
Aksara rasa yang tak kunjung peka akan hati yang datang merindu
Kegigihan cinta yang begitu hebat menguasai pori-pori diri
Pekerjaanku melukai ceritaku, melukai keluargaku...
Namun menggapai hasil menjadi seperti sekarang... Merenggut waktuku
Masa kecilku dipenuhi akan perjuangan
Dan masa mudaku dipenuhi dengan ilmu
Sedangkan masa dimana aku telah memilikimu... dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang yang teramat dalam, pastinya tak melebihi rasaku pada sang pencipta -- pembolak-balik hati manusia
2 pasang kekasih itu sedang melepas rindu di bandara, mereka saling berpelukan dan bersaliman ditengah ramainya suasana bandara itu.
Riani dan Violette melambaikan tangan mereka ke suami mereka masing-masing sambil berjalan menjauh dari pandangan suaminya.
Albern dan Iven sudah menatap Rindu kepergian istri tercinta mereka, tapi Iven masih beruntung karena ada buah hati yang menemaninya, berbeda dengan Albern yang nantinya saat tidur dan setelah bangun tidur tidak akan melihat wajah Riani kembali.
***
Enne dan Chloe duduk dimeja sidang dengan beberapa berkas yang ada diatas meja mereka, setelah memberi beberapa penjelasan pada polisi tadi malam, akhirnya pagi ini penentuan kurungan penjara dan penjelasan rangka pembunuhan itu di meja pengadilan yang turut dihadiri oleh walikota dan 2 tersangka itu.
Setelah kembali dari kantor polisi, mereka berdua memutuskan untuk menginap dirumah Chloe untuk membahas lebih lanjut jalan cerita dan bagian dari sidang mereka besok.
Enne menatap lama walikota yang sedang memancarkan aura marahnya yang sangat dalam, Enne berbisik pelan pada Chloe.
Chloe segera berjalan ke meja hakim dan turut menyampaikan apa yang dibisikkan Enne tadi padanya.
Hakim mendekatkan mic dihadapannya " dengan Tuan Rinod Flekse, bisa keluar sebentar untuk mengubah suasana emosi anda? kami tidak ingin ada kericuhan dalam sidang ini!" tegas Hakim.
Walikota itu memalingkan wajahnya, Chloe kembali menatap Enne yang menganggukkan kepala padanya, Chloe kembali berbisik pada hakim.
Hakim memulai sidang dengan mengetukkan palu pertamanya pertanda sidang telah dimulai.
__ADS_1
Tanpa adanya pihak ke-2 dari dua tersangka, Enne dan Chloe memberi penjelasan tentang kejadian lebih dulu secara runtun.
"Sepertinya yang sama-sama kita ketahui saat ini, pembunuhan terjadi pada pukul 12.34, dan di sebelah kendaraan korban juga ada 2 kendaraan yang saling beriringan" jelas Enne.
"Mobil tiba-tiba terhenti karena menabrak pembatas jalan, saat disusul ternyata pengemudi sudah meninggal dunia dengan kondisi leher yang berdarah karena benang yang tajam" sambung Chloe.
"Saat mobil menabrak pembatas jalan, mereka berdua langsung menyusuli korban disaat yang bersamaan, mungkin pelaku tidak akan bisa menyembunyikan alat pembunuhannya yaitu benang yang sudah dilumuri dengan racun" ujar Enne.
Chloe kembali menyambung penjelasan Enne dengan cermat "mungkin pelaku tidak mempersiapkan penuh akan rencana ini, sehingga dia tidak memikirkan strategi untuk menghilangkan benang dengan cepat, atau waktu untuk menyusuli tubuh mayat lebih dulu, atau bisa saja kedua saksi yang kini dijadikan sebagai tersangka saling bekerjasama" jelas Chloe yang mengagetkan Foster dan Line Vie.
Secara bersamaan Foster dan Line Vie berdiri "apa maksudmu!?" marah mereka.
Enne dan Chloe melirik sementara ke arah mereka dengan hanya memasang raut wajah yang diam, mereka kembali fokus pada hakim.
"Mereka bekerjasama adalah sebuah dugaan yang tepat, diliat dari hubungan mereka yang dulu adalah sepasang kekasih, mereka pernah berpacaran sampai bertunangan namun semuanya pupus setelah hari dimana orang tua Line Vie bangkrut dan meninggal karena tuan Narnad Flekse" jelas Chloe yang membuat semua orang yang berada diruang sidang itu jadi tampak syok berat.
Walikota hanya memalingkan wajahnya tanpa menyanggah ucapan dari Chloe.
Enne kembali menyambung penjelasan dari Chloe "namun ada satu hal, yang membuat mereka tidak akan bisa bekerja sama" ucap Enne sambil melirik pada Foster dan Line Vie.
"Rasa terkhianati dari tuan Foster karena Line Vie yang memilih tuan Narnad Flekse, membuat mereka sampai kini tak pernah saling cakap lagi, bahkan menurut beberapa orang teman mereka yang kami jadikan saksi, walaupun mereka sering main bersama tuan Narnad, namun tak pernah sekalipun Foster dan Line Vie berkomunikasi lagi" jelas Enne.
"Dan hal itu tidak akan bisa membuat mereka bekerjasama" sambung Chloe.
Orang-orang yang ada dalam ruangan sidang masih terdiam, menunggu kelanjutan penjelasan dari kedua wanita Firma Confiance ini.
Suasana dalam ruangan yang dingin karena AC itu masih hening seketika, sebelum Enne dan Chloe melanjutkan penjelasan mereka, Line Vie berdiri dari duduknya, membuat semua mata dalam ruangan itu tertuju pada Line Vie.
Begitupun dengan Chloe, dia lumayan terkejut melihat Line Vie yang berdiri tiba-tiba, berbeda dengan Enne yang malah tersenyum dengan raut matanya yang nampak sayu.
Line Vie menundukkan pandangannya untuk sementara, kemudian kembali menegakkan kepalanya.
"Aku yang membunuhnya" ucap Line Vie yang kembali mengejutkan semua orang yang ada diruangan itu.
Foster menatap lama Line Vie yang menunduk dengan deraian air matanya yang berusaha ia tutupi, Foster berdiri dan membantu menyeka air mata Line Vie.
__ADS_1
Line Vie menengadahkan kepalanya pada Foster "maaf..."
Foster tersenyum melihat Line Vie "tidak apa-apa, aku tau" bisik Foster pada Line Vie.
Foster mengenggam tangan Line Vie agar dia tidak gugup saat menjelaskan alasannya "perusahaan ayahku bangkrut sepenuhnya adalah karena dia! tapi... tapi itu bukanlah alasan kenapa aku bisa sampai membunuh dia!" seru Line Vie diiringi dengan air mata yang mengalir diwajah cantiknya itu.
Hakim dan beberapa orang saksi yang ada dalam ruangan itu masih terdiam, menunggu penjelasan lebih lanjut dari Line Vie. Sedangkan walikota kini hanya bisa menundukkan pandangan.
Chloe dan Enne memilih bungkam sementara, mereka tak ingin menyanggah atau memotong penjelasan Line Vie lebih dulu, mereka sudah mengatur situasi seperti ini, agar pelaku mau mengakui perbuatannya, dan mendapat hukuman yang tidak terlalu berat bagi pelaku karena melihat alasan dan kerusakan dari diri pelaku sampai bisa melakukan kejahatan ini.
Namun Chloe benar-benar tidak menduga bahwa pelaku pembunuhan itu adalah Line Vie, berbeda dengan Enne yang sudah mengetahuinya ditengah penyelesaian kasus, tepatnya saat interogasi.
"Setelah perusahaan ayahku bangkrut karena dia mempengaruhi semua pelanggan dan klien tetap ayah, maupun Investor perusahaan yang mencabut investasinya karena lelaki biadab itu! dia melamarku disaat aku tengah bertunangan dengan..." Line Vie terdiam seketika sambil melirik ke arah Foster yang tersenyum sayu menatap Line Vie.
Line Vie menggelengkan kepalanya "Aku terpaksa membatalkan pertunangan ku dan menerima lamaran ******** itu supaya aku bisa balas dendam! dengan mempengaruhi internal perusahaannya! namun saat itu... dengan teganya dia menabrak mobil ayahku sampai terbalik dan terbakar! ayah tak sempat menyelamatkan diri dan si ******** itu malah lari tanpa menolong ayahku!" kesal Line Vie sambil menggepal tenju tangannya.
Line Vie melirik sinis pada walikota "kalian semua tau!? orang yang kalian hormati dan segani itu! orang yang kalian junjung tinggi saat ini! orang yang kalian anggap pemimpin terbaik ini! tidak lain adalah seorang pengecut! pembohong! penipu! pencitraan!" seru Line Vie sambil menyodorkan telunjuknya pada Walikota.
Dengan cepat, semua pandangan mata kembali tertuju pada walikota.
Tak ada pencaran amarah yang keluar dari raut mata Walikota yang kini wajahnya tengah tertunduk itu, walikota nampak pasrah menerima hujatan yang dilontarkan Line Vie.
"Memang tak akan ada lagi bukti yang bisa menyalahlan si ******** yang telah mati itu! karena mobil ayahku terbakar habis, dan mobil yang dikemudikan ******** saat itu telah dijual, dan... walaupun ayahnya yang Walikota ini tau bahwa anaknya telah membunuh orang! dia malah menutupi kedok anaknya sendiri!" jelas Line Vie dengan pancaran amarahnya yang tak kunjung reda.
Line Vie melepas pelan tangan Foster yang sedari tadi menggenggam erat tangannya yang bergetaran "Bahkan tak pernah sekalipun si ******** itu mengucapkan kata maaf padaku! dia tak pernah memberi tahuku bahwa dia lah yang membuat ayahku meninggal dunia! sampai pada saat itu, saat dia lagi dalam keadaan yang mabuk berat, aku berusaha memancingnya menyangkut tentang kebangkrutan perusahaan ayahku, tapi secara tak terduga, aku malah ditampar keras oleh fakta yang tidak ingin kudengar saat itu, bahkan dia menabrak ayahku dalam keadaan dia yang saat itu tengah mabuk saat mengendarai mobil untuk pulang, saat melihat mobil yang ditabraknya terguling dan mengeluarkan api, dia memilih pergi tanpa memberi pertolongan"
Line Vie menarik kursinya agar bergeser sedikit kedepan, Line kembali duduk setelah lama memberi penjelasan dalam posisi berdiri "saat itu, pikiranku kosong seketika, dendam dalam diriku kini telah mendarah daging, seketika amukan ku tak bisa lagi ku kendalikan, namun saat itu aku tersadarkan oleh dering telepon, aku dan ******** itu diajak untuk ikut klub malam besok lusa, sekilas aku terpikirkan ide untuk membunuh ******** itu dengan cara yang bersih, yang tidak akan sampai membawa namaku sebagai tersangka dalam kasus yang sebenarnya adalah pembunuhan, dan aku memikirkan agar pembunuhan itu bisa berkedok kecelakaan"
Setelah memberikan penjelasan yang amat panjang, Line Vie kembali diam dan menatap dengan raut matanya yang nampak sudah pasrah pada Enne dan Chloe untuk meneruskan sidang itu.
Chloe ikut melirik pada Enne dan mengangguk.
Enne paham dengan maksud anggukan Chloe yang bermaksud memilih Enne untuk mempercepat sidang ini, Enne berdiri kembali dari duduknya "3 barang bukti yang bisa kita jadikan alat untuk melakukan pembunuhan berencana ini, pertama adalah benang yang sudah dilumuri oleh racun, kedua adalah kaca jendela mobil yang tergores, dan ketiga adalah sisa racun yang ada dikursi mobil bagian paling atas" jelas Enne melanjutkan tentang strategi pembunuhan yang dilakukan oleh Line Vie.
Enne membuang nafasnya sementara, dan kembali menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur frekuensi nada suaranya "namun ada satu bukti nyata lagi yang tak pernah terpikirkan oleh kita" ucapan Enne itu membuat beberapa hakim dan saksi menatap penasaran pada Enne.
__ADS_1