
Untuk kesekian kalinya, Aku masih ingin mengatakan betapa aku mensyukuri hidupku bersamamu. Tak akan pernah kukecewakan perasaanmu ini. Untuk kesekian kalinya lagi 'Terima kasih'
"Tidak masalah jika kamu melakukan hal itu Riani?" tanya Enne sambil memasang sabuk pengamannya.
"Aku pikir tidak masalah" jawab Riani sambil ikut memasang sabuk pengaman.
"Apa jika kamu membuat 2 kesimpulan tentang kursi itu demi dia? jika dia berbohong maka kamu akan menceritakan kebenaran yang ada? Jadi itu alasan yang membuat mu berlama di sebelah tubuh mayat saat itu? agar tidak ada seorang pun yang tau bahwa kamu membuat surat itu sendiri dan sebagai bentuk nyata kamu menempel kan darah mayat di kertas?" tebak Enne benar.
"Hahaha tebakan mu tepat sekali Enne, yah... maklum saja ya, tidak mungkin bisa aku bermain di balik layar dengan anggota firma confiance, eh iya omong - omong hubungan mu dengan Vank apa?" tanya Riani penasaran.
"Owh Vank itu selain teman juga sepupu jauhku" jawab Enne.
"Kalian ada perasaan satu sama lain gak?" tanya Riani.
"Hahahah kagaklah, asal kamu tau juga ya Riani, aku dan Vank itu jarak 6 tahun loh" jelas Enne. "Yah... kalau kamu hanya memperhatikan paras Vank memang dia tua-an sih hahaha" tawa Enne puas.
"Tapi Riani... apa kamu benar - benar ikhlas membantu Rasy? dia bahkan memanfaatkan suami kamu sendiri loh" jelas Enne kembali.
"Mas Albern tau Rasy itu orang yang seperti apa kok, malahan aku tau Rasy suka mempermainkan perasaan orang juga dari Mas Albern, aku yakin mas Albern punya alasan tersendiri untuk mempercayai Rasy, jika mas Albern percaya pada Rasy, itu berarti Rasy orang baik" jawab Riani sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis.
"Eh... kamu orangnya terlalu berpikiran positif ya?" ujar Enne.
"Kalau mikirnya negatif mulu entar capek tua loh" ledek Riani sambil tertawa kecil.
"Lah? Enne awet muda gini" canda Enne.
"Jika kamu tidak menolong Rasy, bisa jadi Rasy akan terjerat hukuman juga ya, sebagai pendorong seseorang melalukan bunuh diri, atau terjerat kasus penipuan" sambung Enne kembali ke topik awal.
"Udah ah jangan bahas itu lagi, omong - omong anterin aku dulu ke apartemen ya Enne, baju aku kena darah nih, juga berkeringat karena suhu panas tadi" pinta Riani.
"Sekalian Enne numpang bersih - bersih dan pinjam baju Riani ya hehe" ucap Enne diangguki oleh Riani.
"Pekerjaan kamu untuk hari ini sedang tidak ada kan Enne?" tanya Riani khawatir.
"Aman kok, udah kelar pagi tadi" jawab Enne sambil tertawa cengengesan.
Riani menganguk paham kemudian mengambil HP nya yang ada di tas karena mendengar bunyi nada dering telepon.
"Waduh! gawat! ketua kita menelepon" seru Riani nampak cemas.
"Bilang aja tadi kita baru berbuat kebaikan" ujar Enne yang masih fokus menyetir.
"Halo Coty" sapa Riani dibalik telpon.
"Halo Riani, kamu bareng Enne?" tanya Coty di balik telepon.
"Iya, ada apa?" tanya Riani kembali.
"Kalian dimana?"
__ADS_1
"Kami sedang menuju apartemen ku"
"Lah? kok?" tanya Coty heran.
"Tadi ada kasus bunuh diri, jadi karena aku dan Enne kebetulan ada disana, kami bantu deh" jawab Riani.
"Hah... kalau kasus bunuh diri kalian gak perlu ada disana kan?! untuk apa coba?" tanya Coty jelas nampak kesal terdengar dari nada suaranya.
"Tapi awalnya kelihatan seperti pembunuhan, setelah diteliti ternyata bunuh diri, dan aku ke apartemen mau bersih - bersih dulu karena tadi suhu di tempat kejadian perkara sangat panas sehingga membuat kami berdua sampai berkeringat, dan juga baju ku terkena noda darah jadi harus segera aku bersihkan" jelas Riani sebelum ditanyai oleh Coty.
Coty menghela panjang nafasnya "Baiklah, setelah semuanya selesai jangan lupa kembali ke Firma, kita dapat tugas baru dari kota Caen" jelas Coty sambil langsung mematikan telepon.
"Dia jelas marah" ucap Riani sambil memasukkan kembali HP-nya ke dalam tas.
"Hahaha gak apa - apa kok, lagian kan kita berbuat baik, omong - omong Coty mengatakan apa?" tanya Enne penasaran.
"Coty bilang cepat kembali, ada tugas baru di kota Caen" jawab Riani mengulang kembali ucapan Coty.
"Kasus? apa?" tanya Enne.
Riani menggelengkan kepalanya "Aku tidak tau, Coty tidak menjelaskan hal itu" jawab Riani.
"Yang dikirim siapa? Coty juga tidak memberi tau?" tanya Enne kembali.
Riani kembali menggelengkan kepalanya "Entahlah, sepertinya bukan aku, karena aku baru saja menyelesaikan kasus tadi serta menemani Alisya di Indonesia menyelidiki kasus kematian papanya waktu itu" canda Riani.
"Kasus tadi kebetulan, dan kasus di Indonesia itu yang menyelesaikan hanyalah Alisya, bukan kamu" jawab Enne ketus.
Setelah mobil Enne terpakirkan dengan rapi di depan apartemen Riani, mereka langsung masuk ke dalam apartemen, Riani membongkar lemari bajunya dan langsung memberikan sehelai baju dan rok panjang pada Enne.
Enne terdiam menatap baju dan rok yang diberikan oleh Riani "Aku tidak terbiasa memakai baju tertutup" ucap Enne pelan.
Riani tertawa kecil mendengar ucapan Enne "Tapi sayangnya baju aku seperti ini semua" jawab Riani.
Enne menghela panjang nafasnya "Hah... baiklah, orang cantik akan tetap cantik, omong - omong kamar mandinya dimana? aku sekalian numpang mandi ya" ucap Enne sambil tertawa cengengesan.
Riani menunjuk ke arah belakang bagian apartemen nya "Dari sini kamu lurus saja, dipojokan belok kiri, udah ya aku mau mandi dulu" jelas Riani sambil masuk kembali ke kamarnya.
"Ok" jawab Enne cepat sambil melangkah kan kakinya ke arah yang ditunjukkan oleh Riani tadi. "Hah... kapan ya aku nikah dan punya rumah berdua? lah iya pasangan aja belum ada" gumam Enne sambil menghela panjang nafasnya.
Selesai mandi Riani langsung mengambil wudhu dan shalat Ashar, setelah mengganti pakaiannya Riani keluar kamar dan bergegas segera ke belakang untuk mencuci pakaiannya yang masih menyisakan noda darah, Riani mengernyitkan keningnya melihat pakaian yang ada didalam mesin cucinya.
Enne baru keluar dari kamar mandi sambil melepas sanggul rambutnya "owh itu pakaian ku, aku nitip nyuci ya, besok tolong bawakan kembali ya Riani, aku juga akan membawakan kembali baju pinjaman mu ini besok" jelas Enne sambil berkaca di sebelah kiri tempat mesin cuci.
"Wah... kelihatannya Enne lebih anggun pakai baju dan rok panjang seperti ini Riani" ucap Enne tiba - tiba.
Riani kembali menghela panjang nafasnya. "Hah... seterah kamu Enne" ucap Riani sambil memutar tombol mesin cucinya.
Selesai mereka bersih - bersih dan mencuci pakaian, Riani dan Enne kembali ke firma Confiance dengan mobil kecepatan penuh yang dikendarai oleh Enne.
__ADS_1
Firma nampak masih ramai, belum ada yang kembali bertugas. Sedangkan pandangan mata kini terfokus pada Enne.
"Enne, tumben kamu mengenakan pakaian panjang seperti itu?" tanya Chloe heran.
"Hehehe ini pakaian pinjaman dari Riani" jawab Enne sambil tertawa cengengesan.
"Oh iya kalian sudah ditungguin Coty tuh" sahut Cammy diangguki cepat oleh Riani dan Enne.
Riani dan Enne langsung menuju ruangan Coty.
"Hai Coty!" sapa Riani dan Enne bersamaan.
Coty terdiam menatap penampilan Enne "Apa kau sudah tobat Enne?" tanya Coty meledek.
"Hei!" cemberut Enne.
Coty tertawa kecil melihat ekspresi Enne. "Baiklah silahkan duduk nona - nona yang seenaknya menghilang dari firma tadi" sambung Coty.
Riani dan Enne duduk di kursi yang ada dihadapan Coty.
"Bukanlah yang menganggur di Firma masih banyak Coty? kenapa harus memilih aku?" tanya Riani.
"Aku tidak memilih mu kok Riani" jawab Coty.
"Terus kenapa menghubungi nya ke nomor ku?" tanya Riani heran.
"Hahaha itu karena aku tau Enne menyetir, yang lain bilang kalian tadi keluar berdua" sambung Coty.
"Kalau begitu aku keluar ya" ucap Riani sambil berdiri dari duduknya.
"Eh tunggu dulu Riani! aku ingin menanyai tentang kasus yang kamu ceritakan tadi" sahut Coty menghentikan langkah Riani.
Riani menganguk dan kembali duduk ditempatnya. Riani mulai menjelaskan bagian saat teriakan Rasy terdengar sampai pada epilog dari kasus tadi.
Coty mendengar kan dengan serius penjelasan Riani, tetapi Riani tidak mengatakan bahwa dia lah yang sebenarnya pembuat surat itu.
"Ok baiklah aku paham, untuk pertanyaan mu tadi, karena kita mendapat kasus hanya tidak satu dan yang lainnya sudah aku beri pembagian, aku juga ada tugas untuk kamu Riani, yaitu mengantar kan kembali Aren ke Indonesia besok, rencana aku sih yang mau ngomong sambil berbicara langsung tentang permintaan Alisya barusan, tapi karena mengingat banyak tugas yang harus aku selesaikan saat ini makanya aku meminta kamu mewakilkan aku mengantar Aren dan bertemu Alisya secara langsung, kamu taukan permintaan Alisya?" tanya Coty diangguki oleh Riani.
"Baiklah, dan untuk kasus yang ada di kota Caen aku menyerahkan nya padamu Enne, rincian kasus dan penerbanganmu akan ku kirim via e-mail nanti, dan untuk kepulangan besok ke Indonesia, kamu bisa menanyakan ulang pada Aren yang sudah aku berikan penjelasannya Riani" sambung Coty sambil meregangkan badannya.
"Kenapa tidak Cammy saja Coty? bukankah Cammy adalah penanggung jawab Aren saat masa magang?" heran Riani.
Coty mengangukkan kepalanya "Cammy sudah ku beri tugas ke Inggris jadi tidak bisa, terlebih saat itu yang memilih Aren dan Alisya adalah kamu, jadi aku juga ingin kamu yang menyelesaikan hal ini, hitung - hitung pembalasan dendam ku saat kamu tinggal di Indonesia" jelas Coty.
"Hah... kamu benar - benar membuat ku repot Coty" keluh Riani.
"Owh benarkah? bukankah kamu yang membuat ku sangat repot? harus menyelesaikan tugasku sendiri dan tumpukan pekerjaanmu itu? membuat ku begadang dalam 2 hari dan hanya memberikan ku waktu istirahat hanya 2 malam yang terhitung 1 hari? setelah itu dengan seenaknya kamu mengundurkan diri dari pimpinan firma lalu aku yang harus menggantikan mu dan menerima banyak pekerjaan ini? untung saja Chloe mau membantuku, dan aku masih tergolong baik Riani karena memberimu kesempatan untuk kembali ke tanah airmu" jelas Coty sambil menghela panjang kembali nafasnya.
Enne yang mendengar keluhan Coty melepaskan tawanya diruangan itu.
__ADS_1
"Kalau begitu maafkan saya telah merepotkan ketua" canda Riani sambil menundukkan kepalanya.
"Hah... baiklah, silahkan kembali berkerja nona - nona" ujar Coty sambil mengarahkan tangannya ke pintu.