ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 34


__ADS_3

Dokumen tentang data-data ke-4 tersangka itu kini sudah ada ditangan Alisya, kepala kepolisian itu berujar pelan pada Alisya.


"Kamu yakin memasukkan Fres kedalam daftar tersangka?" tanya kepala kepolisian itu.


"Bukankah kita harus berlaku adil Sir?" tanya Alisya.


Kepala kepolisian itu diam, dia berpaling pergi dan mempercayakan Jendral wanita itu untuk menemani Alisya.


Masih memantau dokumen tentang para tersangka itu, tak ada nyatanya yang bohong selama di interogasi tadi, ucapan tentang diri mereka adalah benar.


Suara hentakan kaki yang berlari cepat ke lantai kayu ruangan kepolisian itu semakin terdengar jelas mendekat, Alisya meletakkan dokumen itu sebentar untuk melihat siapa yang datang dengan berlari di tangga menuju ruangan ini.


Pintu bergesek dan berbunyi pelan, Alisya membuang nafasnya pelan sambil berdesis sebal, dia kira pembunuh itu yang akan datang sambil mengacungkan senjata tajam padanya, ternyata yang datang adalah wanita kepala 3 ini, siapa lagi kalau bukan Viollete.


"Hei, sepertinya kamu tidak mengharapkan aku datang?" tanya Violette menyadari ekspresi Alisya.


"Siapa bilang?" tanya Alisya sambil fokus kembali pada dokumen-dokumennya.


Violette memilih diam setelah melihat ekspresi serius wajah Alisya, padahal dia tadi hendak menanyakan situasi dalam ruangan interogasi karena sudah di pucuk rasa penasaran, namun siapa sangka gadis ini begitu serius menangani pekerjaannya.


Violette memilih duduk disamping jendral perempuan itu agar tidak menganggu Alisya.


"Hei Jendral... apa Sir Fres sudah menikah?" tanya Alisya.


Jendral wanita itu diam sejenak untuk mengingat kembali tentang Fres, polisi yang dijatuhkan sebagai tersangka "hmm... seingat saya rumornya dia dulu akan menikah, namun sampai sekarang dia masih lajang" jawab jendral wanita itu.


Hmmm... rumor? bathin Alisya "omong-omong apa anda mengenal teman sir Fres? mungkin teman dari kecilnya? atau teman sekolahnya dulu?" tanya Alisya.


Jendral wanita itu kembali diam sejenak "kalau teman dari kecil nya saya tidak tau, tapi kalau teman sekolah dulu... mungkin saya bisa membantu" jawab jendral itu.


"Jadi anda tau Jendral?!" tanya Alisya semangat.


Jendral itu mengangguk "iya, karena adik perempuan saya sempat sekolah yang sama dengan Fres" jawab jendral itu.


"Bisa saya menemui adik anda itu sekarang jendral?" tanya Alisya kembali.


"Owh tentu, ayo ikuti saya" ajak Jendral menyetujui.


Balutan angin malam menemani perjalan mereka dengan menaiki mobil terbuka milik Jendral wanita tadi, entah apa yang merasukinya sampai dia memilih mempunyai mobil tanpa kaca itu, yang bahkan saat hujan datang mobilnya itu akan basah menampung genangan air hujan.


Alisya dan Violette memilih untuk tidak berkomentar, sudah untung mereka ditumpangi, walau harus bertahan melawan tepisan angin malam yang dilewati kencang oleh mobil jendral wanita itu.

__ADS_1


Kurang lebih 1 jam telah berlalu semenjak mereka keluar dari kantor besar kepolisian, mereka sampai disebuah rumah sederhana dengan dilindungi pagar besi berwarna silver dan lampu luar berwarna kuning ditemani banyak tanaman hijau di luar ruangan itu menambah kesan yang amat cantik untuk rumah sederhana itu.


"Apa adik anda yang merawat semua tanaman ini jendral?" tanya Violette.


"Iya dia sangat menyukai tanaman, dan terlebih saya cukup kaget mendengar anda langsung tau bahwa adik saya yang melakukan semua ini" canda jendral pada Violette.


"Hahaha, saya tidak yakin polwan cantik seperti anda yang bahkan sudah menjadi jendral ini suka merawat tanaman, dan saya tidak cukup yakin anda ada waktu untuk hal itu" jawab Violette.


Jendral wanita itu kembali tertawa membenarkan ucapan Violette seraya melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Dia mengetok pintu rumah perlahan sampai seorang wanita berambut hitam pekat yang disanggul rapi keluar dari ruangan itu dengan tatapan sedikit kaget.


"Bawa tamu kak?" tanya wanita itu berbasa-basi.


Jendral itu mengangguk "mereka ada urusan denganmu" jelasnya pada wanita yang membukakan pintu itu.


Wanita itu mempersilahkan Alisya dan Viollete masuk ke dalam.


"Ada perlu apa kakak-kakak dengan Eriz?" tanya wanita itu.


"Kamu teman sekolahnya Fres dulu?" tanya Alisya pada wanita bernama Eriz itu.


Eriz menganguk mengiyakan.


"Kalian pasti haus" ucapnya sambil meletakkan teh itu ke atas meja mereka masing-masing.


Alisya dan Violette menganguk mengucap terimakasih, Eriz juga mendapat teh hangat dan langsung menyeruput nya, karena dia tau nanti akan berbicara panjang.


Jendral wanita tadi ikut duduk di kursi, tepatnya disebelah Eriz adiknya.


"Kamu kenal Eriz sejak kelas berapa? apa kalian sering berhubungan sampai sekarang?" tanya Alisya.


Eriz diam sejenak mengingat kembali masa-masa itu "hmm... aku kenal Eriz tepatnya saat kelas 2 sekolah menengah atas, karena saat itu kebetulan kami sekelas, di bilang akrab mungkin tidak, karena saat itu aku main hanya dengan teman cewek sedangkan Fres juga sibuk dengan teman cowok, alhasil satu tahun kemudian saat di kelas 3 kami beda kelas, kebetulan saat itu aku dekat dengan Fres karena kami satu tongkrongan, sebab saat itu Fres berpacaran dengan sahabat baik aku saat di sekolah dulu" jelas Eriz sambil kembali menghirup udara sekitarnya dulu.


"Walaupun dulu satu tongkrongan, tapi setelah lulus kami tidak pernah berhubungan sama sekali karena sibuk sama kegiatan dan kuliah masing-masing, singkat cerita kami berhubungan kembali setelah Fres melamar pacarnya yang tidak lain adalah sahabat aku dulu, dan menjelang H-3 sebelum pernikahan mereka, sahabat aku membatalkan pernikahan karena sudah di jodohkan dengan orang lain" jelas Eriz lalu diam.


Suasana ruangan itu cukup hening sejenak.


"Bagaimana kondisi Fres setelah itu?" tanya Alisya kembali.


"Hmm... untuk itu maaf, aku tidak tau" jawab Eriz.

__ADS_1


Lagi-lagi Alisya menemukan kabar baru tentang polisi bernama Fres itu, namun Alisya harus mencari berita dari tersangka lainnya dahulu. Tapi keadaan Fres saat ini tidak cukup memuaskan Alisya.


"Bisa pertemukan aku dengan sahabatmu itu?" tanya Alisya.


Eriz menggeleng "maaf, kami sudah putus kontak beberapa tahun yang lalu, namun aku akan tanyakan pada teman yang lain dulu, jika mereka tau kontak barunya Ghina, maka aku akan menghubungi mu" jawab Eriz.


"Sahabatmu itu bernama Ghina?" tanya Alisya memastikan diangguki oleh Eriz.


Mereka keluar dari rumah jendral wanita itu setelah bersamalam dan berterimakasih.


"Mau kemana lagi Alisya?" tanya jendral.


"Anda bisa beristirahat jendral, saya ingin meneliti lebih detail lagi dari dokumen ini" ucap Alisya sambil menepuk tas kecilnya.


"Kalau begitu biar saya antar anda kembali ke hotel Alisya, Violette" ucap jendral.


Alisya tersenyum tipis, dia tidak mau menaiki mobil tanpa kaca itu, siapa tau nanti Alisya masuk angin karena terpaan angin malam, dia tidak ingin sakit dalam tugasnya.


"Hahaha terimakasih niat baik anda jendral, namun maaf... mungkin lain kali saja, kami naik taxi saja" jawab Alisya yang mendengar Violette menghembuskan nafas panjangnya nampak lega.


Jendral wanita itu mengangguk mengiyakan "baiklah, tapi karena tugas saya yang diperikan kapten untuk menemani dan membatu anda berdua, maka esok pagi saya, akan menjemput kalian di hotel" ujar jendral.


Alisya menghela nafas lelahnya "baiklah jendral" angguk lesu Alisya.


Mereka berjalan sampai jalanan depan untuk menunggu taxi, Violette langsung masuk ke dalam taxi sambil menatap heran Alisya yang masih berdiri di luar sambil melambaikan senyumnya pada Violette.


"Ayo Alisya!" ajak Violette.


Alisya menggelengkan kepalanya "sepertinya aku akan pulang malam, aku tau kamu lelah sudah bolak-balik rumah sakit dan kantor polisi menangani korban tadi kak, jadi biarkan aku mempercepat pemecahan kasus ini dulu, aku janji akan kembali sebelum pukul 12 malam, walau aku sendiri tidak yakin akan hal itu" jelas Alisya.


"Kalau begitu biar aku temani kamu Alisya, aku adalah pembimbing dan pengawasmu, aku juga bertanggung jawab padamu dan kasus ini, aku sama sekali tidak lelah, ini sudah biasa bagiku" jawab Violette.


Alisya kembali menggelengkan kepalanya "tidak kak, bukankah kamu ada janji untuk ke taman bermain bersama anak dan suami mu setelah pulang? aku tidak ingin kamu sakit dan mengecewakan keluarga kecilmu" ucap Alisya.


"Kamu menguping pembicaraan ku di telpon semalam?" tanya Violette.


"Hahaha aku tidak sengaja mendengar nya kak, sudahlah biar aku yang menyelesaikan ini, untuk hasil akhir mungkin aku akan perlu bantuanmu sebagai anggota firma terbaik dalam bidang analisis" senyum Alisya lebar saat memuji Violette "dan terlebih aku ingin membuktikan bahwa aku bisa walau dengan masa lalu ku dan tujuan tersiratku yang mungkin jadi pertimbangan ketua firma" jelas Alisya.


Violette menghela nafas lelahnya "baiklah, jika kamu perlu bantuan, jangan lupa hubungi aku" ucap Viollete sambil menutup pintu taxi.


Alisya tersenyum tipis menatap taxi yang dinaiki Violette bergerak menjauh secara perlahan, setelah satu taxi kembali muncul lagi, Alisya segera masuk dan menyebutkan alamat yang hendak ditujunya.

__ADS_1


"Adalart Fortune, komikus freelancer yang sudah mendapatkan banyak kontrak dari perusahaan ternama namun menolak karena alasan tidak suka terikat oleh sesuatu" gumam Alisya membaca dokumen itu dengan pelan.


Sopir taxi yang ada di depan mendengar suara kecil Alisya yang seperti berbisik itu di belakang, dengan bahasa Perancis nya yang fasih dia menyeru pelan pada Alisya "anda juga penggemar Adalart Fortune nona!?"


__ADS_2