ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 17


__ADS_3

Alisya masih fokus dengan setirannya sambil bersenandung ria di dalam mobil.


Mobil yang dikemudikannya tadi berhenti tepat disebuah agensi yang cukup terkenal di Indonesia, Alisya melangkah masuk dan langsung dikerumuni oleh wartawan - wartawan yang mencari berita disana.


Alisya melangkah masuk ke dalam agensi itu dengan sekuat tenaga walau dihimpit dan didesak - desak oleh para wartawan itu.


"Apa benar isu yang mengatakan kasus pembunuhan papa anda diselesaikan oleh anda sendiri Alisya Fitri?" tanya wartawan 1.


"Apa benar yang memberikan sianida dalam kopi itu adalah istri dari Almarhum?" tanya wartawan 2.


"Bagiamana pendapat anda tentang pembunuhan itu nona?" tanya wartawan 3.


"Apakah anda dan keluarga meminta tuntutan lebih pada istri almarhum?" tanya wartawan 4.


Banyak pertanyaan masih dilontarkan oleh para wartawan - wartawan itu sampai membuat kepala Alisya hampir meledak karena juga ikut menahan emosinya.


"Bisa kalian tanyai saja di konferensi pers nanti? saya akan menjelaskan tentang kepemimpinan perusahaan dan kasus itu" jelas Alisya sambil tersenyum tipis dan melangkah masuk dengan nafas ngos - ngosan ke dalam ruangan itu.


Para wartawan tadi untungnya segara ditahan oleh satpam yang ada disana.


Seorang wanita cantik dengan blazer hitam dan rok mini bewarna hijau segera menghampiri Alisya yang nampak masih menarik banyak oksigen.


"Hai Alisya, lama tidak bertemu ya" sapa wanita itu sambil memeluk Alisya dan cipika - cipiki.


Alisya menyinggingkan bibirnya tersenyum pada wanita itu "sekarang kakak jadi presenter? bukanlah dulu kakak masih suka mengarungi dunia akting dan tarik suara?" tanya Alisya pada wanita cantik itu.


"Hahaha kamu seperti tidak tau aku saja Alisya, ayo masuk dulu" ajak wanita cantik itu sambil mengandeng tangan Alisya ke suatu ruangan.


"Kamu tau Alisya... kakak sangat terkejut loh mendengar kamu dan Tante Nadia tidak ada lagi dirumah saat itu, kakak dan keluarga beserta teman - teman lain tidak tau kamu ada dimana, kalau bukan karena kamu dulu mau mengulurkan tangan pada kakak, mungkin saat itu kakak tidak akan bisa ada disini dan berdiri di depan kamera dengan penuh percaya diri" ungkap wanita cantik sambil tersenyum tipis dengan raut matanya yang seolah menahan air mata.


"Gak kak! kakak bisa karena itu adalah kakak! Rani Andani, bukankah nama itu sangat akrab ditelinga masyarakat? wanita hebat yang bisa berkarir dengan luar biasa diusianya yang masih muda, banyak menggeluti perfilman, tarik suara, dan kini menjadi seorang presenter hebat" jelas Alisya meyakinkan.


Wanita cantik yang bernama Rani Andani itu tertawa mendengar perkataan Alisya "Hahaha kamu tidak ada niatan untuk ikut audisi jadi artis lagi? idola semua orang?" tanya Rani sambil menghentikan langkahnya dan membuka pintu ruangan yang ada dihadapan mereka kini.


Alisya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Rani tadi "aku sebenarnya tidak ada minat untuk itu kak, aku hanya iseng mencoba untuk melihat perjuangan debut seorang idol" jelas Alisya sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ini ruangan kakak?" tanya Alisya melihat sekeliling ruangan yang hanya diisi dengan sofa putih dan layar putih.


Rani tertawa lebar mendengar pertanyaan Alisya "bukan, ini ruangan rapat kita nanti, 5 menit lagi pihak yang menghubungi kamu akan datang, sebelum itu untuk menghabiskan waktu ayo kita ngobrol - ngobrol dulu" ajak Rani.


Alisya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat wajah Rani yang sedari tadi nampak bahagia.


"Owh iya Sya... kamu sekarang kabarnya mengambil jurusan hukum?" tanya Rani diangguki oleh Alisya.


"Ada rencana mau masuk di Firma mana?" tanya Rani.


Alisya menggelengkan kepalanya "aku sudah ada tawaran untuk bekerja di salah satu firma di luar negri kak" jawab Alisya.


"Wah! benarkah!? luar biasa!" kagum Rani menepuk - nepuk tangannya.


"Seperti biasa ya Sya, kamu benar - benar jenius! cantik dan baik hati" puji Rani.


"Hahaha mungkin hanya kakak yang berpikiran seperti itu padaku" ujar Alisya.


4 orang melangkah masuk ke dalam ruangan dengan wajah serius dan ada juga yang tersenyum ceria.


"Halo Alisya, saya produser untuk acara ini" ucap seorang lelaki muda yang tampan itu sambil menyodorkan tangannya hendak menyalami Alisya.


"Pertama kita perkenalkan dulu, mungkin kamu sudah kenal dengan Rani setelah mengobrol panjang dari tadi, Rani akan membawakan pembukaan dan penutupan untuk acara, ini Putri Lucia dalam bagian naskah untuk membantumu saat bingung atau ada keadaan tidak terduga lainnya kamu hanya perlu mengikuti prosedur naskah, ini Melani yang akan memilih beberapa pertanyaan dari wartawan nanti yang pastinya tidak akan mengusik privasi mu, dan ini Farel yang akan menjagamu dari desakan wartawan, ada pertanyaan?" tanya produser itu.


Alisya menganggukkan kepalanya "anda sudah memperkenalkan semua orang pada saya, lantas maka anda sendiri siapa?" tanya Alisya yang hampir membuat semua orang dalam ruangan itu tertawa.


"Owh nama saya Nanun Kaftan, kamu bisa memanggil saya Nanun dan saya produser aja ini" jelas produser acara yang bernama Nanun itu.


Alisya menganggukkan kepalanya "bisa saya liat naskahnya dulu?" tanya Alisya pada Putri Lucia.


Putri Lucia mengangguk dan menyodorkan langsung beberapa helai kertas pada Alisya, Alisya fokus pada setiap kata dan garis kecil dari naskah yang dipengangnya itu.


"Omong - omong jam berapa kita akan mulai? dan butuh waktu berapa lama untuk konferensi ini?" tanya Alisya menatap Nanun.


"Kita akan mulai 15 menit lagi, jadi 10 menit lagi kamu sudah stay di tempat syuting, untuk menyusun penyesuaian nanti dan mempersilahkan para wartawan diluar sana untuk masuk, dan kita hanya akan membutuhkan waktu 30 menit untuk konferensi ini karena pihak kami pun tau kamu sibuk" jelas Nanun.

__ADS_1


Alisya diam sejenak sambil menatap jam tangannya "baiklah, bisa tinggalkan dulu saya sendiri disini? saya ingin memahami naskah ini dulu" pinta Alisya sambil melirik satu persatu dari mereka.


Mereka berlima menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan ruangan satu persatu.


Nanun berhenti sejenak dan menoleh ke belakang menatap Alisya "aku berharap yang terbaik untuk hari ini, jika ada permintaan langsung saja ambil telepon yang ada disana, telepon itu otomasis terhubung ke telepon dalam ruangan ku" jelas Nanun sambil menyunggingkan senyumnya dan menutup pintu setelah keluar.


Alisya masih menatap lama dari sudut pintu "dia baik juga ya" gumam Alisya sambil beralih kembali ke naskah yang dipegangnya.


Setelah lewat 10 menit lebih, para wartawan sudah duduk di kursi yang telah disiapkan agensi agar tidak ada keributan karena berdesak-desakan, Melanie telah stay diposisi nya sebagai orang yang bertugas memilih pertanyaan dari beberapa wartawan yang nampak ambisus.


Alisya menghela nafasnya sejenak dan menatap Nanun dibagian belakang memberi kode agar tetap santai dan tidak panik, Nanun memberikan kode yang aneh pada Alisya hingga membuat Alisya hampir tertawa melihat tindakannya yang bahkan kelihatan lebih cemas daripada Alisya yang menjadi pemeran utamanya.


Farel kini telah berdiri disisi sebelah kiri Alisya dan menjaga jarak agar tidak selalu tersorot oleh kamera, karena acara ini adalah siaran langsung, Rani memulai pembukaan dengan semangat dan antusiasme nya yang tinggi.


Pilahan pertanyaan dari wartawan yang telah dibagi oleh Melani mulai dijawab satu persatu dengan cermat dan tanggap oleh Alisya.


Tepat 30 menit berlalu, para wartawan masih nampak punya banyak pertanyaan, namun konfederasi telah ditutup, karena pertanyaan umum yang bersifat publik telah dijawab dengan rinci dan jelas oleh Alisya.


Alisya membuang nafasnya setelah melihat para wartawan itu keluar, kamera sudah dimatikan tepat 30 menit berlalu, Putri Lucia menyodorkan air minum untuk Alisya "terimakasih atas kerja samanya" ucap Putri Lucia sambil membungkukkan badannya pada Alisya, Alisya menganguk tersenyum mengiyakan.


Nanun berjalan menghampiri Alisya yang masih duduk di bagian depan "terimakasih atas kerja samanya" ucap Nanun turut menunduk dan menyodorkan tangannya hendak menyalami Alisya.


Alisya yang merasa de Javu turut membalas sodorkan tangan Nanun.


"Terimakasih juga atas kerja keras kalian semua, kalau begitu saya pamit duluan" ucap Alisya sambil menyalami satu-satu orang yang ada disana dan langsung berjalan cepat meninggalkan ruangan.


Sebelum membuka pintu mobilnya, sebuah tangan menghentikan Alisya, Alisya menolehkan kepalanya menatap heran lelaki yang kini ada dihadapannya.


"Ada apa?" tanya Alisya pada Nanun dengan nafas ngos - ngosannya.


"Ini projek pertamaku, dan kamu telah membantu dengan sangat baik, Sebagai balasannya bisakah nanti malam kamu dinner denganku? atau lain hari?" tanya Nanun.


Alisya diam sejenak kemudian tertawa kecil "Hahaha anda tidak perlu merasa sungkan pada saya, tapi... terimakasih atas hiburannya, mungkin saya akan menghubungi anda bila semua urusan saya telah selesai" jawab Alisya.


Nanun mengangguk mengiyakan "kamu tidak perlu bersikap formal padaku, dan... boleh aku minta nomor pribadimu?" tanya Nanun sambil menyodorkan HP-nya pada Alisya

__ADS_1


Alisya mengangguk mengiyakan dan mulai mengetikan nomor handphone nya di HP Nanun dengan cepat "jangan lupa hubungi aku nanti malam ya" ucap Alisya sambil membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam.


Mobil Alisya bergerak menjauh meninggalkan Nanun yang masih berdiri diam diparkiran itu "Hubungi nanti malam?" gumam Nanun yang wajahnya langsung memerah.


__ADS_2