ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 38


__ADS_3

Seperti di sambar oleh petir, bagai di tampar sang petinju dunia, ataupun di hantam meteor yang jatuh ke bumi. Ekspresi wajah yang ditampakkan gadis itu jadi suram dan penuh akan amarah dendam.


Dia mengepal erat tangannya, melirik batu besar yang ada disebelahnya, seorang wanita mengenggam tangan gadis itu, lalu menggelengkan kepalanya.


Gadis itu kini nampak sedang membuang nafasnya, dia mencoba menenangkan diri, namun tetap dia geram kepada laki-laki yang kini ada di depan matanya itu.


Dia berdesis sebal karena ingat akan kondisi kesehatan wanita yang kini ada disebelahnya sambil mengenggam tangan gadis itu, menghentikan dia yang hendak meninju dan menumbuk Laki-laki yang kini ada tepat di hadapan mereka berdua.


Seorang wanita yang sedari tadi berdiri di samping laki-laki itu tersenyum tipis dengan tatapan licik dan merendahkan mereka, gadis itu kembali geram, ingin rasanya dia merobek pakaian kurang bahan si ******* itu.


"Alisya! jika kamu mau, kamu bisa tetap tinggal disini, papa tidak akan membatasi mu" ucap laki-laki itu.


Gadis itu meludah tepat di depan pria itu, dengan tatapan matanya yang seolah berapi-api "hah! Anda pikir saya Sudi untuk hidup berdampingan dengan anda dan si ******* itu!? jangan pernah hubungin kami lagi! jangan pernah datang ke dalam kehidupan kami lagi! saya berjanji! atas nama saya ALISYA FITRI, saya akan membalikkan keadaan, saya akan membalas perlakuan anda pada kami selama ini!" kesal gadis itu sambil melangkah pergi dari rumah mewah itu sambil mengandeng tangan perempuan yang ada disebelahnya.


Tanpa membawa barang apapun, tanpa uang sepersen pun, mereka tidak tau arah yang harus mereka tuju.


"Ma... maaf" ucap gadis itu lirih pada perempuan yang ada disebelahnya.


Perempuan itu tersenyum tipis sambil batuk-batuk, dia mengelus lembut kepala putrinya itu "Sya... mulai sekarang panggil mama dengan sebutan 'Mak' dan terimakasih kamu telah memilih Mak daripada papa kamu, Mak janji akan mencarikan segala kebutuhan kamu dengan baik"


Mata gadis itu kini jatuh perlahan "Mak tidak perlu cemas akan keuangan, Mak hanya perlu cepat sehat dan melihat Alisya sampai sukses dan tua nanti, karena mulai dari kini, hanya Mak satu-satunya orang yang Alisya punya, Alisya tidak punya papa lagi Mak" ucap gadis itu dengan senyuman sayunya.


Mereka berjalan tanpa arah, tidak tau kemana kaki mereka akan melangkah, Mata Alisya menatap kaget selembar uang berwarna merah yang terlipat di jalanan. Dia menyungginkan senyuman nya yang serasa amat bahagia.


Alisya mengambil selembar uang tadi "Mak! ayo kita ke kampung Rambutan saja, mana tau udara disana bisa meredakan penyakit asma Mak, uang ini bisa kita pergunakan untuk naik angkutan kota" jelas Alisya diangguki oleh Mak-nya.

__ADS_1


Selang beberapa jam mereka sampai diperbatasan kampung itu, langkah mereka masih terseret karena tidak tau akan arah tujuan lagi.


Alisya menghela nafasnya sambil menjongkok karena kecapekan berjalan dari turun angkot tadi, Alisya melirik Mak nya dan langsung panik, asma Mak nya mulai kambuh lagi, tidak ada minyak atau apapun yang bisa meredakan rasa sakitnya kini.


Alisya panik dan tidak tau harus kepada siapa dia meminta tolong, dan untungnya saat itu Buk Nini lewat dan mengajukan diri untuk membantu mereka.


Setelah menceritakan singkat tentang kisah mereka, Buk Nini nampak prihatin pada kedua ibu anak itu, dia mengusulkan untuk tinggal di gubuk belakang rumahnya, karena rumahnya sendiri juga tidak bisa menampung mereka berdua, ada anak dan adiknya yang harus dia jaga, terlebih dia tidak tau kapan suaminya yang pelaut akan pulang.


Alisya dan Mak-nya amat sangat bersyukur akan hal itu, mereka sangat berterimakasih atas kebaikan buk Nini.


Perlahan dan pasti mereka menghabiskan waktu disana bersama, Mak Alisya bekerja sebagai buruh laundry, setelah uangnya terkumpul dia membeli mesin jahit untuk memulai menjadi tukang jahit di gubuk itu, karena dulu dia sempat kuliah tata busana.


Alisya masih mengingat jelas setiap kenangan itu, dimulai dari papa nya di anggap korupsi uang negara sampai Alisya di ejek dan dibully di sekolah, sampai papanya masuk penjara mereka tetap bersama, mengunjungi papa nya, seraya selalu memberi dorongan dan semangat, sampai tuntutan dugaan korupsi itu di cabut karena terbukti papa Alisya tidaklah salah.


Namun kepedulian dan kebersamaan nya selama ini tercampakkan begitu saja, setelah kedatangan seorang ******* dalam rumah tangga mereka.


Dicampakkan seolah seperti sampah yang tak lagi dibutuhkan, tanpa sedikitpun meninggalkan harta, mereka bisa memberi ancaman dan tuntutan balik? tentu! hanya saja Mak Alisya melarang dan memilih perlakuan hina suaminya itu, asal dia tetap bisa bersama anaknya.


Dan salah satu tujuan terbesar Alisya untuk menjadi seorang pengacara memang adalah untuk menghadapi hal itu nantinya, membuat tuntunan resmi dan ganti rugi besar terhadap laki-laki tidak tau di untung dan ******* lakn*t itu.


***


Alisya menyadarkan segala nostalgia lamanya, dia benar-benar mengingat jelas akan reaksi yang sama oleh Geyaa dan dirinya dulu, seperti melihat cerminan dirinya sendiri.


"Geyaa!" teriak Alisya seraya menyadarkan segera Geyaa dari lamunannya.

__ADS_1


Geyaa masih terdiam, sepertinya kini hanya tubuh nya yang berada dalam ruangan ini, sedangkan pikirannya melayang entah kemana, siapa yang tau.


Alisya tau sekeras apapun dia berteriak atau berseru nanti tidak akan kedengaran oleh Geyaa karena memang pikirannya saat ini melayang entah kemana, Alisya menoleh sekeliling, tidak ada barang yang akan menyadarkan gadis itu, dia menggoyangkan tubuh Geyaa berulang kali, namun tidak kunjung di respon oleh Geyaa, mau tidak mau Alisya berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air menyiram Geyaa agar segara sadar kembali.


Selang beberapa menit kemudian. Byuur!


Suara siraman itu terdengar cukup jelas, ruangan itu tidaklah basah, karena semua air merambat ke pakaian yang dikenakan Geyaa, gadis itu menyeka wajahnya yang tadi berfungsi sebagai tempat pendaratan air.


"Apa!?" tanya Geyaa dengan nada tingginya, jelas wajahnya yang masih basah itu kelihatan kesal.


"Siapa gadis ini?" tanya Alisya sambil menunjuk foto itu.


Geyaa sedikit menundukkan kepalanya, menutupi jelas kesedihan yang kini bertambah dalam ekspresi wajahnya.


"Crania, dia sahabatku di kampus, dia pula yang sering mengunjungi kost-anku, menemani ku saat ditekan finansial, tugas kampus, sampai masalah sepele lainnya dalam hidupku, walau kesannya dia terdengar kuat, namun dia adalah wanita yang lemah, jika dia masih hidup... mungkin kini dia sedang berjuang keras dalam hidupnya dibanding orang lain, bukan sebagai gadis normal lainnya, tapi sebagai seseorang yang kini tengah mengindap penyakit AIDS"


Alisya terperanjat kaget "AIDS!?"


Geyaa kembali tersenyum tipis "hahaha kamu berpikir dia wanita bukan baik-baik bukan? tapi kenyataannya dia adalah wanita yang sangat baik, itu penyakit turunan, aku tau betul bahwa wanita sehebat kamu, secerdas dan wanita yang memiliki hati bersih yang sudah pasti baik seperti kamu, karena itu penilaian pertama dari firma Confiance itu bukan? tau betul tentang penyakit AIDS, penyakit yang tidak akan bisa disembuhkan oleh dokter dunia manapun, satu-satunya hal yang akan menghilangkan penyakit itu hanyalah kematian" jelas Geyaa.


Hmmmh... hati bersih? aku pikir aku tak perlu menyanggah hal itu karena dendam yang juga aku miliki Bathin Alisya.


Geyaa diam, tidak melanjutkan lagi penjelasannya, tapi karena sudah di ujung rasa penasarannya sedari tadi, Alisya lanjut menanyakan bagaimana lanjutan dari ceritanya.


"Lalu apa yang selanjutnya terjadi?" tanya Alisya kembali.

__ADS_1


Geyaa menatap lama Alisya lalu dia tersenyum tipis "bukankah sebelum ini aku sudah pernah menceritakan padamu bahwa teman ku adalah salah seorang korban pembunuhan berantai itu? hahaha belum ya? tapi sudahlah, saat Crania hendak ke kost-an ini, dia singgah di toko kain dekat jalan Jan Ru X untuk membeli beberapa kain dasar demi menyibukkan dirinya, dia gadis yang hobby menjahit, tapi takdir berkata lain untuknya, atau mungkin si sialan itu yang malah merubah takdirnya! gadis yang tidak bersalah itu malah dibunuh! dicekam di lehernya! darah nya menyeruak dimana-mana, dan untuk pertama kali-nya di dalam hidupku, aku melihat manusia mati semengenaskan itu" jelas Geyaa lalu kembali diam.


__ADS_2