
Kini ruangan sidang itu nampak sudah penuh setelah interogasi lebih lanjut tentang Geyaa tadi sampai dia mengakui perbuatannya.
Ini sesi selanjutnya dimana Alisya harus memberikan penjelasan lebih rinci dan detail disertas bukti yang meyakinkan, semua dugaan Alisya tentang kasus ini sudah tergambar kan dari tadi, dia harus fokus menjelaskan rincian kasus pada semua saksi dan hakim yang berkumpul dalam satu ruangan sidang ini.
Hakim mengetukkan palunya pertanda sidang telah di mulai, penjelasan dari Alisya akan ditunda dulu sebelum Geyaa mau memulai memberikan penjelasan nya lebih dulu, namun Geyaa memilih diam dan tak berharap lebih akan apapun.
Penjelasan sidang dilanjutkan ke Alisya, Alisya mendehem sejenak sambil menarik nafas untuk memulai penjelasan panjangnya nanti.
"Pertama saya akan mengenalkan pelaku pembunuhan berantai yang selama ini selalu kita waspadai bersama, seperti yang kalian tau maupun kalian liat, wanita yang kini ada ditengah kalian tidak lain adalah pelaku tersebut Geyaa Zoed, mahasiswi jurusan psikologis universitas xxx yang dikabarkan sahabat baik dari salah satu korban pembunuhan berantai itu, awal penyebab semua ini tidak lain adalah kasus yang tidak asing lagi di telinga kita, Bullying-sebuah kasus yang banyak dialami oleh para pelajar, hal yang paling mendominasi semua itu tidak lain adalah tekanan, ekonomi dan keadaan derajat Korban Bullying, status orang tua, dan sejarah kelam sang korban" jelas Alisya sambil kembali menarik nafasnya.
"Sahabat pelaku yang menjadi salah satu dari 15 korban kasus ini adalah seorang pengindap sakit Aids/HIV turunan, kita pun tau sendiri bahwa itu adalah salah satu dari sekian banyak penyakit yang pastinya tidak bisa disembuhkan Permanen, dan ini juga sudah menjadi pengetahuan umum bagiamana penyakit ini bisa menyebar atau di dapatkan, hinaan tentang diri dan keluarga sahabat pelaku ini membuat sahabat pelaku jadi merasa semakin depresi. Ada kata-kata dari pelaku yang membuat saya sadah bahwa dia amat menyayangi sahabat nya ini, karena itu dia tidak ingin melihat sahabatnya menderita, kuliah dengan jurusan psikologis, ditambah harus bekerja part time demi biaya kuliah dan konsumsi menekan diri pelaku sendiri sehingga pelaku tidak mampu untuk berpikir dengan jernih, sampai munculah sebuah ide yang cukup nekad yang tidak lain adalah melenyapkan pelaku bullying untuk selama-lamanya, dan pelaku itu tidak lain masuk dalam jejeran korban barisan pertama"
Alisya tidak ingin menyebutkan nama Crania dalam sidang ini, karena itu mungkin bisa saja menganggu kondisi keluarga Crania sahabat dari Geyaa itu.
Alisya kembali melanjutkan penjelasan nya "selesai melenyapkan semua pelaku bullying, sahabat dari pelaku ini merasa ada yang tidak beres, dia menyelediki jalan tempat orang yang membullynya di bunuh secara mengenaskan, akhirnya sahabatnya itu tersadar dengan apa yang sebenarnya terjadi, saya juga telah mengkonfirmasi ulang dari kesaksian pelaku bahwa benar dia sempat berdebat dengan temannya itu, sampai dengan tidak sengaja pelaku menancap tubuh sahabatnya itu, karena tidak ingin berurusan dengan aparat, pelaku memilih melarikan diri dan kembali ke tempat kejadian setelah bebersih dengan tampang tidak bersalah, Alasan kenapa kondisi luka semua korban adalah sama karena agar kasus ini dianggap sebagai pembunuhan berantai, bukan pembalasan dendam ataupun ketidaksengajaan" jelas Alisya lalu kembali diam sejenak.
"Saya cukup yakin bahwa kalian semua yang ada diruangan ini masih menanyakan kenapa harus membunuh orang yang tidak bersalah? karena seperti yang tadi saya bilang, pelaku ingin agar pembunuhan yang dilakukan nya dianggap sebagai pembunuhan berantai yang tidak akan ada sangkut pautnya dengan pelaku nanti, ditambah kenapa harus jalan Jan Ru X? karena awal dari semua kejadian ada di jalan itu, jadi tidak mungkin pelaku akan memilih jalan lain yang nantinya malah menyambungkan nya dalam kasus ini" jelas Alisya.
"Di tambah dengan kedok pelaku yang sering ada di TKP untuk mencari pembunuh berantai itu yang tidak lain adalah dirinya sendiri demi membalas kan dendam sahabatnya itu akan membuat para aparat tidak akan menaruh curiga pada pelaku ini" jelas Alisya lalu diam.
Ruangan itu masih tetap diam tanpa bersuara, Alisya mendekatkan mic ke mulutnya agar suaranya yang sudah mulai bertempo kecil sebab serak bisa terdengar jelas.
"Perbuatan pelaku sampai saat ini mungkin bisa di dasari dengan alasan bahwa pelaku ketagihan dan kebiasaannya tidak akan bisa dihilangkan begitu saja" jelas Alisya sambil memberi kode pada jendral wanita untuk mulai bertindak.
__ADS_1
Urusan ini diserahkan Alisya pada Violette agar dia juga bisa mengambil bagian dalam sidang.
"Baiklah semuanya, sekarang kita akan beralih pada barang bukti" jelas Violette sambil menatap papan kosong yang ada disebelah kirinya saat ini.
Dengan pantulan dari proyektor, data foto dan gambar dari bukti-bukti sudah di kumpulkan oleh seorang anggota kepolisian dan jendral wanita yang ditampilkan dalam layar dari papan kosong itu.
Violette mulai berdiri dari duduknya sambil memegangi mic "ini adalah foto pelaku yang terpotret sedang mengenakan pakaian berwarna hitam dan panjang, dipergelangan tangannya menampilkan biasan cahaya yang cukup menyilaukan dan memberi perubahan warna dalam foto" jelas Violette sambil menunjuk-nunjuk tempat yang disebutnya tadi.
"Sekilas kita pasti tau bahwa ini agak mirip dengan almamater kampus xxx, atau mungkin memang benar pelaku dulunya adalah alumni sekolah itu" jelas Violette kembali.
Seorang pria berjalan mendekat ke arah Violette, sepertinya dia membawa barang bukti langsung, dan ternyata hal itu benar.
"Lapisan berbahan plastik dari almamater ini jika dibalikan maka tidak akan mengenai tubuh pelaku saat menikam korban, aroma tisue basah dari almamater dan jam tangan, dan reaksi adanya kimia menunjukkan adanya darah di jam tangan pelaku sudah dipastikan tetap oleh tim forensik" jelas Violette sambil melihatkan langsung barang bukti yang dibawakan oleh pria dari kepolisian itu tadi"
Mereka kembali memberikan penjelasan pendek secara bergiliran, bukti-bukti kecil yang lainnya di tambah penjelasan tambahan tentang para korban.
Seorang wanita mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan.
Hakim mempersilahkan wanita itu mengajukan pertanyaan nya.
"Ada hal yang cukup membingungkan saya selama ini, kenapa semua korban harus yang mengenakan pakaian berwarna putih?" tanya wanita itu.
Alisya tersenyum tipis mendengar pertanyaan wanita itu "itu karena pelaku ikut menjadikan itu sebagai kedok tambahan untuk kasus pembunuhan ini, karena kebetulan beberapa korban pertama mengenakan pakaian atau dres dengan warna putih, jika tidak celananya putih makan baju nya yang berwana putih, mana tau hal itu nantinya juga akan bisa memunculkan dugaan bahwa pelaku pembunuhan ini adalah seorang pria yang trauma melihat wanita mengenakan pakaian bewarna putih karena teringat dengan tunangan atau mantan pacarnya yang menikah dengan laki-laki lain" jawab Alisya walau sedikit berlebihan dan melenceng dari topik sambil melirik sekilas Fres yang berdiri di belakang pintu masuk hakim.
__ADS_1
Fres hanya diam mendengarkan ucapan Alisya di ruang sidang itu, tak sedikitpun dia berkutik atau tersinggung.
Sidang berakhir dalam waktu yang cukup lama setelah hakim mengetukkan kembali palunya, Geyaa di kenai hukuman penjara seumur hidup karena menilai dari banyak korban yang dibunuhnya.
Sebelum Geyaa di bolong oleh polisi, Alisya berujar sejenak "maaf... sepertinya aku tidak akan bisa mendengar curhatan dan keluhan mu seperti yang dulu aku janjikan" ucap Alisya pada Geyaa.
Geyaa tersenyum tipis "aku tau"
***
Violette telah berada diluar ruang sidang membahas kepulangan nya dengan Riani di telepon.
Alisya masih sedikit bercakap-cakap dengan hakim dan kepala kepolisian.
Seorang wanita dan pria bertubuh kekar berjalan ke arah Alisya.
"Owh kalian... Sir Adalart dan manquer pemabuk" sapa Alisya.
"Jangan lupa baca novel yang aku berikan nona, dan sidangmu tadi sungguh menakjubkan, tali sayangnya tidak bisa aku masukkan dalam cerita komik ku" canda Adalart.
"Hahaha tidak apa-apa sir, aku juga tidak mengharapkan hal itu, walau aku akui aku cukup penasaran jika hal ini dijadikan komik" jawab Alisya.
"Jadi minum-minum dengan ku?" tanya wanita yang dulu juga jadi tersangka itu.
__ADS_1
Alisya tertawa kecil "bukanlah sudah ku bilang tidak manquer?" tanya balik Alisya.