
Bunyi ketikan keyboard diikuti oleh iringan jari-jari Riani yang bergerak cepat menekan bergiliran tombol-tombol di keyboard laptopnya.
Sambil menyeduh kopi panas yang ada diseberang meja kerjanya Riani terus mengetik cepat dokumen yang harus diselesaikan malam ini.
Tiba-tiba telpon yang ada meja barunya berbunyi, Riani heran karena mikirkan siapa yang menelponnya selarut ini, sedangkan Riani sudah izin pulang malam dengan suaminya, dan Albern pun ada urusan diluar kota malam ini.
Riani memutuskan mengangkat telepon itu untuk menghilangkan rasa penasarannya.
Terdengar suara seorang wanita yang asing bagi Riani dengan lafas Indonesia nya yang jelas, tak seorangpun yang Riani kenal memiliki intonasi suara yang seperti ini di Indonesia.
"Benar dengan saya" jawab Riani setelah mendengar wanita itu mengucapkan halo, apa benar ini dengan nona Riani Putri?
"Perkenalkan saya Alisya Fitri dari kampus xxx" ucap suara wanita itu yang tidak lain ternyata adalah Alisya.
Riani langsung terkejut mendengar nama itu "Wah... senang mendengar kamu menghubungi saya Alisya" ucap Riani.
"Sebelumnya maaf menganggu waktu anda malam-malam begini, jika perkiraan saya benar, mungkin sekarang waktu di Perancis berkitaran pukul 11 malam?" tanya Alisya kembali diiyakan oleh Riani.
"Saya tidak bisa menghubungi anda dengan nomor saya, karena nomor internasional milik anda, terlebih saya tidak punya cukup pulsa untuk menghubungi nomor anda, jadi saya harus meminjam telepon kampus" jelas Alisya yang dapat dimengerti oleh Riani.
"Saya paham Alisya, jadi kapan waktu kamu bisa segera mendatangi firma?" tanya balik Riani.
Alisya tertawa kecil dari seberang telepon "kenapa anda sangat yakin bahwa saya akan menerima ajakan anda itu?" tanya Alisya kembali.
"Karena saya yakin bahwa gadis hebat seperti mu tidak akan menyia-nyiakan peluang yang saya berikan" ucap Riani.
"Hahaha dibanding sebagai pengacara, menurut saya anda lebih baik menjadi penjilat saja nona Riani, saya menghubungi anda bukan karena ketertarikan saya dengan firma confiance, tapi karena kesepakatan yang nampak menggiurkan yang anda janjikan pada saya" jelas Alisya.
Riani merasa tertampar di katakan sebagai penjilat oleh orang yang baru pertama kali berbicara padanya, mungkin ini adalah perasaan yang sama yang dirasakan oleh Manquer Pamela saat mendengar kalimat pertama dari Riani tentangnya.
Riani hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang diutarakan Alisya padanya.
"Hahaha sepertinya saya tidak salah untuk mengirim surat berisi kesepakatan itu pada anda" tawa Riani kembali.
"Anda memang sama sekali tidak salah nona, jadi setelah semua tugas saya terkirim maka saya akan kembali menghubungi anda secepatnya" balas Alisya.
"Saya tidak sebodoh itu Alisya, kamu bisa saja menolak wawancara dengan kami karena alasan tugas, saya tau betul alasan mu yang sebenarnya adalah kontrak pekerjaan mu di diskotik belum selesai, dan jika kamu berhenti maka kamu akan dikenakan denda oleh pemilik diskotik sesuai isi surat kontrak mu pertama kali dengan wanita itu" jelas balik Riani.
Alisya nampak kaget mendengar penjelasan Riani "Sebagai penjilat, saya akui anda juga berbakat untuk menjadi stalker handal nona, hahaha apa semua orang di Firma Confiance itu seperti ini?" tanya Alisya.
Riani mengerut kan keningnya mendengar perkataan Alisya "dari kalimat dan nada bicaramu, seperti nya kamu tidak menyukai firma kami ya?" tanya Riani.
"Cukup disayangkan bakat anda tersia-siakan nona" ujar Alisya tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa maksudmu!?" tanya Riani dengan nada suara yang sedikit membentak.
"Saya rasa anda tau betul apa maksud saya, sudah dulu nona Riani, saya harus segera ke tempat kerja" jawab Alisya sambil langsung menutup telponnya.
Riani menghela nafas panjangnya "sepertinya aku harus menghilangkan perasaan ku saat berbicara dengan anak ini" gumam Riani nampak kesal. Riani kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Cast Back to Aisyah
Aisyah duduk di sebuah cafe menunggu kedatangan Rini Yulianti, gadis penulis yang dulu menyerahkan naskahnya langsung pada Aisyah.
Selang 10 menit Aisyah menunggu sambil menyeruput mochacino panasnya, gadis itu datang dengan masih memakai seragam putih abu-abu nya.
"Maaf kak... tadi aku ingat baru ada piket kelas" jelas gadis itu mengatakan alasan keterlambatannya.
Aisyah tersenyum tipis pada gadis itu "tidak apa, silahkan duduk, kamu mau pesan apa?" tanya Aisyah.
"Eh... aku air putih hangat saja" jawab Rini.
Aisyah memanggilkan pelayan cafe untuk memesan air putih hangat pesanan Rini.
Selang beberapa menit pelayan itu kembali datang membawakan air putih hangat.
"Kamu sedang flu?" tanya Aisyah pada Rini yang sedang menyeruput minumannya.
"Biasanya banyak remaja yang habis pulang sekolah panas-panasan memilih untuk sekedar meminum air putih atau es, berbeda dengan kamu yang malah memilih air panas dan lagi bukan yang mengandung gula" tebak Aisyah.
Rini tertawa cengengesan "iya kak, belakangan ini aku lagi flu sama batuk, jadi harus banyak banyak konsumsi air putih yang hangat biar tenggorokan ku gak memunculkan suara serak" jawab Rini.
Aisyah mengangguk paham, itu juga hal yang biasa dilakukannya saat sedang flu maupun batuk.
Rini masih menyeruput air putih hangatnya, seraya menunggu pendapat Aisyah tentang naskahnya, sedangkan Aisyah menopang dagunya dengan tangan kanan sambil menatap lama pemandangan jalan raya di balik jendela kafe lantai 2 itu.
Rini memilih diam karena tak enak untuk menanyakan hal itu terlebih dahulu, apalagi kondisi nya yang terlambat, malah membuat Rini semakin tak enak hati untuk membuka obrolan. Namun Rini tetap merasakan bahwa kini suasana hati Aisyah sudah lebih baik daripada saat dia bertemu lusa kemaren.
Aisyah masih sibuk menatap kendaraan yang berlalu lalang dari balik kaca lantai 2 kafe itu, 2 menit kemudian Aisyah memalingkan pandangan kembali pada Rini.
"Bisa saya liat ending dari cerita yang kamu tulis kemaren lusa?" tanya Aisyah.
Rini mengangguk cepat sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi banyak tumpukan tulisan yang di rapikan dengan penjepit kertas.
Aisyah membuka lembaran naksah baru yang diketik oleh Rini kembali, untuk mengetahui akhir dari cerita yang ditulis gadis itu.
__ADS_1
Sania menangis tersedu, beban yang ditanggungnya kini telah lepas, ditemani oleh hantaman ombak lautan malam yang kuat diiringi dengan terpaan angin laut yang menyerbakkan pakaian dan rambut panjang Sania.
Air mata Sania lenyap seketika ditepis oleh angin laut malam, tanpa sedikitpun menyisakan gelombang air di matanya, suara tangisan kesedihan Sania tertutupi dengan samar oleh suara ombak laut yang lantang.
Sania tersenyum tipis mengingat kembali cinta pertamanya yang telah hilang, atau sejatinya telah berpulang pada orang yang tepat, yang kini menyisakan luka untuk Sania.
Suaminya atau boleh disebut mantan suaminya, cinta pertama Sania, laki-laki terhebat bagi Sania setelah ayahnya, kini dia telah kembali ke pelukan yang tepat, yang tak lain adalah sahabat terbaik Sania yang telah dianggap sebagai saudara nya sendiri oleh Sania.
Sania terpaksa mengikhlaskan ke dua insan itu bersatu, walau Rakry suami Sania awalnya tak enak hati untuk menceraikan Sania begitu saja, namun Sania memilih mengambil langkah duluan untuk menceraikan Rakry, walau pada akhirnya Sania yang paling sakit menanggung kenyataan hidup yang kini menampar nya amat perih.
Sania tak ingin terikat dalam drama kehidupan yang menyayak hatinya, apalah gunanya bagi Sania untuk hidup bersama orang yang bahkan sama sekali tak mencintai nya, dengan laki-laki yang selama ini hanya menganggap Sania sebagai pelariannya.
Walau tak ada yang menyambut erat tangan Sania kini, namun Sania tetap memilih tersenyum, karena inilah takdir yang tepat untuknya, memilih sendiri dalam diam kembali.
Aisyah terpana setelah membaca lembaran tulisan akhir dari naskah milik Rini, akhir cerita yang begitu menyedihkan, pemeran utama yang selama ini di idolakan dalam cerita harus amat tersiksa karena lelaki kurang ajar yang mempermainkan cintanya.
Aisyah menutup naskah itu sambil menatap Rini dengan senyum tipisnya "besok datanglah kembali ke kantor, tapi sebelum itu pulanglah kerumah dan ganti pakaian mu dulu, kita akan membahas penerbitan, cover, dan anggaran untuk novel barumu" jelas Alisya.
Rini kaget dan tersenyum puas, dia begitu senang naskahnya diterima dan akan segera diterbitkan. Rini langsung mengangguk cepat hingga tanpa sadar air matanya bahagianya jatuh perlahan membasahi meja yang ada di depannya sambil memeluk erat Aisyah dengan ucapan terimakasih yang selalu dibisikkannya berulang kali.
"Mau ku antar pulang?" tanya Aisyah pada Rini yang masih sibuk mengeluarkan ingus nya dengan tisu karena habis menangis.
Rini menggelengkan kepalanya "tidak usah kak, soalnya nanti aku mau ke toko buku dulu" jelas Rini.
Aisyah diam sejenak "ke toko buku? boleh aku ikut?" tanya Aisyah.
"Eh... ?" heran Rini.
Aisyah mengemudikan mobilnya menuju toko buku besar yang berjarak lumayan jauh dari cafe "kakak tidak ke kantor?" tanya Rini heran.
Aisyah tertawa mendengar pertanyaan Rini "untuk hari ini tidak dulu, karena bagiamanapun tugas kamu para editor memang lebih banyak di luar, mencari inspirasi, mencari bakat baru, dan lain-lain yang berkaitan dengan dunia ke penulisan, terlebih aku sudah lama tidak ke toko buku" jawab Aisyah.
Rini tersenyum sambil tersenyum menganggukkan jawaban Aisyah.
"Oh iya Rini... kamu tau? nama mu itu hampir mirip dengan nama seseorang yang sangat aku sayangi" ucap Aisyah.
"Wah siapa kak?" tanya Rini.
Aisyah tersenyum tipis "dia wanita yang hebat, cerdas, cantik, baik hati, dan keluarga ku satu-satunya, bahkan jika ada suatu hal yang membuat salah seorang dari kita harus melakukan sebuah pengorbanan besar, maka aku akan bersedia, aku akan berdiri paling depan untuk berkorban demi dia, walau nyawaku taruhannya atau mungkin hati ku yang akan jadi taruhannya, aku ikhlas asal bisa melihat senyumannya" jelas Aisyah.
Rini terdiam sejenak, tidak tau harus menjawab atau memberi tanggapan seperti apa pada ucapan Aisyah itu.
"Kalau boleh Rini tau... siapa wanita itu kak?" tanya Rini.
__ADS_1
"Namanya Riani, jika huruf a yang berdiri di tengah itu dihilangkan, maka akan mirip seperti namamu... Rini, dia kakak ku, wanita yang selama ini menjaga ku, wanita yang jadi motifasi ku untuk bertahan hidup setelah kepergian kedua orang tua kami, hahaha lucu bukan? aku malah menceritakan hal memalukan ini padamu" tawa Aisyah yang nampak masih tengah menahan air matanya agar tidak keluar di hadapan Rini.
Rini tersenyum menatap Aisyah "tidak apa kak, malah mendengar kisah kakak, aku jadi semakin merasa dekat dengan kakak, aku yakin bahwa kak Riani juga berpikiran yang sama dengan kak Aisyah, Rini yakin bahwa kak Riani juga akan berdiri sambil mengandeng tangan kak Aisyah saat berdiri paling depan" ujar Rini yang membuat Aisyah terdiam.