ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 11


__ADS_3

"Omong-omong mama sama kak Riani dimana kak?" tanya Alisya yang masih sibuk memasang pakaiannya pada Serli yang sibuk dengan HP-nya.


"Mama kamu langsung ke pengadilan tadi, katanya mau ngobrol sama mbak Dina dulu, kalau Riani masih mengurus administrasi rumah kamu sama mama kamu, saat sidang dimulai dia datang katanya sama adik dan adik iparnya, oh satu lagi sama teman dari adik iparnya yang minta ikut" jelas Serli.


"Eh? adik ipar?" tanya Alisya nampak heran.


"Suami Aisyah" jawab Serli yang langsung diangguki paham oleh Alisya.


"Ya udah, yuk jalan kak!" ajak Alisya yang langsung membuat Serli berdiri dari posisinya.


Mereka melangkah menuju lift hotel sampai dilantai 1 Alisya langsung check out dan menyusul Serli ke parkiran.


"Udah ingat sama apa yang ingin kamu bicarakan nanti?" tanya Serli diangguki oleh Alisya.


Serli langsung mengemudikan mobilnya menuju pengadilan untuk memulai sidang mereka berdua.


***


"Kalau begitu udah ok kan mas Wawan?" tanya Riani diangguki oleh mas Wawan sepupu Andi yang jadi agen rumah itu.


Mas Wawan mengangguk "terimakasih atas transaksinya Riani" ucap mas Wawan.


"Sama-sama Mas Wawan" jawab Riani sambil menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08.45


"Ya udah mas, Riani pergi duluan ya" pamit Riani diangguki oleh mas Wawan.


Riani kembali masuk ke dalam taxi yang dinaikinya tadi "lanjut ke pengadilan jalan xx ya pak" jelas Riani diangguki oleh sopir taxi itu.


Riani menatap layar handphone yang ada panggilan masuk.


"Halo Assalamualaikum Syah, ada apa?" tanya Riani.


"Kak... sidangnya udah mulai?" tanya Aisyah.


"15 menit lagi Syah, kamu jadi datangkan?" tanya Riani.


"Aduh maaf kak, Aisyah disuruh bos editor untuk nyelesain review naskah baru" jelas Aisyah.


"Owh gitu... yang lain gimana?" tanya Riani.


"Mas Andi katanya harus nyelesaian laporan dulu, tapi junior Mas Andi bakal tetap datang" jawab Aisyah.


"Kalau begitu dimana junior Andi? namanya siapa? entar dia gak boleh masuk tanpa izin atau undangan apapun loh" jelas Riani.


"Nah maka dari itu aku menghubungi kakak, kata Mas Andi tadi HP juniornya itu low bat, jadi kalian ketemuan langsung dipengadilan ya, katanya dia mengenakan jas berwarna merah maron dengan kemeja hitam dan celana hitam panjang" jelas Aisyah.


"Hah oke deh Syah, tapi kakak gak jamin bakal nemuin dia ya, kamu tau sendiri orang dengan style dan warna pakaian yang kamu sebutkan tadi biasanya banyak berkeliaran dipengadilan" jelas Riani.

__ADS_1


"Hahaha gak apa-apa kok kak, aku juga udah bilang ke dia soal kakak, dia tau kok wajah kakak" jelas Aisyah.


"Owh gitu... ok Syah kakak harus menghubungi Alisya dulu nih" ucap Riani.


"Baik kak, Assalamualaikum" salam Aisyah.


"Waalaikumsalam" jawab Riani.


Riani mulau mencari kontak dengan nama Alisya dilayar HP-nya.


"Halo Assalamualaikum Sya" sapa Riani.


"Waalaikumsalam kak, posisi kakak sekarang lagi dimana?" tanya Alisya.


"Owh kakak masih dijalan Anyer 4, 5 menit lagi kayaknya sampai, gimana tersangka udah datang?" tanya Riani.


"Udah, tuh lagi duduk barengan sama mama" jelas Alisya.


"Hah!? duduk barengan?" tanya Riani kaget.


"Cuman ngobrol-ngobrol kecil saja kok" jawab Alisya.


"Kamu gak cemas?" heran Riani.


"Hahaha gak kok kak, kakak gak tau aja siapa mama yang sebenarnya" jawab Alisya.


"Udah dulu ya kak, cepat ya datangnya! Assalamualaikum" ucap Alisya langsung mematikan telpon.


"Waalaikumsalam" jawab Riani sambil kembali menatap layar HP-nya "udah dimatiin aja sama nih anak" gumam Riani.


***


"Riani dimana Sya?" tanya Serli.


"Katanya 5 menit lagi sampai" jawab Alisya diangguki oleh Serli.


Mobil terus melaju walau dihimpit oleh kemacetan yang cukup lama.


Alisya dan Serli langsung keluar dari mobil menuju pintu masuk pengadilan itu, ruang sidang banyak nampak sudah dihadiri oleh banyak orang yang ada sangkut pautnya dengan pelaku atau korban sebagai saksi atas keberlangsungan sidang.


Masih ada sekitar 5 menit lagi untuk hakim mulai mengetikkan palu pertanda sidang dimulai.


Alisya masih sibuk dengan dokumen yang telah dibuat Serli kemarin malam untuk memudahkan sidang mereka dengan diagnosis kejadian yang tepat.


***


Riani keluar dari Taxi sambil menoleh kiri kanan sekitaran bangunan kantor pengadilan itu "Mana ya? aduh! nama anaknya aku lupa lagi!" gumam Riani sambil menepuk keningnya yang tidak sakit itu.

__ADS_1


"Halo... dengan mbak Riani?" tanya laki-laki yang muncul tiba-tiba dibelakang Riani itu mengangetkannya.


Riani menatap penampilan laki-laki itu dari atas sampai bawah dengan cermat, jas berwarna merah maron dengan kemeja hitam dan celana hitam panjang semuanya melekat di tubuh pria itu.


Riani menganggukkan kepalanya "kamu junior Andi?" tanya Riani.


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya "Iya mbak, perkenalkan saya Randy Zoeson" jelasnya.


Riani tersenyum tipis pada Randy "baiklah, ayo masuk Randy" ajak Riani langsung diikuti oleh Randy dari belakang.


Baru 2 detik Riani duduk di kursi untuk para penonton sidang itu, hakim mulai mengetukkan palu pertamanya untuk membuka sidang.


Seperti dugaan, sidang itu berjalan dengan mulus tanpa adanya pembantahan dari pihak pelaku, entah apa yang sudah dilakukan Nadia pada Dina sampai dia memilih untuk bungkam.


Tak butuh waktu lama, sidang berakhir diikuti oleh keluarnya para hakim dari meja utama mereka, Dina langsung diseret diikuti oleh Nadia dari belakang yang ingin menemani Dina sebelum dia terkurung dalam jeruji besi itu.


Alisya menoleh ke meja para saksi penonton sidang untuk mencari keberadaan Riani, mata Alisya melotot tajam melihat laki-laki yang duduk di samping Riani itu.


"Sya! balik yuk!" ajak Serli yang malah jadi bengong karena melihat ekspresi wajah Alisya.


Alisya langsung berjalan menghampiri Riani "Ngapain Lo datang kesini!?" tanya Alisya langsung ngegas pada Randy.


"Aku ingin melihat langsung sidangmu, dan sekalian menjelaskan kesalahpahaman hari itu" jelas Randy.


Alisya mendesis sebal menatap Randy. "Tunggu sebentar" ucap Alisya sambil meminjam kunci mobil Serli dan langsung ke parkiran. Selang beberapa menit Alisya kembali datang sambil membawa jas yang dulu dipinjamkan Randy.


"Ini! setelah ini kita gak ada apa-apa lagi!" tegas Alisya lalu berbalik pada Riani.


"Kak! kok bisa sama dia sih?" tanya Alisya nampak geram.


"Owh dia ini junior dari adik iparku, katanya kemaren mereka ketemu sama kamu dijalan pas malah hari dan hujan-hujanan? jadi mendengar sidang ini mereka juga ingin ikut tapi sayang Aisyah dan suaminya gak bisa karena urusan mendesak pekerjaan" jelas Riani.


"Ha!? jadi laki-laki ganteng yang kemaren suami kak Aisyah!?" kaget Alisya yang malah lebih membuat Riani dan Serli kaget.


"Ganteng?" tanya Serli.


"Hei! jangan sampai naksir loh ya! dia suami adikku!" tegas Riani.


Alisya tertawa cengengesan mendengar perkataan kedua seniornya itu sampai melupakan keberadaan Randy yang kini ada disampingnya.


"Balik yuk! sekalian ke kantor polisi jemput mama" ajak Alisya.


"Aku boleh ikut?" tanya Randy tiba-tiba.


Alisya menatap lama Randy "walau gue larang, Lo pasti bakal tetap ngikutin kan?" tanya Alisya diangguki oleh Randy.


"Ya udah kamu sama Randy aja, kamu bawa mobil kan Randy?" tanya Riani diangguki langsung oleh Randy. Alisya diam sejenak kemudian menghela panjang nafasnya, antara ogah dan amit-amit jika harus barengan sama Randy.

__ADS_1


"Gue beri Lo kesempatan menjelaskan semua itu di mobil, apapun penjelasan Lo nanti, gue cuma mau menegaskan, bahwa setelah kejadian saat itu, entah itu adalah kesalahpahaman atau apapun itu, intinya sejak saat itu kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, dan untuk selamanya hubungan itu tidak akan pernah ada" jelas Alisya diangguki dengan senyum tipis oleh Randy.


__ADS_2