ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 37


__ADS_3

Pramugari dengan lipstik berwarna merah itu mulai memberi penjelasan lebih dulu.


"Saya ke toilet mau memasang pembalut, tadi saya baru dapat bulanan, anda bisa melihat bungkusan plastiknya di tong sampah toilet kok Manquer, lagian waktu 2 menit itu cukup untuk memasang roti hambar saya, kalau untuk membunuh orang seperti nya udah jelas gak bakal bisa manquer" jelas Pramugari dengan lipstik berwarna merah itu.


"Owh... hmm... baiklah, lagian saya yakin anda juga bukan pelakunya karena anda keluar berpapasan dengan wanita ini yang baru masuk" jawab Riani sambil melirik ke arah Pramugara.


"Saya ke toilet untuk buang air besar, karena tisu toilet tadi sudah habis, saya terpaksa harus memasang tisu yang baru dan mengambilnya dulu di pojok toilet, jadi waktu 5 menit itu seperti nya cukup. Juga untuk bukti anda bisa melihat tisu toilet yang baru satu kali pemakaian" jelas pramugara itu.


"Saya ke toilet untuk memakai make up manquer, tadi ada bapak - bapak yang tanpa sengaja menekan tengah botol saat membuka tutupnya, kebetulan saya sedang lewat disana, hasilnya wajah saya kena semprot. Jadi saya harus membersihkan muka ke toilet dulu. Setelah itu memakai kembali make up saya. Oleh karena itu saya mengenakan lipstik yang berbeda dengan yang lainnya, karena saya hanya menyimpan lipstik dengan warna merah muda ini" jelas pramugari dengan lipstik merah muda itu sambil mengeluarkan lipstik itu dalam sakunya. "Sebagai bukti manquer bisa menanyai bapak tua yang duduk di kursi sebelah kanan nomor 2 dari depan disebelah kiri wanita dengan gaun merah" sambung pramugari dengan bibir berwarna merah muda itu.


Riani menganguk paham mendengar penjelasan ketiga orang itu.


"Tuan Dimas... Anda yakin hanya 3 orang ini yang memasuki toilet?" tanya Riani diangguki langsung oleh Dimas.


Riani berjalan ke pintu masuk toilet. Memperhatikan dari luar tulisan toilet yang posisi tempatnya menjorok ke dalam, setelah belokan baru ada pembagian antara toilet pria dan wanita, jadi sudah bisa dipastikan tidak ada penumpang termasuk Dimas yang tau siapa saja yang memasuki toilet khusus pria atau toilet khusus wanita.


Riani menghela panjang nafasnya.


"Kak" ucap Aren sambil menepuk bahu Riani.


Riani menoleh kan pandangan nya pada Aren.


"Sepertinya benar hanya bau darah saja kak, dan dari kedalaman luka dalam perut korban, aku pikir pelaku menusuk dari belakang, tepatnya dari punggung korban. Dan besarnya luka yang tertinggal sepertinya pelaku menusuk dengan pisau kue" bisik Aren pada Riani.


"Tidak ada senjata apapun dalam pakaian atau tubuh korban?" tanya Riani digelengkan oleh Aren.


Riani menganguk paham "Maaf Aren... bisa aku minta tolong sekali lagi?" tanya Riani pada Aren.


Aren mengangukkan kepalanya "apa kak?"

__ADS_1


"Bisa kamu tanyai bapak - bapak yang duduk di kursi sebelah kanan nomor 2 dari depan disebelah kiri wanita dengan gaun merah?" tanya Riani langsung diangguki oleh Aren.


"Baiklah semuanya! bisa aku lihat barang - barang kalian?" tanya Riani pada mereka bertiga.


"Tapi sebelumnya Manquer, maaf kalau saya menyela, tapi kenapa orang dengan bahasa aneh ini tidak anda curigai!?" tanya pramugari dengan warna bibir merah muda.


Dimas yang walau tidak mengerti ucapan pramugari itu, tapi dia tetap paham betul dari intonasi dan ekspresi pramugari dengan warna bibir merah muda itu sedang menyudutkan nya.


"Tidak ada yang perlu dicurigai dari orang yang bahkan tidak bisa berbahasa Perancis nona" jawab Riani.


Dimas yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Riani dalam bahasa Perancis itu hanya memilih diam walau rasanya dia tengah di tuduh yang tidak - tidak.


Kedua Pramugari dan seorang Pramugara itu mulai mengeluarkan semua barang - barang yang ada di dalam saku pakaian yang mereka kenakan.


"Hanya ini nona, setelah mendengar teriakan Kris tadi kami langsung ke sini, jadi tidak akan bisa kami menyimpan alat untuk membunuh di tempat lain, apalagi tuan ini sendiri yang mengatakan hanya saya yang keluar saat itu" jelas pramugari dengan warna bibir merah.


"Oh saya lupa menanyakan, kenapa anda bisa sampai mendengar teriakkan tuan ini nona?" tanya Riani pada pramugari dengan lipstik merah itu.


"Hmm baiklah, Dimas... maaf jika saya merepotkan mu, tapi bisakah kau periksa setiap toilet? cari benda - benda yang mencurigakan dan terkesan aneh!" seru Riani diangguki cepat oleh Dimas.


"Tuan, tidak ada yang masuk ke toilet pria ini kan?" tanya Riani diangguki oleh Pramugara itu.


"Kalau begitu tolong jaga pintu masuk kedua toilet, jangan biarkan ada penumpang yang masuk ke toilet, jika mendesak bisa gunakan toilet untuk petugas penting dulu?" tanya Riani kembali.


"Baiklah Manquer" jawab Pramugara itu sambil berlari kecil meninggalkan ruangan.


"Ada yang bisa kami bantu Manquer?" tanya Pramugari dengan lipstik merah muda.


Riani menggelengkan kepalanya. "Kalian disini saja denganku, tapi omong - omong wanita ini duduk di kursi nomor berapa? apa ada yang mengenalnya di antara kalian?" tanya Riani kembali.

__ADS_1


"Kalau tidak salah ingat, karena penampilannya terlalu mencolok. Aku melihatnya duduk dikursi nomor 78 sebelah kanan Manquer, dan wanita yang sudah tidak bernapas itu adalah teman sekolah saya di SMA dulu" jawab pramugari dengan lipstik merah muda.


"Eh? jadi anda mengenalnya!?" kaget Riani.


"Eh? kami bertiga mengenalnya kok Manquer" jawab Pramugari dengan lipstik merah muda itu.


"Kenapa kalian tidak mengatakan nya dari tadi?" tanya Riani nampak geram.


"Karena kami terlalu panik, dan anda juga tidak menanyainya Manquer" jawab Pramugari dengan lipstik berwarna merah muda itu nampak bersalah.


"Hah... baiklah, lalu nona yang disana. Apa hubungan mu dengan wanita itu?" tanya Riani sambil memalingkan wajahnya ke arah tubuh mayat terkapar.


"Saya tetangganya Manquer" jawab pramugari dengan lipstik merah itu.


"Lalu hubungan korban dengan tuan Pramugara tadi?" tanya Riani kembali.


"Hmm... mereka berpacaran tapi sudah putus Minggu lalu" jawab pramugari dengan lipstik merah.


"Apa kalian ada masalah dengan korban?" tanya Riani kembali.


"Saya tidak Manquer, saya hanya mengenal nya di SMA dan kami sekelas waktu kelas 2, tapi sama sekali tidak dekat. Jadi karena hal itu tidak mungkin saya sampai membunuhnya Manquer" jelas pramugari dengan lipstik merah muda.


"Bukankah kau ada masalah dengannya? kalian sering bertengkar memperebutkan Kris bukan?" sahut pramugari dengan lipstik merah.


"Hei apa maksudmu!? bukankah itu semua karena dia punya banyak utang denganmu? tapi dia selalu memberi banyak alasan saat kau memintanya!?" seru pramugari dengan lipstik merah muda.


"Sudah! sudah! jangan bertengkar disini, intinya kalian berdua punya dendam dengan wanita itu!" sela Riani memotong perdebatan mereka.


"Kalau begitu berarti Kris juga ada masalah dengan wanita itu Manquer, alasan Kris memutuskan wanita itu adalah karena Kris sudah menyerahkan seluruh hartanya pada wanita itu, yah... maklum anak muda yang dilema akan cinta, tapi sayangnya pacarnya itu malah mengkhianati nya" jelas pramugari dengan lipstik merah.

__ADS_1


Seorang pramugari lain mengetok pintu masuk toilet pria itu. "Maaf menganggu... pihak kepolisian sudah datang" ungkap pramugari itu sambil berbalik melangkah pergi melakukan pekerjaan nya lagi.


"Baiklah semuanya, bisa minta kerjasama nya lagi?" tanya Riani menatap serius mereka berdua yang mengangguk mengiyakan permintaan Riani.


__ADS_2