau keputusanmu, bergegaslah, nanti malam 2 rekan saya akan ke rumah mu untuk menjemput mu" ucap Riani sambil melangkah pergi meninggalkan Alisya.


Riani kembali membalikkan tubuhnya "oh iya... kamu sudah telat setengah jam, jadi saya tidak bisa menjelaskan tentang firma confiance pada mu hanya dengan sisa waktu setengah jam itu, dan kamu tau? kamu hanya punya sisa waktu 3 jam untuk berpamitan dengan orang-orang yang penting bagimu, urusan kampusmu tenang saja, sudah saya urus semua, jadi kamu bisa pergi dengan aman, jadi nikmatilah dulu waktu senggang serangan jam ini sebelum 3 jam persiapanmu" jelas Riani.


Alisya menghela nafas lelahnya, dia kembali menatap ke dalam kampus, seorang gadis yang tak asing baginya melambaikan tangan pada Alisya.


"Akhirnya kamu memutuskan pilihanmu, Sya... aku akan menunggumu 1 bulan lagi disini" ucap Aren sambil memeluk erat Alisya.


"Terimakasih atas semuanya Ren... aku akan sering menghubungi mu" ujar Alisya sambil kembali masuk ke dalam taxi menuju kediamannya.


Taxi yang dinaiki Alisya perlahan menghilang dari pandangan Aren, Aren tersenyum tipis memandangi taxi yang perlahan menjauh itu "aku harap... kamu bisa berubah menjadi lebih baik lagi sya, karena kamu adalah idolaku" gumam Aren.


***


Alisya menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah pada sopir taxi "bisa tunggu sebentar lagi pak?" tanya Alisya.


"Berapa lama non?" tanya bapak supir taxi.


"30 menit" jawab Alisya.


Alisya langsung berlari memasuki perkampungan itu karena taxi tak bisa lanjut masuk akibat gang sempit, hari mulai gelap perlahan, Alisya menatap jam di layar hp nya "masih ada waktu 3 jam pas lagi" gumam Alisya sambil mempercepat langkahnya.


Sambil berlari Alisya menoleh ke arah warung buk Nini yang ternyata sudah tutup terlebih dahulu.


Alisya membuka pintu gubuk yang tidak dikunci itu perlahan, tak ada suara dari dalam namun lampu minyak sudah hidup menyala.


Alisya langsung melihat Mak nya sibuk dengan jahitan barunya "Mak sudah sembuh?" tanya Alisya.


Mak Alisya tersenyum tipis pada anaknya "tenang saja... mak hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk sembuh" jawab Mak Alisya.


"Mak... boleh alisya mengatakan sesuatu?" tanya Alisya.


"Apa nak?"


"Sebelumnya... Alisya tidak bermaksud apa-apa, inti antara kabar baik dan kabar buruk" jelas Alisya terlebih dahulu.


"Jangan sungkan mengatakannya pada Mak nak, sebelum itu Mak juga mau mendengarkan Kabar buruknya dahulu" pinta Mak Alisya.


"Bukankah lebih baik mendengar kabar baiknya dulu Mak?"


Mak Alisya menggelengkan kepalanya "kamu tau sya? terkadang sesuatu yang diawal buruk itu akan mendatangkan kebaikan berlipat diakhir, begitupun sebaliknya, sesuatu yang baik itu tak jarang diakhir dengan keburukan berlipat, maka karena itu mak ingin mendengar kabar buruk dulu, agar merasakan kebaikan berlipat untuk kabar baik" jelas Mak Alisya.


Alisya tertawa kecil mendengar penjelasan mak nya itu.


"Mak tak menyangka bisa melihat mu kembali tertawa sya, apa ada sesuatu yang menarik belakangan ini?" tanya Mak Alisya.


Alisya hanya menggeleng kepalanya karena takut menghabiskan banyak waktu.

__ADS_1


"Mak... buruknya, Alisya ingin Mak tinggal ke panti jompo" ucap Alisya.


Tak ada ekspresi kaget yang dinampakkan wanita yang kini duduk diam dihadapan Alisya, diam hanya tersenyum tipis mendengar ucapan anak gadisnya itu.


"Lantas apa kabar baiknya?" tanya Mak Alisya.


"Mak tidak marah? sedih? atau bahkan kecewa pada Alisya?" tanya Alisya heran.


Mak Alisya tersenyum tipis melihat respon anaknya itu "jika itu yang terbaik untuk Mak, lantas kenapa mak harus sedih sya?"


Alisya kembali tersenyum pada Mak nya "kabar baiknya adalah Alisya diajak bergabung ke dalam firma Confiance dan malam ini harus segera terbang ke Perancis mak, oleh karena itu kita harus ke panti sekarang juga, taxi sudah menunggu di depan gang" jelas Alisya.


"Benarkah nak!? kamu diajak bergabung ke dalam firma Confiance!?" kaget mak Alisya.


Alisya nampak heran menatap ekspresi wajah Mak nya itu "kenapa mak?"


"Mak harap kamu bisa terus bertahan disana sya, firma itu bukan sekedar rumor baik kalangan atas saja, tapi pengacara di firma itu benar-benar paling ditakutkan oleh aparat pemakan uang negara, dan para penipu dan koruptor ulung lainnya, kamu beruntung nak bisa masuk kesana" puji Mak Alisya.


Alisya diam sejenak, dia tak percaya bahwa Mak nya juga sangat mempercayai firma Confiance yang bahkan pamornya selama ini hanya dianggap opini publik bagi Alisya, bagaimana mungkin Mak nya yang hanya seorang tukang jahit digubuk sepi ini bisa mengetahui firma itu. Walau memang dia adalah mantan istri dari pejabat pemerintah.


Alisya mengepak semua barang-barang miliknya dan barang-barang milik maknya yang tidak lah seberapa, dengan bermodal kan 2 tas besar yang nampak sudah lusuh Alisya bergegas keluar dari gubuk sambil menggandeng tangan Mak nya.


Mereka berhenti sebentar di rumah buk Nini pemilik warung sekaligus pemilik gubuk yang ditempati Alisya dan Mak nya itu.


Buk Nini lah janda dengan 2 anak itu yang rela menyodorkan tangannya pada wanita dan anaknya yang tengah membopong tas besar dengan nafas tertatih dulu. Buk Nini lah yang ikhlas meminjamkan gubuk tua nya untuk tempat berteduh Alisya dan Mak nya.


Alisya mengetuk pintu rumah kecil itu perlahan, nampak buk Nini keluar dengan mangkok berisi makanan bayi yang dipengangnya.


"Eh Alisya dan teh Nadia, kenapa bawa tas besar malam-malam gini? ayo masuk" ajak buk Nini.


Alisya dan Mak nya masuk bersamaan ke rumah keluarga kecil itu.


"Sebelumnya maaf menganggu waktu ibuk malam-malam begini" ucap Alisya.


"Hahaha tidak apa apa" jawab buk Nini.


Alisya menolehkan pandangannya ke maknya.


"Jadi begini Ni... sebelumnya kami berterimakasih atas kebaikan Nini selama ini, hari ini dan mungkin untuk selamanya kami tak akan menempati gubuk yang telah Nini pinjamkan pada kami tanpa uang sewa, ini... kami ada sedikit rezeki untuk Nini, mohon diterima Ni... kami benar-benar bersyukur pernah menemui Nini, setidaknya inilah ucapan terimakasih kami walau tidak seberapa" jelas Mak Alisya.


Buk Nini menatap kaget amplop tebal yang diserahkan Mak Alisya tadi padanya.


"Gak masalah kok teh, sya, malah Nini senang ada kalian, kalau boleh Nini tau... teteh sama Alisya mau kemana?" tanya buk Nini.


"Alhamdulillah buk, sya diajak bergabung ke salah satu firma hukum di Perancis, dan karena tak ingin melihat Mak kesusahan seorang diri, sya gak mau sakit Mak kambuh lagi entar, jadi sya meminta Mak untuk tinggal sementara waktu di panti jompo, sebelum saya kembali ke Indonesia" ucap Alisya.


"Wah Alhamdulillah, kalau begitu teh Nadia tinggal sama Nini aja dulu" ucap Buk Nini.


"Gak usah ni, terimakasih, teteh teh gak mau nyusahin Nini" jawab mak Alisya.


"Gak nyusahin kok teh" ucap buk Nini.


"Sekali lagi terimakasih Ni, tapi benar-benar gak usah" jawab Mak Alisya.


Teh Nini tersenyum tipis seraya menganggukan kepalanya, Alisya dan Mak nya kembali berpamitan pada buk Nini dan langsung masuk ke dalam taxi yang sudah menunggu sedari tadi.


"Jadi mau kemana non?" tanya supir Taxi.


"Ke panti Cahaya Hati pak" jawab Alisya diangguki oleh Pak sopir.

__ADS_1


__ADS_2