
Dinginnya suhu malam kota Bandung merambat masuk ke kulit dan persendian Cammy yang berpakaian tipis, sedangkan Enne sibuk menengok kiri-kanan untuk mencari keberadaan kampus xxx dengan google maps.
"Gimana Enne?" tanya Cammy.
Enne menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau arah yang akan mereka tuju, taxi dari tadi juga belum ada satupun yang lewat.
Cammy membuang nafas lelahnya "kalau tau begini lebih baik tadi kita minta antar saja sama monsieur Elxin" keluh Cammy.
"Kamu tau kan monsieur Elxin lagi mules sehabis mendarat tadi" ucap Enne.
"Ya kan kita bisa menunggu" jawab Cammy.
Enne menghiraukan jawaban Cammy saat melihat panggilan masuk dari Hp nya.
"Halo Assalamualaikum Riani" ucap Enne.
"Waalaikumsalam Enne, jadi... bagaimana dengan bolos mu di Indonesia hari ini?" tanya Riani yang sudah terbang dengan Helikopter.
"Hahaha maksud mu apa Riani?" tanya Enne pura-pura tidak tau.
"Sudahlah Enne, aku tau kamu dan Cammy sekarang lagi berada di Bandung, jadi sebagai hukuman atas tindakan sewenang-wenang kalian, maka aku tugaskan untuk menjemput Alisya calon anggota baru kita" tegas Riani.
"Hah... gimana mau jemput orang, sekarang aja kita gak tau lagi dimana" keluh Enne.
"Hahaha tenang saja, aku sudah menghubungi monsieur Elxin untuk menjemput kalian sesuai keberadaan kalian yang telah selesai dilacak, aku sudah menghubungi Alisya yang hendak menuju pantai cahaya hati, jadi kalian langsung ke sana dan kembali ke bandara lalu ambil jam penerbangan yang tepat, Assalamualaikum" ucap Riani sambil langsung memutus telpon.
"Waalaikumsalam" jawab Enne.
"Ada apa Enne?" tanya Cammy.
"Riani menyuruh kita menunggu disini sampai monsieur Elxin menjemput habis itu langsung ke panti Cahaya hati menjemput calon anak baru lalu kembali ke bandara dan mengambil jam penerbangan yang tepat" jelas Enne.
"Jadi Riani tau kita ada di Indonesia?" kaget Cammy diangguki oleh Enne.
"Kenapa bisa?!" tanya Cammy kembali.
__ADS_1
Enne menggeleng dan memilih duduk diatas batu yang ada dipinggir jalan itu.
"Apa benar Riani menyuruh kita mengambil jam penerbangan yang tepat?" tanya Cammy memastikan.
Enne kembali mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Itu berarti kita harus memesan tiket pesawat sendiri!?" kaget Cammy.
Enne kaget dan langsung berdiri dari duduknya "Hah!? kita tidak dengan helikopter!?" tanya Enne yang nampak lebih kaget.
Enne menepuk keningnya tidak percaya akan hal ini "Riani lebih kejam dari ibu tiri" gumam Enne.
Cammy langsung membuka layar hp nya dan mencari jadwal penerbangan Bandung-Perancis untuk malam ini "adanya pukul 02.30!? what? bukankah ini terlalu lama!?" teriak Cammy.
Enne hanya menghempaskan nafas lelahnya karena teringat dengan tugasnya yang belum selesai sepenuhnya, ditambah Enne sudah menahan lapar sedari tadi.
Cammy langsung duduk di tepi jalan, tanpa menghiraukan bahwa sekarang dia tengah terduduk di atas aspal "dia benar-benar lebih kejam dari ibu tiri" gumam Cammy.
Setengah jam berlalu monsieur Elxin mengklason mobilnya tepat dihadapan Cammy dan Enne.
Cammy langsung masuk ke dalam mobil dengan cepat, sedangkan Enne nampak lesu dan berjalan sempoyongan.
Wajah Enne langsung fresh kembali setelah menatap makanan yang ada dihadapannya.
Enne membagi satu pada Cammy, namun Cammy menggeleng "aku tidak nafsu makan" jawab Cammy tampak emosi.
Enne memilih menghiraukan Cammy karena bagi ini dia dapat jackpot makan 2 kali lipat.
Mereka sampai di panti jompo cahaya hati, Cammy mengerutkan keningnya "lah... kenapa kita ke sini?" tanya Cammy.
"Udah masuk aja dulu!" seru Enne sambil menarik paksa tangan Cammy.
Seorang wanita muda dengan pakaian seragam yang sama dengan wanita lainnya di dalam ruangan menghampiri Enne dan Cammy "ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu.
Enne dan Cammy diam sejenak karena kurang bisa berbahasa Indonesia, jadi mereka tidak tau jelas apa yang dibicarakan wanita tadi.
__ADS_1
Ruangan itu hanya nampak dipenuhi dengan wanita berseragam yang sama, mungkin mereka pelayan atau suster disana, kalau melihat jam yang ada kini, pastinya semua orang tua sudah tertidur.
Seorang wanita muda berjalan setelah keluar dari suatu ruangan, pakaiannya nampak lain dari yang lain, dia hanya mengenakan celana panjang dengan kaos loreng biru hitam dengan rambut ikalnya yang di ikat panjang.
Wanita muda itu menatap Cammy dan Enne yang juga tengah menatap nya, dia berjalan perlahan menuju Cammy dan Enne.
"Maaf sebelumnya... apa kalian nona Enne dan Cammy dari firma Confiance?" tanya Alisya dengan lafaz bahasa Perancis yang lancar.
Enne dan Cammy mengangguk mengiyakan "kamu Alisya?" tanya balik Cammy karena tidak tau nama lengkap Alisya.
Alisya ikut mengangguk mengiyakan.
"Bisa kita pergi sekarang Alisya?" tanya Enne.
Alisya diam sejenak "tunggu sebentar, aku akan berpamitan dulu" ucap Alisya sambil berlari kecil menjauh dari hadapan Cammy dan Enne.
Cammy dan Enne memutuskan untuk menunggu diluar karena tidak ingin menganggu suster-suster disana yang sedang bebersih.
Tak berapa lama Alisya kembali dengan menjinjing satu tas besar yang nampak sudah lusuh, setelah berpamitan dengan suster disana, mereka langsung ke mobil, menemui monsieur Elxin yang sudah menunggu sedari tadi.
Cammy duduk disebelah monsieur Elxin sedangkan Alisya dan Enne duduk dikursi belakang.
Keheningan mulai terasa di dalam mobil, sehingga membuat hawa canggung, Cammy memutusakan memulai bicara sebelum Enne selesai membuka mulutnya.
"Tidak apa-apa meninggalkan ibumu di panti?" tanya Cammy sambil melirik ke kursi belakang tempat Alisya duduk.
Alisya menggelengkan kepalanya "tidak apa-apa, itu hanya untuk satu bulan ini, setelah aku kembali dari magang maka aku akan mencari kontrakan yang layak untuk ku dan untuk mak" jawab Alisya.
Enne melirik Alisya yang sudah selesai menjawab pertanyaan dari Cammy "kamu tau kan bahwa setelah magang dari firma confiance, belum tentu kamu akan diterima untuk jadi anggota tetap?" tanya Enne.
Alisya mengangguk, Riani sudah menjelaskan hal itu dari awal pada Alisya.
"Bagaimana jika kamu tidak diterima setelah magang mu selesai?" tanya Enne.
"Itu berarti aku akan diluluskan seperti biasa dengan teman-teman seangkatan ku, anggap saja itu pengalaman berharga bagiku karena pernah magang di firma yang diimpikan masuk oleh semua mahasiswi hukum dunia" jawab Alisya.
__ADS_1
Cammy berpikir sejenak mendengar jawaban yang diberikan oleh Alisya sepertinya gadis ini tidak menjunjung tinggi firma confiance seperti yang lainnya, atau mungkin dia memang tidak bisa diandalkan sama sekali sepenuhnya? jawabannya sungguh terlalu biasa saja Pikir Cammy.
Apa benar Riani memilih gadis ini? bukankah dia banyak celah? terlebih aku tidak bisa melihat apa yang akan terjadi padanya dimasa depan, sudahlah yang pastinya aku rasa dia mempunyai kisah yang samar dan terus beranak menjadi dendam kesumat Bathin Enne.