ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 38


__ADS_3

3 orang polisi dengan seragam hitam dan seorangnya lagi dengan seragam biru yang sepertinya pimpinan dari kedua polisi yang berjalan berdampingan dengannya. Beserta 3 orang tim forensik yang berjalan cepat dari belakang pastinya dengan membawa alat-alat keperluan mereka untuk mendetail tempat dan sisa atau jejak tertinggal dari tempat kasus ini nanti. Mereka memasuki ruangan toilet dengan sigap dan perwatakan serius.


"Anda nona Riani dari Firma Confiance?" tanya polisi berseragam biru itu pada Riani.


"Iya Sir" angguk Riani mengiyakan.


"Sebelumnya terima kasih atas kerja sama nya nona, tapi maaf... ini biar kami selanjutnya yang mengurus, nona bisa kembali ke tempat, ini tugas kami yang menyelidiki sebagai polisi, bukan tugas anda sebagai pengaca" jelas pak polisi itu.


"Tap--"


"Maaf sekali lagi nona, saya tegaskan sekali lagi bahwa ini tugas kami, bukan tugas anda. Mohon kerja sama nya" ucap pak polisi melangkah melewati Riani.


Riani terdiam lalu menghela panjang nafasnya. Riani langsung melangkah keluar untuk kembali ke kursinya.


"Eh kak" ucap Aren yang baru balik habis memantau kursi bapak - bapak tua yang jadi saksi untuk pramugari dengan lipstik merah muda.


"Kita kembali ke kursi Aren, para polisi telah datang" ucap Riani diangguki oleh Aren.


"Kak... Dimas dimana?" tanya Aren pelan.


Riani langsung tersontak kaget dan berlari kembali ke arah toilet "tadi aku menyuruhnya mencari barang mencurigakan di setiap toilet" jelas Riani terus berlari.


Aren pun ikut mengejar langkah Riani dan langsung menabrak sesuatu.


"Ada apa Aren?" tanya Dimas sambil memegangi bahu Aren.


"Owh untunglah" lega Aren.


"Dimas, kau tetaplah disini, kau akan jadi saksi penting dalam kasus ini nanti. Kalau begitu kamu pergi dulu" jelas Riani.


"Eh kenapa nona?" tanya Dimas heran.


"Polisi sudah datang, kami tidak diperbolehkan membantu tugas mereka" jawab Riani.


"Anda tuan Dimas?" tanya salah seorang polisi dengan seragam hitam dalam bahasa Perancis yang lancar


"Eh?" ucap Dimas kebingungan.


"Kak... Dimas kan gak bisa bahasa Perancis" ucap Aren mengingat kan.


"Owh iya ya" kata Riani baru sadar. Riani berjalan mendekat ke arah polisi dengan seragam hitam itu. "Maaf Sir, tapi dia tidak bisa berbahasa Perancis" jelas Riani dengan bahasa Perancis yang fasih.

__ADS_1


"Benarkah!?" kaget polisi berseragam hitam itu.


"Jika diperkenankan maka kami bisa menjadi translator disini" ucap Riani.


"Kalau begitu saya lapor komandan dulu Manquer" ucap Polisi berseragam hitam itu sambil masuk kembali ke dalam toilet pria.


Setelah beberapa menit kemudian polisi berseragam hitam itu kembali masuk. "Mohon bantuannya Manquer, tapi komandan hanya memperkenankan satu orang" sambung Polisi berseragam hitam.


Riani mengangguk sambil tersenyum tipis dan berjalan ke arah Aren. "Ku serahkan padamu Aren" ucap Riani sambil menepuk ringan pundak Aren.


Aren mengangukkan kepalanya dengan ekspresi yakin.


"Nona! aku tidak menemukan apa-apa di toilet selain serpihan bedak di depan kaca toilet wanita!" ujar Dimas diangguki oleh Riani.


Aren, Dimas, dan polisi berseragam hitam itu memasuki kembali toilet Pria, sedangkan Riani kembali ke tempat duduknya.


Riani memilih duduk dikursi Aren tadi sambil memandangi lama pemandangan dari luar jendela pesawat, menatap lama langit - langit yang ditutupi oleh awan - awan yang menghambat pemandangan.


Riani berpikir keras tentang kejadian dan pelaku pembunuhan itu dalam diamnya.


Sambil menutup mata Riani membayangkan pembicaraannya dengan tersangka-tersangka tadi. "Sepertinya memang dia pelakunya, tapi... kenapa harus di toilet cewek?" gumam Riani sambil membuka kembali matanya dan terus berpikir dalam - dalam.


"Mohon kerja samanya tuan Dimas, dan nona Aren" ucap Polisi dengan seragam warna hitam.


Aren mengangukkan kepalanya. Sambil menyikut lengan Dimas untuk memberi hormat.


Dimas mulai mengulang kembali penjelasannya tentang siapa-siapa saja yang memasuki toilet kemudian di terjemah kan oleh Aren dengan bahasa Perancis yang baik.


Para Pelaku ikut menjelaskan hubungan mereka dengan korban dan masing-masing mulai saling menuduh karena mereka tidak ingin untuk terpojok seorang diri.


Pisau yang digunakan untuk menancap tubuh korban ditemukan didalam tutup tempat bak belakang toilet. Dan tsidik jari yang tertinggal di pisau itu sama dengan sidik jari korban.


Juga tidak ditemukan bercak darah dalam masing-masing tubuh dan pakaian tersangka yang tidak lain adalah Pramugari dan Pramugara itu.


Dikursi penumpang Riani duduk termenung sambil menghela panjang nafasnya.


"Lah kenapa jaketnya dibalik sayang?" tanya salah seorang penumpang yang lewat pada pacarnya.


"Biar kamu lebih nyaman sama bahan wol yang di dalam, jaket aku kan timbal balik bahannya, kalau yang karet didalam entar kamu cepat gerah" jelas pacar yang cewek sambil merangkul pacarnya itu.


Riani kembali menghela panjang nafasnya melihat dua pasang manusia yang tengah berpacaran di tengah kebingungan Riani.

__ADS_1


Eh? balik? timbal balik? depan belakang? Bathin Riani yang langsung sadar dari lamunannya dan segera lari menuju toilet.


Kedua pasangan itu menatap heran Riani yang tiba-tiba berdiri mendadak dari duduknya dan langsung berlari begitu saja.


"Permisi semuanya, sepertinya saya tau siapa pelakunya" ucap Riani yang membuat semua orang yang ada didalam terkejut.


"Apa maksudmu Manquer?" tanya polisi dengan seragam hitam itu sambil masih memegang pisau yang digunakan untuk menancap tubuh korban itu di dalam sebuah plastik yang telah dibungkus oleh tim forensik.


"Owh apa senjata pembunuhannya ditemukan di dalam tutup toilet?" tanya Riani membuat satu ruangan kembali terkejut.


Riani tersenyum tipis melihat reaksi semua orang "Dari ekspresi kalian seperti nya iya, sebelumnya maaf jika saya lancang atau menganggu tugas anda Sir, tapi bukanlah lebih baik kasus ini segera diselesaikan dan para penumpang tidak perlu mengantri di toilet VIP?" tanya Riani kembali pada Pak polisi dengan seragam hitam.


Polisi seragam hitam itu menghela panjang nafasnya "Baiklah, kalau begitu tolong sebutkan siapa pelakunya Manquer" ucap pak Polisi dengan seragam hitam itu.


Riani menghela sejenak nafasnya dan mulai membicarakan rincian kejadian. "Sebelumnya boleh saya tanyakan sidik jari siapa saja yang ada di pisau?" tanya Riani.


"Hanya sidik jari korban kak" jawab Aren.


"Hmm... seperti yang aku duga, baiklah... menurut hipotesa ku pelakunya adalah anda Sir!" seru Riani sambil menunjuk pramugara itu.


Pandangan semua orang kini teralihkan pada Pramugara itu. "Eh? apa maksud anda nona?" tanya Pramuga itu nampak cemas.


"Anda tidak perlu mengelak lagi tuan, bukankah anda punya dendam yang sangat besar dengan wanita ini? Harta yang anda punya dihabiskan perlahan oleh wanita ini dan dengan seenaknya wanita yang kini sudah tidak bernyawa ini yang tidak lain adalah pacar anda meminta untuk putus dan kini menjalin hubungan dengan pria lain bukan?" tanya Riani menyelidik.


"Hahaha tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk saya membunuhnya nona" jawab Pria itu.


"Anda tidak perlu mengelak lagi tuan, bukanlah sebelumnya penerbangan ini anda memintanya mantan pacar anda kesini? menyediakan tiket pesawat untuknya, dan uang jalan-jalan akan anda berikan di toilet nanti? mungkin anda membujuk nya untuk jalan-jalan atau hal lainnya? itu bisa saja sebagai alasan perpisahan mungkin? dan pasti korban akan menuruti karena sifat matrenya dan agar tidak bosan selama di pesawat anda menyarankan dia membawa buah dan pisau. Saat hendak ke toilet anda memberinya kode agar mengikuti anda. Dia menuruti dan berpapasan dengan nona yang memakai lipstik merah ini. Alasan kenapa korban memakai topi dan masker hitam adalah agar identitas nya tidak diketahui oleh kedua nona Pramugari yang mengetahui hubungan kalian ini bukan?" tanya Riani menatap sinis Pramuga itu.


"Apa itu benar Kris?" tanya Pramugari lipstik merah muda dengan ekspresi cemas dan tidak percaya.


"Kalau begitu apa buktinya!?" bentak Pramuga itu.


"Anda membungkamnya langsung saat sudah di depan pintu toilet, menyeretnya ke dalam toilet pria lalu menikamnya sekuat tenaga dengan pisau buah yang sudah dibawanya oleh korban, karena itu tidak ada tanda perlawanan dari tubuh korban, alasan kenapa darah tidak ada diseragam anda adalah kerena anda memakai mantel atau pakaian plastik bukan di balik seragam itu? itu cukup untuk jadi bukti sir? atau dengan cairan luminol kita akan bisa melihat jejak darah di rambut anda yang basah itu. Tadi saya tidak menyadari nya karena rambut anda tersikat rapi seperti memakai minyak rambut, sungguh saya tidak menduga bahwa itu adalah air." Riani tersenyum tipis sambil mengedepankan kedua lengan tangannya di bagian perut.


"Bisa perlihatkan sesuatu dibalik seragam itu tuan?" tanya Polisi berseragam hitam.


Pramugara yang bernama Kris itu terpuruk rapuh, kakinya bersimpuh di lantai toilet, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya itu. "Itu karena wanita brengsek ini! setelah menghabisi hartaku dengan seenaknya dia meminta putus!" seru Kris dengan nada suara yang keras dan amarah yang amat membuncak tinggi.


"Saya sungguh tidak berfikir kasus ini ternyata sesimpel ini Manquer, tapi terima kasih atas bantuannya" ucap polisi berseragam hitam itu.


Riani menganggukkan kepalanya "sama-sama tuan" ucap Riani.

__ADS_1


__ADS_2