ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 30


__ADS_3

Jika itu inginmu...


Aku ikhlas. Terima kasih. Dan... sampai nanti


Riani mulai memanggil salah seorang tim forensik yang masih ada disana.


"Bisa tolong matikan AC nya?" tanya Riani diangguki oleh tim forensik itu.


Riani menutup sejenak matanya sambil mendehem pelan "Baiklah semuanya, saya akan mulai menjelaskan. Pertama, tubuh korban atau bisa dibilang tubuh mayat mantan pacar dari Rasy sama sudah terbentang kisaran pukul 11.00 tadi. Itu sama sekali bukanlah pembunuhan atau kecelakaan, tapi itu tindakan yang sudah direncanakan oleh pelaku sendiri" jelas Riani yang membuat kaget semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Enne yang tersenyum mendengar penjelasan Riani.


"Tunggu nona Riani, jika itu bukan kasus pembunuhan atau kecelakaan lalu siapa pelaku yang merencanakan? jika ada pelaku bukankah itu pembunuhan?" sela polisi tadi.


Riani tersenyum tipis mendengar ucapan pak Polisi itu "Pertanyaan yang bagus sir, tapi definisi dari kata 'pelaku' merujuk pada seseorang yang berbuat sebuah tindakan tercela dan merugikan, bisa jadi kata 'Pelaku' yang saya sampaikan tadi adalah 'korban' itu sendiri" jelas Riani kembali.


Penjelasan Riani barusan semakin membuat syok setiap orang yang ada diruangan itu.


"Owh apa sudah selesai yang saya suruh tadi pak?" tanya Enne pada salah seorang petugas forensik yang baru datang tadi.


"Sudah nona" jawab petugas forensik itu.


"Ok kita kembali ke awal, Korban adalah mantan pacar dari Rasy, perempuan yang menyewa kamar apartemen ini. Apa itu benar?" tanya Riani sambil melirik ke arah Rasy.


Rasy menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Riani.


"Yang kedua adalah, dari pendapat salah satu saksi kita tadi, bahwa dia sering melihat seseorang dengan tudung hitam saat malam hari bolak - balik di depan apartemen ini, kemungkinan besar orang dengan tudung hitam tadi adalah mantan pacar Rasy yang tidak lain adalah korban tadi. Ketiga, barusan saja saksi pemilik warung buah di seberang mengatakan ada seseorang dengan mantel hitam di apartemen ini tadi, tapi apakah dia saksi mengatakan orang dengan mantel hitam itu keluar? tidak bukan? jadi sudah dipastikan orang bermantel hitam itu adalah korban sendiri" jelas Riani kembali.


"Apa ada bukti yang bisa dipegang dari ucapan anda ini nona?" tanya pak Polisi menyelidik.

__ADS_1


"Owh anda meragukan argumen saya Sir? tapi tidak masalah karena saya pikir itu adalah hal wajar. Bisa berikan detail mantel hitam yang anda temukan tuan?" tanya Riani pada salah seorang petugas forensik.


Petugas forensik itu mengangukkan kepalanya "Berdasarkan data yang sama dapat dari beberapa benda - benda yang ada dalam ruangan ini, yang paling cocok dengan aroma tubuh korban dan kadar parfum dari pakaian yang dikenakan korban adalah mantel hitam ini" jelas petugas forensik itu sambil memperhatikan mantel hitam yang sudah dibungkusnya dalam plastik.


"Apa anda menemukan mantel hitam lain dari ruangan ini tuan?" tanya Riani kembali.


"Tidak sama sekali nona" jawab petugas forensik itu.


"Baiklah kita lanjut. Keempat" ucap Riani sambil menekukkan lututnya ke arah tempat korban tewas tadi, Riani mengacungkan jari telunjuk nya pada sebuah lubang yang ada ditengah posisi mayat tadi terbentang. "Kalian melihat ini?" tanya Riani sambil kembali berdiri dengan posisi tegak dan menatap kembali petugas forensik tadi "Apakah bekas yang berjejak ini sama dengan ujung pengangan pisau yang menancap dalam tubuh korban tuan?" tanya Riani kembali diangguki oleh petugas forensik.


"Jangan - jang--"


"Yap! seperti yang anda pikirkan sekarang Sir, anda mau saya melanjutkan penjelasan atau anda langsung saja menanyai detail hubungan dan alasan pelaku sampai sejauh ini pada wanita yang duduk disana?" tanya Riani memotong ucapan polisi tadi.


Polisi itu menggelengkan kepalanya "Tidak nona, saya masih ingin tau alasan pelaku sampai mondar - mandir tiap malam ke tempat ini" ucap Polisi itu kembali.


"Baiklah Sir, saya masih punya waktu 5 menit lagi untuk memberi penjelasan" ucap Riani sambil mengambil kertas yang disodorkan oleh Enne padanya.


"Keenam posisi kursi yang seperti dijatuhkan dengan sengaja, itu karena pelaku sendiri melompatkan diri dari atas kursi setelah dia meletakkan pisau dengan pondasi es di sisi yang tepat, saat tubuhnya sudah mengenai lantai otomatis pisau akan langsung menancap jantungnya. Saat jatuh kakinya langsung memundurkan kursi sehingga posisi kursi tidak seimbang dan langsung terbanting ke arah yang lebih sedikit dipakai pelaku saat mengeluarkan tenaganya untuk terjauh dengan cara mendorong kursi ke belakang, agar aksi sebenarnya tidak ketahuan, tapi bisa juga posisi kursi ini adalah ketidaksengajaan, diluar rencana pelaku sendiri yang setelah terjatuh otomatis akan menjadi korban" jelas Riani sambil tersenyum tipis.


"Ada pertanyaan? Owh tentang pertanyaan anda sir, kenapa pelaku sampai mondar - mandir tiap malam kesini? saya masih punya waktu 1 menit untuk menjawab pertanyaan ini. Yah... walau saya tidak yakin si mantan pacar akan menjelaskan hal ini, lebih baik saya jelaskan sendiri agar nantinya proses anda lebih mudah Sir" ucap Riani sambil melirik ke arah Rasy yang nampak menundukkan pandangannya.


"Tidak jarang kita melihat wanita yang suka mempermainkan hati pria, atau pria yang suka mempermainkan hati wanita, saya dengan kamu wanita yang suka menggoda orang yang Rasy? jadi otomatis kamu sering gonta - ganti pacar ya? sampai semua mantan - mantan mu membencimu karena kepergok selingkuh? teman - temanmu menjauhi mu karena bisa jadi kamu menggoda pacar mereka. Saat tau salah satu dari kesekian mantanmu meminta pertanggung jawaban, atau bisa jadi karena dia teramat mencintaimu tapi kau campakkan begitu saja, membuatnya depresi dan selalu mengunjungi mu tiap malam agar dapat kepastian tentang rasa mu padanya, alasan kenapa dia harus datang malam? karena dari pagi sampai sore kau harus kuliah dan mencari korban selanjutnya bukan? karena tidak ada lagi pria yang mau padamu, akhirnya kau memanfaatkan kebaikan seorang pria yang sudah memiliki istri, tapi itu hanya dugaan ku, kau bisa membantahnya Rasy" ucap Riani sambil menunggu jawaban dari Rasy.


"Sepertinya kau tidak mau menjawab ya? pada hal aku sudah memberikan kamu kesempatan untuk berbohong loh? jika tebakan ku benar bisa saja kau berbohong agar terbebas kan? tapi sepertinya hal ini membuatmu sangat terpuruk. Sebenarnya ini bukan lah gayaku untuk membuat seorang wanita sampai terpojok, tapi karena alasan status dan pekerjaan ku aku harus mampu untuk bersikap Profesional. Karena tau kebiasaan mu itu, mantan pacar mu yang malang itu selalu datang tiap malam, tapi kau tidak pernah keluar rumah tiap malam karena takut atau malas untuk menemuinya, rasa sayangnya padamu membuat ia jadi terlampau kecewa karena tidak kau anggap, sampai akhirnya dia memilih untuk lenyap selamanya dari dunia, mungkin dia berfikir ini adalah keinginanmu. Tapi itu tidak benar bukan? alasan kenapa dia membuat kejadian berdarah ini dirumahmu adalah karena agar kau tau, bahkan matipun dia rela agar kau bisa mengingatnya untuk selamanya, aku tarik kembali tentang posisi kursi tadi, karena itu benar adalah kenyataan bahwa kursi itu terjatuh tanpa disengaja, aku menemukan ini di kantong bajunya" ucap Riani sambil memperlihatkan surat dengan noda darah ditangannya.


Rasy berdiri dari duduknya, mengambil surat yang disodorkan Riani tadi padanya, mata Rasy terbelalak kaget melihat surat itu, Rasy kemudian menangis sejadi - jadinya. Dia memeluk erat Riani sampai berulang kali mengucapkan kata 'Terima Kasih'

__ADS_1


Enne terpana kaget melihat surat yang dikeluarkan oleh Riani tadi.


Aku mencintaimu, jangan merasa bersalah atas segalanya, dan terima kasih kau sudah mau jujur... juga terima kasih atas waktu yang pernah ada, aku memilih pergi.


"Bisa saya baca isi suratnya?" tanya polisi itu pada Rasy.


Rasy menganggukkan kepalanya lalu menyodorkan surat itu pada pak Polisi.


Albern ikut kaget melihat surat itu, Albern melirik ke arah Riani yang tersenyum dengan raut mata yang sayu padanya.


"Baiklah, dari surat ini kita bisa tau bahwa kasus ini adalah keinginan dari pelaku sendiri, kita akan menghubungi keluarga pelaku atau bisa dibilang pria malang karena cinta itu" sambung pak Polisi.


"Tidak sir, dia yatim piatu dan tidak ada sanak saudara, Syur hanya tinggal sendirian di kota ini, biar aku saja yang membantu dan bertanggung jawab atas pemakamannya" jelas Rasy diangguki oleh pak Polisi.


"Tapi sebelum itu tetap kami masih harus membutuhkan penjelasan anda di kantor polisi nona, tuan Albern, bisa anda ikut kami juga? karena sepertinya diantara semua yang ada disini hanya anda yang dekat dengan nona Rasy, Tagi! tolong panggilkan ke-3 saksi tadi kita akan ke kantor dan anda tuan Vank bisa ikut kami juga? sepertinya anda juga cukup dekat dengan nona Rasy!" seru pak Polisi itu.


Polisi yang bernama Tagi itu kembali ke luar memanggil ke-3 saksi tadi, Vank juga menganggukkan kepalanya mendengar perintah polisi itu.


"Nona Riani, nona Enne. Terima kasih atas kerjasamanya, kalau begitu kami pamit dulu" ucap polisi itu sambil melangkah keluar meninggalkan ruangan.


Polisi yang lain mulai menambah garis hitam kuning di sekitaran TKP.


Albern tersenyum kecil pada Riani sambil berbisik pelan "Terima kasih kamu sudah membantunya" bisik Albern pelan saat melewati Riani.


"Aku tunggu penjelasan dan imbalannya" bisik Riani kembali sambil melangkah pergi dari apartemen itu.


"Baiklah Vank! karena Enne sudah membalikan semua buku dan komik mu, Enne juga sudah mengambil CD punya Enne, karena Vank akan ikut ke kantor polisi, maka Enne dan Riani akan balik kerja lagi! sampai nanti!" ucap Enne sambil menepuk keras bahu Vank.

__ADS_1


"Tapi kalau Vank tidak tepat waktu lagi... liat saja ya!" ancam Enne sambil berbalik pergi meninggalkan Vank.


"Lain kali bawa kembali CD itu, aku belum selesai menonton semuanya!" teriak Vank diangguki oleh Enne.


__ADS_2