ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 16


__ADS_3

Riani melangkah keluar meninggalkan kantor Firma Confiance sambil melambaikan tangan pada Sir Tom satpam Firma Confiance.


Mata Riani langsung terfokus pada mobil hitam yang sudah terparkir di depan gerbang "lama menunggu mas?" tanya Riani sambil masuk ke dalam mobil dan menciumi tangan Albern.


"Tidak" jawab Albern sambil menggelengkan kepalanya.


Pikiranku masih bertumpuk saking banyaknya dan yang ini malah masih ngambekan. Bathin Riani menatap lama suaminya itu.


Karena canggung ditatap lama - lama Albern memulai membuka ulang percakapan dengan Riani "mau singgah ke tempat lain dulu?" tanya Albern langsung digelengkan oleh Riani.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan ku?" tanya Riani pada Albern.


Albern diam sejenak, kali ini Albern benar-benar agresif setelah memberhentikan mobilnya dia langsung memegang pinggang Riani dan menciumi lembut bibir istrinya itu.


Albern kembali dari posisinya dan mulai menyetir mobil kembali tanpa menghiraukan wajah memerah Riani kini.


"Dengan ini kamu memaafkan ku?" tanya Riani langsung digelengkan oleh Albern.


"Aku sama sekali tidak membenci atau marah padamu, jadi apa yang harus aku maafkan?" tanya Albern pada Riani.


"Ha!? jadi kenapa sikapmu seperti orang ngambek mas?" kaget Riani.


"Hahaha aku hanya tidak ingin banyak berkata yang akan menganggu konsentrasi mu, terlebih aku sudah biasa dicuekin jadi gak perlu ngambek atau marah hanya karena itu" jelas Albern sambil menyunggingkan senyum lebarnya yang nampak puas pada Riani.


"Mas... maaf sebelumnya jika aku menambah masalah padamu, besok malam aku tidur di apartemen firma ya?" tanya Riani meminta izin Albern.


Albern terdiam sejenak, ditatapnya lamat-lamat Riani yang sepertinya sudah memantapkan keputusannya itu.


"Baiklah" angguk Albern membuat Riani membuang nafasnya karena tegang tadi.


Albern langsung masuk ke apartemen sambil didampingi Riani yang kini bersikap manja pada Albern sambil mengandeng mesra tangan suaminya itu.


"Sir Albern..."


Suara gadis dengan geraian rambut panjang dan kulitnya yang putih bersih serta penampilannya yang terkesan fashionable itu mengangetkan Riani sekaligus Albern.


Albern menoleh pada gadis itu sambil menyunggingkan senyuman tipisnya "Ada apa Rasy?" tanya Albern pada gadis yang kini ada dihadapannya itu.


"Owh... tadi aku ingin menanyai tugas ini pada Sir Albern, tapi kata dekan di kampus Sir telah pulang, dan karena tugas ini harus dikumpulkan untuk esok, aku harus mengunjungi Sir Albern untuk membantuku menjelaskan soal ini" jelas gadis itu memaparkan maksudnya.


Albern menatap jam tangannya sebentar sambil memandangi langit-langit dari apartemennya "hmm... apa tugasmu ini sangat penting?" tanya Albern pada mahasiswi nya itu.

__ADS_1


Gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah ayo masuk" ajak Albern sambil melangkah masuk bersama Riani ke apartemen.


Albern duduk di ruangan depan dan menyuruh mahasiswi nya itu duduk dihadapannya.


"Bisa dimulai saja sekarang?" tanya Albern sambil melepas jas yang dikenakannya.


Dari tadi Riani hanya diam dan memantau gerak-gerik mahasiswi itu dan gerak-gerik suaminya yang tidak bisa menolak permintaan gadis cantik itu.


Riani berjalan ke dapur dan membuatkan 2 gelas jus jeruk untuk suaminya dan mahasiswi suaminya itu. Riani berjalan mendekat ke arah meja mereka sambil meletakkan 2 gelas jus masing-masing di dekat mereka "silahkan diminum" ujar Riani.


Albern tersenyum menatap Riani "terimakasih sayang" jawab Albern sambil mengangkat gelasnya dan meminum jus itu.


Gadis tadi entah kenapa tersentak kaget saat Albern mengucapkan sayang pada Riani, dia menengadah pada Riani, melihat tampilan Riani dari bawah sampai ke atas sejenak "terimakasih kakak"


Riani tersenyum menatap gadis itu sambil menganggukkan kepalanya dan kembali meninggalkan mereka.


"Sir... itu siapa?" tanya gadis itu pada Albern yang jelas masih terdengar dari telinga Riani, Riani melambatkan langkahnya.


"Dia istriku, kenapa? apa kamu masih ada banyak pertanyaan tentangku daripada pertanyaan dari materi yang tidak kamu pahami ini?" tanya Albern menatap sinis mahasiswinya itu.


Gadis itu cengengesan dan menggelengkan kepalanya.


Gadis itu tersenyum "Sir tau... aku penasaran dengan konsekuensi yang akan aku dapatkan" jawabnya sambil tersenyum manis pada Albern.


"Ada yang aneh, kenapa mas Albern sampai berbisik - bisik seperti itu?" gumam Riani dan kembali ke kamarnya.


Albern menghela panjang nafasnya "satu soal ini lagi kan? jika sudah kamu jangan temui saya disini lagi. Kalau bisa jangan temui saya dimana pun" jelas Albern.


"Jika begitu maka sama saja dengan Sir memakan gaji buta karena tidak mengajari muridnya yang kesusahan bukan? dan terlebih... aku menyukaimu sir Albern" ucap gadis bernama Rasy itu sambil tersenyum menggoda pada Albern.


Albern langsung berdiri dari duduknya "saya sudah membuatkan garis besarnya, silahkan keluar dengan cara baik-baik dari rumah saya Rasy!" tegas Albern.


Rasy tersenyum tipis pada Albern dan ikut berdiri setelah memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas "kalau begitu terimakasih Sir Albern, dan tolong sampaikan terima kasih ku juga untuk sayangmu kakak Riani, sampai jumpa Sir" pamit Rasy sambil mengayunkan tangannya dari belakang pada Albern.


Albern menepuk keningnya tidak kuat dengan tingkah laku Rasy "apa yang membuat gadis itu sampai menjadi seperti ini?" gumam Albern yang seakan tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi.


"Dia menggodamu bukan?" tanya Riani yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Albern.


Albern tersontak kaget dan langsung refleks mundur dari Riani 2 langkah.

__ADS_1


Riani diam sejenak menatap reaksi dan ekspresi Albern, kemudian Riani tertawa puas menyadari apa yang baru saja telah terjadi "Hahaha apa kamu terkejut karena kemunculan ku? memangnya ada situasi menenggang kan seperti apa sih?" tanya Riani yang masih tertawa.


"Jika benar suamimu digoda, maka kamu akan melakukan apa?" tanya Albern ikut menggoda Riani.


"Aku tidak akan melakukan apa - apa, karena aku percaya pada suamiku" ucap Riani sambil tersenyum lebar membuat wajah Albern merah merona. "Kalau begitu aku masak untuk makan malam kita dulu ya" jelas Riani sambil melangkah ke dapur.


"Mau aku bantu?" tanya Albern yang menghentikan langkah Riani.


Riani kembali menoleh pada Albern sambil tersenyum tipis "boleh"


***


Cast Back to Alisya


Saat langit di kota Paris sudah menunjukkan warna gelapnya, sedangkan Alisya masih berada di negri tercintanya dengan langit yang terlihat cerah dan suasana yang panas.


Alisya menatap lembaran dokumen yang ada di atas mejanya kini.


"Pembagian warisan, penjelasan tentang kasus papa di statiun televisi, data dan barang - barang papa di kantor gubernur, penjualan rumah yang masih digaris polisi, mengecek keadaan nyonya ******* dan pengurusan perusahaan apa yang akan dipindah tangankan pada mama, rapat saham dan kuliah. Aduh! banyak banget sih!" gumam Alisya nampak kesal dengan banyaknya tugas yang masih harus dilakukannya.


Alisya segera beranjak dari sofa empuk yang kini dudukinya sambil berjalan cepat keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil miliknya atau bisa dibilang itu adalah mobil Dina yang diambil alih oleh Alisya karena mobil itu tidak atas nama Dina melainkan nama papanya.


"Mama masih diperusahaan gak ya?" gumam Alisya sambil fokus menyetir.


Selang beberapa jam Alisya tiba di salah satu kantor besar yang langsung memasukinya, seorang laki - laki paruh baya berdiri menyambut kehadiran Alisya.


"Langsung kita bahas harta warisan ini sekarang nak Alisya?" tanya laki - laki paruh baya itu diangguki langsung oleh Alisya.


Alisya menatap dokumen dan surat perjanjian yang ada di atas meja sambil tetap mendengar kan penjelasan lelaki paruh baya itu.


"Jadi... 50 persen saham papa diserahkan padaku? kepemimpinan perusahaan dialihkan ke mama atau orang yang bisa aku dan mama percayai Om Diki?" tanya Alisya pada laki - laki parah baya yang dipanggilnya Om Diki itu.


Om Diki menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Kenapa perusahaan tidak diserahkan saja pimpinannya padaku? atau jangan - jangan... "Om Diki... apa surat wasiat pembagian harta warisan ini baru saja dibuat?" tanya Alisya mencoba menyelidiki.


Om Diki langsung mengangguk kan kepalanya "untuk alasannya Om tidak tau jelas nak Alisya, tapi menurut dugaan Om, papamu tak ingin memberatkanmu untuk ikut mengurus perusahaan, bukanlah kamu sudah punya impian sendiri yang kamu tetapkan saat ditinggal papa mu dulu?" tanya Om Diki.


Alisya menyinggingkan bibirnya tersenyum tipis "baiklah Om, tapi om... kenapa Dina hanya mendapatkan 10 persen saham dan 20 persen harta? dan terlebih kenapa Dina tidak diberikan kedudukan dalam perusahaan?" tanya Alisya.


Om Diki tersenyum tipis pada Alisya "untuk hal itu Om tidak tau nak Alisya, mungkin saja ini semuanya sebagai permintaan maaf dari papa mu pada kamu dan mama mu, terlebih Om juga tidak yakin Dina bisa memanfaatkan harta yang dipakainya dengan baik, karena bagaimana pun kurungan penjaranya cukup lama" jelas Om Diki.

__ADS_1


"Aku pikir 10 tahun itu tidak cukup lama Om, mama terlalu baik sampai meminta kekurangan penuntutan terhadap apa yang pernah dilakukan Dina pada kami sampai rela mengeluarkan uangnya sendiri" ujar Alisya sambil berdiri dari duduknya "terimakasih atas waktunya Om, kalau begitu Alisya pamit dulu" pamit Alisya sambil menundukkan kepalanya dan melangkah pergi dari hadapan Om Diki.


"Dia sudah tumbuh jadi wanita yang lebih kuat dan punya mata yang tajam" gumam Om Diki tersenyum tipis menatap Alisya.


__ADS_2