
Jeruji besi terlihat jelas dan melingkar banyak di jalan yang kini tengah mereka lalui menuju ruang interogasi rahasia.
Suara hentakan kaki 5 orang yang menelusuri kegelapan itu terdengar cukup jelas, dengan jalan yang dipimpin dan disenteri oleh polisi itu mereka jadi bisa melihat jalan depan cukup jelas.
Alisya menoleh kiri kanan memperhatikan para tahanan yang nampak lesu dan melirik cuek pada mereka berlima, seraya menghela nafas Alisya kembali fokus pada tujuan.
"Omong-omong kenapa kita harus diinterogasi pada ruangan rahasia?" tanya pria dengan jaket hitam itu.
"Karena sangat memungkinkan 100% diantara kalian adalah pelaku pembunuhan berantai ini!" tegas Alisya.
"Tap--"
"Sudah sampai" ujar polisi itu memotong pembicaraan pria dengan jaket hitam.
Klien yang meminta firma confiance dalam membantu menangani kasus ini yaitu Kepala kepolisian itu sendiri, kini sudah berdiri dihadapan mereka.
Alisya langsung menghampiri kepala kepolisian itu seraya berkenalan secara langsung, setelah bercakap sebentar Alisya berbisik pada kepala kepolisian itu.
"Bisa kita mulai sekarang saja Sir?" tanya Alisya diangguki oleh kepala kepolisian.
"Fres, kamu ikut di interogasi juga" ucap kepala kepolisian itu pada anak buahnya yang dari tadi bersama Alisya dan yang lainnya.
"Tapi kapten, saya hany--" protes polisi yang bernama Fres itu.
Kepala kepolisian langsung memotong protes-an dari Fres "saya percaya padamu Fres, ini demi keadilan" ucap kepala kepolisian itu yang membuat Fres langsung diam.
Interogasi dipercayakan kepada Alisya dan seorang jendral wanita muda yang baru sampai tadi, interogasi pertama dilakukan kepala polisi bernama Fres itu.
Pintu ditutup rapat, pembicaraan di ruangan itu sama sekali tidak kedengaran dari luar, karena ini adalah ruangan kedap suara. Kepala kepolisian itu berserta beberapa anak buahnya masih menunggu diluar bersama 3 tersangka lainnya.
Alisya menyingkirkan gelas minuman yang ada dihadapannya kini ke ujung meja seraya fokus pada polisi bernama Fres itu kini.
"Sir Fres... pada saat kejadian anda muncul dari mana? tepatnya berapa menit setelah pekikan itu terdengar?" tanya Alisya kembali.
"Saya muncul dari sisi kiri dan seperti yang saya bilang sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan jam saat sampai namun kemungkinan besar itu 2 menit setelah saya mendengar pekikan itu tepatnya pukul 3 pagi tadi" jelas Polisi Fres dengan yakin.
Alisya menganguk mengiyakan ucapan pria itu "apa biasanya anda juga menangani kasus ini dari pertama kali di temukan korban?" tanya Alisya kembali diangguki oleh Fres.
Jendral wanita muda yang kini berdiri disamping Alisya hanya diam memperhatikan interogasi singkat itu, karena tugasnya hanya melindungi dan mencegah jika ada kekerasan saat interogasi.
Polisi Fres keluar dari ruangan interogasi, kini yang duduk dihadapan Alisya adalah pria kekar dengan jeket hitam yang dikenakannya.
"Silahkan tanyakan secepatnya, saya harus kembali pulang ke rumah, pekerjaan saya sudah menumpuk" jelas pria itu dengan tatapan muak dan sinisnya.
Alisya tau jelas bukan pria itu pelakunya, karena postur tubuhnya cukup besar dari orang pertama yang dilihatnya dari jendela hotel tadi, namun demi keadilan dia harus mengintrogasi dengan benar, mana tau dugaan Alisya ternyata salah.
"Omong-omong sir, apa pekerjaan anda?" tanya Alisya.
"Saya komikus freelance" jawabnya cuek.
Alisya cukup terkejut mendengar jawaban dari pria itu, ternyata benar dugaan bahwa orang tidak bisa dinilai dari tampang ataupun penampilannya.
__ADS_1
"Genre apa?" tanya Alisya penasaran.
Pria itu tau Alisya sedang melenceng dari topiknya, namun dia juga cukup suka untuk membahas cerita dengan orang lain.
"Saya biasanya menerima dan menulis genre drama dan romantis" jawab Pria itu.
Lagi-lagi Alisya ditampar oleh kenyataan yang cukup menegangkan, pria kekar dengan wajah ala mafia itu ternyata penulis freelance komik romance drama.
Alisya mendehem pelan "baiklah, kita kembali ke topik sir, saat kejadian sir muncul darimana? dan kenapa bisa ada disana?" tanya Alisya.
"Saya muncul dari barat, saat itu saya baru balik dari minimarket gang 2 untuk membeli makanan penganjel perut saya saat mengambar, jadi anda bisa memastikan waktu saya keluar dari minimarket dan berjalan sampai sana, dan itu bisa menjadi bukti jelas bahwa saya tidak bisa membunuh wanita itu" jelas pria itu.
"Kalau begitu kenapa saya tidak melihat barang yang anda beli Sir?" tanya Alisya kembali.
Pria itu membuka jaketnya dan memperlihatkan sepotong besar roti yang dibelinya beserta susu sachet dalam jaketnya itu.
Alisya terpana cukup jelas, awalnya dia berpikir mungkin perut pria itu memang buncit, namun siapa sangka ternyata isinya adalah makanan.
"Anda tinggal dimana Sir?" tanya Alisya.
"Saya tinggal di gang 4, saat hendak berbelok saya mendengar teriakan dari gang 6, jadi saya langsung berlari kesana dan bertemu dengan 3 orang itu" jelas pria itu.
"Siapa yang nafasnya paling ngos-ngosan saat itu?" tanya Alisya.
Pria itu berpikir sejenak sambil menatap langit-langit ruangan itu "kalau tidak salah, mahasiswi dengan almamater hitam itu" jawabnya.
Alisya menganguk "baiklah sir, anda bisa mengerjakan pekerjaan anda dulu, saya akan mengatakan pada kepala kepolisian itu mengizinkan anda menyelesaikan tugas, namun tetap dalam pengawasan kami, karena kami masih butuh info dari anda" jelas Alisya.
Jendral itu mengangguk sambil keluar dari ruangan bersama Pria tadi.
Kini wanita dengan topi hitam yang duduk dihadapan Alisya.
Alisya tersenyum tipis pada wanita itu.
"Kalau boleh saya tau, apa anda masih dalam efek alkohol manquer?" tanya Alisya.
Wanita itu mengernyitkan keningnya "bisa cepat diselesaikan? dari kemaren saya diterpa masalah yang sangat berat, diputuskan pacar, hampir di pecat oleh bos, kini terikat kasus pembunuhan berantai pula" keluh wanita itu sambil merapikan topi di kepalanya.
Alisya hanya tersenyum tipis mendengar curhatan wanita itu "bisa anda jelaskan kenapa anda bisa ada disana manquer?" tanya Alisya.
Wanita itu menghela nafas lelahnya "setelah saya menjelaskan tolong carikan pacar baru untuk saya" wanita itu diam sejenak sambil menghela nafasnya "saya baru balik dari bar gang 2, saya terus berjalan tanpa arah, saya tau ada pembunuhan berantai di area jalan itu, malah saya sempat pasrah akan hidup saya jadi saya tidak akan sedih jika harus jadi korban, terlebih saya pernah dengar rumor bahwa pembunuh itu hanya akan membunuh wanita dengan sehelai ataupun setitik warna putih saja yang dikenakan dalam berpenampilan bukan? hahaha saya sadar semua yang saya kenakan berwarna hitam, mungkin saja si pembunuh itu adalah laki-laki yang ditinggal nikah saat lagi sayang-sayang nya, makanya dia dendam dan otomatis jadi trauma kembali setelah melihat perempuan rambut panjang dengan pakaian putih, sejauh ini korban adalah perempuan rambut panjang bukan? lagi-lagi saya tidak memenuhi persyaratan itu karena rambut saya hanya sebahu hahaha" tawa wanita itu nampak puas.
Dia kembali memberi penjelasan nya "setelah sampai di gang ke-5, saya mendengar pekikan hebat dari gang sebelah, jadi saya berlari kesana dan tidak sengaja juga bersenggolan dengan pria kekar jaket hitam itu, tapi sayangnya dia bukan tipe saya" jelas wanita itu.
Wanita itu juga muncul dari arah barat, maka kecil pula kemungkinan bahwa dialah pelakunya.
"Anda tinggal dimana Manquer?" tanya Alisya.
"Saya tinggal di daerah Rechin, saya hanya berjalan-jalan malam sampai menghilangkan sedikit rasa mabuk saya" jelas wanita itu.
Jarak 2 menit kini mahasiswi dengan almamater bertudung hitam itu duduk dengan postur yang baik dihadapan Alisya.
__ADS_1
"Kamu tinggal dimana?" tanya Alisya langsung.
"Xoi De Jalan Sinree Winter gang 8 blok Ds-077" jawab mahasiswi itu dengan tepat dan jelas.
"Bukankah itu terlalu jauh dari jalan La Rochelle?" tanya Alisya.
Mahasiswi itu mengalihkan pandangannya sejenak dari Alisya "apakah salah jika aku ada disana?" tanya mahasiswi itu.
"Owh tentu tidak... hanya saja kamu tidak boleh loh ada disana tengah malam" ucap Alisya dengan tatapan sedikit menyelidik.
Suasana hening sejenak, jendral wanita tadi masuk kembali ke dalam ruangan itu setelah menyelesaikan beberapa urusannya tadi, Alisya memberi kode agar tidak perlu ditemani, ada hal yang perlu dibicarakan nya berdua saja dengan mahasiswi ini.
Jendral itu paham akan kode yang diberikan Alisya dan mengangguk lalu segera keluar dari ruangan.
"Ada dendam apa kamu dengan pembunuh itu? apa kamu mengenalnya?" tanya Alisya.
Mahasiswi itu cukup terkejut mendengar ucapan Alisya "aku tidak mengenal nya, oleh karena itu aku berkeliling disini mencari keberadaan nya, mana tau dia melakukan aksi kembali malam ini, namun ternyata aku terlambat dan dia sudah pergi atau bisa jadi sudah merubah penampilan dan berbaur bersama kami saat itu" jelas mahasiswi itu nampak geram.
"Kalau boleh aku tau, menurut mu siapa pelakunya diantara ke-3 orang itu?" tanya Alisya kembali.
"Antara pria berjaket hitam dan wanita dengan topi hitam" jawabnya kurang yakin.
"Kenapa kamu tidak memasukkan polisi itu?" tanya Alisya penasaran.
"Itu sudah menjadi tugasnya untuk berkeliling tiap malam demi keamanan, dan terlebih dia sepertinya orang baik-baik" jawab mahasiswi itu.
"Hahaha jadi kamu menilai mereka dari penampilan? baiklah kalau begitu... dari penampilan pria jaket hitam itu memang cukup memungkinkan... namun bagaimana dengan wanita topi hitam?" tanya Alisya kembali.
"Aku muak melihat wajah nya yang seolah-olah sedang putus cinta, jadi bisa saja selama ini dia geram kenapa wanita yang merebut pacar atau suaminya dan melampiaskan pada wanita lain yang berpenampilan sama dengan pelacur itu! sehingga dengan disengaja dia membunuh teman baikku yang baru pulang dari belajar kelompok!" jelas mahasiswi itu.
Jawabannya itu menjadi alasan jelas kenapa dia bisa dendam dengan si pembunuh berantai.
"Kalau boleh aku tau... temanmu itu korban ke berapa? dan apa yang dikenakannya saat itu?" tanya Alisya.
"Dia korban ke-3, dan seingat ku saat itu dia mengenakan jeans hitam dan kaos berwarna biru" jawab mahasiswi itu.
Alisya diam sejenak jadi motifnya kemungkin terbesar bukanlah ditinggal menikah, karena gaun pengantin di kota ini dominan putih, lantas kenapa tiap korbannya harus wanita berambut panjang dengan penampilan yang ada berwarna putih? Pikir Alisya, menyadari kebingungan nya tadi, Alisya langsung tersentak kaget karena menyadari sesuatu yang cukup jelas dan tak terduga.
Alisya menatap sebentar mahasiswi itu "kamu merasakan ada yang mengganjal saat itu?" tanya Alisya kembali.
Mahasiswi itu diam sejenak "sekilas aku mencium aroma wangi, mungkin seperti aroma sabun... oh iya! itu aroma tisu basah!" seru mahasiswi itu yang tanpa sadar berdiri dari kursinya.
Jendral wanita yang memantau dari balik kaca itu langsung masuk melihat tindakan tiba-tiba mahasiswi itu tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi karena dia tak bisa mendengar percakapan mereka dari luar.
Mendengar bunyi suara pintu yang dibuka tiba-tiba membuat Alisya dan Mahasiswi yang dalam kondisi tegang itu jadi kaget.
"Ada apa jendral?" tanya Alisya.
Jendral wanita itu juga jadi bingung, ternyata dugaannya salah. Alisya menyadari hal itu dan tersenyum tipis.
"Kami tidak bertengkar jendral" ucap Alisya yang membuat mahasiswi tadi ternganga karena dianggap sedang bertengkar dengan Alisya, sedangkan jendral wanita yang salah paham itu wajahnya merah padam karena malu.
__ADS_1