
Aku tau betul bahwa waktu akan terus berlalu
Tapi tidak untuk cerita ku... ataupun cerita mu
Cast Back to Aisyah
Aisyah merasakan perutnya mulai mual, Aisyah segera beranjak dari meja makan langsung ke kamar mandi.
Kening Aisyah berkerut, dia tak menduga akan secepat ini efeknya kelihatan, Aisyah tak mau Andi mengetahui kehamilannya sebelum semua kebingungan dan misteri cinta-cintaan itu terungkap.
Setelah merasakan kondisi tubuhnya yang tidak merasakan perasaan mual itu kembali, Aisyah berbalik berjalan segera ke meja makan.
Andi menatap lama Istrinya itu "ada apa dek?" tanya Andi.
Aisyah menggelengkan kepalanya "seperti nya aku masuk angin mas, semalam karena pulang kemalaman" jelas Aisyah mengelakkan kondisi yang sebenarnya.
Andi menganguk paham mengiyakan ucapan Aisyah, walau masih ternanam kecurigaan dari Andi tentang sikap istrinya itu yang berubah-ubah belakang ini.
Diliat dari segi manapun, Andi tetap tidak mengetahui apa yang ada dipikiran istrinya itu saat ini. Aisyah pamit duluan pada Andi untuk segera ke kantor, karena ada rapat yang harus dihadiri nya pagi ini.
Andi mengangguk sambil menciumi kening Aisyah, selesai Aisyah mencium tangan Andi, Aisyah berbalik dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Andi masih menatap mobil Aisyah yang perlahan menjauh dari rumah mereka, selesai makan Andi kembali menutupi makanan yang bersisa dengan tudung dan kembali ke kamarnya.
Mata Andi langsung terfokus kan pada sebuah buku yang menurutnya tidak ada semalaman di atas meja itu, mungkin saja itu buku novel milik Aisyah yang tertinggal, karena Andi bukan termasuk dalam golongan pembaca novel.
Saat hendak beranjak kembali untuk meneruskan langkah kakinya, langkah Andi terhenti tiba-tiba setelah melihat judul buku itu yang bertuliskan Takdir yang Salah.
Andi menatap jam yang masih menunjukkan pukul 06.35 masih setengah jam kurang lagi untuk berangkat kerja. Andi memilih untuk membaca buku itu dari sinopsis belakang covernya.
Persahabatan 2 gadis yang ditakdirkan untuk menerima tamparan keras dari kisah mereka harus berakhir sirna hanya karena satu kesalahpahaman yang mengakhiri segalanya.
Sejatinya cinta itu sungguh tiba bisa untuk kita tebak, bertahan dalam kenyataan membuat apa yang terjalin perlahan selama ini menjadi putus dengan cepat.
"Aku memang mencintai Gisa" ucap Antoni dengan tatapan matanya yang bergeling tetasan air mata.
Dina terkejut menatap air mata laki-laki yang sangat ia cintai itu jatuh perlahan, baru kali ini Dina melihat suaminya itu meneteskan air mata hanya untuk menyebut nama sahabat baiknya itu.
"Lantas kenapa kamu menikahi ku?" tanya Dina dengan suaranya yang sudah serak akibat bertengkar dalam tangis semalaman.
Andi mengerutkan keningnya membaca sinopsis novel itu "karya Rini Yulianti" gumam Andi sambil berpikir sejenak.
Andi beranjak dari duduknya dan mengambil HP untuk menghubungi sopir kantor agar datang menjemputnya.
"Sepertinya memang pilihan terbaik untuk aku membaca buku ini dulu sebelum sampai di kantor" gumam Andi.
Sambil menunggu mobil kantor datang menjemput, Andi bersiap-siap terlebih dahulu, mengikat dasinya dengan rapi sambil menegangkan jas hitam nya. Ada beberapa pertemuan dengan direktur perusahaan gosip yang harus ditemui Andi setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya lagi di kantor, jadi sebisa mungkin dia harus berpakaian rapi di lengkapi dengan jas.
Selesai bersiap-siap Andi mendengar suara klakson mobil di depan rumah, Andi segera turun dari rumah sambil mengunci pintu dan memastikan mobil nya yang terpakir di halaman sudah terkunci.
__ADS_1
"Sudah semua pak?" tanya sopir itu memastikan kesiapan Andi.
Andi menganguk mengiyakan sambil membuka kembali buku novel yang dipengangnya dari tadi.
Di bab pertama Andi tak menampakkan kejanggalan cerita, semuanya berjalan mulus, karena memang sudah kodratnya konflik selalu bernilai dari pertengahan cerita.
Andi menskip-skip bacaannya agar kelar sebelum sampai di perusahaan. Selang beberapa menit kemudian Andi sampai di bab akhir cerita, setelah banyak nya jalan konflik yang ditemui nya pada pertengahan cerita.
Dengan pupil matanya yang nampak fokus pada setiap tulisan dalam buku itu, mata Andi terus bergerak dari kiri ke kanan lalu kembali lagi dari kanan ke kiri.
Setiap tulisan dalam buku itu mengingatkan Andi kembali tentang apa yang dilihatnya dulu saat kembali ke rumah, yaitu ekspresi dari wajah Aisyah yang tidak terlalu dipikirkan oleh Andi selama ini saat melihat foto-foto Andi selama di Pesantren.
Andi pun sadar betul bahwa saat itu disetiap foto bersama teman-teman lainnya, dia selalu melirik pada Riani.
"Pak... bisa berbelok ke kantor penerbitan Framed?" tanya Andi.
Sopir itu mengangguk dan membanting setir ke kiri, mengambil jalan tikus agar tidak beradu di kemacetan.
Hentakan per hentakan di dalam mobil menemani perjalan Andi menuju kantor tempat Aisyah bekerja.
Andi menyerahkan beberapa lembar uang bewarna hijau pada sopir taxi, dengan langkah kaki yang cepat Andi memasuki kantor Riani bekerja setelah mengkonfirmasi pada bagian resepsionis, Andi langsung menaiki lift ke ruangan penerbit.
Disalah satu pintu di lantai 3 itu ada sebuah ruangan bertulis Ny. Aisyah Aqilah tanpa ragu Andi langsung mengetok pintu dengan pelan.
Tak butuh waktu lama Aisyah keluar dari ruangan setelah menyelesaikan rapats singkat nya tadi. Aisyah keget menatap Andi yang tiba-tiba ada di hadapan nya saat ini.
"Ke... kenapa mas?" tanya Aisyah.
Aisyah melirik jam tangannya sambil menggelengkan kepala "tidak"
"Bisa bicara sebentar?" tanya Andi kembali.
"Bukankah nanti bisa dirumah?" tanya Aisyah kembali.
Andi menggelengkan kepalanya "aku perlu bicara denganmu sekarang!" tegas Andi.
Aisyah mengangguk dengan ekspresi yang nampak masih heran "baiklah" ucap Aisyah sambil mempersilahkan Andi masuk ke dalam ruangannya.
Aisyah duduk di sofa dalam ruangan diikuti oleh Andi yang duduk disebelah Aisyah. Aisyah masih menatap heran Andi, tiba-tiba perutnya kembali merasa mual, Aisyah segera berlari ke toilet kecil dalam ruangannya.
Andi menunggu Aisyah kembali dari toilet sambil memikirkan memulai dari mana obrolannya.
Dalam waktu kurang lebih 3 menit Aisyah kembali duduk disamping Andi "Jadi... ada apa mas?" tanya Aisyah.
"Sebelum itu... apa sakitmu tidak parah? bagaimana kalau kita ke rumah sakit dulu?" tanya Andi mencemaskan keadaan Aisyah.
Aisyah menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil tertawa kecil "tidak apa-apa mas, aku hanya masuk angin, setelah di oleskan minyak kayu putih bakal sembuh kok" jelas Aisyah.
"Tapi dek--"
__ADS_1
"Gak apa-apa mas, jadi ada apa?" tanya Aisyah kembali setelah memotong ucapan Andi.
"Aku berpikir kamu berbeda belakangan ini, sampai aku menemukan buku ini diatas meja" ucap Andi sambil memperlihatkan buku yang ditulis oleh Rini Yulianti itu pada Aisyah.
Mata Aisyah terbelalak menatap buku itu, dari tadi dicarinya ternyata malah tertinggal, Aisyah kembali fokus pada pembicaraan Andi.
"Ada apa memangnya dengan buku itu mas?" tanya Aisyah pura-pura, walau sebenarnya dia sudah tau arahan dari pembicaraan Andi kedepannya.
"Kamu... tidak akan marah ataupun kecewa padaku bukan?" tanya Andi memastikan.
Aisyah mengerut kan keningnya, saat ini pikirannya kembali kacau karena perkataan Andi yang tiba-tiba membuat Aisyah kembali berpikir bahwa Andi memang mencintai kakaknya.
"Awalnya setelah melihatmu melihat foto-foto lama mas saat masih di pesantren, mas masih belum sadar bahwa ada kecurigaan yang mulai muncul dalam dirimu, sampai dengan perlahan dirimu mulai berubah dihadapan mas, namun... saat membaca buku itu, mas menemukan kembali potongan serpihan yang melengkapi semuanya... ditambah dengan pertanyaan teka-teki mu waktu itu tentang racun" Andi diam sejenak sambil menatap Aisyah yang berusaha mendengarkan dengan baik penjelasannya agar tidak muncul kembali kesalahan pahaman.
"Mas... menyukai kakakmu Riani" ucap Andi yang mengejutkan Aisyah.
Aisyah memegang kepalanya karena sakit, diiringi dengan hatinya yang ikut sakit mendengar pengakuan langsung dari suaminya itu.
Nampak secara samar oleh Aisyah eskpresi cemas suaminya itu, tiba-tiba Aisyah langsung pingsan dan terjatuh dari sofa untung saja sempat ditopang Andi terlebih dahulu.
Andi langsung turun ke bawah sambil menggendong istrinya, dengan langkah kaki cepat serta rasa cemas yang berkumpul jadi satu mengekspresikan raut wajah Andi kini.
Selesai mengurus izin Aisyah, Andi langsung mengendarai mobil yang dibawa Aisyah ke kantor tadi menuju rumah sakit terdekat.
Selama perjalanan Aisyah tak kunjung sadar membuat Andi semakin cemas, sesampainya dirumah sakit Andi kembali menggendong Aisyah untuk mendapatkan penanganan Dokter.
Kurang lebih 15 menit menunggu diruang periksa, dokter keluar diikuti oleh seorang suster yang masih mengenakan maskernya sambil membawa beberapa kertas catatan dengan papan besi.
Dokter menyinggingkan senyumnya pada Andi yang nampak masih cemas.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanya Andi sambil berdiri dari duduknya menghampiri Dokter yang baru berjalan selangkah setelah keluar dari pintu.
"Nona Aisyah tidak apa-apa tuan, dia hanya perlu istirahat dan tidak memikirkan banyak hal dulu di proses kehamilannya ini" jelas Dokter.
Andi melipat keningnya karena heran "hamil? maksud anda istri saya hamil Dokter!?" kaget Andi.
"Anda tidak tau tuan? kandungnya sudah memasuki usia 5 Minggu loh?" heran Dokter.
Andi terdiam dalam waktu yang cukup lama.
"Baiklah kalau begitu tuan, Anda bisa menanyakan pada istri Anda langsung tentang hal itu, saya perlu kembali segera untuk mencek keadaaan pasien lain" jelas dokter sambil melangkah pergi dari sisi Andi.
Andi segera menemui Aisyah yang masih terbaring lelah di ranjang rumah sakit.
Aisyah mengalihkan pandangannya dari Andi.
"Dek....kamu hamil?" tanya Andi.
Aisyah masih belum mau menatap suaminya itu, kini Aisyah dilumuri oleh perasaan bersalah pada Andi, namun Aisyah masih sakit hati karena selama ini Andi tidak pernah mengatakan tentang perasaannya terhadap Riani.
__ADS_1
Andi menghela nafas lelahnya karena tau apa yang dipikirkan istrinya itu saat ini.
"Dek... kamu boleh marah maupun kecewa pada mas, mas memang pernah menyukai Riani, kakakmu, wanita hebat dan kuat yang pernah mas temui selama ini" ucap Andi yang terhenti karena Aisyah kembali menunjukkan ekspresi kesalnya.