ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 27


__ADS_3

Aku tidak bisa memaksa


Aku juga tidak bisa berkehendak sesuka hatiku...


Sudah kewajiban dan kodratnya seorang istri harus mematuhi ucapan suaminya


Tapi... apa yang berkorban harus hanya istri saja? manakah keadilan bagi wanita?


Mana opini yang selalu mengatakan wanita itu selalu benar?


Bukankah faktanya lelaki yang selalu benar? berkehendak sesukanya dan ujung - ujungnya seorang wanita harus rela menerima?


Aku ingin keadilan itu berjalan!


Riani terpana dalam diamnya di tempat duduk lamanya sebelum menjadi ketua firma dulu.


"Hai Riani! kenapa bengong gitu!?" sahut Enne mengejutkan Riani.


Riani langsung menggelengkan kepalanya "Owh tidak ada apa - apa, omong - omong jam berapa sekarang Enne?" tanya Riani.


Enne melirik jam tangannya "Pukul 12.00 mau makan siang bareng?" ajak Enne.


Riani menganggukkan kepalanya dan keluar dengan mobil Enne menuju sebuah restoran yang berjarak tidak cukup jauh dari Firma Confiance.


"Ada masalah Riani? tumbenan kamu bengong begitu?" tanya Enne yang masih fokus menyetir.


Riani menggelengkan kepalanya "aku hanya kangen sama suasana kampung halaman setelah kemaren baru balik dari Indonesia" jelas Riani berbohong.


Enne mengangguk kepalanya mendengar jawaban Riani.


"Sudah lama ya kita gak keluar berdua bareng? kira - kira udah berapa tahun ya?" tanya Enne penasaran.


Riani diam sejenak, mengingat waktu terakhirnya berduaan dengan Enne "entahlah lupa" jawab Riani sambil turun dari mobil yang sudah terparkir kan di parkiran restoran.


Enne berjalan disebelah Riani dan ikut masuk ke restoran.


Selesai memilih menu mereka duduk di meja yang ada di pojok belakang samping jendela.


Riani mengeluarkan HP-nya dari tas kecil berwarna putihnya sambil menatapi lama layar HP-nya, kemudian Riani membuang kasar nafasnya sambil menghirup kembali dengan pelan. Enne hanya diam menonton sikap Riani kini.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, makanan yang mereka pesan sudah datang, Enne nampak sudah tergiurkan dengan makanan yang ada dihadapannya kini, berbeda dengan Riani yang masih bengong sambil memandangi pemandangan dibalik kaca jendela.


"Hei Riani! Riani gak mau makan? kalau gitu semuanya buat Enne aja ya?" tanya Enne.


Riani langsung mengalihkan pandangan pada makanan menggiurkan yang ada didepannya kini "Enak aja, aku juga lapar tau" protes Riani sambil meraih garpu dan pisau yang ada disebelahnya.


Riani mulai menyantapi daging yang dipesannya dengan kematangan full, berbeda dengan Enne yang memilih tingkat kematangan medium.


"Kamu ada masalah Riani?" tanya Enne sekali lagi.


"Gak ada kok, hanya belakangan ini aku capek aja jadi sering bengong" jawab Riani kembali berbohong.


"Owh iya, nanti Riani mau nemenin Enne mengembalikan novel misteri dari Sherlock Holmes dan komik detektif Conan punya teman Enne gak?" tanya Enne pada Riani sambil meraih jus yang ada didepannya.


Riani menganggukkan kepalanya "ok gak masalah, lagian kerjaan aku juga lagi gak ada" angguk Riani.


Setelah selesai menyantap makan siang mereka, Enne dan Riani langsung membayar makanan mereka masing - masing dan berjalan segera ke parkiran.


Enne fokus menyetir sedangkan Riani sibuk dengan HP-nya, membuka berita terbaru tentang penyebaran Virus yang marak jadi trending topik kini.


Selang beberapa menit mobil Enne berhenti disalah satu unit apartemen yang sepertinya dominan dihuni oleh anak kuliahan.


Enne menggelengkan kepalanya "Dia udah lulus kok, sekarang jadi content writer" jawab Enne sambil membuka jok belakang mobilnya mengeluarkan beberapa buku dan komik tebal.


"Mau aku bantu?" tanya Riani yang langsung diangguki Enne.


"Terimakasih" ucap Enne pada Riani sambil menutup jok belakang mobilnya kembali.


"Tidak masalah" jawab Riani yang kini ditangannya sudah terisi penuh tumpukan buku dan komik.


Enne mengambil separuhnya dari Riani dan langsung memimpin jalan menuju kamar apartemen teman Enne.


Tiba - tiba mata Riani teralihkan kembali pada sebuah mobil yang baru saja memasuki halaman apartemen, mobil itu jelas sudah tidak asing lagi dimata Riani.


Riani berniat menghentikan langkahnya sambil menyusuli mobil itu, tapi sayang Enne sudah melangkah jauh dari Riani, mau tidak mau Riani harus mengejar Enne untuk membantunya mengembalikan buku dan komik teman Enne tersebut.


Enne menarok tumpukan buku dan komik yang dibawanya ke atas lantai apartemen sejenak agar bisa mengetok pintu kamar apartemen dengan mudah.


Setelah mengetok berulang kali Enne juga tak kunjung mendapati jawaban, sedangkan Riani dengan tumpukan buku di atas telapak tangannya masih melirik kepada 2 orang yang sedang menaiki tangga apartemen dengan sisi arah yang berlawanan dari Riani dan Enne kini.

__ADS_1


Enne menghela panjang nafasnya sambil mengeluarkan HP dari tas kecilnya.


"Halo Vank kamu dimana!?" teriak Enne di balik telepon jelas kesal.


Pandangan Riani kini teralihkan pada Enne yang nampak kesal.


"Ha!? kamu di minimarket!? bukan kah sudah aku bilang bahwa setelah jam makan siang aku akan menemuimu? untuk mengembalikan buku dan komik yang aku pinjam? sekalian mengambil CD ku kembali!?" teriak Enne masih kesal.


Riani tertegun, bagi kali ini Riani melihat sosok Enne yang marah dan kesal terus terang, biasanya Enne selalu ceria atau hanya sebatas ngambekan.


"Enne... kamu lagi PMS?" tanya Riani penasaran.


Enne yang sedang masukkan kembali HP-nya ke dalam tas kecil yang disandang nya itu tersontak kaget mendengar pertanyaan Riani "eh?! apa tembus!?" tanya Enne dengan ekspresi cemas sambil membalikkan posisi kepalanya ke belakang bagian bawah.


Riani menahan tawanya melihat ekspresi cemas Enne "ternyata benar ya, aku cuma heran kenapa kamu marah - marah seperti ini. Biasanya kamu tidak pernah sekesal ini pada orang lain" jelas Riani.


Enne kembali menghela panjang nafasnya setelah mendengar penjelasan Riani tadi. "Hah... aku pikir beneran tembus, ya siapa sih yang gak bakal kesal coba? aku udah bilangin akan datang setelah jam makan siang tapi dia malah belanja di mini market" sewot Enne.


"Teman mu itu?" tanya Riani memastikan.


Enne menganggukkan kepalanya pada Riani.


"Tapi gak sepenuhnya juga salah teman mu itu loh Enne, kamu hanya bilang akan datang setelah jam makan siang kan? tapi tepatnya pukul berapa kan kamu tidak menyebutkan, terlebih mungkin saja teman mu itu lapar karena menunggu kita dan tidak ada sesuatu yang bisa dimakannya dalam apartemen, jadi mau tidak mau dia harus membeli sesuatu untuk isi perutnya dulu" jelas Riani yang membuat Enne terdiam karena menyadari maksud Riani.


"Ya udah ayo kita masuk duluan saja Ni!" seru Enne sambil melangkah ke kiri.


"Eh? bukankah teman kamu belum datang? jadi bagaimana caranya kita bisa masuk?" tanya Riani heran.


Enne menyinggingkan bibirnya tersenyum tipis pada Riani, Enne berhenti tepat di depan pot bunga yang cukup besar lalu menundukkan tubuhnya sambil menggali bagian sudut barat dari tanah dalam pot itu.


Riani terdiam melihat tindakan Enne.


"Temanku itu biasanya menarok kunci apartemennya di dalam tanah pot bunga ini jika dia pergi keluar untuk sebenar saja" jelas Enne sambil memasukkan kunci itu ke lubang pintu.


Enne dibantu Riani mulai mengangkat kembali tumpukan buku - buku dan komik - komik lalu memasukkannya ke dalam rumah Vank teman Enne.


Sebelum selesai meletakkan buku terakhir pada tempatnya, Riani dan Enne mendengar suara pekikan lantang dari apartemen sebelah.


Riani yang menyadari asal suara itu sepertinya tidak jauh dari posisi dua orang yang dilihatnya tadi langsung berlari keluar dari apartemen Vank temannya Enne menuju kamar apartemen yang ada di bagian timur.

__ADS_1


Enne terdiam melihat aksi Riani tadi, Enne segera meletakkan buku dan komik yang masih ada ditangannya lalu mengunci apartemen Vank tanpa menarok kembali kunci kamar apartemen pada tempatnya, Enne hanya langsung mengantongi kunci itu sambil berlari ke arah yang dituju oleh Riani tadi.


__ADS_2