
Karena sejatinya...
Tak ada yang bisa menebak hati dan pikiran seseorang
Jadi... biarkan semua berjalan lancar seperti saat ini
Kirana mengenggam tangan Abra "tidakkah kamu mau menjelaskan padaku?" tanya Kirana.
Abra menatap kaget Kirana "apa jangan-jangan dulu Riani juga mencintai Andi?"
Kirana mengalihkan segera pandangannya sejenak dan kembali fokus pada Abra sambil menganggukan kepalanya.
Abra memegang kepalanya dengan kedua tangannya, dia tidak percaya bahwa apa yang terjadi selama ini tidak sesuai dengan skenario yang ada, atau mungkin rasa takut untuk diutarakan dalam sebuah pengakuan nyata.
"Kenapa?" heran Kirana.
Abra menggelengkan kepalanya "seandainya saat itu Andi mengetahui perasaan Riani, mungkin mereka kini bisa saja telah bersama" ucap Abra.
Kirana tersenyum sambil menggelengkan kepalanya "walaupun mereka saling mencintai dalam diam, namun Allah memilih mereka untuk tidak berjodoh, dan kita tidak bisa melawan takdir hidup yang telah ditetapkan itu, hanya saja... aku heran dalam hal ini, kenapa Andi memilih mengungkapkan perasaan pada Aisyah dan sejak kapan sebenarnya Andi menyukai Aisyah? apa benar Andi menyukai Aisyah? apa itu tulus? atau sekedar tempat untuk dia mengagumi Riani dalam diam?" heran Kirana.
Abra menghela nafasnya "entahlah... aku pun tak tau akan hal itu, biarkan saja semuanya jadi misteri jalan cinta Andi, dan lagi... aku percaya pada Andi, dia tak akan tega mempermainkan hati seorang wanita demi wanita yang dicintainya, terlebih mereka berdua adalah saudara" ucap Abra sambil kembali menggendong buah hatinya.
Kirana menopang dagunya pada sebuah meja sambil berpikir keras.
"Apa lagi yang kamu pikirkan Kirana?" tanya Abra.
Kirana hanya diam tidak menanggapi pertanyaan suaminya itu, pikiran Kirana saat ini sedang berkecamuk, apa ini memang takdir terbaik untuk mereka? namun lagi-lagi Kirana tidak ingin mencampuri ketetapan yang telah Allah takdirkan untuk sahabatnya itu.
***
Albern membentang tubuhnya dalam ruangan dalam tenda yang hanya berukuran 2×2 meter itu, Albern memperhatikan Riani yang masih sibuk dengan HP-nya.
"Bukankah sebelum ini kamu bilang sedang belajar mencintai ku lebih dalam lagi?" tanya Albern.
Riani menganguk "iya.. terus kenapa?"
__ADS_1
Albern mendesis lama "bagaimana bisa kamu mencintai ku dengan dalam jika kamu selalu sibuk dengan smartphone mu itu?"
Riani langsung mematikan hp nya dan menggeserkan tubuhnya dekat Albern "mau makan malam bersama sebelum kembali ke bandara?" ajak Riani diangguki oleh Albern.
Mereka membereskan barang bawaan mereka dan melaporkan pembukaan tenda sewaan pada pemilik dengan biaya sewa tambahan yang akan mereka bayar, Riani memberhentikan salah satu taxi yang lewat menuju sebuah restoran halal dekat bandara.
Setelah sampai di restoran, Albern menanyai pada seorang pelayan tentang sebuah ruangan yang kosong untuk mereka shalat, selesai berwudhu mata Albern fokus tanpa berkedip menatap seorang wanita yang tak asing lagi dengannya tengah bertengkar hebat dengan seorang pria yang juga sudah dikenal akrab oleh Albern.
"Ada apa sayang?" tanya Riani.
Albern tersentak kaget mendengar suara Riani yang muncul tiba-tiba.
"Ah! bukankah itu Manquer pamela dan--"
"Sudahlah ayo kita shalat!" seru Albern sambil menarik tangan Riani menjauh dari tempat mereka berdiri tadi.
Riani diseret Albern dengan cepat, sedangkan mata Riani masih terfokus pada kedua pasangan yang akan menikah itu.
Setelah menyelesaikan shalat, mereka makan bersama sebelum kembali ke bandara, Riani menolehkan kepalanya ke setiap arah ruangan restoran itu.
Riani menggelengkan kepalanya sambil cengengesan.
Albern menghela nafas lelahnya, dia tau saat ini Riani tengah penasaran dan mencari manquer pamela bersama calon suaminya yang tadi mereka seperti orang yang tengah adu mulut.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di bandara dan kembali terbang ke kota tempat tinggal mereka, setelah check out kembali dari bandara, Riani dan Albern segara naik taxi untuk pulang ke apartemen mereka.
Dengan serentak Riani dan Albern menghempaskan tubuh mereka ke kasur sambil menghela nafas panjang.
Riani menatap heran suaminya begitupun dengan Albern yang menatap heran Riani, kemudian mereka tertawa bersama, menertawakan tingkah serentak mereka.
Setelah puas tertawa Riani langsung tertidur dengan nyenyak, Albern menyadari Riani telah tidur dan mengelus lembut kepala istrinya itu.
"Terimakasih" gumam Albern sambil terus menatap wajah manis Riani yang tengah tertidur.
Ting...
__ADS_1
Albern menatap cahaya yang ada diatas mejanya, Albern berjalan pelan ke arah meja dan mendapati pesan masuk dari Hp nya sehingga hidup dan bercahaya jelas di kamar mereka yang telah gelap karena lampu yang dimatikan.
Mata Albern terbelalak kaget membaca pesan masuk itu, Albern tak percaya semua ini adalah nyata adanya.
Albern kembali menengok ke arah Riani yang tengah tertidur nyenyak, Albern langsung merobek sebuah kertas dalam buku yang ada diatas meja dan mengambil pena seraya menuliskan kalimat dalam kertas itu dengan cepat.
Kertas yang telah bertintakan itu dibiarkan Albern tergeletak diatas meja, Albern segera mengambil jaketnya dan keluar dari kamar sekaligus langsung ke parkiran untuk mengambil mobilnya.
Albern menghidupkan setir dan langsung menekan pedal gas, jalanan yang nampak sepi diiringi oleh lampu-lampu jalan yang tersusun rapi dan berwarna orange kekuningan itu mengiri jalan mobil yang dikemudikan Albern.
Albern menginjak rem mobilnya, tepat setelah sampai disebuah rumah mewah dengan banyak koleksi bunga-bunga yang cantik dan berwarna menghiasi halaman rumah tingkat 2 itu.
Albern segera menaiki satu persatu tangga diluar rumah untuk sampai ke lantai 2 rumah mewah itu yang lampu ruangan itu masih nampak hidup terang dibanding lampu rumah tetangga lainnya yang sudah mati.
Albern mengetok pintu perlahan dan mendapati seorang pria yang dikenalnya akrab sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sambil terpana menatap Albern di sudut pintu ruangan yang telah dibukanya.
Pria itu mendesis tidak jelas pada Albern sambil meneguk kembali alkohol yang sedang dipengangnya dengan ceoat.
Albern menepikan semua alkohol yang ada dimeja pria itu "apa maksud mu ini semua!?" tanya Albern dengan nada membentak.
Pria itu tak menghiraukan pertanyaan Albern dan menggeser duduknya pelan ke tempat Alkohol milik nya yang telah disingkirkan Albern dari hadapannya.
"Carlson! kau kenapa?!" bentak Albern sambil menggoyang-goyangan tubuh pria itu yang nampak sudah hampir tak sadarkan diri.
Dengan seketika pria yang tadi ditemuinya di restoran, yang dipanggil Albern dengan panggilan Carlson yang tidak lain adalah calon suami dari Pamela Oswald, pemimpin firma confiance tempat istrinya bekerja itu, seketika pria itu terjatuh dan pingsan karena kebanyakan meminum Alkohol.
Albern kembali menghela nafas lelahnya, entah ini sudah ke berapa kalinya Albern menghela nafas terhadap hari-hari yang dilewatinya belakangan ini.
Dengan sigap Albern membuang semua botol Alkohol yang dihabiskan oleh Carlson tadi dan ikut tertidur karena sudah terlanjur terlalu lelah dan mengantuk.
***
Riani membuka matanya perlahan dan langsung beralih posisi dari yang awalnya tidur sampai duduk di atas ranjangnya, Riani menatap sekeliling kamarnya mencari sosok suaminya yang tidak kelihatan batang hidungnya itu.
Mata Riani terfokuskan pada secarik kertas di atas meja yang semalam masih tidak ada nampak oleh Riani, Riani menghela nafasnya setelah membaca tulisan tangan yang tidak asing lagi baginya, disurat itu bertuliskan Maaf sayang... aku pergi dulu entah sebenar atau lama, aku ada urusan penting dengan Carlson jadi jangan menungguku
__ADS_1
Riani kembali meletakkan surat yang sudah dibacanya itu dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.