ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 15


__ADS_3

Albern melirik sebentar kearah Riani kemudian kembali fokus menyetir. "Ya ada apa?" tanya Albern.


"Maaf telah menyusahkanmu" ucap Riani seperti berbisik pada Albern.


Albern menghela sejenak nafasnya dan kembali fokus menyetir.


Setelah sampai di depan gerbang firma Riani menyalami tangan Albern dan langsung melangkah masuk. Riani menoleh dengan cemas pada Albern sejenak, namun tetap Albern tidak melirik sesentipun pada Riani.


"Nanti aku akan menjemputmu!" teriak Albern.


Riani menoleh segera ke arah Albern sambil memperlihatkan susunan giginya yang rapi itu tersenyum lebar membuat wajah Albern tersipu malu


Riani kembali melanjutkan langkahnya dengan beban yang terasa sudah terangkat.


"Hy Coty" sapa Riani pada Coty dengan penampilannya saat ini yang amat sangat berantakan dan hancur.


Coty menatap tajam Riani dengan mata pandanya itu.


"Manquer Riani... bisa kasih aku tiket liburan ke pulau Jeju segera?!" tanya Coty dengan nada mengancam sambil tersenyum sinis menatap Riani.


Tatapan dan ucapan Coty tadi membuat Riani merinding apalagi dengan penampilan terburuk dan terkusam Coty kini, tumpukan makanan cepat saja dan minuman kaleng diatas meja membuat penampilan Coty semakin mencekam ditambah aura suram dari dirinya itu.


Sudah 3 hari 2 malam Coty begadang demi menyelesaikan tumpukan tugas milik dirinya dan Riani, makan seadanya bahkan tidak bergerak dari tempat duduknya kecuali ke toilet dan mengambil makan.


Untung saja kantor firma jarang ada pengunjung, biasanya klien hanya mengonfirmasi lewat e-mail kecuali jika ada keperluan penting memang mereka akan langsung mengunjungi firma.

__ADS_1


Anggota lainnya juga tiap hari sibuk dengan tugas dan kebanyakan dari mereka yang telah kembali dari berbagai sidang lebih memilih menyelesaikan laporan di apartemen dari pada di kantor.


Cammy dan Aren sudah balik dari tes pertama Aren kemaren malam dan kini tengah menyelesaikan laporan di apartemen.


Alhasil sekarang hanya Coty dengan berjibun tumpukan tugas yang perlahan sudah nampak menghilang karena sudah terselesaikan.


Coty berjalan pelan menghampiri Riani "jadi bagaimana manquer Riani? liburan ke Jeju saya?" bisik Coty tepat ditelinga Riani.


Refleks Riani mundur 4 langkah dari Coty sambil tertawa cengengesan "hahaha baiklah Coty, aku akan memberimu waktu istirahat 2 hari, tapi kalau untuk ke Jeju... kamu tau sendiri kan firma kita lagi sibuk-sibuknya untuk saat ini? jadi aku minta maaf tidak bisa memenuhi keinginanmu" jelas Riani.


Coty nampak menghela panjang nafasnya "setidaknya lain kali diskusikan kepergian mendadak mu itu dulu padaku, jangan tiba-tiba langsung memberiku tugas berjibun seperti ini" jelas Serli sambil kembali ke mejanya dan menyerahkan beberapa lembar dokumen pada Riani.


"Ini dokumen sekaligus proposal sidang di Amiens yang telah diselesaikan oleh Aimee sekaligus proposal sidang dari kota Metz oleh Drena lusa kemaren, karena tumpukan tugas yang double aku tidak menerima kasus dulu dalam 3 hari kemaren, jadi ada 3 orang anggota firma dan 1 anak magang yang kini di apartemen, oh iya tadi Enne juga mengabari dia akan sidang di London pukul 10 pagi dan akan kembali ke Perancis esok malam karena masih ada beberapa problem diluar kasus sidang" jelas Coty sambil mengeluarkan aplikasi yang ada dilayar laptopnya.


"Satu lagi... kamu serius untuk merubah anggota firma yang dari dulu hanya 12 orang kini menjadi 13?" tanya Coty sambil mendekatkan wajahnya ke arah Riani.


Coty tercengang mendengar ucapan Riani "aku berharap kamu bukan orang yang akan lepas dari tanggung jawab Riani" ujar Serli sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Setelah menatap punggung Coty yang menjauh dari pandangannya, Riani membuang nafas lelahnya. Hampir saja tangan Riani meremas kertas dokumen yang saat ini dipengangnya itu.


Riani beranjak dari duduknya dan mulai berjalan ke ruangannya sambil membawa dokumen dan lampiran proposal yang diberikan Coty tadi.


"Lepas dari tanggung jawab ya?" gumam Riani sambil memain-mainkan penanya mengetok pelan meja yang ada dihadapannya kini.


Riani melirik ke arah jam yang ada didinding bagian atas pintu ruangan "aku harus membereskan semua sisa pekerjaan sore ini, dan karena orang pentingnya belum datang semua, sepertinya esok malam aku akan menginap di apartemen firma saja" gumam Riani yang kini kembali fokus pada dokumen - dokumen yang ada diatas mejanya sambil sekali - sekali menatap layar laptop.

__ADS_1


Tok... tok...


Pintu dibuka perlahan oleh Coty yang nampak sudah cerah, sepertinya dia baru saja selesai mandi "bisa aku kembali ke apartemen dan istirahat sekarang?" tanya Coty pada Riani yang melihatnya dengan tatapan kaget walau dengan posisi jari yang masih terus bergerak - gerak diatas keyboard.


"Penampilan mu berubah 360 derajat ya?" tanya Riani yang terpana menatap tampilan Coty dengan rok pendek dan riasan make up nya.


Mendengar pernyataan Riani membuat Coty mengernyitkan keningnya "kamu sedang meledekku? apakah kamu punya banyak waktu untuk menilai penampilan ku?" tanya Coty menatap serius Riani.


"Hah... baiklah, kamu boleh kembali, tapi ingat! lusa kamu harus kembali datang untuk bekerja!" tegas Riani.


Coty diam sejenak "hei... bukankah waktu istirahat ku 2 hari, jika lusa aku harus kembali bekerja, bukankah waktu istirahat ku hanya 1 hari?" tanya Coty yang cukup masuk akal.


"Dihitung hari ini dan esok" jelas Riani singkat.


Coty terpana kaget, seolah tatapannya kini nampak lesu tak berdaya "kamu tidak sedang membunuhku kan?" tanya Coty.


"Tidur teratur untuk 2 malam itu aku rasa cukup" ujar Riani sambil memberhentikan pergerakan jarinya.


"Aku tidak yakin bahwa aku akan istirahat cukup dalam 2 hari ini, mana tau saat hendak menutup mata dering handphone ku berbunyi dan terdengar nada suara Mak lampir menyuruh segera ke kantor dengan berjuta ancaman dan alasan yang telah disiapkannya, sebaiknya aku mengaktifkan mode pesawat di Handphone ku" terang Coty sambil membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangan pada Riani.


Riani kembali menunggu Coty sampai benar-benar tidak terjangkau dimatanya lagi, Riani menghempaskan punggungnya ke kursi sambil menyilangkan tangan dan menatap lembaran dokumen yang ada diatas mejanya "Ini akan selesai sampai sore, setelah itu aku akan memikirkan siapa yang akan menjadi ketua pimpinan firma ini selanjutnya" gumam Riani sambil kembali beradu dalam dokumen dan laptopnya.


///


Drena Lantina

__ADS_1


Anggota firma yang berusia 42 tahun ini adalah anggota yang terkenal karena kerja kerasnya, sering mendapatkan banyak piala sejak dibangku sekolah dasar hingga membuatnya bisa menjadi salah satu anggota Firma Confiance.


Drena Lantina atau akrab disapa dengan Madam Drena adalah wanita yang terkenal dengan sifatnya yang supel dan ramah, ibu dari 3 anak ini juga adalah mantan model saat remaja dulu sehingga kecantikannya sampai kini masih melekat diwajah dan auranya.


__ADS_2