ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 10


__ADS_3

Flashback malam lalu dikediaman Aisyah


Derainya hujan membuat suhu udara dikamar Aisyah menjadi suhu yang pas untuk tidur nyenyak sambil bermimpi indah.


Bunyi pintu rumahnya yang terbuka itu membuat Aisyah tersentak dalam tidurnya, Aisyah langsung turun dari ranjang dan berjalan pelan ke ruangan depan.


"Eh!? kok basah gitu sih mas?" tanya Aisyah nampak kaget melihat suaminya Andi telah pulang dengan pakaiannya yang jelas basah.


"Hahaha tadi ada perempuan di jalanan sepi hujan-hujanan, jadi mas langsung turun dari mobil dan pinjamin jas sambil ajak dia masuk ke dalam mobil" jelas Andi.


Wajah Aisyah nampak cemberut mendengar penjelasan Andi.


Andi yang menyadari ekspresi istrinya yang langsung berubah tadi jadi tertawa kecil "Hahaha mas gak ada maksud apa-apa kok, cuman bantuin aja, gak usah cemburu Dek, kan mas jadi makin gemes nih" canda Andi.


"Owh iya sepertinya ada tamu ya?" tanya Andi.


Aisyah menganggukk mengiyakan ucapan Andi "Kemaren kak Riani sama temannya kesini lalu nginap, sekalian minta tolong batuin cari rumah yang dijual sama mas Wawan" Jelas Aisyah.


"Owh gitu... sekarang mereka dimana?" tanya Andi.


"Katanya masih ada urusan" jawab Aisyah sambil membawa jas tas Andi yang tidak basah ke kamar.


"Owh gitu" angguk Andi.


"Ya udah Dek, mas kebelakang dulu ya, mau bersih-bersih" ucap Andi diangguki oleh Aisyah.


Mata Andi dan Aisyah masih terbuka, mereka tidak bisa tidur karena belum mengantuk, Aisyah yang tadi sudah tidur juga tidak bisa untuk tidur lagi, tiba-tiba pintu rumah mereka terdengar diketok, Aisyah diikuti Andi langsung keluar dari kamar.


"Kak" ucap Aisyah.


"Assalamualaikum Syah, eh... Assalamualaikum Andi" ucap Riani nampak sedikit terkejut melihat kemunculan Andi.


"Waalaikumsalam" jawab Aisyah dan Andi bersamaan.


"Hai!" sapa Serli memecah keheningan yang terjadi dalam sekejap tadi.


Aisyah menghela panjang nafasnya "ayo masuk kak, ayo Tante" ucap Aisyah sambil mempersilahkan mereka bertiga masuk ke dalam rumah.


"Dari mana kak?" tanya Aisyah pada Riani.


"Dari pemakaman" jawab Riani sambil menyeduh air putih hangat yang telah dibawakan oleh Aisyah.


"Eh? pemakaman!?" kaget Aisyah.


"Papa Alisya meninggal" jawab Riani.


"Hah!? papa Alisya!?" seru Aisyah tambah kaget.


Riani memberi kode pada Serli yang juga sudah cukup tau rumah itu untuk membawa Nadia istirahat di kamar. Serli langsung mengajak Nadia mamanya Alisya untuk meninggalkan ruang tamu itu.


Setelah tidak melihat punggung Serli dan Nadia lagi, Riani menghela nafasnya sebentar sambil kembali fokus pada pembicaraan mereka.


"Kamu tau gubernur kota X? tanya Riani langsung diangguki oleh Aisyah.


"Dia papa kandung Alisya" sambung Riani.


Ekspresi Aisyah jelas kaget, namun tiba-tiba Andi yang sedari tadi hanya diam, kini ikut bicara "Nama anak almarhum itu Alisya ya? atau jangan-jangan dia wanita yang aku temui di jalan tadi?" gumam Andi yang kedengaran jelas oleh Aisyah dan Riani.


"Maksud mas perempuan yang mas ceritakan tadi?" tanya Aisyah diangguki oleh Andi.

__ADS_1


"Kamu bertemu dimana ndi?" tanya Riani.


"Dijalan C" jawab Andi.


Riani menganggukkan kepalanya "iya, itu dia" jawab Riani.


Melihat kakaknya dan suaminya mengobrol seperti itu membuat ekspresi Aisyah kembali berubah, Aisyah memilih diam. Riani yang menyadari ekspresi Aisyah pun ikut diam dan tersenyum tipis menatap adiknya itu.


"Owh iya ndi... boleh pinjam istri tercinta mu malam ini?" tanya Riani sambil merangkul Aisyah.


"Eh?" ucap Andi dengan ekspresi bingung.


"Aku udah lama nih gak tidur bareng Aisyah, jadi kangen masa lalu" jelas Riani.


"Owh... boleh" jawab Andi nampak ragu-ragu.


"Hahaha tenang saja, gak bakal aku bawa pulang kok, selamat malam" ucap Riani sambil terus merangkul Aisyah ke kamar Riani.


Aisyah hanya menuruti ucapan Riani dan mengikuti langkah Riani "kenapa kak?" tanya Aisyah tiba-tiba.


"Bukankah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Riani sambil tersenyum tipis menatap Aisyah.


Aisyah memalingkan wajahnya dari Riani sambil terus melangkah mengiringi Riani ke kamarnya.


Riani menghidupkan pintu kamar sambil menatap jendela di kamarnya yang jelas nampak gelap walau sudah ditutupi oleh setengah tirai sekalipun.


"Jadi?" Tanya Riani sambil menyimpangkan kakinya.


Aisyah yang sedari tadi sudah duduk di kasur Riani masih diam karena nampak ragu untuk memulai pertanyaannya.


"Hahaha kamu gak usah ragu gitu Syah, kayak sama siapa aja" ujar Riani mencoba meyakinkan Aisyah.


"Kak... maaf sebelumnya jika Aisyah berkata lancang yang akan menyakiti hati kakak, tapi... Aisyah hanya ingin tau satu hal, apakah kakak masih menyimpan perasaan pada mas Andi?" tanya Aisyah yang nampak berusaha menahan air matanya.


Aisyah menceritakan semuanya pada Riani, saat dimana dia menemukan foto-foto lama Andi di pesantren, saat dimana ada kejanggalan dalam penjelasan Serli dan Kirana, dan yang lebih mendetail dan meyakinkan Aisyah adalah saat dimana Andi juga menjelaskan perasaannya terhadap Riani yang sebatas mengagumi, dan itu tidak lebih.


Riani menganggukk paham mendengar penjelasan Aisyah "kamu gak usah khawatir Syah, setelah kamu mengatakan bahwa kamu tengah dekat sama Andi waktu itu, kakak perlahan menghilang perasaan kakak kok, fokus kerja, mengejar karir kakak, jadi saat itu kakak benar-benar gak ada pikiran tentang cinta-cintaan maupun cowok, dan kamu tau Syah? bukankah kakak sudah menikah dengan Albern? kakak sudah berjanji sehidup semati dengan mas Albern, jadi bagaimana mungkin saat itu kakak menerima ajakan mas Albern untuk menikah jika kakak masih memendam perasaan pada Andi?" tanya Riani.


Aisyah memeluk erat kakaknya "terimakasih kak"


"Tidak masalah, bahagia selalu ya" ucap Riani sambil kembali membalas pelukan Aisyah.


Maaf Syah... kakak masih bohong ya sama kamu? sejatinya sampai sebelum saat mas Albern cemburu, masih ada sedikit perasaan yang masih kakak simpan pada Andi, namun sekarang dan untuk selamanya... kakak hanya menganggap Andi tidak lebih hanya sebatas adik ipar... suami dari kamu, adik ku yang paling aku sayangi. Terimakasih mas, jika kamu tidak menguatkan perasaanmu pada ku dulu, aku tak tau harus menjawab apa pertanyaan yang dilontarkan Aisyah ini. Bathin Riani.


***


Andi membaringkan tubuhnya ke kasur "Ada apa yang Riani sama Aisyah? apakah keputusan ku untuk membiarkan mereka berdua adalah keputusan yang baik?" gumam Andi sambil menutup kedua matanya.


Bunyi telepon genggam di kamar Andi membuatnya kembali membuka mata dan beralih ke atas meja.


"Halo? Assalamualaikum" sapa Andi dibalik telpon.


"Waalaikumsalam" jawab suara yang ada diseberang telpon.


"Owh Abra... apa kabar nih? tumben nelpon?" tanya Andi.


"Hahaha, aku cuma mau ngasih kabar baik padamu, bahwa Kirana hamil lagi" jelas Abra


"Wah benarkah!? Alhamdulillah" kaget Andi.

__ADS_1


"Omong-omong bagaimana dengan Aisyah?" tanya Abra.


"Alhamdulillah Aisyah juga udah isi" jawab Andi.


"Alhamdulillah, udah jadi calon bapak nih, eh aku ganggu waktu kamu malam-malam gini gak ya? di Indo pasti udah malam kan? malah tengah malam kayaknya nih" tanya Abra.


Andi tersenyum tipis mendengar candaan sahabatnya itu "gak kok, kebetulan juga lagi ada tamu dirumah" jelas Andi.


"Tamu? Siapa?" tanya Abra penasaran.


"Riani dan teman-temannya" jawab Andi.


"Eh!? Riani?" kaget Abra.


"Lah? kok kamu kayak kaget gitu mendengar nama Riani? memangnya ada apa sih?" tanya Andi ikut penasaran.


"Eh tidak... tidak kok" elak Abra.


"Hah... jangan bohongi aku Bra... aku tau kok dari gelegat suaramu" jelas Andi nampak mengancam.


"Pertama jangan kesel sama aku ya? jadi gini... apa kamu masih suka sama Riani?" tanya Abra spontan.


Andi yang mendengar pertanyaan sahabatnya itu jelas kaget.


"Suka? suka dalam artian apa?" tanya Andi.


"Cinta?" tanya Abra kembali.


"Hahaha maksud kamu apa sih Bra? sejak kapan aku cinta sama Riani?" tanya Andi kembali.


" Eh bukankah saat itu kamu bilang di pesantren kamu suka sama Riani?" tanya Abra ikut heran.


Andi diam sejenak, memikirkan sejak kapan dia mengatakan hal itu pada Abra "Owh yang itu... saat kamu bertanya apa aku menyukai Riani dan kujawab iya?" tanya Andi kembali diiyakan oleh Abra.


"Aduh Bra... itu maksudku aku suka Riani bukan sebagai sosok perempuan yang aku cintai, aku hanya menyukai sosoknya yang ulet, pintar, percaya diri, dan bertanggung jawab. Alhamdulillah Bra, sampai sekarang aku hanya mencintai satu wanita, yaitu Aisyah istriku" jelas Andi.


"Eh masa sih!?" kaget Abra.


"Iya, untuk apa aku bohong hal itu?" tanya balik Andi.


"Owh sepertinya aku salah paham, baiklah cukup sekian Bra, tau sendiri pulsa internasional hahaha, Assalamualaikum" pamit Abra.


"Waalaikumsalam, lain kali tanyakan lebih detail jangan ambil kesimpulan sendiri" ujar Andi mengingatkan.


"Hahaha siap bos ku" jawab Abra sambil mematikan telpon.


Andi menggeleng-gelengkan kepalanya "hah... ada-ada saja" gumam Andi sambil kembali beralih ke tempat tidur.


***


"Nelpon sama siapa bi?" tanya Kirana yang masih menggendong anak mereka.


"Ini sama Andi" jawab Abra.


"Owh" angguk Kirana "omong-omong ngomongin apa?" tanya Kirana.


"Cuman ngomongin seputar kehamilan baru kamu dan Aisyah" jawab Abra.


"Wah Aisyah hamil?! Riani kapan nyusul nih?" tanya Kirana nampak bahagia.

__ADS_1


"Omong-omong soal Riani, ternyata kita salah paham, Andi hanya mengangumi Riani sebagai wanita yang hebat, kuat, dan bertanggung jawab hanya sebatas itu rasa suka yang dimiliki Andi, bukan rasa cinta" ucap Abra.


"Eh!? jadi cinta Riani beneran bertepuk sebelah tangan dong?" tanya Kirana diangguki oleh Abra.


__ADS_2