
Enne membuang nafasnya sementara, dan kembali menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur frekuensi nada suaranya "namun ada satu bukti nyata lagi yang tak pernah terpikirkan oleh kita" ucapan Enne itu membuat beberapa hakim dan saksi menatap penasaran pada Enne.
"Panggilan terakhir dari HP korban" ucap Enne.
Semua orang diruangan itu nampak riuh, lain halnya dengan beberapa polisi dan tim forensik yang kaget karena tidak menyadari akan hal itu. Hakim mencoba menenangkan situasi agar kembali tenang.
"HP korban tidak rusak saat terjadi kecelakaan, namun ada satu hal yang luput dari pandangan kita, yaitu panggilan terakhir dari HP korban yang tidak terpikirkan oleh kita dari awal terjadinya kasus itu, pertama setelah membuat korban mabuk dan istirahat di mobil, pelaku melilitkan tali yang sudah dilumuri racun pada leher korban, dengan topangan kursi dan jendela mobil untuk menarik tali itu, saat korban telah sadar dari mabuk dan mengendarai mobil, pelaku menghubungi korban lewat telepon untuk menurunkan kaca mobilnya, mungkin dengan menggunakan beberapa alasan tertentu, misalnya pelaku ingin bercakap dengan korban dibalik mobil setelah mobilnya menghampiri mobil korban, oleh karena itu pelaku menghubungi lewat telepon lebih dulu, setelah korban menurunkan kaca mobilnya, tali yang tadi dililitkan di leher korban dibalik kerah kemeja itu menjadi meregang dan merapat sambil akhirnya keluar dari kerah baju dan melilit leher korban sampai benang yang sudah dilumuri racun itu masuk ke dalam darah korban hingga akhirnya korban mati ditempat" jelas Enne yang diangguki karena paham dan jalan cerita yang masuk akal akan kejadian itu.
"Sempat polisi berpikir itu kecelakaan karena belum melihat bekas yang ada dileher korban karena tertupi oleh kerah baju yang naik, sampai saat pemeriksaan korban diketahui tercekik dan adanya racun mematikan terbanyak pada bagian leher korban, membuat kasus kecelakaan ini menjadi pembunuhan" jelas Enne kemudian melirik pada Chloe dan segera duduk.
Chloe tersenyum pada Enne dan segera menggeserkan mic dekat ke bibirnya "itulah kronologi dari kasus pembunuhan tuan Narnad Flekse, dan untuk siapa pembunuhnya serta alasan dendam yang dimiki pelaku, sudah diakui oleh nona Line Vie tadi" ucap Chloe sambil mengangguk pada hakim untuk mengakhiri sidang.
Sepintas hakim melirik pada walikota yang sedari tadi tidak menyanggah apapun dalam sidang, hakim memutuskan mengakhiri sidang dan mengetuk palu, untuk sanksi dan hukuman yang akan dijauhkan pada Line Vie akan dibahas diluar sidang sesuai kesepakatan yang telah dibuat Enne dan hakim.
Berdasarkan pengakuan Line Vie terlebih dahulu dalam sidang, dan alasannya yang walaupun tidak akan berdampak lebih pada tindakan yang telah dilakukannya, Line Vie diberi pengurangan kurungan selama 1 tahun setengah bulan, dan akhirnya ditetapkan Line Vie akan dikurung selama 4 setengah tahun karena kasus yang telah dia lakukan, begitupun dengan walikota yang telah menyembunyikan serta tidak melaporkan aksi tabrak lari yang berujung pembunuhan yang dilakukan oleh anaknya, walikota berhenti dari jabatannya dan ikut dikenai sanksi hukum dan denda.
Foster menatap kepergian Line Vie yang di giring polisi.
"Tidak ingin berbicara dengannya sebentar dulu?" tanya Enne yang tiba-tiba muncul dibelakang Foster.
Foster menggelengkan kepalanya.
"Tapi setidaknya katakanlah padanya bahwa kamu akan menikah Minggu depan" sambung Chloe sambil berjalan perlahan mendekati Enne dan Foster.
__ADS_1
Pupil mata Foster seketika membesar karena kaget mendengar ucapan Chloe "darimana kamu tau!?"
Chloe tersenyum sambil melihatkan foto pasangan yang mengenakan gaun pengantin serta tertulis difoto itu tanggal pernikahan yang akan mereka laksanakan di HP milik Foster.
Foster menurunkan pandangannya sementara, selang beberapa detik dia berlari ke mobil polisi yang hendak membawa Lien Vie.
Line Vie heran menatap Foster yang tengah kehabisan nafas karena lari-lari. Foster memberi kode pada kedua polisi yang tadi bersama Line Vie untuk memberi mereka waktu berduaan sebentar saja.
Polisi itu saling bertatapan kemudian mengangguk dan meninggalkan mereka sambil terus mengawasi dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Ada apa?" tanya Line Vie.
"Jika sempat dan diperbolehkan... datanglah ke pernikahan ku 2 Minggu lagi" ucap Foster sambil menunjukkan fotonya dengan sang kekasih dari HP yang telah diserahkan kembali oleh Chloe padanya tadi.
"Maaf..." hela Foster.
"Jangan mengucapkan kata seperti itu padaku, terimakasih atas cinta yang selama ini kamu berikan padaku, terimakasih atas bantuanmu tadi, dan maaf karena telah mengkhianati hubungan kita, ini adalah pilihan dan takdir yang terbaik untuk kita, namun ada satu permintaanku padamu... tolong tetap menjadi teman terbaikku" pinta Line Vie yang diangguki oleh Foster.
Kedua polisi itu kembali menghampiri mereka, Foster mundur dari mobil polisi sambil memaksakannya senyumannya melihat Line Vie.
"Sampaikan terimakasih ku kepada kedua pengacara wanita itu" ucap Line Vie yang perlahan pergi dengan mobil polisi yang berwarna biru pekat itu.
Setelah tidak menampaki lagi mobil polisi itu dalam pandangannya, Foster membalikkan tubuhnya dan berjalan perlahan ke tempat Enne dan Chloe yang kini tengah berdiri di antara tempat parkir bangunan pengadilan itu.
__ADS_1
"Terimakasih..." ucap Foster sebelum selesai menjelaskan kalimatnya karena terpotong oleh Enne.
"Untuk apa?" tanya Enne.
"Line Vie ingin saya menyampaikan ucapan itu pada kalian" sambung Foster.
Enne dan Chloe mengerakkan bibirnya tersenyum mendengar hal itu.
Foster berbalik ke arah kembali seusai berpamitan dan berterimakasih pada Enne dan Chloe seraya berjalan cepat ke arah mobilnya yang telah dilepaskan kembali oleh kepolisian.
Angin kota yang merambat pelan tanpa mendatangkan suhu yang ekstrim menemani keheningan yang kini dirasakan Enne dan Chloe.
Dari kejauhan nampak beberapa orang berseragam polisi beserta tim forensik dan beberapa orang yang mengenakan seragam hitam dengan kacamata hitam yang turut berjalan bersebelahan dengan walikota.
Mereka semua tengah berjalan hendak menghampiri Enne dan Chloe yang menanti mereka semua.
Walikota menyampaikan ucapan terimakasih dan permintaan maafnya yang juga tidak seharusnya dia ucapkan pada Enne dan Chloe, beberapa polisi berjabat tangan dengan mereka, diskusi sementara itu pertanda perpisahan akhir mereka di kota ini.
Angin sore menyerbakkan geraian rambut panjang Chloe, sedangkan Enne sedari tadi sudah mengikat rambutnya.
Bunyi klakson mobil itu membuat mereka menoleh ke arah mobil dan tersenyum ringan mendapati hal yang mereka tunggu sedari tadi telah sampai untuk mengantar mereka kembali ke Firma Confiance.
Suasana firma kali ini tidak seramai yang biasanya, seakan kembali hampa setelah beberapa Minggu lalu masih terlihat ramai karena candaan dan olok-olokan yang mereka lontarkan bersama demi merefleksikan diri.
__ADS_1
Ketidakhadiran Riani dan Violette yang sering jadi bahan Bully-an karena status mereka berdua yang telah menikah kini tak ada lagi, karena keduanya terikat kerjasama untuk menuntaskan kasus yang telah diterima dari salah satu Firma hukum di negri kincir angin itu.