
Jika mengalah adalah solusi paling pas
Maka aku ikhlas
Agar belenggu candu yang mengikat kita lepas.
Riani pulang lebih cepat dari biasanya, selesai mendengar permintaan Coty dan penjelasan dari Aren, Riani langsung meluncur kembali ke apartemen firma Confiance dulu untuk mengambil barang - barangnya yang tertinggal disana dengan menaiki taxi bersama Aren yang juga harus menyiapkan barang - barangnya dulu untuk kembali ke Indonesia.
Selesai mengemas barangnya Riani mampir ke apartemen Aren untuk pamitan dan kembali menaiki taxi yang ditumpanginya tadi menunggu Riani.
Riani menoleh sekeliling apartemen. "Mas Albern kayaknya masih diluar" gumam Riani sambil berjalan pelan menuju kamarnya.
Riani meletakkan kembali barang - barangnya di atas meja dalam kamar dan membawa pakaiannya yang dari apartemen Firma Confiance tadi ke belakang tempat mesin cuci.
Selesai memasukkan sabun dan pakaian Riani memutar tombol mesin dan diam sejenak menatap dirinya di kaca yang ada di sebelah mesin cuci. Riani menghela panjang nafasnya menatap sekeliling rumah untuk waktu yang cukup lama kemudian mematikan mesin lalu setelah mengeluarkan pakaiannya Riani langsung menjemurnya di ruangan sebelah yang terbuka untuk menjemur pakaian.
Riani kembali ke kamar, membuka laptopnya lalu melihat waktu tepat keberangkatan pesawat yang telah dipesankan oleh Coty, Helikopter firma tidak bisa digunakan karena sudah dipesan dulu oleh Madam Mavey dan Madam Acrel untuk kepulangan mereka dan untuk esoknya sudah di pesan oleh Aimee dan Cammy.
Riani langsung beringsut dari duduknya setelah mendengar bunyi bel apartemen.
Riani membukakan pintu dan menatap lama 2 orang yang ada didepannya.
"Assalamualaikum" salam Albern.
"Waalaikumsalam" jawab Riani.
Riani masih menatap Rasy yang sedari tadi menundukkan pandangan nya "kamu tidak apa - apa?" tanya Riani dengan memasang wajah khawatir nya.
__ADS_1
Rasy langsung memeluk erat Riani dan menangis sejadi - jadinya dalam pelukan Riani.
Riani menatap suaminya, Albern. Albern menyungginkan senyum tipisnya pada Riani lalu melangkah masuk ke dalam sambil menepuk lembut bahu Riani.
Riani masih tidak bisa bergerak karena dipeluk erat oleh Rasy.
"Ra... Rasy" gumam Riani lirih karena sudah tidak bisa untuk mengambil nafas.
Rasy langsung melepas pelukannya dari Riani "Terima kasih kak... terima kasih sekali lagi dan maaf sudah menyusahkan" gumam Rasy lirih, terlihat jelas dari ekspresi nya dia merasa amat bersalah.
Riani meletakkan kedua tangannya di bahu Rasy "Tidak masalah, aku tidak tau alasan kenapa kamu selalu bergonta ganti pacar atau selingkuh, itu hak mu. Tapi aku harap setelah kejadian ini, kamu jadi sadar diri, tobat, dan minta maaf lah pada setiap perasaan yang telah kamu permainkan, jangan pacaran dengan orang lain jika kamu tidak benar - benar tulus pada mereka" jelas Riani sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Rasy menganggukkan kepalanya "Boleh aku curhat dengan kakak?" tanya Rasy.
Riani diam sejenak sambil menengok ke dalam rumah.
"Tidak, ayo masuk saja. Lebih enak kalau di dalam kan?" tanya Riani sambil tersenyum dan menarik tangan Rasy agar ikut masuk.
"Tunggu sebentar ya" ucap Riani sambil melangkah ke kamarnya.
"Mas... bisa tolong belikan jus dan beberapa cemilan di minimarket? sekalian beliin makan malam ya! aku tadi tidak memasak!" seru Riani pada Albern yang tengah melepas kemejanya.
"Owh baiklah, mas ganti baju dulu" jawab Albern sambil memasang baju kaos yang ada di atas kasur.
Riani masih di depan pintu menunggu Albern sampai benar - benar keluar.
"Lama - lamain ya" ucap Riani sambil tersenyum tipis pada Albern.
__ADS_1
Albern diam sejenak, mencerna apa maksud perkataan Riani "Rasy masih ada?" bisik Albern.
Riani menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu jangan panas - panas ya" ledek Albern sambil berlari kecil agar tidak di tabok oleh Riani.
Riani menghela panjang nafasnya sambil bergegas ke dapur untuk membuatkan minum dan melangkah kembali ke ruangan depan.
"Rasy... ayo minum dulu?" ucap Riani sambil duduk disebelah Rasy dan meletakkan 2 gelas minuman yang dibawanya.
Rasy menyungginkan senyum tipisnya pada Riani "Maaf merepotkan kak" ucap Rasy sambil menyuruh jus jeruk yang dibawakan oleh Riani.
"Gak merepotkan kok, malah kakak senang ada teman ngobrol" ucap Riani sambil tertawa kecil.
"Aku gak tau apa aku pantas ngomongin hal ini ke kakak, kita baru kenal dan bahkan aku memanfaatkan suami kakak, Sir Albern." Ucap Rasy memulai pembicaraan kembali sambil meletakkan minumannya kembali ke atas meja.
Riani menepuk pelan pindah Rasy "Kamu jangan merasa bersalah karena hal itu, kalau kamu gak jadi ngomongin gak apa - apa kok, tapi kalau itu rasanya memberat kan hati dan pikiran mu, maka kakak siap mendengar kan" jelas Riani.
Rasy menatap sayu Riani, dia sedang menahan air matanya agar tidak mengalir ditempat itu. "Sir Albern, beruntung ya punya istri kayak kakak, kakak pun juga beruntung punya suami seperti Sir Albern. Ternyata benar kaalimat yang sering aku baca itu, bahwa orang baik akan berjodoh dengan orang baik, walau tau aku wanita yang seperti apa, tapi Sir Albern tetap mau membantuku, menasehati ku, sekejam apapun nasehat yang dilontarkannya padaku, dia tetap melakukannya agar aku bisa berubah, mau membantuku walau nantinya dia akan terlibat lebih dalam lagi dalam masalah ku" ucap Rasy sambil menundukkan pandangannya.
"Dari kecil, aku sudah tidak pernah mendepatkan kasih sayang, kisah ku tak seperti anak - anak lainnya. Masa kecil mereka dipenuhi dengan kasih sayang dari kedua orang tua mereka atau setidaknya salah satu dari orang tua mereka, seperti papa, mama atau kakek neneknya. Setidaknya walau tidak dipenuhi akan kasih sayang, mereka dipenuhi oleh harta yang berlimpah, jika pun tidak, hidup mereka aman, baik, dan damai. Sedangkan aku... dari kecil harus selalu mendengar kan perdebatan kedua orang tuaku, papa yang selingkuh atau mama yang selingkuh, dan pelampiasan amarah mereka berdua adalah aku, dari pagi sampai malam mereka tidak pernah pulang ke rumah, aku dibiarkan seorang diri tanpa makan, minum, atau pun uang jajan. Disaat anak - anak lain sudah duduk di bangku sekolah, aku masih berdiam diri di tempat gelap itu, mengambil minum dari air keran yang dibangku taman, mengonsumsi makanan dari sisa - sisa makanan yang tidak dibuang ke tempat sampah oleh para pengunjung taman" jelas Rasy lalu diam sejenak, tak bisa lagi matanya menahan cairan hangat itu, dengan cepat air mata Rasy jatuh membahasi pipi nya.
Riani menyodorkan tisu yang ada disebelahnya pada Rasy, Rasy menoleh dan langsung mengambil tisu itu "Terima kasih kak" gumam Rasy lirih dengan suara seraknya.
"8 hari setelah aku hanya memakan sisa - sisa makanan yang ada ditaman, saat hendak kembali ke rumah, kecelakaan itu terjadi, di depan mataku papa melayang terbang di tabrak sebuah mobil tanpa nomor plat yang langsung melarikan diri. Saat itu entah kenapa air mataku tak keluar diseberang aku melihat mama yang nampak syok, tapi kemudian dia tersenyum dan tanpa sengaja mata kami bertatapan, mama menatap sinis diriku dari kejauhan itu lalu pergi meninggalkan papa tanpa menolong nya. Mungkin saat itu, aku telah terbentuk menjadi seorang psikopat, aku pergi menjauh, berlari sejauh - jauhnya, membiarkan papa yang terkapar, namun entah kenapa setelah lari cukup jauh, air mata ku keluar, entah itu air mata kesedihan karena kehilangan atau malah kebahagiaan karena aku sudah terbebas dari kedua hewan buas itu." Rasy mengenggam erat tisu yang ada ditangannya sambil menatap lama tisu yang sudah basah karena air matanya itu.
"Saat aku ingin berbalik ke tempat papa, aku sudah lupa arah, aku tidak tau lagi saat itu aku dimana, tiba - tiba kepala ku sakit, bayangan hitam menghantui ku... aku terjatuh dan saat sadar, aku sudah ada di sebuah tempat yang berwarna... tidak gelap lagi seperti tempat ku dulu, tempat itu dinamakan panti asuhan oleh orang - orang yang ada disana" sambung Rasy sambil menarik kembali tisu yang ada didepannya.
__ADS_1