ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 29


__ADS_3

Tim Forensik sibuk menfoto tempat kejadian perkara dan letak posisi mayat.


"Apa ada yang menyentuh korban sebelum ini?" tanya salah seorang polisi yang berdiri dibelakang.


"Ada, saya" jawab Riani sambil mengajungkan tangannya ke atas.


"Maaf sebelumnya nona... apakah kita pernah bertemu?" tanya polisi yang menanya tadi pada Riani.


Riani diam sejenak "Sepertinya tidak Sir" jawab Riani.


"Hmm... apa anda dari Firma Confiance?" tanya polisi itu kembali.


Riani menganggukkan kepalanya "Iya, benar"


"Apa yang anda lakukan sampai bisa ada disini nona? atau apakah ada yang menghubungi anda?" tanya polisi itu kembali.


Riani menggelengkan kepalanya "Tidak ada yang menghubungi saya ataupun Firma kami Sir, kebetulan tadi saya menemani teman saya untuk mengantarkan buku bacaan nya pada tetangga sebelah" jelas Riani sambil menunjuk Enne.


Enne mengangguk saat polisi itu melirik ke arahnya "Benar Sir, ini teman saya yang punya buku, saat kami mengembalikan buku kami mendengar jeritan dari Nona ini" jawab Enne melirik Rasy.


"Saya dengar anda yang tinggal di kamar apartemen ini kan nona?" tanya polisi pada Rasy yang nampak masih syok dari tadi.


Rasy mengangukkan kepalanya.


"Boleh kami bawa tubuh korban sekarang pak?" tanya salah satu petugas rumah sakit.


"Apa lokasi sudah di foto semua?" tanya polisi itu pada tim forensik. Tim Forensik mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu silahkan pak, tapi kami nanti akan meminta otopsi dari rumah sakit" sambung polisi itu diangguki oleh petugas rumah sakit yang ada di mobil ambulance.


"Bisa kami dengar hubungan anda dengan korban nona? dari bentuknya seperti nya ini adalah kasus pembunuhan" sambung polisi itu.


Rasy tersentak kaget, tangannya menggenggam erat lengan baju Albern, Riani mengernyitkan keningnya menatap pemandangan itu.


"Tagi! cari saksi yang bisa membantu penyelidikan kita!" seru polisi tadi pada bawahannya.


"Baik pak!" jawab polisi yang dipanggil Tagi tadi.


"Owh untuk itu saya bisa membantu tuan, kebetulan saya sudah menanyai beberapa orang yang tau keadaan rumah ini dari tadi" sahut Enne.


"Baiklah kami percayakan pada anda nona" jawab polisi.


"Pertama tetangga sebelah, kedua tetangga yang ada di lantai bawah, dan terakhir pemilik warung buah yang ada diseberang" jelas Enne pada polisi yang bernama Tagi itu.

__ADS_1


Polisi itu menganggukkan kepalanya "Terima kasih nona" ucapnya sambil berlari ke luar ruangan.


"Anda siapa tuan?" tanya polisi pada Vank.


"Sa... saya tetangga Rasy dan teman dari nona ini pak" jawab Vank gelagapan.


"Lalu anda siapa tuan?" tanya polisi pada Albern.


"Saya dosen penghuni apartemen ini pak" jawab Albern.


"Owh... apa yang tengah dilakukan oleh pak Dosen disini?" tanya polisi itu tersenyum meledek "Apa anda hubungan cinta segi tiga disini?" sambung nya.


"Maaf sir... tapi dia suami saya" sahut Riani pada polisi itu.


Polisi itu langsung diam setelah mendengar ucapan Riani. "Apa kah benar nona? jika begitu saya tidak bisa mempercayai anda sepenuhnya, bisa saja pelakunya anda suami anda agar pacar cewek ini tidak menganggu simpanannya lagi. Lalu karena tau suami anda pelakunya anda jadi berusaha menutupi perbuatan suami anda itu nona" duga polisi itu.


Riani menghela panjang nafasnya "Seterah anda Sir!" seru Riani.


"Kalau begitu anda bisa percaya pada saya Sir" sahut Chloe yang tadi berbisik - bisik dengan salah seorang tim forensik.


"Karena Anda teman dari nona ini saya tidak bisa menjamin nona Enne" jelas Polisi.


"Tidak masalah, anda hanya perlu bukti dan saksi bukan?" tanya Enne sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis.


Polisi yang bernama Tagi tadi kini telah kembali dengan 3 orang yang ada disampingnya kini.


"Ini 3 saksi yang disebut kan oleh nona Enne tadi pak" sahutnya pada polisi yang sedari tadi menanyai semua orang yang ada diruangan itu.


"Baiklah, langsung saja kita mulai disini pertanyaannya. Nona yang disana, apa anda melihat hal - hal yang mencurigakan belakangan ini? atau sebelum kejadian ini?" tanya polisi pada wanita yang memakai celemek bermotif buah itu.


Wanita itu menggelengkan kepalanya "tidak tuan" jawabnya pelan.


"Kalau begitu anda tinggal dimana?" tanya polisi itu kembali.


"Saya pemilik toko buah yang ada diseberang tuan" jawab wanita itu kembali.


"Jadi apa anda melihat ada orang yang masuk ke apartemen ini selain nona Rasy?" tanya polisi itu kembali.


Wanita pemilik warung buah itu mengangguk "Dalam Minggu ini tuan yang ada disebelah nona Rasy sudah 2 kali ke sini termasuk hari ini dengan nona Rasy tuan" jawab wanita pemilik warung buah.


"Owh begitukah..." ucap polisi itu menatap sinis Albern dan langsung melirik Riani sambil tersenyum.


Riani dan Albern serentak menghela nafasnya.

__ADS_1


"Ada orang lain yang kamu lihat?" tanya polisi itu kembali.


"Hmm... saya tidak terlalu memperhatikan jelas, tapi menurut saya belakangan ini ada orang bertudung hitam yang bolak - balik pada malam hari di sekitaran apartemen Nona Rasy. Tapi saya tidak terlalu memperhatikan jelas karena saat malam hari warung buah saya sudah tutup tuan, jadi saya hanya melihat dari balik kaca rumah yang juga sudah berdebu dan kabur karena sudah lama" jelas wanita pemilik warung buah itu.


"Hei! Laki - laki berkaca mata disana! apa kamu juga melihat sesuatu?" tanya polisi itu.


"Eh tidak pak, saya sedang sibuk menyelesaikan tumpukan tugas saya, jadi saya jarang di ruang depan, saya hanya terus berada di kamar, tapi tadi saya mendengar ada suara benda jatuh yang kedengarannya cukup berat" jawab pria berkaca mata itu.


"Benda jatuh? pukul berapa itu?" tanya polisi kembali.


Pria berkaca mata itu menggelengkan kepalanya "untuk itu saya tidak tau pak, saya tidak memperhatikan jam" sambungnya.


"Kamu tinggal di kamar mana?" tanya polisi kembali.


"Di kamar sebelah kiri ini pak" jawab pria berkacamata itu diangguki oleh polisi.


"Nona disana, anda tinggal di kamar mana?" tanya polisi itu kembali.


"Saya tinggal tepat dikamar bawah ini pak" jawab wanita itu.


"Apa anda melihat atau mendengar suara yang sama seperti pria berkacamata itu?" tanya ulang polisi.


Wanita itu mengangukkan kepalanya "Saya memang mendengar sesuatu pak, tapi saya tidak mendengar jelas karena saat itu saya sedang di kamar mandi. Saat memasang sepatu untuk pergi ke kampus saya mendengar teriakan dari atas. Saya juga telah menjelaskan hal ini pada nona yang disana" jelas Wanita itu sambil mengacungkan jarinya menunjuk ke arah Enne.


"Anda tidak jadi pergi ke kampus?" tanya polisi itu kembali.


Wanita itu menggelengkan kepalanya "Setelah ada kejadian seperti ini, apalagi kejadian ini terjadi di atas kamar saya. Saya pikir ini adalah hari buruk saya pak, makanya saya tidak ingin pergi keluar untuk hari ini" jelas wanita itu.


"Baiklah, kalian bisa kembali, jika ada keperluan lagi saya akan menghubungi ulang kalian" jelas polisi itu.


"Baik pak!" jawab mereka bertiga.


"Lalu... apa kalian berdua menemukan sesuatu?" tanya ulang polisi itu pada Riani dan Enne.


Enne menepuk ringan bahu Riani "Kamu sudah mengetahui nya kan?" tanya Enne sambil menyunggingkan senyum lebarnya.


Riani menatap Albern yang juga menatap Riani sedari tadi, Riani membuang sejenak nafasnya sambil berjalan ke arah Albern dan langsung menarik tangan Albern agar menjauh dari Rasy. "Bisa jelaskan semuanya nanti?" bisik Riani pada Albern.


Enne menahan tawanya melihat tindakan Riani itu. Setelah memisahkan Albern dari Rasy, Riani ikut menarik tangan Rasy ke kursi agar dia bisa duduk menenangkan diri sejenak karena syok atas apa yang terjadi di kamarnya.


"Kamu tenang saja, semuanya akan selesai hari ini, aku akan membantumu asal kamu mau jujur" bisik Riani sambil kembali ke tempat mayat tadi terlentang.


Riani kembali menghela nafasnya sejenak sambil menatap jam tangannya. "Saya akan menjelaskan ini dalam waktu 10 menit" ucap Riani yang membuat semua orang yang ada diruangan itu terpana dengan wajah serius.

__ADS_1


__ADS_2