ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 44


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu...


Semua akan berubah dengan sangat cepat, bahkan tidak bisa untuk kita duga dan perkirakan.


Kenyataan... Seringkali membuat kita sampai melupakan fakta bahwa kita telah kalah sebelum berjuang.


Namun lagi-lagi harapan kembali muncul dan menguatkan bathin serta keinginan kita dari diri kita sendiri.


Cast Back to Alisya


Masih dalam jangka waktu yang sama setelah sarapan tadi.


Alisya masih sibuk bermain dengan keyboard laptopnya sambil sekali-sekali melirik ke arah Aren yang duduk diam karena tidak ingin menganggu Alisya.


"Ada yang ingin kamu bicarakan Ren?" tanya Alisya yang sadar menatap ekspresi Aren.


"Kamu baik-baik saja kan Sya? setelah semua yang terjadi?" tanya Aren.


"Hahaha tenang aja, aku baik kok. Lagian yang berlalu biarkan aja berlalu. Kita hanya perlu fokus pada apa yang ada didepan kita sekarang" jawab Alisya sambil kembali fokus pada laptopnya.


Aren tersenyum lega mendengar jawaban Alisya. Kini pandangan Aren terfokuskan pada Dimas yang berjalan pelan ke arahnya.


"Aku udah wangi belum Ren?" tanya Dimas sambil menciumi kiri kanannya.


"Hahaha kamu masih anggap serius perkataan ku tadi? aku bercanda doang kok" tawa Aren puas.


"Yah... aku pikir beneran, tapi syukur deh" jawab Dimas sambil duduk disebelah Aren.


"Kalian pacaran jangan di depan gue dah!" ucap Alisya kesal.


"Haha kami gak pacaran kok Sya, kan waktu itu udah putus" jawab Aren.


"Lah? kita sekarang gak pacaran Ren!? jadi hubungan kita sekarang apa?" tahta Dimas kaget.


"Siapa bilang kita sekarang pacaran? kan kamu yang udah ninggalin aku dulu. Karena aku baik hati makanya aku mau beri kamu kesempatan sekali lagi, tapi dengan syarat orang tua mu merestui hubungan kita" jelas Aren.


"Aku gak pernah ninggalin kamu Ren, saat itu orang tuaku tiba-tiba menjodohkan aku, memaksa untuk bertunangan apapun caranya aku menolak dan beralasan, mereka tidak menghiraukan aku. Mereka menyuruh aku minta putus lewat chat dengan kamu, harus di depan mata mereka, aku gak sempat konfirmasi dengan kamu, aku pun tak ingin dicap sebagai anak durhaka. Karena itu aku terpaksa mengatakan hal itu padamu, esoknya aku disuruh kencan sama anak yang dijodohkan oleh orang tuaku, aku tidak bisa menemui karna kamu sedang ada di Perancis dan chat pun tak kamu balas. Aku tau kamu memblokir nomorku, seminggu sebelum acara lamaran aku memutuskan untuk menyusul ke Perancis, dengan sisa uang tabunganku yang langsung aku cairkan jadi uang, dan menstranfer sebagian ke rekening baru, agar orang tuaku tidak bisa mengosongkan saldo ku. Setelah itu aku memesan tiket yang paling murah demi menghemat pengeluaran, jangka waktunya satu Minggu, aku menunggu dengan sabar dalam satu Minggu itu yang seharusnya adalah hari lamaran. Aku memutuskan kabur malamnya diam-diam tanpa membawa apa-apa selain dompet. Karena jika aku membawa HP pasti bakal dilacak, lagian karena kamu memblokir ku, tak ada juga gunanya HP aku bawa" jelas Dimas panjang, lebar, dan rinci.

__ADS_1


"Sudah cerita kisah perjuangan Lo agar diakui sama sahabat gue?" tanya Riani sambil beringsut ke samping Dimas. "Ini ada profesi yang kosong diperusahaan karena karyawannya telah pensiun. Setelah gue pikir-pikir lebih baik Lo di posisi ini saja dari pada membantu mama gue atau jadi manajernya" jelas Alisya sambil memperlihatkan tulisan di laptopnya pada Dimas dan Aren.


"Lo yakin menyerah kan profesi ini pada gue Sya!?" tanya Dimas kaget.


"Kenapa enggak? lagian gajinya lumayan loh daripada gaji Lo diperusahaan bokap Lo. Gimana setuju gak? dengan ini Lo bisa jaminin masa depan dengan Aren? apalagi status Aren yang sekarang sudah kontrak dengan firma confiance" jelas Alisya kembali.


"Tapi bukannya posisi ini harus keluarga dekat? atau pemegang saham terbanyak?" tanya Dimas masih ragu.


"Tenang aja, gue yakin kok sama kemampuan Lo. Hitung-hitung balas budi gue dulu ke lo. Kalian bisa langsung ke perusahaan gue temui wakil direktur nya karena gue udah konfirmasi sama dia. Kebetulan jurusan Lo juga sesuai sama basic yang diinginkan oleh wakil direktur sebagai sekretaris nya. Mana tau setelah dia pensiun Lo bisa jadi wakil direktur diperusahaan gue. hahaha, setelah itu jangan lupa minta restu sama orang tua Lo, gue juga udah bilangin Lo bisa kerjanya besok. Ya udah, gue ke kampus dulu ya!" ucap Alisya sambil membawa kembali laptopnya dan berjalan ke arah kamar.


"Sya! terima kasih ya!" ujar Aren dan Dimas bersamaan.


Alisya menolehkan pandangannya ke belakang sambil tersenyum tipis. "Sama-sama" jawab Alisya yang langsung melanjutkan langkahnya.


"Mau ke sana sekarang? kamu juga butuh pakaian baru kan? setelah dari perusahaan Alisya kita ke rumah mu habis itu ke mall beli baju ya? aku dapat uang dari magang selama di Firma Confiance" jelas Aren diangguki oleh Dimas.


"Terima kasih ya Ren, aku beruntung punya wanita seperti kamu disisiku" ucap Dimas sambil memeluk erat Aren.


Alisya menatap 2 pasang ke kasih itu di tangga rumahnya sambil tersenyum tipis. "Yah... semoga kalian berhasil" gumam Alisya yang kembali melangkah ke kamarnya.


"Permisi pak" ucap Dimas sambil melangkah masuk, sedangkan Aren menunggu diluar karena tidak ingin menganggu.


"Kamu Dimas? yang dikatakan oleh nak Alisya?" tanya wakil direktur.


Dimas mengangguk mengiyakan. "Iya saya sendiri pak" jawab Dimas.


"Baiklah Dimas, pertama saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya menerima kamu bukan karena permintaan dari nak Alisya saja, tapi karena pengalaman kerja dan jurusan mu. Jadi jangan mengecewakan kepercayaan saya dan nak Alisya. Dan lagi saya juga tengah sedang mencari sekretaris baru, kebetulan nak Alisya menganjurkan kamu. Saya tidak ingin sembarangan orang kecuali yang bisa dipercaya. Kamu juga akan mulai bekerja besok kan? kalau begitu nanti malam saya akan mengirim file tentang apa saja pekerjaan mu, tuliskan e-mail mu disini" ucap Wakil direktur itu.


Dimas bingung apa yang harus dilakukannya saat ini, dia tidak memiliki HP atau pun laptop saat ini. Tidak mungkin dia akan menulis kan e-mail lamanya.


"Pak. Saya tidak ada e-mail" jawab Dimas.


"Eh? kenapa bisa? apakah gadgetmu hilang?" tanya wakil direktur itu.


Dimas menyadari kalau Alisya tidak akan mengatakan pada wakil direktur ini tentang keadaan dirinya sekarang.


"Sebenarnya kamu bisa mengunakan e-mail sekretaris lama saya yang itu adalah e-mail khusus. Tapi karena kamu harus membaca dulu rincian tugasmu, kamu tidak mung-- eh kamu bisa membawa laptop ini. Ini memang laptop yang saya sediakan khusus untuk sekretaris, boleh dibawa pulang, nanti saya akan memberi rincian tugas. Kamu juga boleh membaca e-mail lain sebagai referensi" jelas wakil direktur itu sambil menyodorkan laptop yang diambilnya dari laci meja pada Dimas.

__ADS_1


Dimas mengambil laptop yang ada ditangan wakil direktur itu. "Terima kasih kalau begitu pak" ucap Dimas.


"Baiklah. Selamat bergabung di perusahaan kami" ucap wakil direktur itu sambil menyalami tangan Dimas.


Dimas keluar dari ruangan, Aren yang menunggu Dimas di meja sekretaris yang kosong langsung berdiri dari duduknya. "Cie... ini tas laptop. Kamu dikasih laptop ya?" tanya Aren.


"Ini untuk kerja kok, kalau gitu ayo sekarang kita ke rumah ku" ucap Dimas.


Aren diam sejenak setelah mendengar perkataan Dimas tadi. "Kamu gak masalah kalau kita pergi hari ini? bukankah kemaren lusa hari lamaran? kamu tidak takut akan langsung dicaci-caci sama keluarga mu?" tanya Aren khawatir.


"Hahaha lebih cepat lebih baik bukan. Lagian kamu menganggap keluarga aku setega itu ya? sampai mencaci-caci anaknya sendiri. Tapi aku yakin mereka akan menerima kamu setelah melihat langsung dirimu dan perjuangan ku" ucap Dimas sambil mengandeng tangan Aren keluar dari perusahaan itu.


Mereka sekarang kembali naik taxi yang terparkir kan rapi di luar gerbang perusahaan. Aren dan Dimas langsung masuk menuju rumah keluarga Dimas.


Setelah duduk lama 15 menit di Taxi, tanpa adanya kemacetan. Mereka sampai didepan gerbang rumah Dimas.


Dimas dan Aren menghela panjang nafas mereka dengan serentak. Dimas melirik ke arah Aren, begitupun dengan Aren. Kemudian mereka tertawa bersama.


"Semoga berhasil ya" ucap Aren.


"Harus berhasil!" sambung Dimas bersemangat.


"Lah nak Dimas? tuan sama nyonya lusa kemaren marah banget saat tau nak Dimas kabur dari rumah, muka mereka langsung memerah kayak bab-- eh kayak pantat panci" ledek bapak tua yang berseragam satpam di rumah Dimas sambil membukakan pagar untuk Dimas.


"Pak To... nanti saya laporin loh ke mama sama papa" ucap Dimas sambil tertawa kecil.


"Heh... jangan atuh nak Dimas, saya kan cuman bercanda" ucap Satpam yang dianggap Dimas dengan sebutan Pak To itu. "Omong-omong eneng yang cantik ini teh pacarnya nak Dimas?" tanya Pak To.


"Bukan Pak!" sahut Aren sambil tersenyum tipis pada Dimas yang kaget.


"Iya bukan pacar saya Pak To, tapi calon Istri" sambung Dimas sambil tertawa cengengesan pada Aren yang cemberut.


"Owalah gitu toh, jadi ceritanya mau minta restu sama tuan dan nyonya ya?" tanya Pak To diangguki oleh Dimas dan Aren. "Kalau begitu silahkan masuk" ucap Pak To sambil mendorong pagar ke kanan.


"Terima kasih ya Pak To" ucap Dimas dan Aren serentak.


"Wah barengan nih, emang jodoh kayaknya" ledek Pak To yang membuat wajah Aren dan Dimas langsung memerah karena malu.

__ADS_1


__ADS_2