ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 30


__ADS_3

Boleh jadi kamu tak mencintai ku untuk saat ini... ataupun selamanya


Namun tolong... barang sejenak saja... tolong percayai aku


Walau bukan sebagai orang yang kamu harapkan lagi... untuk kali ini saja... percayai aku sebagai orang yang dulu pernah bergabung dalam sejarah masa lalu mu


Aisyah masih terdiam, meminta lanjutan penjelasan dari Andi, walau ekspresi wajahnya saat ini tak menunjukkan akan hal itu.


Andi nampak diam sejenak "tapi apa kamu tau? definisi suka memiliki banyak artian, dia berarti 'luas' tidak terikat pada satu hal yang menjelaskan secara signifikan" ucap Andi yang membuat Aisyah jadi sedikit tercengang.


"Menyukai tidak harus tentang 'Cinta', Mas menyukai Riani, kakakmu... bukan sebagai mas laki-laki dan dia perempuan... Mas bukan menyukainya atas nama cinta" jelas Andi sekali lagi.


Aisyah mengernyitkan keningnya, dia lebih ingin Andi langsung berterus terang "jadi... rasa seperti apa yang mewakili perasaan mas saat itu?" tanya Aisyah.


"Rasa suka... karena dia wanita hebat yang mas kagumi... Sifatnya mulia seperti malaikat cantik yang menemani mas sedari kecil, yang mengandung mas, melahirkan, sampai mendidik mas menjadi seperti ini, menjadi suami dari seorang Aisyah Aqilah, wanita pertama dan in sya Allah, wanita terakhir yang akan ada di hati mas, menua bersama, melewati tawa maupun duka bersama-sama, itulah yang disebut 'Cinta' sebuah rasa karna mas ingin memilikimu, dan melakukan banyak hal bersamamu, bersama keluarga kecil kita" jelas Andi.


Aisyah menahan air matanya setelah mendengar ucapan langsung dari Andi, tersirat betapa Andi tak ingin agar istrinya berpikir yang tidak-tidak padanya, betapa ia menjadikan istrinya... Aisyah, menjadi wanita paling spesial dalam hidupnya.


"Kamu tau dek... kharisma yang dipancarkan oleh kakakmu begitu mengangumkan, mas pernah satu organisasi dengan nya sewaktu di pesantren, dia wanita yang cekatan walau tak banyak bicara, dia wanita yang cerdas, imannya kuat, ibadahnya subhanallah, dia pelajar satu-satunya di pesantren kami dengan banyak universitas terbaik dunia yang mengajak nya bergabung, selain berbakat di semua bidang... dia juga memiliki paras yang rupawan... Mas cukup malu untuk mengucapkan ini... tapi Riani... kakakmu itu adalah idola mas, kegigihan nya selama ini yang membuat mas terinspirasi untuk mengejar impian mas" ucap Andi dengan wajahnya yang sedikit memerah karena malu.

__ADS_1


Aisyah tertawa kecil melihat ekspresi malu-malu suaminya itu "jadi... kakak ku sudah se baik itu, se luar biasa itu, kenapa mas bisa bilang hanya mengaguminya?" tanya Aisyah heran.


"Entahlah... sejatinya selama ini mas tak pernah mempunyai pikiran untuk bersama dengan Riani membangun rumah tangga, mas menganguminya namun tidak mencintainya, mas menyukainya namun lagi-lagi tidak untuk kata 'cinta', selain itu mungkin saja dari awal kita memang tidak pernah tercatat dalam kisah yang telah disusun Allah untuk bisa saling mencintai" pikir Andi yang diutarakan nya ke Aisyah.


Aisyah tersenyum tipis pada Andi kamu salah mas, semua itu bukan karena Allah sudah menyusun dan merancang kisah kalian untuk tidak saling mencintai, karena bagiamanapun aku paham... aku tau... dari ucapan kak Serli dulu, dari keraguan kakak ku saat hendak berangkat memulai hidupnya barunya di Perancis, ledekan-ledekan yang dilontarkan kak Kirana pada kak Riani sewaktu di Indonesia dulu, serpihan itu menyadarkan aku mas... bahwa kak Riani... pernah mencintai mas... ada rasa dengan dirimu mas, itu bukan kekaguman tapi 'Cinta' bathin Aisyah.


"Jadi... setelah mas mengatakan yang sesungguhnya ini padamu... apa kamu bisa lebih terbuka lagi pada mas? tidak menyembunyikan hal apapun lagi, dek... jika ada yang membebanimu... cerita ke mas, jika ada hal yang membuatmu jadi resah... tolong ceritikan ke mas, dan terlebih jika masih ada pertanyaan yang ingin kamu tanyakan pada mas saat ini, katakanlah... karena mas tidak ingin kamu banyak pikiran sampai menganggu anak kita" ujar Andi sambil mengelus lembut perut Aisyah.


Aisyah kembali tersenyum "bagaimana... jika seandainya kak Riani pernah mencintai mas? bagaimana jika dulu kak Riani mengutarakan perasaannya pada mas? apa yang akan mas lakukan?" tanya Aisyah.


Andi tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Istrinya "hahaha apa itu mungkin? bagaimana mungkin Riani bisa memiliki perasaan seperti itu pada mas, tapi jika ia... mungkin mas akan langsung terbang ke langit ke tujuh karena kegirangan dicintai oleh wanita yang mas idolakan, hanya saja... jika tak ada rasa, mas tidak akan berani untuk memulai suatu hubungan, bukanlah lebih baik kecewa di awal? daripada setelah menjalani manis pahitnya kehidupan, mengantung perasaan seorang wanita sampai diakhir ujung-ujungnya adalah mengecewakan nya, bukankah itu memalukan? maka dengan bahasa yang baik, mas akan menolaknya... sekalipun dia wanita yang mas idolakan, karena selain tak ada rasa cinta, mas pun ingin dia mendapatkan yang terbaik, yang ingin melalui hari-hari hebat bersamanya" jelas Andi.


"Untuk apa dek?" heran Andi.


"Untuk kepekaan mas pada Aisyah, terimakasih sudah selalu ada, terimakasih atas cinta yang mas berikan untuk Aisyah, terimakasih telah bersedia mau untuk menjadi imam Aisyah, terimakasih... untuk semuanya" ucap Aisyah lirih, tak terasa air matanya sudah membanjiri kemeja yang dikenakan Andi.


Andi memeluk erat istrinya itu sambil mengelus lembut kepala Aisyah. Dia tidak tega melihat wanita yang dicintainya mengeluarkan air mata sekalipun air mata itu untuknya, Andi hanya ingin agar Aisyah bisa terus tersenyum bersamanya, namun bagaimana pun ini juga adalah salah satu perjanjian dalam pernikahan 'selalu menemani dalam suka maupun duka' bukan mendekat disaat suka saja, namun bila telah duka maka ditinggalkan begitu saja, itu sama saja artinya dengan 'habis manis sepah dibuang'. Dan Andi juga benci betul akan hal itu.


***

__ADS_1


Aisyah meminta untuk beristirahat di rumah daripada di rumah sakit, karena bagaimana pun juga masih banyak pekerjaan yang perlu dia lakukan, Aisyah diberi beberapa obat dan susu kotak untuk kehamilannya oleh dokter.


Dari tadi Andi juga sibuk menatap cemas jam tangannya, dia sudah meninggal kan meeting yang cukup banyak demi Aisyah, namun Andi cukup lega jika waktunya untuk meeting teralihkan demi hal yang membuat datang kembali suasana lama yang hangat dalam rumah tangganya.


"Aku menganggu waktu meeting mas?" tanya Aisyah.


Andi langsung mengalihkan pandangannya pada Aisyah sambil menyunggingkan senyuman kas nya yang amat mempesona "tidak, karena kamu adalah prioritas ku" ucap Andi pelan.


Selesai mengurus administrasi, Andi mengantar Aisyah pulang sambil mengonfirmasi pada perusahaan Aisyah tentang keadaannya.


Waktu kembali berlalu begitu cepat, menyelesaikan satu-persatu rentetan masalah ataupun kesenjangan dalam rumah tangga.


Sejatinya masalah itu dibicarakan


bukan di pendam lalu di di tanam jadi dendam


Lepaskan ego mu


Jika itu adalah hal yang terbaik bagimu.

__ADS_1


__ADS_2