ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 35


__ADS_3

Seandainya aku adalah seorang superhero yang bisa membela dan menyelamatkan dunia... Maka akan kulakukan dengan sebaik mungkin demi membela keadilan


Seandainya aku adalah pecundang terbesar diantara miliaran atau mungkin triliunan makhluk bumi... Maka dengan langkah diam, aku bisikkan pada mereka, tentang pandangan ku pada dunia lewat jangkauan luas yang dinamakan dengan 'internet' jadi aku tak perlu untuk bertatap muka dengan manusia


Jika aku hanyalah seonggok sampah... Maka akan ku seru lantang kan pada angin, agar membawa ku terbang sejauh mungkin ke tempat yang tak akan digapai manusia


Namun sayangnya... mungkin itu hanya 'Kata' bulan sebuah 'aksi nyata' yang rela ku lakukan demi makhluk yang dinamakan 'MANUSIA'


Karena mengurus urusanku sendiri saja... aku tidak cukup kuat


"Eh?" kaget Alisya heran.


"Owh... Anda bukan penggemar Adalart Fortune nona?" tanya sopir taxi itu sekali lagi.


Apa dia tau sesuatu tentang Adalart Fortune ini? pikir Alisya, Alisya tersenyum tipis pada sopir taxi itu, mencari kesempatan di dalam kesempatan yang berlaku ini "Owh tidak tuan, hanya saja saya sedikit tertarik dengan komikus bernama Adalart ini"


"Apa yang membuat anda bisa tertarik dengan nya nona?" tanya Sopir taxi tadi.


"Karyanya yang saya baca sangatlah bagus" bohong Alisya.


"Benarkan nona! saya yakin sebentar lagi Anda akan menjadi fans beratnya hahaha" ujar sopir itu semangat.


"Hahaha iya bisa jadi" jawab Alisya merasa aneh.


"Kalau boleh saya tau, karya apa yang anda sukai dari tuan Adalart nona?" tanya sopir taxi itu sekali lagi.


Alisya ingat dengan karya-karya milik Adalart yang dibacanya di dokumen tentang data diri Adalart, pria dengan jaket hitam yang dinyatakan sebagai tersangka kasus pembunuhan berantai itu "The Single Ragrat" jawab Alisya.


Sopir taxi itu kembali bersemangat penuh "benarkah nona!? ternyata kita juga sama! The Single Ragrat adalah komik pendek yang saya baca pertama kali, sejak saat itulah saya jadi sering membeli bermacam-macam komik karangan tuan Adalart, dan saya langsung jadi fans nya nona! omong-omong bukankah kisah Heroine nya itu cukup mengesankan?" tanya Sopir taxi tiba-tiba.


Alisya jadi mati kartu, dia diam sejenak, tak tau harus menjawab apa, mau Heroine lah, wanita pelakorlah, superhero lah, dia sama sekali tidak tau isi cerita komik itu. Alisya memikirkan cara cepat untuk menghindari percakapan ini.

__ADS_1


"Hahaha iya tuan, menurut saya itu sangat mengesankan, omong-omong bisa saya kembali fokus pada dokumen ini tuan?" tanya Alisya sambil menunjuk dokumen yang di pegang nya.


Sopir taxi itu melirik dari kaca spionnya "hahaha baiklah nona, padalah tadi saya ingin menanyakan hal mengesankan apa yang nona liat dari Heroine itu, tapi tidak masalah karena nona sedang sibuk" jawab sopir taxi itu.


Alisya tersenyum tipis menanggapi itu, cukup dia sekali saja mati kartu, lain kali jangan, karena bisa saja di lain kali itu dia tak menemukan alasan yang tepat untuk mengelakkan pertanyaan.


"Oh iya tuan... omong-omong sejak kapan tuan nge-fans sama Adalart Fortune?" tanya Alisya kembali setelah diam beberapa menit untuk meredakan gagal fokus tadi.


"Hmm... seingat saya sudah 3 tahun lebih" jawab sopir taxi yang masih fokus menyetir.


"Tuan pernah bertemu dengan tuan Adalart?" tanya Alisya kembali.


Sopir taxi itu menggelengkan kepalanya "tuan Adalart tidak pernah mempublikasikan dirinya di dunia nyata nona, kami para fans bahkan tidak tau wujud sebenarnya dari tuan Adalart, tapi kami percaya dan yakin bahwa komik romantis penuh dramanya itu mewarna sifatnya yang baik dan juga sangat pengertian, seperti tuan Adalart tipe pria yang elegan dan berkelas" ujar sopir taxi itu.


Jika saat ini Alisya sedang meminum air pasti dia akan memuncratkan air itu segera karena mendengar kabar yang cukup mengerikan, bagaimana mungkin pria kekar besar dengan tampang Mafia sangar itu bisa menjadi pria elegan berkelas!?


Dengan menghirup udara yang cukup panjang, karena dalam beberapa detik tadi Alisya hampir lupa mengambil nafas sebab terbayang-bayang oleh dugaan supir Taxi itu tadi.


"Sejauh yang saya tau... tuan Adalart seperti masih ingin sendiri, di perbincangkan via chat online dia pernah mengatakan sibuk dengan mengambar dan olaharaga dari pada mengurus wanita-wanita yang sering merayu dan mendekatinya di dunia nyata" jawab Sopir taxi.


Alisya terbelalak sempurna, dia seperti tengah mendengar kabar sempurna terbaik bahwa esok ayahnya, makhluk yang paling dibencinya itu mati mengenaskan dengan sangat tragis, rasa yang kini berbeda terbalik dengan apa yang dirasakannya, rasa menjijikkan paling sempurna yang pernah ada, ini malah lebih lucu dan mengeyelkan daripada di tampar beruang kutub.


Sejenak Alisya hampir lupa bagaimana cara untuk bernafas, tiba-tiba taxi sudah berhenti disalah satu unit apartemen tak jauh dari hotelnya tinggal. Alisya ingat bahwa pria kekar itu tinggal di gang yang tak jauh dari tempat kejadian.


Alisya turun dari taxi dengan langkah terseret, sambil menaiki tangga menuju lantai 3 apartemen itu Alisya selalu mendesis seperti orang gila, dia menekan bel di pintu nomor 33 dengan amat cepat dan berulang.


Terdengar langkah kaki yang cukup jelas menghentak seperti gajah yang tengah marah, namun mungkin ini bukanlah gajah, karena langkahnya amat cepat.


Seorang pria berwajah seram ditambah ekspresi murka yang bagi Alisya hanyalah orang menyedihkan itu keluar dari pintu.


Dia kaget menatap Alisya, dengan perlahan namun pasti ekspresi menyeramkan itu hilang, walau kenyataan tak bisa mengelak bahwa bagaimana pun orang ini tetaplah seram dan menakutkan.

__ADS_1


"Oh anda manquer... ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu.


Alisya menoleh sekeliling, dari tadi dia tak melihat seorang pun anggota polisi yang mengawasi disana.


"Kalau anda mencari para polisi, mereka sedang tidak ada, tadi ada kasus lagi di gang sebelah" jelas Adalart.


"Pembunuhan lagi!?" kaget Alisya.


Adalart menggeleng "saya tidak tau"


Alisya diam sejenek "bisa aku melihat-lihat isi rumahmu?" tanya Alisya kembali setelah memutuskan untuk tetap menyelidiki dan mempercayakan kasus di gang sebelah bersama para polisi.


"Hah... baiklah, silahkan" ucap Adalart nampak lelah karena tidak dipercayai.


Alisya memeriksa setiap inchi ruangan itu dengan detail, apartemen yang cukup bersih dan rapi untuk seorang komikus, tak jarang rumah atau apartemen yang disinggahi seorang penulis maupun komikus penuh dengan tumpukan kertas dan buku yang berserakan.


"Sir Adalart Fortune, bagaimana dengan nasib wanita-wanita yang mengejar anda kini?" ledek Alisya setelah selesai memperiksa per inchi ruangan itu.


Pria bernama Adalart itu tersentak kaget "saya yakin anda bisa mencari informasi tentang saya, tapi bagaimana bisa anda tau tentang informasi itu nona!? saya hanya memberi tahukan dalam grup fans saya?! jangan bilang anda juga salah satu fans saya!?" kaget Pria itu nampak malu.


Alisya tertawa puas melihat reaksi Adalart "hahaha tidak mungkin saya yang baru mengenal nama anda adalah fans anda tuan, jadi bagaimana dengan para wanita itu?" tanya Alisya sekali lagi.


Adalart menundukkan kepalanya nampak sedih "itu bohongan nona, saya hanya ingin para fans tau bahwa kalau saya mengatakan dikejar-kejar oleh wanita, maka dia akan menganggap saya berkharisma, saya tidak akan menceritakan kisah hidup saya yang asli apa lagi berjumpa dengan mereka, saya takut setelah melihat langsung diri saya mereka langsung berhenti jadi fans saya" jelas Adalart.


Alisya cukup prihatin pada Adalart, dia ingin membantu, namun pikirannya saat ini masih terfokus pada kasus, dia takut salah jika harus mengatakan sesuatu, memang siapapun boleh menjadi penulis bahkan penulis kisah romance pun, namun jika menyangkut fisik Adalart yang seperti anggota mafia, Alisya memilih untuk bungkam saja, dia takut salah jika mencoba menenangkan.


"Oh iya tuan... apa saya bisa meminjam komik anda yang berjudul The Single Ragrat?" tanya Alisya mengalihkan pembicaraan.


Adalart terdiam sejenak kemudian mengangguk "ini nona, ambil saja sebagai kenang-kenangan dari saya, itu komik pertama saya, jadi saya menyimpan nya banyak" jelas Adalart.


Alisya mengangguk berterimakasih, setelah dia melihat cover komik itu, matanya terbelalak kaget, ini lebih dari sekedar komik romance yang di romance kan.

__ADS_1


__ADS_2