ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 11


__ADS_3

Aku ikhlas melepas semua ini


Walau terasa sakit dihati... Merusak seluruh raga dalam diri... Namun itu salah satu cara untuk aku mensyukuri kenyataan yang menampar diriku seorang diri


Aku tidak berharap bahwa waktu bisa diputar kembali... hanya saja aku menginginkan cinta yang tidak dibatasi oleh batas suci


karena hubungan halal yang sudah terikat dan di saksikan sekian banyak orang yang kami saling kasihi


Namun jika kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama... Aku benar-benar Ikhlas dari lubuk hati


Untuk dia yang aku taruh rasa yang dinamakan C.I.N.T.A selama ini _Pamela Oswald


"Maaf sebelumnya Manquer... tapi apa tanggapan yang diberikan sir Carlson setelah mengatakan apa yang manquer liat saat itu?" tanya Riani.


"Dia diam, kaget, dan nampak kesal menatap ku" Manquer Pamela menghela nafasnya sementara "Dia mengatakan bahwa aku hanya salah paham, tapi coba kamu pikirkan Riani! bagaimana mungkin aku salah melibat orang! sejelas itu dia bercumbu di dalam mobil tepat di depanku!" kesal Manquer Pamela.


"Tapi bagaimana jika manquer memang hanya salah paham?" tanya Riani mencoba menekan kan manquer Pamela sekali lagi.


Manquer Pamela menggelengkan kepalanya "apa disini kamu menganggap aku yang salah Riani?" tanya Manquer Pamela menatap tajam Riani.


Riani mencoba tenang sambil menggelengkan kepalanya dengan senyuman pada Manquer Pamela "hanya saja... Riani tidak yakin sir Carlson akan mengkhianati Manquer" ucap Riani.


"Jangan nilai orang dari penampilan nya Riani" ujar Manquer Pamela.


"Tapi... apa manquer benar-benar melihat dengan amat jelas bahwa sir Albern bercumbu dengan mahasiswi nya itu?" tanya Riani memastikan sekali lagi.


Manquer Pamela menggelengkan kepalanya "tidak"


Riani kembali tersenyum "tidak kah manquer ingin mendengar kan penjelasan dari sir Carlson dulu?"


Manquer Pamela kembali menggelengkan kepalanya "tidak!"


"Apa manquer ingin mengakhiri hubungan yang sudah manquer jalani bersama sir Carlson dalam beberapa tahun belakangan ini? apa kah saat ini memang sudah tak ada lagi cinta dalam lubuk hati manquer yang paling dalam untuk sir Albern?" Riani mencoba membangun tekad Manquer Pamela untuk mempercayai sir Carlson sekali lagi.


Manquer Pamela diam sejenak "aku..."


Riani menatap Manquer Pamela yang nampak ragu-ragu, Riani mengangkat tangannya dan menepuk pundak manquer Pamela "mau jalan-jalan dengan Riani sebentar?" tanya Riani sambil menyunggingkan senyum nya pada Manquer Pamela.

__ADS_1


***


Albern keluar dari ruangan rapat itu dengan senyuman puas nya, seperti nya urusan Albern dengan beberapa dekan dan dosen dari Oxford berjalan dengan lancar. Albern menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu untuk shalat Zuhur. Albern segera ke ruangannya untuk shalat dan melanjutkan memberi bimbingan pada mahasiswa nya.


Albern kembali menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 02.00 siang, dan langsung menuruni tangga menuju parkiran.


Tanpa makan siang terlebih dahulu Albern langsung menakan gas mobilnya menuju restoran untuk membeli makanan bungkus dan langsung menuju rumah Carlson.


Albern kembali menghela nafas lelahnya dan keluar dari mobil sambil menjinjing makanan yang tadi dibelinya di restoran.


Dengan cepat pintu rumah Carlson terbuka, membuat Albern kaget melihat penampilan rapi dari Carlson. Rambutnya disisir rapi ke belakang, setelan kemeja hijau dengan jas hitam diserasikan dengan celana hitam panjang menambah sisi keren dari berondong tua itu.


"Kemana?" heran Albern.


"Aku tidak bisa diam saja seperti ini, terimakasih telah menemaniku kemaren Albern! aku janji akan membalas Budi baikmu!" tegas Carlson sambil memasuki ruangan parkir mobilnya.


Albern terdiam sejenak, tetapi mobil Carlson sudah melaju jauh meninggalkan Albern yang masih berdiri sambil menjinjing makanan dengan kantong plastik didepan rumah Carlson.


"Bagaimana nasib dua bungkus makanan ini?" gumam Albern heran.


Albern kembali masuk dalam mobil dan langsung menuju apartemennya untuk mengajak Istri tercinta nya yang ditinggal semalaman makan bersama.


Albern mendesis karena teleponnya tidak diangkat, Albern langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil menatap jam dinding rumahnya "kemana pula kamu ni?" gumam Albern.


Tak selang waktu lama, telepon Albern berbunyi, Albern kembali bersemangat setelah membaca nama yang ada di layar hp nya itu.


"Assalamualaikum sayang, kamu dimana?" tanya Albern di balik telpon.


"Waalaikumsalam, maaf sayang... Hp ku tadi di tas, aku lagi di taman bersama manquer Pamela, ada apa?" tanya Riani.


"Sama Pamela?" tanya Albern memastikan.


"Iya, kenapa? ada sesuatu yang ingin kamu bahas bersama manquer Pamela?" tanya Riani.


"Owh tidak... tidak, hanya saja tolong kamu tahan Pamela disana sampai kamu melihat mobil milik Carlson, ok?" pinta Albern.


Tanpa dijelaskan pun Riani paham maksud suaminya itu "baiklah"

__ADS_1


"Ya sudah... aku akan menjemputmu disana" ucap Albern.


Riani tersenyum "aku akan menunggu, Assalamualaikum suamiku"


"Waalaikumsalam pendamping surga ku" jawab Albern sambil tersenyum senyum sendiri.


Albern mengetik keyboard yang ada di hp nya untuk memberi tau Carlson lokasi Pamela saat ini.


Albern memasukkan makanan yang tadi dibelinya ke dalam kulkas dan segera turun ke parkiran apartemen untuk mengambil mobil.


Manquer Pamela datang ke arah Riani sambil membawa 2 es krim coklat.


"Ini" ucap Manquer Pamela pada Riani sambil menyodorkan es krim nya.


"Eh?" heran Riani.


"Rasa terimakasih dariku untuk kamu Riani, karena telah menghibur dan memberi pencerahan pada ku" jelas Manquer Pamela.


"Berarti ini sama saja dengan semacam sogokan?" ledek Riani sambil menerima es krim coklat yang disodorkan Manquer Pamela tadi.


"Kenapa mulut mu bisa sepedas itu Riani? padahal tadi aku masih mendengar mu mengucapkan kata sayang dengan bahasa yang lembut pada sayang mu itu" ledek balik manquer Pamela.


Riani tertawa mendengar ucapan dari manquer Pamela.


"Saya sepertinya akan berhenti dari firma" ucap Manquer Pamela tiba-tiba.


"Hah!? apa maksudmu manquer!?" kaget Riani.


"Hahahah saya hanya bercanda Riani, omong-omong kenapa dengan kamu saya selalu berbicara dengan bahasa yang formal ya? terkadang saat mood saya turun baru saya mengunakan bahasa temanan yang lumrah dengan mu?" heran Manquer Pamela.


"Entahlah... Riani juga heran Manquer hahaha" balik tawa Riani.


Riani dari tadi selalu melirik ke arah jalan masuk dari taman, dan kali ini Riani tersenyum puas melihat mobil Zenvo berwarna abu-abu itu memasuki taman.


"Oh iya manquer... Riani ke toilet sebentar ya" ucap Riani sambil melangkah pergi dengan cepat meninggalkan manquer Pamela.


Manquer Pamela mengangguk ucapan Riani "apa dia sangat kebelet sampai harus berlari?" gumam manquer Pamela heran.

__ADS_1


Riani mengambil jalan berbelok lewat toilet umum taman untuk ke gerbang depan masuk taman menunggu kedatangan Albern yang tak kunjung nampak kepala mobilnya.


Riani mengintip dari celah pohon orang yang keluar dari mobil abu-abu tadi dengan setelan nya yang nampak keren, Riani terus fokus menatap Carlson yang berjalan perlahan mendekat ke arah manquer Pamela yang masih sibuk menjilati es krimnya sampai Riani lupa kedatangan Albern yang sudah ada dibelakangnya sambil ikut mengintip apa yang di intip istrinya itu.


__ADS_2