ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 33


__ADS_3

Mungkin ikhlas adalah pilihan terbaik


Atas apa yang dulu pernah terjadi


Karena masa lalu itu sejarah


Masa kini adalah anugrah


Dan masa depan adalah kehendak Allah.


Rasy kembali melanjutkan penjelasannya.


"Orang yang pertama kali kulihat saat itu adalah seorang wanita muda dengan baju berwarna hitam putih yang dikenakannya, dia tersenyum lembut padaku, dan kakak tau? itu adalah senyum paling tulus yang pernah aku lihat selama hidupku. Kata pertama yang dilontarkannya saat aku membuka mata adalah 'Apa kamu baik - baik saja?' aku tercengang lama, tanpa sadar air mataku jatuh karena itu juga untuk pertama kalinya ada orang yang menghawatirkan kan ku" jelas Rasy sambil tersenyum tipis mengenang kisahnya dulu.


Riani masih diam dan mendengarnya dengan seksama.


Rasy kembali menghela panjang nafasnya "Sejak saat itu aku merasa bersyukur untuk masih hidup, untuk pertama kalinya aku merasa sebahagia ini, bertemu dengan banyak keluarga baru dan teman - teman yang sebaya denganku, aku dulu berfikir 'Apakah ini yang dinamakan surga itu?' tapi semuanya hanya sementara, kebahagiaan itu kandas begitu saja. Wanita muda yang merawatku itu terpuruk rapuh, untuk pertama kalinya aku melihat wanita itu menangis dan bersimpuh di depan gerbang bangunan sederhana tempat kami tinggal itu. Semua uang donasi dan surat tanah panti asuhan itu dibawa kabur oleh seorang pria yang sering membantu wanita muda itu dulu, dia menyebutnya dengan 'Pacar' setelah itu wanita muda itu membawa kami ke sebuah bangunan tidak layak pakai, malamnya kami tidur dengan alas kardus tanpa makanan atau pun minuman disana, esoknya wanita muda itu gantung diri, meninggalkan kami bersepuluh disana, kami menangis deras dan terisak-isak beberapa hari kemudian 5 teman - teman yang sudah aku anggap saudara itu mati kelaparan, aku tidak kuat lagi untuk hidup, kami berlima yang hanya tersisa malah berpencar, beruntungnya aku dipungut oleh seorang wanita tua yang tidak memiliki anak, aku disekolahkan, diberi makan dan tempat yang layak, sampai dibangku SMA wanita tua itu meninggal." Rasy kembali terdiam, memasukkan wajahnya dibalik telapak tangannya.


"Orang - orang yang ada disekitarku rasanya mati begitu cepat, aku tidak goyah saat itu, aku kembali ke panti asuhan dulu, mencari informasi tentang alasan kenapa panti tidak bisa berdiri lagi, padahal uang donasi ada, pasti banyak orang yang memberi donasi untuk sebuah panti kecil seperti kami, tapi... saat itu aku baru tau, bahwa panti itu didirikan dengan menggunakan uang pribadi wanita muda yang mengasuh kami dulu, donasi panti kami berasal dari uang angsuran kontrakan miliknya yang sudah dijual oleh pacarnya itu. Jelas aku geram, tidak hanya mama, bahkan wanita muda itu harus merasa kan pengkhianatan dari seorang pria" sambung Rasy sambil menyeruput kembali minuman yang ada di atas meja.


"Sejak saat itulah aku membenci semua laki - laki, saat acara kelulusan di SMA, ada seorang laki - laki yang menyatakan cintanya padaku, dia pintar, baik, walau pun berasal dari keluarga dengan ekonomi yang sederhana, aku terdiam saat dia menyatakan cintanya padaku, dia mengajakku untuk berpacaran, tapi kisah yang kualami dulu menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupku, sekaligus itu adalah ajang bagiku untuk balas dendam, aku menerima ajakannya, kami mulai berpacaran, sampai ada seorang pria yang aku temui di bar merayuku, aku paling benci pria seperti itu, aku ingin mematahkannya dan aku menerima ajakan dia untuk berpacaran, sejak saat itulah aku selingkuh, aku menggoroti semua uang pria kaya yang aku temui di bar itu, sampai aku bosan aku memutuskan nya, aku lanjut mencari korban tapi masih dengan status berpacaran dengan teman SMA ku itu, dia tau aku selingkuh, dia menanyai ku, menanyai tentang perasaan ku padanya, tapi aku tidak menjawab dan meminta putus dengannya lalu pergi begitu saja, aku membalikkan badan dan melihatnya bersimpuh dengan air mata, untuk pertama kalinya aku melihatnya seperti itu" jelas Rasy sambil tersenyum tipis dengan raut mata yang nampak sayu.


"Setelah saat itu dia sering mengunjungi ku, tapi tidak aku hiraukan, untuk waktu yang cukup lama dia tidak lagi menemui ku, sampai beberapa Minggu lalu, dia menemui ku dan berkata 'ternyata aku memang sangat mencintai mu, aku tidak bisa jauh darimu Rasy, tolong... beri aku kesempatan sekali lagi' mendengar perkataannya itu aku langsung lari dan sore harinya ku lihat dia masih menunggu di apartemen ku, aku jadi cemas dan meminta tolong pada pacarku agar mau menemani ku pulang ke apartemen, saat melihatku dengan cowok baru, mantan pacarku itu terdiam dan pergi begitu saja. Aku bernafas lega, namun esoknya dia kembali datang, aku sudah putus dengan pacarku itu, aku tidak mempunyai waktu untuk menggoda pria lain, atau bisa dibilang... aku tidak ada niat untuk melakukan hal itu lagi, melihatnya semangat nya setiap saat, aku akui hati ku luluh, sempat aku berpikir 'tidak semua pria sejahanam itu' tapi... aku takut, akhirnya aku minta tolong pada sir Albern untuk membantuku menjelaskan hal ini padanya, karena di kampus hanya sir Albern yang tau siapa aku, yang pernah memergoki ku dengan banyak laki - laki lain, walau kebanyakan anak - anak di kampus juga tau siapa aku, tapi mereka mengacuhkannya. 2 hari yang lalu aku memintai tolong pada sir Albern, tapi mantan pacarku itu tidak ada, aku pikir dia sudah menyerah dan setiap malam dia ke apartemen ku jujur aku tidak tau sama sekali, sampai tadi... aku berjumpa dengan sir Albern diseberang jalan menuju kampus, sir Albern memberi ku tumpangan sekaligus menanyai tentang mantan pacarku itu, karena aku lupa bawa Kamus, sir Albern mengantarku kembali ke apartemen, dan di mobil pesan masuk di HP ku, mantan pacarku itu entah darimana dia mendapatkan nomor baruku aku tidak tau, di mengirim pesan 'Ini aku, ada yang ingin aku tunjukkan padamu, datanglah segera ke apartemen mu' aku tau itu dia karena foto profil yang dipasang nya. Turun dari mobil aku meminta sir Albern menemaniku, namun siapa sangka kejadian itu malah terjadi" sambung Rasy sambil memasukkan kembali wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya.


Rasy menangis sejadi - jadinya selama lebih dari 10 menit, Riani sampai kewalahan untuk menenangkan Rasy.

__ADS_1


Rasy berdiri dari duduknya sambil menyandang kembali tasnya "Terima kasih sudah mendengar kan cerita membosankan ku kak, aku harap kakak dan sir Albern juga cepat diberi momongan dan limpahi lah anak kalian nanti dengan kasih sayang tapi jangan berlebihan, jangan biarkan dia merasakan pahit hidup seperti aku, hahaha aku tidak pantas ya berkata seperti ini. Kalau begitu aku pamit kak" ucap Rasy sambil melangkah keluar.


"Tunggu dulu Rasy! ayo kita makan malam bersama, kakak sudah menyuruh mas Albern membelikan makanan" sahut Riani.


Rasy tersenyum lebar pada Riani sambil menggelengkan kepalanya "Terima kasih banyak kak, tapi aku tidak ada nafsu untuk makan, aku juga tidak ingin menyusahkan kalian lagi, tolong sampaikan terima kasih dan maafku pada Sir Albern, dan maaf... aku pamit kak Riani" ucap Rasy sambil melangkah pergi meninggalkan apartemen itu.


Riani melambaikan tangannya pada Rasy dengan menyungginkan bibirnya tersenyum tipis.


Selang beberapa menit kemudian Albern datang sambil membawa beberapa bungkus makanan dan cemilan di tangannya.


"Rasy mana?" tanya Albern pada Riani yang sedang menyalami punggung tangannya.


"Udah pulang" jawab Riani sambil mengambil beberapa kantong dari tangan Albern.


"Owh tadi Rasy juga menitip Terima kasih dan ucapan maaf pada mas" ujar Riani.


"Maaf untuk apa?" tanya Albern.


"Entahlah" jawab Riani sambil duduk di meja makan.


"Owh iya mas, Rasy udah menjelaskan semuanya pada aku, ternyata mas baik juga ya" ledek Riani sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya.


"Owh kamu pikir selama ini mas jahat?" tanya Albern menyelidik.


"Hahaha enggak kok, oh iya mas... aku besok harus ke Indonesia lagi, mengantar Aren yang proses magangnya udah selesai sekalian menanyai dan mengunjungi Alisya" jelas Riani.

__ADS_1


"Kamu tidak ke tempat si Andi itu kan?" tanya Albern kembali menyelidik.


"Iya, aku sekalian mau lihat kandungan Aisyah" sambung Riani.


"Kandungan Aisyah atau adik iparmu?" ledek Albern.


"Hahaha mas cemburu ya? Rasy kan udah ada" ledek Riani kembali sambil menyeruput air putihnya.


"Omong - omong soal kandungan, perut kamu udah isi belum?" tanya Albern.


"Udah, barusan di isi sama nasi dan sambal" jawab Riani sambil tertawa cengengesan.


Albern nampak cemberut atas candaan Riani "Aku mau bayi dari kamu dong" ucap Albern sambil memeluk Riani yang tengah mencuri piring makannya.


Riani membalikkan tubuhnya ke hadapan Albern "Kita berusaha dulu saja ya, urusan diberi atau tidak itu urusan Allah" ucap Riani sambil tersenyum tipis pada Albern dan kembali mencuci piringnya.


"Mau dibantu?" tanya Albern diangguki oleh Riani.


"Omong - omong kalau kamu ke Indonesia besok, mau nginap di rumah siapa? Andi?" tanya Albern kembali sambil mengelap piring basah yang sudah dicuci.


"Hmmm... palingan di hotel atau karena aku ada urusan dengan Alisya bisa jadi aku menginap dirumahnya, lagian aku di Indonesia hanya 2 hari 1 malam" jawab Riani.


Riani dan Albern langsung menatap kaget satu sama lain, mereka baru ingat suatu hal yang sangat penting setelah obrolan singkat tadi.


Riani langsung berlari kecil ke kamarnya dan Albern melangkah segera ke meja makan.

__ADS_1


__ADS_2