ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 28


__ADS_3

Deraian ombak besar tak akan bisa mengalahkan kuatnya tekad ku selama ini


Terkadang... biarkan waktu yang menentukan kapan semua nya terbalaskan


Aku tak menuntut harap... ataupun asa yang membuatku jatuh perlahan


Aku tak mengharap yang namanya hubungan interaksi sosial dalam hidupku


Aku bersyukur masih mempunyai waktu untuk hidup... untuk ada...


Karena setarik nafasku... adalah langkah perlahan untuk mencapai tujuanku


Sesampainya di bandara Riani meminta monsieur Jahad menunggu sekitar beberapa menit dahulu agar bisa kembali ke firma bernama 4 lainnya.


Riani langsung bergegas cepat ke ruang tunggu karena helikopter mereka sudah mendarat 10 menit yang lalu, Riani menengok kiri kanan namun tak jua melihat seorangpun yang dicarinya, saat hendak menoleh kebelakang, seorang wanita mengejutkan Riani, nampak tawa puas dari wajahnya setelah melihat ekspresi terkejut Riani.


Diikuti oleh 3 orang lainnya yang nampak kelelahan mendekat ke arah mereka.


Seperti biasanya Coty selalu bersemangat setiap saat, berbeda dengan ketiga wanita dibelakang nya yang nampak menarik nafas dalam-dalam bersamaan.


"Kamu tau ketua?... kami sudah menunggu cukup lama" keluh Chloe.


"Tepatnya 8 menit yang lalu" sambung Violette.


Madam Mavey hanya tersenyum mendengar keluhan kedua wanita yang masih muda itu "hei... kalian masih muda jangan mengeluh, saya yang sudah tua saja tidak mau untuk mengeluh begitu saja" canda madam Mavey mencoba menghilangkan lelahnya mereka dengan sedikit kata-kata.


Riani tersenyum menatap madam Mavey yang sama sekali tak menunjukkan rasa lelahnya sama sekali.


Waktu terus berputar dan akan mendatangkan hari yang semakin gelap, tanpa berbasa-basi Riani langsung mengajak mereka untuk segera kembali ke Firma tapi berbeda dengan Violette yang harus kembali segera ke apartemen atas perintah Riani, sambil membisikkan hal itu Riani memberikan sehelai kertas yang berisi coretan di kantor tadi.


Violette mengangguk paham, sudah terbayang olehnya kelakuan licik untuk menghadapi anak didiknya nanti.


Chloe dan madam Mavey hanya menatap heran mereka sambil terus melangkah ke mobil monsieur Jahad.


"Mau barengan saja Violet?" tanya Riani.


Violette menggelengkan kepalanya "aku naik taxi saja" jawab Violette diangguki oleh Riani.


Mereka berjalan bersamaan ke luar, setelah mendapati taxi yang akan dinaikinya Violette langsung membaca lembaran kecil yang diberikan Riani padanya tadi.


Di kertas kecil itu hanya bertulis nama seorang wanita yaitu Alisya Fitri, Violet langsung membuka laptopnya seraya mengetikkan nama wanita itu di situs pribadi milik firma confiance.


Violette tersenyum tipis membaca data gadis itu "usia 20 tahun" gumam Violette sambil terus menscroll ke bawah layar laptopnya "anak kandung dari walikota daerah xxx dan kini telah menjabat sebagai gubernur di provinsi xxx" bisik Violette pelan agar tidak menganggu sopir taxi yang ada di depannya.

__ADS_1


Violette terus menscroll satu persatu data tentang Alisya, sampai di akhir dia cukup terkejut membaca prestasi yang cukup luar biasa dari wanita itu, namun sayangnya prestasi itu hanya sampai dia ditingkat 2 sekolah menengah atas, selebihnya zonk.


Violette mengetikkan kembali sandi pribadi yang dibuat Riani tentang data diri dan tujuan umum yang mungkin menjadi dasar utama Alisya bergabung dalam firma. Satu persatu huruf dan angka beserta kode lainnya di ketikkan Violette tepat seperti yang dibisikkan Riani tadi padanya.


Setelah tulisan loading... Dilayar laptopnya menghilang, mata Violette terbelalak kaget melihat sedikit serpihan dari huruf awal itu, kemudian Violette menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis, membuat sopir taxi yang tadi melihat dari balik kaca spion nampak merinding.


Violette menutup laptopnya segera, karena taxi sudah sampai di depan gerbang apartemen, sambil menyerahkan kartu kredit nya dan menunggu sopir taxi memotong saldo, Violette melirik sebentar ke apartemen yang disinggahi Manquer Pamela dulu, kini pintu apartemen itu sudah terbuka lebar dengan sedikit bagian tubuh Enne yang menghalangi penerawangan Alisya.


"Ini Manquer" ucap sopir taxi tadi sambil mengembalikan kartu kredit milik Violette.


Violette mengambil kembali kartu kredit nya sambil membungkukkan badan dan berjalan kembali memasuki apartemen.


Langkah kaki Violette menyadarkan Enne yang masih sibuk memberi arahan pada Alisya tentang tempat-tempat sekitaran apartemen.


Enne melambaikan senyum nya pada Violette dibalas dengan senyuman tipis oleh Violette.


Violette menepuk pundak Enne pelan.


"Ada apa Enne? oh iya bukankah kamu harus ke firma dulu memberikan laporan?" heran Enne.


"Riani sendiri yang menyuruhku kesini, untuk laporan biarkan Coty yang mengurusnya. Enne... boleh aku minta tolong sesuatu?" tanya Violette dengan senyuman bermakna tersiratnya.


Enne menatap heran sambil menganggukkan kepalanya.


Enne masih menatap heran sambil mencerna baik-baik ucapan Violette tadi "eh...? bukannya kamu tidak tinggal di apartemen?" heran Enne yang baru sadar.


Violette kembali menyungginkan senyum tipis "ada beberapa pekerjaan yang membuat ku tidak bisa berbolak-balik dari firma-apartemen-rumah, terlebih saat ini Iven sedang mengunjungi rumah sakit di Amerika" jelas Violette.


"Bagaimana dengan nasib ke dua keponakan ku yang menggemaskan itu?" tanya Enne cemas.


Violette tertawa kecil melihat ekspresi cemas Enne yang tidaklah dibuat-buat "tenang saja, mereka bersama nenek dan Tante sah mereka di Paris" jelas Violette.


"Jadi maksudmu aku bukan Tante sah mereka?" cemberut Enne.


"Iya" jawab Violette singkat.


"Ya sudah... aku baru ingat kamu yang akan menjadi pembimbing Alisya" ujar Enne sambil beringsut meninggalkan mereka dengan membawa tas milik Violette.


Apartemen khusus milik firma confiance dirancang dengan berbagai bentuk, ada yang untuk membuka pintu masih menggunakan kunci secara manual dan ada sebagian yang dengan menggesekkan kartu, tergantung keinginan dari penghuni kamar sendiri.


Alisya yang sedari tadi menatap heran mereka, kini tersenyum tipis untuk membalas senyuman yang dilontarkan oleh Violette.


"Alisya? bisa bicara sebentar?" tanya Violette.

__ADS_1


"Oh... tentu" jawab Alisya sambil mempersilahkan Violette masuk.


Kondisi ruangan yang nampak masih sepi, membuat Violette langsung sadar bahwa gadis yang ada dihadapannya kini tidak membawa banyak barang, berbeda dengan Violette dulu yang memasukkan semua barangnya bawaannya hingga memenuhi ruangan apartemen.


Viollete kembali tersenyum tipis mengenang tindakan hebohnya dulu saat memasuki Apartemen firma, karena sudah menjadi keinginan dan harapan besar Violette semenjak memasuki jenjang sekolah menengah atas dulu untuk menjadi pengacara dari firma hukum impiannya yaitu firma Confiance.


Jadi saat menerima tawaran atas kesempatan yang diberikan Manquer pamela dulu, Violette langsung kegirangan dan heboh sendiri sampai ia lupa ternyata semua barang di kamarnya telah berpindah ke kamar apartemen barunya, apartemen khusus milik anggota firma confiance.


Viollete melupakan sejenak kenangan lamanya dan kembali fokus pada Alisya.


"Kamu sudah tau saya?" tanya Violette pada Alisya.


Alisya mengangguk mengiyakan "Manquer Violette Madeleine, pembimbing saya untuk satu bulan kedepan ini" jawab Alisya.


"Jangan panggil saya manquer, cukup panggil Violette saja" ucap Violette.


"Eh...?" kaget Alisya.


Viollete tertawa kecil melihat tanggapan Alisya "hahaha mungkin di negerimu sudah biasa memberi panggilan yang sopan pada yang lebih tua, namun perlu kamu ingat bahwa ini Perancis bukan Indonesia, banyak dari mereka yang terkadang merasa lebih baik dipanggil dengan nama saja dari pada embel-embel lainnya" jelas Viollete diangguki paham oleh Alisya.


"Jadi bisa kita mulai dari dirimu dulu?" tanya Viollete tiba-tiba.


Alisya mengerut kan keningnya tidak paham akan apa yang di maksud kan oleh Violette.


Melihat ekspresi Alisya, Violette sadar Alisya kurang paham dengan maksud yang di lontarkan nya tadi. "Sejatinya bukankah motivasi terbesar mu disini hanya balas dendam?" tanya Viollete yang mengangetkan Alisya.


Alisya tertawa kecil mendengar ucapan Viollete "lantas... apa hal itu menjadi masalah bagi anda?" tanya Alisya.


Dia hanya teguh pada prinsip dan tujuannya tanpa mempedulikan atau pun mengingat orang sekitarnya Pikir Violette.


"Apa kamu tidak punya keinginan ataupun impian lainnya?" tanya Violette.


Alisya memalingkan wajahnya dari Violette "tentu ada... tapi itu dulu, sekarang mungkin sudah dikalahkan oleh dendam yang semakin besar dalam diriku" jawab Alisya terus terang.


Violette tersenyum tipis mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Alisya "aku pikir kamu hanya akan terus menyembunyikan niatan awalmu, namun siapa pikir kamu akan terus terang padaku seperti ini" ucap Violette.


Alisya terdiam sejenak mendengar ucapan Violette, ini bukan sesuatu yang perlu dibicarakan nya ataupun dipendamnya seorang diri "karena saya memiliki tujuan jelas, dan saya bangga dengan hal itu" jawab Alisya.


Viollete tidak menyangka bahwa gadis ini akan berterus terang seperti itu padanya "kamu tau jika kamu melakukan hal ini maka kamu akan langsung di keluarkan dari firma Confiance ini?" tanya Viollete.


Alisya menganguk tau "tentu, saja saya tau, dan terlebih saya tau betul bahwa nona Riani tidak akan mengeluarkan saya begitu saja" terang Alisya.


Dia licik, tapi aku akui dia cukup cerdas karena bisa memanfaatkan keadaan, namun akan ku pastikan Alisya... aku tidak akan membuat mu sampai terjerat hukum... bukankah itu yang kamu mau Riani? Bathin Viollete.

__ADS_1


__ADS_2