
Sejatinya aku sudah tidak sanggup menerima tamparan keras ini
Aku tak mau mempercayai apa yang baru saja aku temukan
Namun aku tak bisa mengelakkan tentang fakta yang sebenarnya tak ingin ku tau ini
Tapi jika aku bisa menyelesaikan semuanya
Maka baru disanalah aku akan lega
Namun sekarang...
Tolong izinkan aku untuk rehat sejenak
Aisyah menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya dan kembali menghela nafasnya panjang-panjang.
Aisyah menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 14.00 "5 menit lagi waktu aku mengoreksi naskah ya?" gumam Aisyah lirih.
Bunyi ketokan pintu itu membuat Aisyah kembali mengubah posisi duduknya dengan lebih baik "Iya masuk!" seru Aisyah lantang.
Seorang gadis cantik memasuki ruangan itu dengan lirikan matanya yang nampak gugup, Aisyah tersenyum menatap gadis itu, dia kembali teringat saat pertama kali penerbit menghubungi nya dan memanggilnya ke kantor.
Gadis itu membungkuk dan memberi salam pada Aisyah "silahkan duduk" ucap Aisyah diangguki oleh gadis itu.
"Benar dengan Rini Yulianti?" tanya Aisyah kembali diangguki oleh gadis itu.
"Kalau boleh saya tau berapa usia mu?" tanya Aisyah pada gadis bernama Rini itu.
"E... enam belas tahun" jawab Rini gugup.
"Kamu tidak perlu gugup pada saya, anggap saja saya adalah kakakmu" senyum Rini.
"Te... terimakasih" ucap Rini sambil menyodorkan lembaran naskahnya pada Aisyah.
Aisyah membalik lembaran itu perlahan sambil membaca satu persatu alur cerita yang ditulis Rini, Aisyah mengerutkan keningnya membaca naskah itu, Rini jadi tambah cemas jika Aisyah malah menolak naskahnya.
__ADS_1
Kisah yang ditulis oleh Rini, hampir sangat menyamai apa yang dirasakan Aisyah sekarang ini, apa jangan-jangan saat ini Allah sedang menguji seberapa besar kesetiaan Aisyah pada Andi? atau ini malah awal dari kehancuran rumah tangga mereka.
Aisyah menutup segera naskah Rini "saya akan memutuskan menerbitkan naskah kamu atau tidak dalam seminggu ini, maaf sebelumnya saya tidak bisa membaca semuanya dulu, namun saya akan menjamin yang terbaik bagi kamu" jelas Aisyah sambil memegang dahinya karena pusing yang di alami Aisyah.
Rini mengangguk paham "baiklah kak, terimakasih" ucap Rini sambil kembali bersalaman dan melangkah keluar dari ruangan Aisyah.
Setelah mendengar bunyi pintu di tutup, Aisyah kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menarik nafas dalam-dalam dan kembali membuangnya dengan cepat.
Aisyah mengambil hp nya dan menatap lama layar Hp nya, Aisyah meng klik album pada ikon di hp dan menscroll satu persatu foto-foto miliknya.
Geseran jari Aisyah terhenti tepat di foto 2 wanita berkerudung, itu adalah foto Aisyah dan Riani saat mereka melaksanakan shalat Id 7 tahun yang lalu.
Aisyah tersenyum menatap foto itu "kak... apa saat itu kamu telah jatuh cinta? oh iya hahaha... tentu saja sudah ya, karena tanggal yang dialbum itu berjarak 3 bulan sebelum hari kita berfoto ini ya" tawa Aisyah dengan air matanya yang tiba-tiba kembali mengalir.
Aisyah kembali menyeka air matanya yang membasuh pipinya "apa ini sesuatu yang perlu Syah tangisi kak? kenapa dari dulu kakak tidak menikah saja dengan mas Andi!? kenapa Aisyah harus terlibat dalam kisah kalian!?" gumam Aisyah nampak kesal.
"Hah... sudahlah, pulang nanti Aisyah akan menanyai hal ini pada mas Andi, atau apa Aisyah menanyai hal ini pada kakak saja? tapi... Aisyah tak ingin rumah tangga kakak yang sekarang malah hancur karena Aisyah, bagaimana mungkin Aisyah kembali mengungkit hal itu yang nantinya bisa jadi malah diketahui kak Albern, Aisyah tak ingin egois pada kalian berdua, mungkin Aisyah harus memilih orang yang tepat untuk menanyai ini, tapi siapa!? mungkin saja nantinya Aisyah bisa jadi salah paham, tapi... Aisyah ingin semuanya selesai" gumam Aisyah sambil memegang erat kepalanya dengan kedua tangannya.
Aisyah menatap jam yang sudah hampir menunjukkan waktu untuk shalat Ashar "lebih baik aku shalat di masjid saja" gumam Aisyah sambil keluar dari ruangannya dengan membawa tas kecilnya.
"Mau ke Masjid, kamu ikut?" tanya Aisyah.
Selvy cengengesan pada Aisyah "aku mau ikut sih, tapi hati ini aku lagi dapet hehehe" tawa Selvy.
"Ya udah, duluan ya" pamit Aisyah.
Masjid yang tak berjarak jauh dari kantornya itu mempercepat tibanya Aisyah ke Masjid. Aisyah mengambil wudhu dan segera mengenakan mukenahnya.
Saat itu telat Adzan baru dikumandangkan, setiap sahutan Adzan yang dilantunkan dijawab Aisyah satu persatu dengan memahami maknanya dalam diam.
Aisyah mengambil shalat tahyatul masjid dan shalat sunat sebelum Iqamah dilantunkan.
Selesai shalat berjamaah dan satu persatu jamaah meninggalkan masjid setelah meminta pada Allah, Aisyah menengadah ke langit-langit masjid, mengingat kembali apa yang baru saja dilaluinya.
Aisyah menutup matanya dengan pikiran yang dibuangnya dalam-dalam, sapuan lembut dinginnya ruangan masjid karena AC semakin menegangkan bathin Aisyah dari pada suhu dari ruangan kantornya sendiri walau memang sudah memakai AC, mungkin ini suatu nikmat untuk orang yang sudah selesai shalat atau kesejukan tersendiri dari hawa masjid.
__ADS_1
Aisyah kembali menatap jam yang ada di dinding-dinding masjid, Aisyah membuka dan melipat kembali mukenah yang dikenakannya dan langsung berdiri dari duduknya untuk kembali ke kantornya.
Saat membuka pintu ruangan, Selvy kembali menghampiri Aisyah "Syah... nanti pulang kerja ke cafe yuk!" ajak Selvy.
"Eh maaf... aku nanti ada beberapa urusan setelah kerja" jawab Aisyah dengan rasa bersalah pada Selvy.
Selvy memanyunkan bibirnya nampak cemberut "yah... sekali ini aja kok, dari kemaren kamu nolak mulu"
Aisyah kembali menghela nafasnya panjang-panjang "baiklah" pasrah Aisyah sambil meninggalkan Selvy dan kembali ke ruangannya.
"Wah janji ya" ujar Selvy.
"Iya iya" ucap Aisyah sambil meneruskan langkahnya.
Tepat pukul 17.00 semua karyawan yang ada dikantor mulai meninggalkan kantor satu per satu, Selvy melambaikan tangannya pada Aisyah yang baru saja keluar dari lift.
Aisyah menghela nafas menatap wajah penuh semangat dari Selvy.
"Ayo!" ajak Selvy sambil menarik tangan Aisyah keluar meninggalkan ruangan kantor.
Selvy menghidupkan motornya dan mulai membawa motornya memasuki jalan raya yang ramai dan padat bersama Aisyah.
Mereka tiba disebuah kafe yang biasa di isi oleh orang-orang dewasa yang butuh rehat sejenak dari pekerjaannya, dengan langkah cepat Selvy sudah antri di depan meja pemesanan, membuat Aisyah hanya tersenyum tipis melihat keagresifan rekan kerjanya itu, sekaligus sahabat Aisyah selama di SMA dulu.
Jangan lupa hidupkan data tepat pukul 01.00 besok ya guys...
Karena...
Author bakal update gila-gilaan Hahhahaha
Terimakasih sudah mendukung Author terus.
Buat yang mau tanya-tanya, apapun itu boleh kok, tulis di kolom komentar yaaaa.....
See you next time
__ADS_1